Rasa Yang Pernah Ada

Rasa Yang Pernah Ada
Hari Yang Berat


__ADS_3

Malam itu udara sangat dingin, Delia pun memutuskan segera masuk ke dalam rumah. Delia melangkah dengan gontai seakan akan memiliki beban yang sangat berat di punggungnya, wajahnya nampak lesu tak seceria biasanya. Delia menuju ke meja makan, bunda dan Ozwin masih di sana menunggunya. Diam – diam Ozwin penasaran mengenai dompet Delia yang tertinggal d mobil Ruzel. Ketika Delia bersiap untuk menyantap kembali makan malamnya, saat itu Ozwin bertanya pada Delia tanpa ba bi bu.


”Del, kok dompet kamu bisa dibawa Ruzel?” tanya Ozwin tanpa basa basi saking penasarannya dan tentu saja tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya tanpa disadarinya.


Delia pura-pura tidak mendengar dan tidak ingin merespon pertanyaan itu. Bunda yang menyadarinya berusaha mengalihkan pembicaraan karena bunda tahu tabiat anaknya yang akan marah bila dipaksa untuk menjawab hal yang tidak ingin dia bahas.


”Nak Ozwin gimana kabar mama di rumah?” tanya bunda pada Ozwin.


”Mama baik bunda.” Jawab Ozwin.


”Gimana makan malamnya, apa sudah cukup mengobati rasa kangen nak Ozwin sama masakan bunda?” tanya bunda sambil melempar senyum penuh arti.


”Iya bunda, ini enak sekali. Ozwin boleh sering-sering makan di sini ga bunda?” tanya Ozwin.


”Wah boleh saja, apalagi kalau nak Ozwin jadi menantu bunda.” ucap bunda sambil melirik Delia.


Ucapan bunda membuat Delia tersedak dan terbatuk – batuk karena kaget. Delia pun segera meraih gelasnya untuk meredakan batuknya. Wajah Ozwin pun mendadak berwarna kemerahan seperti tomat karena rasanya apa yang diucapkan bunda tepat sasaran.


”Kenapa nak Ozwin? Apa ucapan bunda salah?” tanya bunda sambil menyembunyikan senyumnya.


”Ga bunda … Hanya saja terasa aneh.” Jawab Ozwin sambil melempar pandangannya ke arah Delia.


Ozwin pun merasa canggung dan kemudian ia pamit pulang setelah mereka selesai makan malam.


”Terima kasih bunda untuk makan malamnya, Ozwin pasti bakal sering-sering mampir.” Pamit Ozwin pada Bunda.


”Makasih ya Oz, ayo aku antar sampai depan.” kata Delia.


Mereka pun berjalan keluar hingga pintu gerbang. Ozwin yang masih penasaran, kembali melontarkan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


”Jadi gimana Del, kok dompet kamu bisa dibawa Ruzel?” Tanya Ozwin.


”Oow itu karena tadi kami makan siang bareng.” Jawab Delia.


Ozwin pun memberhentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam mobilnya dan mengalihkan pandangannya pada Delia.


”Jadi kamu sering jalan sama Ruzel, Del?” tanya Ozwin lagi dengan nada agak tinggi hingga mengejutkan Delia.


”Hanya kebetulan.” jawab Delia singkat sambil menatap ke arah Ozwin.


”Kamu tahu ga, kamu tuh ngeselin banget. Aku ga yakin itu sebuah kebetulan.” kata Ozwin.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Delia. Ia hanya diam dan sedang tak ingin berdebat, karena bagaimanapun juga sejujurnya Delia merasa lebih nyaman ketika sedang bersama Ruzel.


”Hati-hati di jalan. Thanks Oz.” kata Delia dengan suara yang lirih dan membalikkan badannya.


”Del … Delia … tunggu, ini belum selesai.” panggil Ozwin meraih tangan Delia dengan kasar.


”Apalagi sih Oz?” Sahut Delia kesal.


”Aku butuh penjelasan dari kamu Del!” Kata Ozwin.


”Penjelasan apa sih Oz? Semua yang kamu tanya aku udah jawab.” Kata Delia dengan kesal.


”Apa kamu begitu menyukai Ruzel, jadi kamu selalu bersikap dingin sama aku?” Tanya Ozwin lagi.


”Oz … Aku ga ngerti apa yang kamu omongin. Aku rasa kamu udah tahu jawabannya, sebatas apa hubungan antara aku, kamu dan dia.” Jawab Delia, mengibaskan tangan Ozwin dan pergi.


Ozwin mengejar dan menarik tangan Delia dengan paksa.

__ADS_1


”Del … kenapa sih kamu bersikap kayak gini sama aku? Segitu bencikah kamu?” Tanya Ozwin kini dengan wajah memelas pasrah.


Sayang sekali hal itu tak mempengaruhi respon Delia.


”Oz … jujur kamu itu ngeganggu banget. Kamu selalu emosional dan selalu maksain mau mu. Sekarang pun kamu bikin aku ga nyaman. Sekarang aku balik tanya, kenapa kamu bersikap kayak gitu sama aku? Kita bukanlah pasangan. Itu PR buat kamu Oz, aku mohon sekarang kamu pulang.” Kata Delia, membuat Ozwin melepas tangan Delia dan membiarkannya pergi.


Ozwin memandangi punggung Delia hingga Delia masuk ke dalam rumah. Ozwin pun masuk ke dalam mobil dan berpikir sejenak mengenai kata -kata yang Delia ucapkan.


Ozwin masih tak mengerti kenapa dirinya bersikap seperti itu, bahkan ketika terbersit pikiran mengenai perasaannya pada Delia ia pun masih menyangkalnya.


"Ga mungkin aku menyukainya ... aku menyukai cewek macam Delia ... Itu sangat ga mungkin." Sangkalnya.


Ozwin pun melajukan mobilnya menuju rumahnya dan berharap akan segera menemukan jawabannya.


***


PoV Ozwin


Ada perubahan dalam sikapku yang tak kumengerti. Aku hanya ingin terus bersamanya, berada di dekatnya.


Terkadang aku hanya ingin memilikinya seorang diri dan tak ingin berbagi.


Ssssstttt ... tenanglah hatiku, aku tahu itu bukanlah cinta. Menurutku tak ada yang salah dengan rasa ini. Aku hanya merasa dia tak pernah adil dan selalu bersikap dingin.


Aaaahhh sudahlah ... aku hanya ingin tidur nyenyak malam ini.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2