Ranjang Tuan Mafia

Ranjang Tuan Mafia
Chapter 10 - Eksekusi Daisy


__ADS_3

Makan malam usai, kesepakatan pun berjalan dengan lancar. Nyonya Liu sangat menyukai Daisy dan berharap bisa bertemu lagi dan mengobrol bersama. Selama dalam perjalanan tak ada obrolan antara Ethan dan Daisy. Sampai mereka tiba di mansion.


"Aku akan pergi pagi-pagi sekali. Mungkin aku hanya akan sedikit sarapan." Ujar Daisy memasuk lewat pintu utama. Di belakangnya, Ethan mengikuti tanpa suara. Daisy berbalik sambil berjalan mundur,"apa tidak masalah jika aku tidak ikut sarapan?" Mata Daisy menatap harap pada Ethan yang tampak datar saja.


"Tidak masalah,"


Wajah Daisy seketika semringah.


"Yang penting ada di meja makan." Sambung Ethan yang langsung membuat Daisy masam. Padahal ia sudah melambung, tapi dengan cepat dijatuhkan.


'Untuk apa aku tidak sarapan tapi duduk di meja makan. Melihat dia makan?' gerutu gadis itu dalam hati sembari berbalik dan melanjutkan langkah. Saat langkah kakinya menapaki anak tangga pertama. Ia mendengar suara piano berdentang merdu. Daisy penasaran dan mengikuti arah suara itu berasal.


Daisy membuka lebar pintu yang ada di depan ruang utama yang sejak awal tidak menutup sempurna. Di sudut ruang yang di dominasi warna emas dengan perabot yang terkesan mahal nan elegan itu terdapat piano. Daisy melangkah mendekat hanya untuk melihat siapa yang memainkan piano itu.

__ADS_1


Daisy terkesima, pria yang ia anggap brutal sedang memainkan piano dengan irama melow. Sangat menggelitik bukan!?


Denting suara itu berhenti bertepatan dengan Ethan yang melirik padanya. Lirikan mata yang seketika membuat Daisy salah tingkah.


"Eemm, aku hanya kebetulan lewat." Ucapnya beralasan. Alasan yang sangat tidak masuk akal karena posisi ruangan itu berada tepat di samping ruang utama yang tadi ia lewati."Eemm, begini, aku mendengar suara piano. Itu bagus sekali dan aku berakhir di sini." Ulasnya jujur mengoreksi alasannya."Kalau kamu terganggu, maaf. Aku akan kembali ke kamar." Sambung Daisy karena tatapan mata Ethan sangat membuatnya tak nyaman, atau, mungkin lebih tepatnya takut. Mungkin.


Ethan berpindah posisi dengan sedikit menggeser tubuhnya ke dekat bifet. Tanpa kata yang pasti membuat Daisy makin meruntuki diri karena asal masuk saja. Bukan apa-apa, ia hanya tak mau mendapat hukuman atau kesepakatan lagi yang memberatkan dirinya.


Tubuhnya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Membatu! Tanpa mau bergerak dari tempatnya berdiri. Entah apa yang membuatnya begitu? Ketakutan pada Ethan, atau justru terperangkap oleh pesonanya.


Ethan semakin dekat. Daisy menelan ludahnya. Tangan pria itu terulur tepat di depan wajah Daisy.


"Mau menari?"

__ADS_1


Bibir Daisy terbuka, matanya melebar. Tawaran dari Ethan diluar dugaannya. Kenapa Ethan malah mengajaknya menari? Pria itu mengangkat alisnya, karena tak kunjung mendapat jawaban. Ia menarik tangan Daisy dan berputar sambil memeluk tubuh itu. Mau tak mau, Daisy ikut menari bersama Ethan. Walau di pikirannya sudah tak karuan.


'Aaahh, sepertinya, dia oleng. Kenapa? Apa karena terlalu senang kerjasamanya berjalan lancar dengan tuan Samuel?' Otak Daisy bermonolog sementara tubuhnya ikut menari, mengikuti gerak tubuh Ethan.'Ah, masa bodoh, menari ya menari saja.' putus Daisy dalam hati.


Lama-lama ia menikmati juga berdansa dengan Ethan. Walau kadang kala kakinya menginjak kaki Ethan, gadis itu tertawa. Apalagi, Ethan hanya meresponnya dengan senyuman. Bukan menyumpahi atau menghukumnya.


'Sepertinya, dia memang sedang oleng.'


"Apa kamu sedang bahagia?" Akhirnya terucap juga rasa penasaran di hati Daisy. Yah, dia mengganti kata oleng-nya dengan bahagia.


"Mungkin." Jawab Ethan Datar tanpa melepas pandangan mata dari wajah Daisy yang tertawa.


'Manis.' Pikir Ethan, dan bibirnya sudah membungkam mulut Daisy yang terbuka lebar. Mata Daisy melebar tak berpikir Ethan Akan menciumnya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2