
"Awasi terus gadis itu, jangan sampai ia dapat uang 500juta dolar." Titah Ethan disela-sela kesibukan bekerjanya.
"Tanpa Anda batasipun tak mungkin nona Daisy bisa mendapatkan uang sebanyak itu, tuan."
"Aku tidak perduli." Ujar Ethan,"buat saja dia makin kesal karena tidak mendapatkan sepeserpun." Sambungnya menyeringai. Sudah terbayang di kepalanya, wajah Daisy yang cemberut dan dongkol. Tapi, ia sangat menikmati itu.
Sementara itu, Daisy masih berputar-putar di jalanan kota. Ia tak punya ponsel karena hilang saat ia di culik waktu itu. Jadi ia hanya mengunjungi beberapa teman dan saudaranya. Hanya untuk meminjam uang, tapi, siapa yang bisa memberi pinjaman uang sebanyak itu. 500juta dolar bukan uang yang sedikit.
"Haruskah aku pasrah pada Ethan?" Gumamnya mendesah pelan. "Rasanya, aku benar-benar terkurung olehnya. Bahkan ponselpun aku tak punya." Gumamnya lagi meratapi nasip. Rupanya, gumaman itu terdengar sampai di telinga Aron. Pria itu merasa kasihan juga pada Daisy, tapi ia sendiri takut jika bertindak tanpa instruksi dari Ethan. Tangan Aron bergerak mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada salah satu orang kepercayaan Ethan, Miley.
Miley terpaku melihat isi pesan dari Aron. Ethan meliriknya, "ada apa?"
"Nona Daisy mengeluhkan tak punya ponsel."
Ethan tersenyum senang, "biarkan saja."
Miley membalas pesan Aron sesuai instruksi Ethan. Aron yang sedari tadi menunggu balasan dari Miley dengan cepat membuka pesan begitu hp nya berdering. Tapi, ia jadi lemas melihat jawabannya. Ia jadi semakin kasihan pada Daisy.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Eron yang melihat perubahan pada Saudara kembarnya. Aron menoleh sebentar ke belakang dan memastikan Daisy sibuk dengan gerutuan meratapi nasipnya. Setelah merasa cukup aman, Aron berbisik,"aku kasihan padanya. Jadi aku meminta ijin pada tuan Ethan untuk memberinya ponsel."
"Lalu apa jawabannya?" Eron ikut berbisik. Aron hanya mengkode dengan mengendikkan bahu.
"Aron," suara Daisy dari jog belakang mengagetkan pria itu. Takut saja kalau-kalau Daisy mendengar pembicaraan mereka.
"I-iya, nona Daisy?"
"Aku ingin ke pusat internet."
"Ada yang ingin ku cari. Aku tak punya ponsel, jadi hanya bisa ke sana."
"Anda bisa menggunakan ponselku."ujar Aron menawarkan ponselnya.
"Bolehkah?"
"Silahkan." Aron mengulurkan ponselnya pada Daisy. Gadis itu tersenyum lebar. "Terima kasih, Aron." Ucap Daisy tulus. Ia lalu mencari di situs yang bisa menghasilkan uang dalam waktu sekejap. Dan percariannya berakhir pada situs lelang keperawanan. Harga yang di tawarkan juga cukup tinggi, tapi tak sampai mendekati 500juta dolar.
__ADS_1
"Seperempatnya saja tidak ada." Gumam Daisy mendessaah pelan. Ia lalu mengeluarkan notes serta pena, dan mulai mengkalkulasi jumlah uang yang ia dapat kumpulkan.
"Jika dihitung dari penjualan rumah peninggalan ayah, itu hanya 1juta dolar. Kendaraan juga tidak sampai lima puluh ribu dolar. Tabunganku juga isinya cuma empat puluh ribu dolar. Jika aku jual keperawanan, harga tertinggi mungkin delapan puluh ribu dolar." Gumam Daisy mengkalkulasi sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung pena.
Daisy menghela nafas panjangnya. "Kenapa harus 500juta dolar?" Gumamnya lemas dengan uang sebesar itu ia tak akan sanggup membayarnya dalam kurun waktu yang tersisa. Gadis itu mengacak rambutnya karena sudah buntu.
"Ethan brengsek!" Umpatnya berteriak di dalam mobil, sampai membuat Aron dan Eron terkejut. Sadar jika dua orang Ethan masih bersamanya, Daisy berdehem.
"Kalian, tidak akan mengadu, kan?"
"Tidak, nona."
Daisy bernafas lega,"haahh, syukurlah. Aku hanya bisa mengumpatinya seperti ini. Jika dia dengar aku pasti di denda. Dia itu sangat tidak masuk akal, kalian juga tau, kan?" Oceh Daisy sudah sangat frustasi dan pusing memikirkan uang 500juta dolar yang sangat jauh dari kemampuannya itu.
Dengan modal ponsel milik Aron, Daisy akhirnya mendaftarkan diri di situs pelelangan keperawanan.
"Baiklah, kita tunggu bagaimana hasilnya besok." Pikir Daisy mengembalikan ponsel milik Aron.
__ADS_1