Rasa Yang Pernah Ada

Rasa Yang Pernah Ada
Pertikaian


__ADS_3

Delia melihat sosok yang ia kenal, seorang laki-laki dengan tubuh atletis mengenakan kaos t-shirt dan celana jin pendek sedang duduk di bagian pojok cafe menghadap jendela. Laki-laki itu tampak sedang serius di depan laptopnya, sesekali ia mengernyitkan dahinya.


Delia yang duduk berseberangan dengannya, terus menundukkan kepala serta menggeser kan tubuhnya yang mungil ke arah dalam seperti sedang sembunyi dari sesuatu, namun sesekali Delia mengintip apa yang laki-laki itu kerjakan seserius itu seorang diri.


“Oooh Tuhan semoga dia ga lihat aku disini, sekali pun ini tempat yang sering kita kunjungi bersama, ini kebetulan yang ga aku harapkan.”Gumam Delia.


Delia mulai menyantap makanannya seorang diri, saking laparnya ia lupa bahwa dirinya sedang waspada akan satu hal. Ketika tersadar Delia kembali mencari sosok dari laki-laki itu akan tetapi Delia tak menemukan sosok itu lagi di tempatnya. Delia berdiri dari tempat duduknya, celingukan mencari keberadaan laki-laki tersebut. Ketika Delia tak menemukannya, ia kembali duduk.


“Huuufffttt ... Mungkin dia sudah pergi” kesah Delia, antara kecewa atau senang.


Namun tiba-tiba Delia dikagetkan oleh suara yang berbisik di telinganya dan membuatnya melonjak kaget.


“Ciyeeee cari aku ya Del!!” kata orang itu yang tidak lain adalah Ruzel.


“RUZEL ... Kaget aku, hampir aja aku pingsan.” Jerit Delia sambil memukul dada Ruzel yang bidang.


“Salah siapa dari tadi hanya mengintip dari kejauhan. Kenapa ga nyamperin sih? Emangnya aku seindah itu untuk dinikmati dari kejauhan?” kata Ruzel usil.


“Ya aku kan ga tau kalau itu kamu, bisa saja hanya seseorang yang mirip kamu. Wajah kamu kan pasaran.” Balas Delia.


“Terus kamu ngapain disini” ucap mereka bersamaan, dan kemudian mereka tertawa.


“Hhmm ... Aku cuman mau makan enak aja sih.” Kata Delia.


“Kalau aku, karena ada kerjaan yang butuh konsentrasi penuh.” Kata Ruzel.


“Jadi apa kita bisa makan bersama? Rasa-rasanya kamu lagi bad mood yah? Banyak bener pesanannya.” Tanya Ruzel, dan langsung mengambil posisi untuk duduk berhadapan dengan Delia tanpa mendengarkan persetujuan dari lawan bicaranya.


Keduanya makan bersama namun dengan suasana yang tiba-tiba canggung dan tak ada bahan pembicaraan. Ruzel pun membuka percakapannya.

__ADS_1


“Jadi apa aku lelaki bodoh?” tanya Ruzel pada Delia.


Delia terhenyak mendengar pertanyaan Ruzel.


“Mmmm ... Maksudnya apa?” jawab Delia tergagap karena gugup.


“Yaah, ada cewek yang ngomong kalau aku itu lelaki bodoh.” Kata Ruzel.


“Kalau menurutku sih iya.” Jawab Delia sambil mengalihkan pandangannya.


“Bener juga sih aku bodoh, dan kamu tahu sendiri sejak kecil aku paling susah ngungkapin apa yang aku mau.” Ucap Ruzel.


“Maafin aku ya Del, kalau aku selalu menyakiti kamu.” Kata Ruzel lagi dengan meraih tangan Delia.


Belum sempat Delia berkata-kata mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan Ozwin yang tiba-tiba menyiram wajah Ruzel dengan segelas air yang ada di meja.


Byyyyyyuuuurrrr ....


