
Daisy terus dibuat melambung dengan segala pelayanan dari hotel yang sudah di siapkan. Makanan terbaik, kamar terbaik, dan pelayanan terbaik, membuat Daisy melambung tinggi.
"Siapa sebenarnya Mr. X ini? Dia benar-benar yang terbaik. Semoga ia pria muda yang tampan dan gagah perkasa." Gumam Daisy sambil berjemur di bawah matahari di pinggir kolam. "Ah, bagaimana jika dia pria tua?" Daisy menggeleng dan mengulas senyum, "biarlah pria tua, yang penting uangnya banyak. Bagus jika aku bisa mengeruk uangnya sampai 500juta dolar, jadi, aku bisa menyumpalkanya ke mulut Ethan. Hahaha."
Dalam benak Daisy, sudah terbayang ia dengan angkuhnya berjalan memasuki mansion Ethan. Memakai gaun terbaik dan terbuka lalu melemparkan uang ke wajah Ethan yang tampak mengeras marah, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Daisy tertawa terbahak-bahak saking senangnya melihat ekspresi Ethan itu. Tawa itu bahkan sampai tersalur di dunia nyata.
Daisy tertawa oleh bayangannya sendiri. "Hahahaha...." Ia bahkan sampai mengusap ekor matanya yang berair. "Ya ampun, muka Ethan lucu sekali." Gumam Daisy tertawa bahagia. "Baiklah, akan kupuaskan Mr. X malam ini. Lalu sebisa mungkin akan ku keruk uangnya."
__ADS_1
Malam itu, Daisy memandang pantulan diri di cermin. Melihat wajahnya yang bersih dan tubuhnya yang hanya berbalut lingerie seksi. Dalam hatinya, ia masih ragu, benarkah ia akan menjual keperawanannya seperti? Tapi, memang ia butuh uang, uang yang ditawarkan oleh Mr. X cukup menggiurkan. Walau ia cukup yakin tak akan bisa mengembalikan uang Ethan dua hari lagi. Tapi, ia lebih tak rela jika menyerahkan keperawanannya pada Ethan begitu saja. Ditambah lagi bayangan wajah Ethan yang ia lempari dengan puluhan lembar dolar. Wajahnya langsung menyungging senyuman.
"Tegakkan kepalamu Daisy. Pria inilah yang akan menyelamatkan mu dari belenggu si brengsek Ethan. Percayalah, apa yang kamu lakukan tidaklah buruk. Dari pada kamu serahkan kesucianmu pada pria yang hanya bermodal cinta. Ini lebih berharga." Daisy terus bergumam menyakinkan dirinya sendiri.
Malam semakin larut, Daisy juga semakin mengantuk. Rencananya, ia dan sang pria yang membayarnya itu makan malam bersama dengan romantis untuk membangun camistri. Selama ini, Daisy memang belum pernah bertemu dengan si Mr. X. Mereka hanya berkomunikasi melalui agen penyedia lelang keperawanan. Orang dari agen juga yang membantunya sampai di Dubai.
Jam makan malam telah lewat, Daisy hanya duduk dengan mata mengantuk di kamarnya. "Daisy, ini sudah semakin larut, dan Mr. X belum datang." Gumamnya pada diri sendiri. "Hmmm, ada apa sebenarnya? Apa Mr. X kecewa Karana aku tak secantik yang di foto? Heeii, aku bahkan lebih cantik aslinya." Gumam Daisy.
__ADS_1
Setelah mendapatkan wine nya, Daisy segera meminum minuman beralkohol itu. Sambil menunggu sang Mr. X datang. Waktu terus berjalan. Dan Daisy mulai bosan. Ia terus meracau tak jelas. Mengumpati Ethan yang sudah membuatnya di posisi ini, juga Mr. X yang tak kunjung datang.
"Yaahh, setidaknya aku sudah di bayar. Masalah ia datang atau tidak, apa perduliku. Yang penting uangnya udah masuk ke account ku." Racau Daisy pada dirinya sendiri yang mulai mabuk berat. Gadis itu langsung tergeletak setelah sempat habis setengah botol anggur.
Daisy merasa pusing, ia juga merasa mual. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat. "Uuuhh, jam berapa ini? Aku butuh air. Tenggorokanku kering." Racaunya setengah sadar. Seseorang tampak menyodorkannya segelas air putih.
"Aahh, terima kasih." Sahut Daisy bangun dan duduk di bibir ranjang. Lalu meminum air yang ia terima.
__ADS_1
"Tunggu, siapa yang memberiku air?" Mata Daisy langsung melebar, ia melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Dengan cepat dan masih sambil minum ia mendongak. Mata Daisy melebar sempurna melihat kaki milik siapa itu. Refleknya, air dari dalam mulutnya menyembur ke depan.
"Ethan!!"