
Malam sudah hampir berganti hari, suasana hati Ruzel masih belum ada titik temu. Ruzel semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia bangkit dari rebahannya sambil menggaruk garuk kepalanya dan mulai masuk ke dalam kamar serta menyalakan AC ruangannya. Ruzel berharap bisa menepiskan segala hal yang disampaikan Echa mengenai dirinya dan Delia, namun apalah daya semakin tidak ingin dipikirkan ternyata Ruzel justru semakin memikirkannya.
Langkah Ruzel tertuju pada meja yang ada di sudut kamarnya, ia mengambil dan memandangi pigura foto dirinya, Ozwin dan Delia.
Sudah terlalu lama Ruzel tidak memandangi foto favoritnya itu sejak ia harus pergi ke Singapura. Ia meletakkan kembali foto itu dan mulai membuka laci meja tempat album foto mereka semasa kecil hingga kuliah. Banyak kenangan yang tersimpan dalam album itu. Ruzel membuka halaman per halaman dan tenggelam dalam setiap momennya.
***
Matanya kini tertuju pada foto jadul dimana Delia dan dirinya menang lomba balap karung berpasangan sewaktu SMP. Ruzel mengingat saat itu Delia terjatuh hingga lecet di bagian lututnya . Kenangan itu masih membekas bagi Ruzel, ketika Delia terus merengek minta gendong dan berakhir dengan Ruzel menggendongnya sampai UKS. Ruzel memandangi foto itu diiringi senyum kerinduan akan masa lalu.
***
Berikutnya mata Ruzel tertuju pada foto dirinya saat mimisan dan Delia berusaha membantunya dengan memasukkan kapas ke dalam hidungnya.
Sekali lagi matanya kini tertuju pada sebuah foto waktu SMA. Yah foto Ruzel, Delia dan Ozwin sambil memegang piala dengan merangkul Delia yang ada di tengah. Saat itu Ruzel dan Ozwin memenangkan lomba liga Basket.
Ruzel membuka setiap halamannya dengan senyum-senyum karena mengingat kejadian saat itu. Kemudian disimpannya kembali Album foto tersebut ke dalam laci.
Kini Ruzel mulai mengambil posisi duduk di depan meja dan mengambil buku diary nya, yaaah buku yang selalu ia sembunyikan agar tak seorang pun tahu bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng. Hari ini ia ingin menorehkan banyak hal yang tak dapat ia ungkapkan.
***
Ruzel mengawali tulisannya dengan syair lagu
Ku simpan rindu di hati ,
Gelisah tak menentu…
Berawal dari kita bertemu,
Kau akan ku jaga….
Ku ingin kau mengerti,
Betapa kau ku cinta…
(Punk Rock Jalanan)
***
Kemudian ia tuangkan lagi perasaannya dalam buku diary dan berharap tak seorang pun melihatnya.
__ADS_1
Terlalu lama ku simpan rindu ini,
Terlalu lama hati ini tak tau kemana arahnya.
Tak kuasa ku bendung rasa ini, rasa sayang yang entah dari mana asalnya.
Rasa sayang yang mungkin karena terbiasa.
Tak ingin ku hancurkan segala mulanya.
Bila kau bahagia nanti dengan sang penjaga hati,
Mungkin itu saat ku harus pergi.
Pergi sebelum semua ini akan membawa luka yang mendalam bagi dirimu.
***
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB,kini matanya terasa berat dan Ruzel mulai mengantuk. Ia tutup diary nya dan ia menyimpannya di tempat terdalam. Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Namun ketika ia akan tidur ia justru mengingat perkataan dan pertanyaan dari Echa. Ruzel merenungkannya kembali.
” Yaaah mungkin gue mulai goyah dengan persahabatan yang sudah kita bangun selama ini, mungkin gue berubah, tapi gue ga boleh kayak gini. Gue harus jaga persahabatan ini terus, gue ga mau semua hancur begitu aja. Dan ga bisa gue pungkiri gue mungkin terlalu sayang sama Delia sampai lupa bahwa dia adalah sahabat gue. Huuuufffttt… gue harus buruan sadar dari semua ini dan kembali lagi di dunia nyata. Biarlah rasa itu pernah ada,dan semoga dia ga pernah menyadari kalau gue pernah terlalu sayang ” pikir Ruzel sebelum tidur.
