
Ku memilih untuk memendamnya ,
karena aku ingin semua baik-baik saja.
Ku memilih hanya memberi apa yang ku punya,
Tanpa mengharapkan kau akan membalasnya ...
Kau tak perlu melihatnya,
Kau hanya perlu merasakannya ....
Itulah sedikit tanda cintaku untukmu.
****
Mereka hanya diam dalam lamunan dan memandang hiruk pikuk kota Jakarta diiringi dengan lagu-lagu yang disiarkan oleh radio.
Tak terasa sampai di depan kantor Delia, Ruzel hanya mengedrop Delia di lobby dan kemudian segera pulang.
”Udah sampai Del, makasih ya makan siang hari ini. Sorry juga buat kejadian hari ini ” Kata Ruzel.
”Sama-sama Zel..” sahut Delia sambil berusaha membuka sabuk pengamannya yang tiba-tiba susah terbuka entah karena gugup atau karena memang si Betty termasuk mobil lama.
Tanpa diminta pun Ruzel membantu Delia untuk membuka sabuk pengaman tanpa melihat Delia, ia takut bila suara genderang dalam hatinya terdengar.
Namun siapa sangka bahwa ternyata Delia pun merasa gugup ketika Ruzel membantunya.
”Mmm..makasih Zel” kata Delia terbata.
”Yah sama-sama Del. Semangat buat hari ini.” kata Ruzel sambil menepuk punggung tangan Delia.
”Oh Tuhan … kalau waktu berhenti sebentar saja mungkin aku akan mati karena serangan jantung.” batin Ruzel yang baru kali ini merasakan jantungnya seakan mau lompat keluar ketika berdekatan dengan Delia.
Delia tidak segera turun dari mobil ia ingin sedikit lebih lama bersama Ruzel, tentu saja karena Delia masih penasaran dengan suatu hal.
”Zel, boleh tanya sesuatu ga?” tanya Delia cukup membuat Ruzel terkejut.
”Ya Del..” sahut Ruzel
” Aku tadi denger obrolan kamu sama Abang tukang siomay, itu serius ? ” tanya Delia.
”Yang mana yah? Tadi cuman bercanda aja sih sama si Abang.” Jawab Ruzel dengan wajah mulai memerah.
”Mampus gue… perasaan udah pelan banget ngomongnya, memang benar ternyata kalau dinding bisa mendengar.” batin Ruzel.
”Ooowwhh… ya udah bye Zel”sahut Delia segera.
Delia pun bergegas karena waktu jam makan siang sudah habis. Delia menuju ruangannya dengan segera, dan benar saja Riska sudah menantinya entah apa yang akan ia bicarakan saat ini.
” Del…kamu keluar makan? Tumben nih, sama sapa Del?” tanya Riska
”Sama temen sekolah dulu.” Jawab Delia.
” Ozwin?? ” tanya Riska lagi
”Bukan kok.. ada apa Ris? kamu nunggu aku udah lama yah?” kata Delia dan langsung menanyakan niat Riska mencarinya.
”Ga pa pa sih Del, aku iseng aja” kata Riska nyengir.
”Aku masih harus nyiapin dokumen nih buat berangkat dinas ke Bali.”kata Delia berharap Riska tak mengganggunya dengan gosip-gosip yang akan ia sebarkan.
”Owh.. baiklah aku duluan yah.” pamit Riska tak ingin mengganggu Delia, karena terlihat sekali Delia sedang tak ingin diganggu siapapun.
__ADS_1
Delia kembali fokus dengan pekerjaannya, sesekali ia mengintip Hp nya yang tumben tidak berbunyi. Delia mulai tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Segala kejadian bersama Ruzel hari ini membuatnya tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
”Gila padahal aku denger banget tuh dia ngomongin apa sama si abang siomay, ya sebego-begonya aku tapi aku kan ga tuli”.
.
”Terus dia pakai nanya kalau sama dia ada rasa ga?” Pikir Delia, yang sudah mulai dipenuhi oleh Ruzel.
Delia pun dikagetken dengan suara telepon masuk pada HP nya.
Tiiiriiiiiiit … tiiiriiiiiiit … tiiriiriit.
Delia pun segera mengangkat teleponnya.
”Hallo ….”
”Jadi beneran Del, ga mau nonton bareng nih?” tanya Ozwin masih berharap Delia berubah pikiran.
”Ga Oz. Aku masih belum kelar kerjaannya.” Jawab Delia menolak ajakan Ozwin.
”Kalau makan malam bareng mau ga?” tanya Ozwin lagi.
”Bunda udah masak Oz, aku akan makan di rumah malam ini.” