
Akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit Delia diijinkan pulang oleh dokter, tentu saja Delia merasa senang setelah 3 hari ia harus makan makanan rumah sakit yang hambar dan justru membuatnya tidak napsu makan.
Delia kini mulai menjalani rutinitasnya kembali di kantor, lagi-lagi kerjaannya makin menumpuk. Tentu saja tumpukan dokumen yang harus Delia cek sudah terus melambai -lambai, dengan berat hati Delia mulai mengerjakan tumpukan kertas itu.
Kriiiiiinnnngggg … Kriiiiiinnnngggg ....
Telepon ruangan Delia berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
" Halloo ... dengan Delia, bisa dibantu? " jawab Delia dengan suara yang masih lesu.
” Delia … Minggu depan kamu akan dinas ke Bali. Tolong segera persiapkan beberapa dokumennya” pinta pak Randy melalui telepon.
Seperti biasa pak Randy paling enggan untuk melakukan dinas luar kota, bukan karena tunjangannya yang kecil namun karena dia termasuk dalam kategori ISDI ( Ikatan Suami Dicurigai Istri ).
” Baik pak. ” jawab Delia dan kemudian menutup teleponnya.
Delia kembali lagi mengerjakan tugasnya dan mulai menyiapkan beberapa dokumen yang ia butuhkan untuk perjalanan dinasnya.
***
”Bali ... Haaaahhh ….” Delia menghela nafasnya dalam-dalam.
Bali mengingatkannya pada Damar, orang yang pernah singgah di hatinya selama 2 tahun. Hubungannya dengan Damar harus selesai karena sikap posesif Damar yang yang luar biasa. Bali menjadi saksi bisu akhir dari hubungan mereka.
Saat mengenang Damar adalah saat yang berat untuk Delia. Bagi Delia Damar adalah kekasih pertamanya meski banyak kenangan yang kurang baik.
Piiiiippp piiiiiippp pppiiippp ... Pesan suara hp Delia membuyarkan lamunannya yang singkat.
Delia membuka isi pesan itu yang ternyata dari Ozwin.
” Hey … udah masuk kerja yah? Ada film bagus nih ntar malem nonton yok ?”
Ozwin berniat mengajak Delia untuk nonton film terbarunya Marvel.
” Hhmmmm … jam berapa? Sama Ruzel juga?” jawab Delia melalui pesan singkat.
” Jam 7 malam ... Yaaahhh sayang sekali Ruzel ga join kali ini. ” kata Ozwin
” Ooowwhh ... mungkin next time aja deh. Aku juga kebetulan lagi nyiapin untuk Dinas minggu depan nih .” balas Delia.
” Yaaaahhh ... Ayolah...” ajak Ozwin
__ADS_1
”Sorry Oz ... Ak lagi padat. Next time yah” jawab Delia mengakhiri pesan singkatnya.
” Huuuufffttt … aku merasa ga nyaman pergi berdua sama dia. Kenapa dia jadi lebih baik yah… atau dia ngerasa bersalah dan mau menebusnya kali ini.” pikir Delia.
Delia kembali lagi dengan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya.
Dan sekali lagi hp nya berbunyi..
Tiiiriiiiiiit ... tiiiriiiiiiit ....
” Hmmm Ozwin nih pasti ” pikir Delia lalu mengangkat teleponnya tanpa melihat nama siapa yang tertera..
” Oz… sorry… aku ga bisa jalan malem ini. Jadwalku lagi padat merayap.” Cerocos Delia.
” Ooowww ... oke, aku ga ada niat ngajak jalan malem ini sih ” Kata Ruzel. Yah ternyata kali ini Ruzel yang menghubunginya.
Delia mengenal suara ini dan merasa salah tingkah karena malu.
” ooouuuppppssss.. kamu..” jawab Delia sambil setengah menutup mulutnya dengan tangannya.
” Hmm..kecewa yah, dikirain si Ozwin hahahaha ” canda Ruzel meski ada rasa sedikit sesak di dada.
” Tadinya mau ngajak makan siang bareng tapi kayaknya kamu lagi sibuk.” ajak Ruzel..
” Boleh kok… ayoookk!! Hmmm kamu pasti udah diperjalanan mau ke kantor aku kan ? ” ucap Delia dengan senang hati.
” Udah di lobby sih ahhaha… tapi udah mau balik lagi ke parkiran..ya udah deh.. semangaaaattt…” Ruzel mengakhiri teleponnya begitu saja tanpa memberi kesempatan Delia mengucapkan Sepatah kata.
” Huuufffttt kenapa sih tuh orang, selalu aja datang dan pergi gitu aja.” gumam Delia.
Delia segera turun mengejar Ruzel, ia harap Ruzel masih menunggunya di bawah.
Sesampainya di lobby, Delia masih berusaha mencari cari sosok Ruzel.
” Gila...dia beneran pergi gitu aja, ga jelas banget.” Gumam Delia .
Delia memegangi dadanya, nafasnya masih tersengal-sengal karena terburu – buru.
” Kenapa sih belakangan ini pada nyebelin ” ucap Delia dengan sedikit kesal.
” Sapa sih yang nyebelin? ” bisik Ruzel mengagetkan Delia. Terang saja Delia dibikin kaget karena tiba-tiba Ruzel sudah berada di belakang Delia dan mencondongkan kepalanya sambil berbisik.
__ADS_1
” Astaganaga…. ” teriak Delia kaget dengan keberadaan Ruzel.
”Emang nyari sapa sih, gitu amat keselnya?” tanya Ruzel tanpa merasa bersalah.
” Cari tukang siomay, yang seenaknya tutup telepon.” jawab Delia asal dengan nada gemas.
” Kamu kemana sih? Udah gitu tadi langsung tutup telepon gitu aja.” Tanya Delia sedikit kesal.
” Aku dari toilet, udah ga tahan soalnya” timpal Ruzel.
” Terus jadi ngajak makan ga ? ” tanya Delia.
” Bukannya lagi sibuk?” tanya Ruzel.
” Ayoookkk buruan aaah, aku udah lapar bawaannya pengen makan orang. ” Kata Delia sambil menarik tangan Ruzel menuju parkiran.
” Jadi beneran mau cari tukang siomay? Hehehehe ” canda Ruzel.
” Tukang apa ajalah, terus jangan lupa kamu masih ada hutang cerita sama aku. ” kata Delia mengingatkan Ruzel.
” Hmmm baiklah…” jawab Ruzel.
Mereka pun mulai menyusuri jalanan, namun ternyata ketika dalam perjalanan tiba tiba mereka dikagetkan oleh suara klakson mobil yang membabi buta.
Tiiiinnnn…. TiiiiTiiinnn...tiiiiinnn...
Sebuah mobil terus mengklakson tanpa henti, tentu saja hal itu sangat mengganggu padahal jalanan masih luas.
Ruzel dan Delia yang terganggu dengan suara klakson itu berusaha menahan emosinya.
” Apakah dia gila sampai harus bunyiin klakson ga jelas gitu, padahal jalanan masih luas.” kata Delia
” Ga tau deh, mungkin dia golongan sakit hati yang ga tau mau melampiaskan sama siapa.” ucap Ruzel mulai kesal.
Ciiiiiiiiiiiiiiittttt..
Tiba -tiba mobil itu memotong jalan mobil yang dikendarai oleh Ruzel.
****
Bersambung...
__ADS_1