
Hari yang melelahkan bagi persahabatan mereka yang dipenuhi oleh kesalahpahaman yang tiada hentinya. Malam itu ketiganya tenggelam dalam pemikiran masing-masing yang makin kusut dan membuat kesalahpahaman menjadi meruncing.
***
Keesokan harinya
Sinar matahari sudah menyusup dari balik tirai kamar Delia. Jam weker sudah berbunyi berkali – kali namun tak dihiraukannya. Delia hanya mencari asal suara jam weker tersebut untuk mematikannya dan kembali membenamkan tubuh mungilnya ke dalam selimut hangatnya.
Bunda yang sudah menyediakan sarapan untuk Delia, merasa keheranan karena tidak biasanya Delia belum muncul di dapur untuk membantunya. Bunda pun menghampiri kamar Delia, ia memanggil manggil Delia dan mengetuk pintu kamarnya.
Tooookkk ... Toook ... Toook ....
“Del ... Delia ... ayo buruan nak, nanti kamu Terlambat sayang.” Panggil bunda berkali-kali namun masih tak ada jawaban dari dalam, hingga akhirnya bunda membuka pintu kamar Delia dan mendapati anak semata wayangnya masih sembunyi di balik selimut kesayangannya.
“Yaaaa ampun Delia ... Bunda kira kamu lagi siap-siap, ga taunya masih molor. Ayo bangun buruan mandi. Ini sudah siang Delia, nanti kamu telat kejebak macet.” Kata bunda sambil menyingkap selimut Delia.
“Bunda, hari ini Delia ga ngantor kok. Delia ga enak badan.” Kata Delia ogah-ogahan, sambil berusaha meraih selimutnya kembali.
“Kamu sakit nak?” ucap bunda, meraba dahi Delia.
Delia pasrah saat bunda mengecek kondisi tubuhnya.
“Tapi kamu ga demam nak,apa karena kemarin telat makan?” kata bunda.
Delia hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih tertutup.
“Jadi bagian mana yang sakit?” Tanya bunda dengan tatapan serius karena kondisi Delia yang belum pulih benar.
Kali ini Delia menjawab pertanyaan bunda dengan menatap bundanya, tatapan matanya layu dan matanya terlihat sedikit sembab karena menangis semalam.
“Di sini bunda, sakit sekali.” Jawab Delia dengan mengarahkan tangan bunda ke dadanya.
“Delia sedih bunda. Disini rasanya nyeri sekali.” Katanya lagi.
“Jadi masih tentang semalam? " tanya bunda.
Delia hanya menganggukkan kepalanya.
"Delia kamu tuh udah dewasa bukan anak kecil lagi. Jangan karena masalah pribadimu itu kamu sampai merugikan orang lain, kamu sampai ga ke kantor.” Kata bunda menasehati Delia.
“Iya bunda, maafin Delia.” Kata Delia.
Delia bergegas mandi dan bersiap-siap lalu berangkat ke kantor dengan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
***
Sesampainya di kantor
“Del, tumben kamu telat? Mana itu rambut acak-acakan pula. Kamu mandi ga sih? Kok berantakan?” Sapa Riska yang ternyata udah sedari tadi menunggu kedatangan Delia.
“Duh Riska, pagi-pagi suara cemprengmu itu udah merusak telinga aku. Aku tuh kesiangan jadi naik ojol.” Jawab Delia, sambil merapikan rambutnya pakai tangan.
“Itu kenapa mata kamu sembab? Kamu lagi ada masalah?” Tanya Riska.
“Aku belum pakai make up, ini muka belum pakai dempul dan kawan-kawannya jadi gini deh.” Kata Delia sambil cengar cengir.
“Jadi, aku bisa ganggu kamu sebentar ga?” tanya Riska.
“Tergantung besarnya upeti yang kamu kasih.” Canda Delia.
“Aku serius nih Del?” ucap Riska memelas.
“Iya boleh kok kalau cuman sebentar. Jadi kenapa?” jawab Delia.
“Aku mau nanya tentang Ozwin bisa ga? Aku kayaknya suka deh sama dia, sejak pertama kali ketemu dia.” Ungkap Riska, yang membuat Delia terdiam karena kaget.
