Rasa Yang Pernah Ada

Rasa Yang Pernah Ada
waktu masih SD


__ADS_3

Namaku Elta Putri Purnama, gadis kecil yang sangat gemar dengan menghayal. Ya, karena aku suka menghayal, aku selalu membayangkan bertemu dengan sosok laki-laki ganteng dan baik hati seperti di beberapa buku cerita yang aku baca. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas lima SD. Hingga pada saatnya aku bertemu seorang lelaki pintar, ganteng, dan baik, pokoknya sangat aku impikan dan seperti yang selalu aku hayalkan. Cowok itu bernama Mikael Alanka Putra, yang tak pernah luput dari pikiranku hingga detik ini. Setiap hari aku selalu bermain bersamanya, seperti layaknya dua sejoli yang tidak bisa di lepaskan. Akan tetapi ia hanya menggapku sebagai sahabat. Menurutku hal itu tidak masalah karna seorang sahabat tak akan ada putusnya di bandingkan dengan pacaran yang sekalinya putus, ya sudah kelar. Aku jalananin persahabatanku ini dengan sangat gembira.


Jam sudah menunjukan pukul 1 Siang, tandanya semua anak sudah diijinkan untuk pulang. Aku berjalan menuju gerbang dan menunggu jemputan, tapi tak kunjung datang. Akhirnya aku menunggu jemputan sekalian main dengan beberapa teman yang juga belum di jemput. Tiba-tiba Mikael datang dari belakang dan menepuk pundakku.


"Nanti aku mau jalan bareng nih sama eka dan rena, kamu ikut gak ta?" ajak Mikael terhadapku


"Emang mau kemana?" tanyaku


"Ibadah bareng terus nanti main ke rumahku," jawab Mikael sambil menatapku


"Boleh deh," kataku sambil mencoba menutupi mukaku yang mulai salah tingkah.


"Jam 18.00 ya, jangan telat. Ngumpul di sana langsung aja," kata Mikael mengingatiku.


"Iya, siap."


Rasanya sangat senang di ajak jalan bareng dan mau main kerumahnya pula. Perasaan ini campur aduk tidak karuan, seperti halnya gado-gado. Rasa malu, senang, bingung, campur jadi satu di pikiranku. Ingin sekali berpenampilan sempurna di depannya, tapi aku malu kalau akhirnya tidak seperti yang di inginkan. Aku juga malu kalau nanti sampai sana cuma ada diakan. Haduh bingung. Aku putuskan untuk pulang terlebih dahulu karena jemputanku juga sudah datang. Sesampai di rumah, aku mencoba chat Rene agar mau diajak berangkat bareng.


Isi Chat aku dengan Rene:


Elta: Ren, nanti kamu berangkatkan?


Rena: Berangkat dong.


Elta: Nanti masuknya bareng ya, aku malu kalau masuk sendiri.


Rena: Okey. Nanti kamu nunggu di depan aja, dekat gerbang masuk.


Elta: Okey, nanti aku chat lagi kalau dah sampai.


Rena: Okey.

__ADS_1


Untungnya Rena mau aku ajak masuk gereja barengan. Rasanya sedikit lega. Aku lihat jam di gawai, ternyata jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku bergegas mencari pakaian yang cocok dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selasai, aku mencoba melihat di kaca. Terlihat penampilanku sudah rapi dan siap untuk berangkat. Aku waktu itu menggunakan celana panjang dan kemeja biru kesukaan ku, serta menggunakan sepatu sandal berwarna coklat. Jam sudah mulai menunjukan pukul setengah 6 malam. Aku langsung diantar oleh Ibu, menggunakan motor beat warna hitam kesayangan Ibu. Sesampainya disana aku belum melihat Rena sama sekali. Aku mencoba mengabarinya kembali.


Elta: Aku dah sampai nih


Rena: ini aku udah liat kamu, bentar aku kesana


Elta: okey


Aku melihat sekeliling sudah mulai banyak orang yang masuk ke dalam gereja. Aku melihat Rena di tengah-tengah orang yang juga ingin masuk ke dalam. Rena jalan ke araku dan menghampiriku


"Ta, ayuk masuk," ajak Rena tak sabar, sambil menarik tanganku.


"Iya iya, semangat banget deh," kataku mengejeknya.


"Iya, pengen ketemu eka soalnya," jawab Rena sambil menatapku malu.


"Aduh Rena, Eka kan dah ada pacar dan pacarnya itu juga temenan sama kita," aku mencoba ceramahi dia.


"Ya udah, yuk masuk."


Aku sama Rena masuk dalam tempat ibadah tersebut. Aku mencoba melihat kanan dan kiri sapa tahu ngelihat Mikael. Sampai suatu saat mata ku menuju ke satu arah, aku melihat ada Eka disana bersama pacarnya. aku secara cepat langsung kasih tahu Rena tentang yang aku liat.


"Ren, itu Eka bukan si?" tanyaku memastikan kembali yang aku lihat.


"Mana sih?" kata Rena, sambil melihat ke arah pandanganku.


"Itu loh, sama pacarnya Vivin," kataku, sambil menujuk ke arah Eka


"sama Vivin?"


"iyah itu di sebelahnya."

__ADS_1


"ah, kandas dah rencana ku."


"Udah lah enggak papa, kan masih banyak cowok juga yang lebih keren," jawabku menenangi hati Rena.


"Iya deh, ya udah yuk buruan kesana," jawabnya agak kecewa.


Aku dan Rena jalan medekati Vivin dan Eka.


"Hai, kalian cuma berdua? dimana nih Mikael?" tanya Rena.


"Aku belum lihat dia tuh," jawab Vivin, sambil melihat sekeliling.


"Coba aku chatnya dulu," sahut Eka. "Katanya dia gak ikut ibadah, nanti kalau udah selesai ibadah suruh langsung aja kerumahnya."


"Emang kamu tau rumahnya?" Tanyaku memastikan.


"Tau lah, akukan sering main juga kerumahnya," kata Eka belagak paling tahu. Aku lupa kalau Eka sama Mikael emang teman dekat dan pastinya Eka juga sering bermain ke rumahnya.


"Oww okey deh kalau gtu," jawabku nganguk percaya.


"Ya udah nanti habis ini langsung cus ketempat Mikael aja kalau gitu," timpal Rena


Eka: nah iya tuh


Vivin: tapi nanti kita makan di ayam situ ya


"Habis jemput Mikael aja biar barengan," kataku


"Iya tuh lebih seru keliatannya," jawab Rena sambil senyum paham maksud tujuanku.


"Ya udah yuk ibadah, udah mau mulai tuh."

__ADS_1


"Yuk," jawab Rena, Eka, dan Vivin kompakan.


__ADS_2