
Hari berikutnya, Daisy kembali keluar untuk mencari uang. Ia juga menyempatkan diri pulang ke rumahnya, dengan diantar oleh pengawal. Mata gadis itu memandang berkeliling di setiap sudut rumah peninggalan sang papa. Banyak kenangan masih disana. Papanya sangat menyayangi Daisy meski ia bukanlah anak kandungnya.
"Sepertinya, aku tak punya cukup hati untuk menjual rumah ini." Gumam Daisy dengan mata berkaca-kaca.
"Nona,"
Daisy menoleh pada Aron.
"Kenapa tidak mencoba saja bersama tuan Ethan."
"Berapa lama kamu ikut dengan Ethan?"
"Tiga tahun, Nona."
"Dan kamu masih belum tau sekejam apa dia? Kau menyuruhku masuk ke kandang macan?"
"Bukankah Sekarang anda sudah berada di kandang? Anda hanya perlu bertahan selama setahun."
__ADS_1
Daisy tertawa hambar mendengar ucapan Aron. Tapi, memang benar, ia sudah berada di kandang macan sekarang, kenapa tidak dia lanjutkan saja sampai setahun? Daripada ia harus kehilangan rumah ini.
"Tapi, aku merasa berat jika harus kehilangan keperawanan padanya." Gumam Daisy yang masih dapat Aron dengar.
"Jadi nona lebih memilih menjualnya dari pada diambil oleh tuan Ethan?"
Mata Daisy melebar mendengar pertanyaan dari Aron. "Kamu mengintip ya?" Omelnya memukul lengan Aron.
"Nona kan memakai hp ku kemarin." Aron mengusap lenganya yang kena pukul. Daisy langsung menepuk jidat, 'kenapa aku bisa lupa menghapus riwayatnya.' batin Daisy meruntuk diri.
"Setidaknya, mereka membayarku." Ucap Daisy membela diri. Dahi Aron mengerut seolah berpikir.
"Li-lima ratus ribu dolar?" Pekiknya menutup mulut tak percaya. "Siapa pria gila yang menawar seharga itu? Dia pasti pria kaya." Gumam Daisy masih tak percaya."Mr. X?"
Daisy tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Saat ia kembali ke mansion Ethan tapi, ternyata pria itu tak ada.
"Tuan Ethan sedang dinas, nona Daisy." Ucap bibi Marta saat Daisy menanyakan perihal ketiadaan Ethan di mansion. Gadis itu merasa keberuntungan sedang berpihak padanya.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka, keperawananku bisa setinggi itu. Dia bahkan mengirimkan tiket ke Dubai." Gumam Daisy tak berhenti tersenyum."Hmmm, sekarang bagaimana caraku untuk pergi kesana tanpa Eron dan Aron. Jika minta ijin sudah pasti tidak akan diberi. Dan mereka sangat menghambat pergerakanku. Mungkin sebaiknya, aku kabur saja." Gumam Daisy.
Malam itu, Daisy langsung eksekusi. Ia menyelinap keluar tanpa ada seorangpun yang tau dan menyadari. Gadis itu tersenyum lebar saat akhirnya ia berhasil kabur dan bergegas ke stasiun, menaiki kereta bawah tanah dan menunggu di bandara untuk keberangkatan esok.
"Mr, X aku datang!!"
Perjalanan Daisy ke Dubai berjalan lancar, ia tak menyangka akan selancar ini. Awalnya ia berpikir mungkin Ethan dan orang akan menyergap dan menutup bandara. Orang seperti Ethan bisa saja melakukannya dan mendapatkan informasi dengan cepat.
Dari bandara Daisy langsung ke salah satu hotel yang sudah di reservasi. Sepanjang perjalanan, gadis itu terus berdecak kagum. Bangunan di Dubai sangat artistik dan berbeda dengan negara tempat ia tinggal.
"Nona Daisy, di suitroom nomor 3742." Ujar sang bel boy sembari membukakan pintu dan membantu meletakkan koper Daisy ke dalam.
"Terima kasih."
"Jika butuh apapun, nona bisa memanggil room servis."
"Baiklah, terima kasih." Ucap Daisy lagi.
__ADS_1
Setelah belboy pergi, Daisy memandang di setiap sudut kamar yang sangat luas itu. Di kamar itu bahkan sudah di lengkapi dengan baju ganti dan lingerie.
"Astaga..." Pekik Daisy mengambil satu lingerie yang paling seksi. Wajah gadis itu tertawa."Mr. X . Seperti apa orangnya? Semoga dia tidak tua. Seleranya sangat bagus, dia pasti bukan orang sembarangan. Aku jadi tidak sabar bertemu." -