“OZ ... Tenangkan diri lu dulu, ini ga seperti yang lu kira.” Kata Ruzel, bangkit berdiri dan berusaha meraih bahu Ozwin.


Delia hanya terdiam karena ia tidak menyangka akan berada dalam posisi seperti sekarang ini.


“Ga seperti yang gue kira kata lu? Gue lihat sendiri Zel.” Pekik Ozwin yang masih dipenuhi amarah dengan wajah yang memerah, dan membuat sebagian orang di cafe itu menatap mereka.


“Tapi gua beneran ga sengaja ketemu Delia disini, dan ini hanya salah paham.” Ucap Ruzel berusaha menenangkan Ozwin dan mengajak Ozwin untuk duduk sejenak.


Delia yang sudah menahan amarahnya sedari kemarin kini meluap dan tak dapat membendungnya lagi.


“Kenapa sih kamu selalu sesukamu sendiri?” Tanya Delia pada Ozwin dan air matanya mulai berjatuhan ke pipinya.

__ADS_1


“Del, sorry Del. Kamu tenang dulu ya Del.” Kata Ruzel lirih, karena sejujurnya hal ini sangat membuat hatinya terluka.


“Bila kalian ada permasalahan baiknya kalian selesaikan dulu dengan baik. Kita kan bersahabat sudah sangat lama sekali, setidaknya kita sudah sedikit ngerti satu sama lain. Boleh marah tapi ingatlah jangan menyakiti diri sendiri ataupun orang lain dan jangan merusak barang apalagi ini di tempat umum. Ingat kalian bukan anak TK. Aku pulang dulu ya.” Kata Ruzel berusaha tidak mencampuri urusan mereka dan mulai beranjak pergi.


“Zel tunggu.” Panggil Delia meraih tangan Ruzel, terang saja pemandangan ini membuat Ozwin emosi.


“Ya Del.” Jawab Ruzel menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Delia.


“Please kamu di sini dulu.” Ucap Delia dengan mata yang masih merah.


Ruzel pun duduk diam di samping Delia dan menatap Ozwin penuh makna. Ozwin pun mulai membuka pembicaraan.


“Del, aku hanya mau lebih dekat aja sama kamu dan mungkin caraku salah. Jadi ... “ kata Ozwin berusaha menjelaskan maksudnya namun kata maaf sangatlah susah keluar dari mulutnya.


“Oz ... Thanks bangetlah, tapi seperti yang udah aku bilang aku ga nyaman sama kamu karena kamu selalu memaksa kehendak dan terlalu emosional. Bukannya aku kemarin bilang kalau seharusnya kamu sudah tahu sendiri batasan hubungan aku , kamu dan Ruzel. Aku memang lebih nyaman sama Ruzel, aku ga memungkiri itu, tapi bukan berati kamu bisa bersikap yang ga seharusnya sama Ruzel. Aku sama kamu ga lagi menjalin hubungan spesial yang berhak untuk menyakiti satu sama lain, harusnya kamu ngerti itu.” Terang Delia.


Setelah Delia menyampaikan hal tersebut, kini ketiganya hanya duduk diam. Delia pun akhirnya menyampaikan hal yang seharusnya ia sampaikan sedari dulu.


“Oz ... Aku saat ini sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Sorry aku baru menyampaikan ini sama kalian karena aku pikir hal itu ga perlu aku bahas sama kalian.” Terang Delia.


Ozwin terperangah mendengarkan pernyataan Delia , sedang Ruzel hanya diam dan menatap kedua sahabatnya itu.


Suasana kembali hening hingga akhirnya Ruzel memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


“Aku pulang duluan ya, takut masuk angin. Lagi pula aku masih ad kerjaan kantor juga.” Pamit Ruzel.


Kedua sahabatnya hanya menganggukkan kepala dan tak lama kemudian mereka semua meninggalkan cafe itu dengan suasana hati yang kacau.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2