Ranjang Tuan Mafia

Ranjang Tuan Mafia
chapter 7 - Kesepakatan Lagi


__ADS_3

Ethan berjalan ke ujung mansionnya. Suara pukulan benda tumpul terdengar dari ruang latihan. Pria itu berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar dan bersandar pada pinggiran pintu. Tatapan matanya melihat ke arah Daisy yang sedang berlatih Kendo. Ayunan pedang bambunya terdengar memukul dengan sangat keras pada Sasak di depannya. Keringat yang membasahi tubuhnya tampak berkilau dan seksi.


Selama hampir setengah jam lamanya, Ethan hanya memperhatikan Daisy. Dari belakang bahunya di tepuk, siapa yang mungkin berani menepuk bahunya jika bukan sang ayah.


"Sudah lebih dari lima belas menit kamu melihat ke arahnya." Kata Vincent berdiri di sebelah Ethan."Apa itu artinya kamu sudah bisa melepaskan Amber?"


"Aku sudah sejak lama melepaskannya ayah,"


"Tapi kamu melakukan hal yang cukup ekstrim dengan menculiknya. Dan lucu sekali itu salah sasaran." Ledek Vincent.


"Aku hanya ingin tau alasan dia pergi. Itu saja." Bohong Ethan, walau sesungguhnya bukan itu. Sehari sebelum Amber pergi, Ethan tau jika Amber tengah hamil. Selama mereka bersama, Ethan tak memungkiri jika janin itu mungkin anaknya. Tetapi, selama hampir satu tahun berlalu, Amber pergi bersama janin yang mungkin anaknya. Entah, masih hidup ataukah sudah mati. Ethan tak tau. Amber pergi bagai di telan bumi.


Saat ia berhasil menemukan Amber, ia mengutus anak buahnya untuk membawa Amber pulang, bukan karena ia masih menginginkan Amber. Ia hanya ingin tau tentang keberadaan janin Amber. Jika masih hidup, ia akan melakukan test DNA. Ia akan membawa anak itu bersamanya setelah memberi Amber kompensasi. Karena ia sendiri sudah tidak membutuhkan Amber lagi.


"Kalau memang tertarik, waktu satu tahun udah cukup untuk Amber. Waktunya untuk gadis lain di hidupmu."


"Kenapa ayah kemari?"


"Aku hanya rindu anakku."


Ethan tertawa kecil. Ia tak percaya begitu saja dengan ayahnya. Ethan memilih berbalik dan melangkah pergi, menjauh dari ruang latihan. Vincent mengikuti langkah Ethan, setelah ia sempat melihat lagi wanita yang sempat menjadi objek pandang anaknya.


Setelah cukup lama berbincang dengan Ethan, Vincent pulang karena ia masih harus menjemput istrinya di rumah sakit. Ethan masih duduk menikmati Vodka nya. Pembicaraan dengan Vincent membuatnya ingat akan masa lalunya dengan Amber. Wanita yang bersikap lembut dan ceria. Yang memberinya kasih sayang dan kelembutan. Yang mengenalkannya pada cinta, bukan hanya nafsu belaka. Ethan memang masih memiliki secuil cinta untuk Amber, tapi ingat, itu hanya secuil.


Ethan menarik nafasnya dalam. Ia lalu melangkah di sekitar mansion, tanpa ia sadari ia berhenti di ruang latihan ujung Mansion. Suara pukulan tak lagi terdengar. Ia mengintip, tak ada siapapun di ruangan itu. Ia melanjutkan langkahnya lagi, dan langkah kakinya membawa diri Ethan sampai di depan pintu kamar Daisy. Hari sudah larut, harusnya Daisy sudah tidur. Sesaat lamanya, Ethan hanya berdiri disana. Lalu ia membuka pintu kamar dan masuk. Ruangan itu sepi, tak ada seorangpun di sana. Ethan melangkah sampai di depan pintu kamar mandi. Tangannya bergerak menyentuh hendel pintu, ia terperanjat bukan main karena pintu itu tiba-tiba dibuka. Ia bahkan sampai mundur ke belakang saking kagetnya.