“Kalau aku bisa jawab ya aku akan jawab.” Kata Delia sambil mengeluarkan beberapa berkas dari laci mejanya.
“Jadi gimana dengan keluarganya? Apakah Ozwin golongan tajir mlintir? Rumahnya gede ga? Atau mungkin dia pernah cerita ke kamu kalau dia punya sejumlah deposito untuk masa depannya.” Tanya Riska, yang menurut Delia itu bukan pertanyaan yang penting untuk diajukan ketika orang jatuh cinta.
“Iya Del, buat jadi jodoh aku.” Kata Riska dengan nada sedikit genit.
“Tapi pertanyaan kamu tadi kayak bukan pengen tahu gimana Ozwin, tapi kayak lagi cari ATM berjalan.” Kata Delia.
“Ya aku kan pengennya punya suami yang tajir Del. Kan ga salah kalau kriteria calon suami aku itu harus tajir, ganteng, gagah model-model Lee min ho.” Jawab Riska.
“Dia orang biasa, kalau dia tajir ngapain dia harus kerja bareng kita di sini. Dia juga orang yang emosional dan kasar. Kalau tentang harta gono gini yang lainnya aku ga paham.” Jawab Delia.
Pembicaraan mereka pun terhenti karena hp Delia ada panggilan masuk.
Tiiirriiirriiitt ... Tiririt ... tiiiriiiiiiit ... Tttiiiriiiiit ....
Riska pun memberi tanda mohon diri dari ruangan. Delia merogoh hp nya yang masih ada di dalam tas dan melihat siapa yang meneleponnya. Delia enggan untuk mengangkatnya, sepertinya Ozwin masih ingin melanjutkan masalah kemarin.
Telepon terus berdering ...
Tiiiirrrrriiirriiiit ... Tttiiiriiiiit ....
__ADS_1
Delia masih tak menghiraukannya, hingga suara telepon masuk itu berhenti dan berganti dengan suara pesan masuk.
Piiiippp ... Piiipp ....
Wechat 1 dari Ozwin
“Angkat teleponnya, aku akan jelasin kenapa aku bersikap kayak gitu.”
Wechat 2 dari Ozwin
“Aku akan datang siang ini dan kita makan siang bareng.”
Wechat 3 dari Ozwin
“Jangan GR ... Aku hanya mau klarifikasi, jadi tolong beri aku waktu untuk jelasin semuanya.”
Ozwin terus mengirim pesan yang membuat Delia semakin geram. Delia pun akhirnya membalas pesan Ozwin yang sudah mengusiknya pagi itu.
“Kalau kamu masih suka maksa mending kita ga usah berteman lagi. Kalau masih ngerasa kita berteman please beri aku ruang sebentar.”
Delia merasa kesal dan mulai mengingat kejadian semalam. Ozwin yang kasar padahal mereka tidak ada hubungan yang spesial. Ruzel yang terlalu woles dan seakan ga peduli dengan apa yang terjadi.
Delia berusaha mengalihkan rasa kesalnya pada pekerjaan yang sudah menunggunya. Delia mulai fokus bergelut dengan angka-angka hingga ia melewatkan makan siangnya, hingga tanpa disadari jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.30 yang berarti sebentar lagi waktunya pulang kantor.
“Aku akan pulang tanggo hari ini, sepertinya aku butuh refreshing” gumam Delia.
Delia pun merapikan semua dokumen yang berada di atas meja dan bersiap untuk pulang.
“Hmm ... Sebaiknya aku nongkrong di cafe sejenak. Huft ... Sayang sekali hari ini aku naik ojol.” Gumamnya lagi.
***
Sesampainya di Cafe
Delia masuk ke dalam cafe tempat biasa dia nongkrong. Ia mulai memesan beberapa menu makanan dan minuman, seperti biasa ketika moodnya kurang baik Delia memiliki nafsu makan yang lebih dari biasanya.
Ketika Delia hendak menikmati makanan yang disajikan, ia dikejutkan oleh sosok yang sangat familiar. Delia mencoba mengamati dari kejauhan seperti sedang menguntit.
“Hmmmm ... Aku harus menyapa atau pura-pura ga lihat yah. Kenapa dia harus kesini juga sih” Pikir Delia.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Kira-kira siapa ya sosok itu?
Ikuti terus kisahnya ...