Ranjang Tuan Mafia

Ranjang Tuan Mafia
Chapter 11 - eksekusi Daisy 2


__ADS_3

Daisy membeku, tak ada penolakan ataupun balasan. Yang jelas, Ethan justru semakin memperdalam ciumannya. Merengkuh tubuh Daisy semakin masuk dalam dekapannya. Perlahan mata Daisy yang melebar itu menutup. Kedua tangan mengalung di leher Ethan.


Lidah mereka saling membelai dalam kelembutan. Berbagi ludah, dan melahap satu sama lain. Tangan Ethan mengusap punggung Daisy yang terbuka. Semakin ke bawah dan sampai di ujung gaun Daisy. Perlahan tangannya menarik ristlesting gaun itu tanpa melepas pangutannya.


Daisy tidak terbuai sepenuhnya, ia sadar tangan Ethan menggerayangi punggungnya dan hendak melucuti gaunnya. Dengan cepat Daisy mengakhiri ciuman mereka. Bukan Ethan namanya jika hanya puas dengan ciuman Daisy yang sangat manis dan lumer di mulutnya. Ethan menahan tengkuk Daisy dan menyambar lagi bibir merah Daisy. Ethan akan bersabar untuk menanggalkan gaun Daisy. Ia masih punya banyak waktu di masa depan. Tapi, bibir menggemaskan Daisy, harus ia habiskan malam ini.


"Sudah, cukup!" Daisy menahan lengan Ethan dan mengatur nafasnya.


"Apa ciumanku seburuk itu sampai kau mau mengakhirinya begitu cepat?"


"Tidak, tidak."


"Kalau begitu, ayo lanjutkan." Usul Ethan mendekatkan lagi wajahnya untuk mencium bibir Daisy. Tangan Daisy menahan dada Ethan, kedua matanya bertumbu dengan mata Ethan dalam jarak yang sangat dekat.


"Eemm, aku rasa ini tidak ada dalam perjanjian."

__ADS_1


Ethan menatap dengan mata elangnya.


"Ini jelas menyalahi perjanjian. Siapa yang memulainya, aku tidak akan membahasnya. Tapi..."


"Cepat atau lambat kau akan menyerahkannya juga. Kau tetap akan menjadi budakku." Ujar Ethan.


Daisy mendorong tubuh Ethan hingga pelukannya terlepas. Menatap Ethan tak suka. Tatapan mata itu membuat Ethan tertawa, lalu mendekat dan berbisik di telinga Daisy.


"Selamanya, tubuh ini adalah milikku. Jangan membuatnya lecet sebelum aku menikmatinya." Bisik Ethan tersenyum miring lalu melangkah pergi. Daisy tak membalas ucapan itu, matanya menyipit menatap punggung Ethan yang semakin menjauh.


Keesokan harinya, Daisy sarapan dengan cepat karena ia memang di buru waktu. Sudah hampir seminggu ia tidak mengabari tempatnya bekerja. Entah bagaimana nasipnya saat menginjakkan kaki di kantor nanti. Ethan makan dengan tenang, tapi ekor matanya melirik Daisy berulang kali. Bahkan saat Daisy tersedak, Ethan sempat mengulurkan air putih pada gadis itu.


"Apa yang kamu pikirkan? Aku sudah hampir satu Minggu tidak bekerja. Apa yang akan mereka katakan jika aku tak segera bekerja dan menjelaskan!?"


"Kau dipecat!"

__ADS_1


Daisy berdecik kesal dan segera berdiri. "Aku sudah selesai!"


"Habiskan makananmu!"


"Aku sudah kenyang."


"Habiskan makananmu, atau kau lebih suka aku menyumpalkannya ke mulutmu!?" Tegas Ethan dengan tatapan tajam.


Daisy berdecik lagi, saat serius begini, pasti Ethan akan melakukan apa yang diucapkan. Sudah pasti sisa makanan itu berpindah ke mulutnya dengan kasar. Dengan malas Daisy melanjutkan makan. Tepat saat Daisy kembali duduk, Ethan baru saja selesai dengan sarapannya dan berdiri.


"Selesaikan makanmu. Tidak ada makanan sisa dimeja makan. Ingat aturan itu!"


"Baik, saya mengerti, tuan." Sahut Daisy dengan malas. Ethan pergi, dan Daisy meliriknya, dengan kesal tangan Daisy terangkat seolah melayangkan tinju untuk Ethan. Saat itu juga, Ethan berbalik. Mata Daisy melebar dan pura-pura mengaruk belakang kepalanya.


"Aaahh, ya ampun, aku harus keramas. Gatal sekali." Seru Daisy. Ia baru bisa bernafas lega setelah Ethan kembali melangkah dan menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Daisy bergegas berangkat ke kantornya. Rasa cemas karena sudah beberapa hari menghilang tanpa kabar, sudah pasti Lily berpikir ia dalam masalah. Tepat di depan pintu utama mansion Ethan, Daisy di cegat lagi. Mata Daisy membulat, dan dadanya bergemuruh kesal.


'apa-apaan ini? Ethan mengingkari janjinya lagi?' pikir Daisy sudah sangat marah karena merasa sudah dipermainkan oleh Ethan.


__ADS_2