__ADS_1


Daisy juga tak kalah kaget, ia juga terlonjak melihat Ethan ada di dalam kamarnya. "Apa yang kau lakukan di kamarku?!"


"Ini mansion ku, aku bebas keluar masuk di mana saja."


Mau marah, tapi, itu memang benar, ini adalah mansion Ethan. Daisy melewati Ethan begitu saja, gadis yang hanya memakai bathrobe itu berbalik dengan kesal melihat lurus ke Ethan.


"Kau mengingkari janjimu."


"Janji apa?"


"Membiarkanku pergi mencari uang." Ucap Daisy penuh tekanan.


"Kau sudah menandatangani perjanjian itu, kan? Artinya, kau setuju." Ucap Ethan dengan santai mendekat dan tak mau disalahkan.


"Menyabotase bagaimana?"


"Kau hanya memberiku dua lembar, tapi, kenapa jadi bertambah jumlahnya di tangan orangmu?"


"Kau sudah membacanya dengan teliti, kan? Harusnya, kau tau." Ucap Ethan Santai, mengeluarkan beberapa lembar berkas perjanjian dari jasnya."Lihat, ini adalah berkas aslinya. Dan telah dibumbuhi tandatanganmu dihalaman terakhir. Kau lihat?" Ethan menunjukkan berkas itu. "Tidak ada sabotase, dihalaman terakhir juga jelas tertulis lampiran ke tujuh."


Mata dan mulut Daisy membulat sempurna. Di bagian bawah berkas itu tertulis seperti yang Ethan tunjuk dan ucapkan. Lampiran ke tujuh dengan huruf yang sangat kecil."dasar licik!" Gumam Daisy."Ini penipuan!" Protesnya keras.


"Penipuan apa? Harusnya kau lebih teliti dalam melihat halaman dan lampiran berkas yang akan kau tandatangani." Kata Ethan terdengar menghina tanpa memperdulikan tatapan kesal dan benci dari Daisy.


"Daripada membicarakan itu," Ethan menyimpan lagi berkas ke dalam jas nya."Aku ada penawaran menarik untukmu."

__ADS_1


"Aku tidak tertarik, itu pasti hanya sebuah trik baru untuk menipuku." Sinis Daisy mencibir.


"Dengarkan dulu." Ucap Ethan mencoba bersabar. "Besok, aku ada acara makan malam bersama klien penting. Dan aku butuh pasangan untuk itu. Jadilah pasanganku besok."


"Tidak mau." Jawab Daisy cepat.


"Aku bilang ini penawaran,"


Daisy acuh, dan menyilangkan tangannya di dada.


"Satu kali makan malam, tanpa berbuat ulah dan menjatuhkan citraku. Lima puluh juta dolar plus ijin keluar."


"Baiklah, aku setuju." Jawab Daisy cepat. Ethan tersenyum puas karena ini berhasil."Tapi, aku mau ini tertulis diatas kertas. Aku tidak mau kau memanipulasi aku lagi."


"Oke, deal." Kedua anak manusia itu berjabat tangan.


Setelah membaca dengan teliti dan menandatanganinya, Daisy tersenyum senang. Kedua orang itu duduk di sofa kamar Daisy dengan masing-masing membawa lembaran berkas perjanjian.


"Kau senang?" Ethan melirik Daisy sambil menyimpan berkas bagiannya.


"Heem, akhirnya aku bisa ke luar." Daisy tersenyum lebar.


"Kau harus ingat, perjanjian kali ini tidak mempengaruhi perjanjian sebelumnya." Ujar Ethan mengingatkan sambil berdiri.


"Iya, iya, aku tau. Dasar licik!"

__ADS_1


__ADS_2