”Hhhhh…. Jam segini ada Weechat…sapa sih? Gangguin orang lagi mau tidur aja ni orang. ” Gerutu Ruzel dengan mata setengah terpejam, sambil mencari asal suara hp nya. Tampaknya Ruzel hampir lupa di mana ia meletakkan HP nya.
Ruzel membuka isi pesan itu yang ternyata dari Ozwin.
” Zel… subuh ini gue balik ke rumah siap-siap ngantor. Lu temenin Delia yah, gue lupa nanya juga ke Bunda mau ke rumah sakitnya jam berapa. Thanks a lot yah .”
” Oke ” jawab Ruzel singkat.
Ruzel memasang alarm lebih pagi dari biasanya dan memulai tidurnya kembali.
Keesokan Harinya
Krrrriiiiiinnnggggg.....Kriiinnggg…Krriiinnnggg….
Alarm jam berbunyi menunjukkan pukul 04.30 WIB, Ruzel masih enggan keluar dari selimutnya. Kepalanya masih terasa berat, kini ia bahkan meringkukkan kepalanya hingga tenggelam ke dalam selimut.
Krrrriiiiiinnnggggg…. Krriiinnnggg…alarm terus berbunyi..Ruzel mencoba meraba raba mencari dimana asal suara itu. Ia memulai mematikan alarmnya dan kembali lagi sembunyi di dalam selimutnya.
Beberapa lama kemudian Ruzel tiba-tiba teringat akan Delia yang masih berada di rumah sakit. Ia kemudian bangun dari tidurnya dengan tergesa-gesa dan segera menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap menuju rumah sakit, tentu saja karena tergesa-gesa Ruzel hanya sempat ”mandi ayam”.
__ADS_1
***
Ruzel mulai bersiap-siap, ia mengenakan t-shirt berwana biru dongker dan celana jeans, kemudian ia meraih kotak berwarna cokelat muda diatas meja yang sudah lama tergeletak di atas sana. Kotak itu berisi jam tangan yang entah kapan terakhir ia mengenakannya, Ruzel mengambilnya lalu memakai jam tangan itu.
” Waaah kayaknya bakal kesiangan nih sampai rumah sakitnya. ” gumamnya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 05.15.
Ruzel segera memanaskan mesin mobilnya dan segera menuju rumah sakit.
Ttttiiiiirrriiiirriit…tiiirriiirriiitt.. hp Ruzel berbunyi.
” Zel … lu masih di rumah yah?? Buruan Delia sendirian oncom.” tanya Ozwin buru-buru.
” iyaaa…iyaaahh.. lagi di jalan gue” jawab Ruzel.
”Buruan… ” kata Ozwin
” iyaah sabar gue naik mobil bukannya pesawat.” jawab Ruzel yang baru mau berangkat.
” Sapa bilang lu naik onta..buruan.. ” kata Ozwin mengakhiri panggilannya.
30 Menit kemudian
Akhirnya Ruzel sampai juga di rumah sakit. Ia segera memarkirkan si Bety mobil kesayangannya itu di tempat yang strategis supaya gampang keluarnya.
Ruzel segera menuju ke ruangan dimana Delia dirawat. Ketika akan masuk ke dalam ruangan, Ruzel kembali lagi teringat tentang perasaannya pada Delia yang ingin dia lupakan sehingga membuatnya hanya berjalan bolak -balik aja di depan ruangan Delia.
” Huuuufffttt gue harus gimana nih?? Biasa aja?? Tapi kalau tiba-tiba salah tingkah gimana dong gue? Aaaahhh ga ah… gue ga ada deg deg an juga dekat dia.” gumam Ruzel dengan cemas yang disadari oleh seorang perawat yang hendak masuk ke dalam ruangan Delia.
” Permisi mas… mas permisi, saya mau masuk ” kata perawat itu berkali-kali dan mengejutkan Ruzel.
” iya maaf sus, silahkan ” jawab Ruzel
” Mas …kerabatnya pasien Delia? Mari mas masuk aja. Saya lihat dari tadi mas cemas kaya nunggu istri mau lahiran ” kata perawat itu iseng karena melihat tampang Ruzel yang sepertinya asik untuk diisengin.
” Aaaahhh… suster bisa aja ” jawab Ruzel.
Akhirnya Ruzel masuk bersama perawat ke dalam ruangan tersebut.
***
Bersambung ...
__ADS_1