Rasa Yang Pernah Ada

Rasa Yang Pernah Ada
Secret admirer


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja setelah kejadian di cafe. Pagi ini matahari masih sembunyi di balik awan namun tak mengurangi cerahnya hari ini, sejuknya angin semilir yang menerobos masuk melalui lubang ventilasi jendela kamar Delia membuatnya masih ingin meringkuk untuk melanjutkan mimpinya. Sayang beberapa saat kemudian jam weker berbunyi menandakan ia harus segera beranjak dari kasurnya yang masih hangat. Delia pun mulai bangun meski matanya masih setengah terpejam, ia menuju dapur untuk membuat sarapan pagi ini. Delia mengambil beberapa potong roti tawar dan mengolesnya dengan selai kesukaannya, ia melahap roti panggangnya dengan segera dan meminum segelas susunya, kemudian Delia bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk menuju ke bandara karena hari ini Delia harus menjalankan tugasnya di Bali selama beberapa hari.


”Semua sudah kamu bawa nak? Jangan lupa KTP, tiket pesawat, hp dan dompet nya. Jangan sampai ada yang tertinggal.” Kata bunda, mengingatkan Delia yang terkadang ceroboh.


”Udah semua bunda. Delia berangkat ya bunda.” Kata Delia mohon pamit sambil memeluk bundanya.


”Hati-hati di jalan nak, jangan sampai telat makan di sana.” Kata bunda sambil mengusap-usap punggung Delia dan memberikan kecupan kecil di dahi anaknya.


Delia pun berangkat menuju Bandara, untunglah Jakarta tidak begitu macet pagi ini. Pesawat pun terjadwal ontime sehingga


perjalanan menuju Bali pun berjalan dengan lancar.


Setibanya di Bali, Delia menuju ke sebuah hotel yang sudah disediakan oleh perusahaannya. Kebetulan lokasi hotel tempatnya tinggal tidak begitu jauh dengan bandara dan tempat kerjanya selama dinas, selain itu kabarnya hotel tersebut memiliki view yang bagus.


Sesampainya di Hotel


Benar saja pemandangannya sangat bagus sekali, Delia terpana dengan setiap sudut yang ia lihat.


”Wah nyamannya … bisa sekalian refreshing nih aku.” gumam Delia.


Delia berharap bisa menghilangkan penatnya yang menumpuk beberapa hari ini. Masalah yang ia hadapi belakangan ini cukup menguras energi dan emosinya.


Delia kini memasuki kamarnya, kemudian meletakkan kopernya dalam lemari. Ia merebahkan tubuh mungilnya dan menerlentangkan tangannya di atas kasur yang terasa empuk dan sejuk untuk istirahat sejenak.


Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke balkon yang menghadap ke arah taman.


Delia membuka pintu balkon dan melangkah ke arah teras balkon.


”Waaaah indahnya … anginnya juga sejuk disini.” gumam Delia sambil merentangkan kedua tangannya menikmati pemandangan dan sejuknya angin yang bertiup sepoi-sepoi saat itu.


Ketika Delia sedang menikmati keindahan alam, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara telepon yang berdering.


Tiiriririiiit … Tiiriririiiit ….

__ADS_1


”Ya Halloo selamat siang.” jawab Delia


”Hallo Selamat siang, dengan ibu Delia.” kata orang itu.


”Benar, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu ibu? Maaf dengan siapa saya bicara?” Kata Delia sopan.


”Saya Rosa, sekretaris dari PT. Marvell, saya ingin menginformasikan bahwa meeting hari ini akan dilaksanakan pukul 19.00, tempatnya di restoran hotel tempat ibu Delia tinggal dan selanjutnya akan ditutup dengan makan malam bersama. Terima kasih ibu” kata Rosa.


”Baik terima kasih atas informasinya.” kata Delia mengakhiri teleponnya.


Delia kini masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya. Delia mulai membongkar kopernya untuk mempersiapkan gaun yang akan ia pakai nanti malam.


Hari ini Delia akan makan malam dengan beberapa perusahaan yang menanamkan saham di perusahaan tempat ia bekerja. PT. Marvel adalah pemilik saham terbesar di perusahaannya, sehingga Delia berpikir harus berpenampilan lebih elegan malam ini.


”Huuuffftt … sepertinya pakaian yang ku bawa kurang cocok untuk acara nanti malam.” Ujar Delia.


Tiiingg tong … tiiinng tong ….


Delia pun membukakan pintu kamarnya.


”Nona Delia? Maaf saya petugas delivery dari PT. Marvel. Saya bertugas mengantar ini untuk nona Delia.” Kata petugas itu dan memberikan sebuah kotak berwarna merah marun.


”Tapi bagaimana saya bisa menerima ini begitu saja?” tanya Delia, kebingungan karena tiba-tiba menerima kiriman bingkisan tanpa diketahui dari siapa pengirimnya.


”Maaf nona, saya hanyalah kurir.” kata petugas itu mengulurkan secarik kertas sebagai tanda terima.


Delia pun menandatangani kertas itu sebagai tanda terima, kemudian ia membuka kotak itu dengan perlahan.


'Kalau isinya boom gimana coba' batin Delia khawatir ketika hendak membuka kotak tersebut.


Ternyata kotak itu berisi sebuah gaun yang sangat indah sekali, Delia mengeluarkan gaun hitam dengan bagian sedikit terbuka di bagian punggungnya, gaun itu tampak sederhana namun terkesan elegan.


’Waaaah indahnya … dari siapa ini ya? Tahu aja yang aku butuhkan.’ Gumam Delia terheran-heran sekaligus terpukau dengan apa yang ia terima.

__ADS_1


Kini Delia mencoba gaun tersebut dan ternyata sangat pas sekali di tubuhnya yang mungil. Ketika Delia hendak membereskan kotak tersebut tiba-tiba Delia menemukan secarik kartu ucapan berwarna merah marun dengan eksen bunga mawar. Delia membukanya perlahan dan membacanya.


***


Teruntuk kamu keindahan sejati.


Ketika gaun ini melekat pada tubuhmu,


Itulah bukti keindahan sesungguhnya yang Ia ciptakan.


Malam ini aku yakin kamulah bintangnya.


Semoga kamu menyukainya.


Penuh cinta,


Cinta yang tertinggal


***


Delia makin terbengong -bengong setelah membaca pesan tersebut.


’Hhmmmm … jangan-jangan salah kirim. Aaahh sudahlah, mungkin ini memang salah satu service yang PT. Marvel berikan. Tapi kenapa harus mengirim kartu ucapan yang membuatku merinding.’ Batin Delia dalam kebingungan dan mencoba menepis pikiran buruk.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, Delia pun segera bersiap-siap, ia tak ingin terlambat dan membuat kesan negatif dalam pertemuan ini. Malam ini akan menentukan apakah PT. Marvel akan terus menanamkan sahamnya di PT. Optimus tempat Delia bekerja atau mungkin akan mengambil sahamnya kembali.


’Aku harus bisa melakukan negosiasi dengan baik, agar PT. Marvel mau terus mensupport kantor cabang PT. Optimus di Bali.’ Pikir Delia, sambil berdandan.


Malam itu Delia tampak sangat cantik dengan balutan gaun hitam, meski Ia berdandan minimalis. Delia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya, karena ini adalah kali pertama ia harus ikut mengahadiri acara seperti ini. Delia mulai mengatur nafasnya, ia mulai berjalan dengan anggun menuju restoran hotel tempat acara itu di gelar.


***


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2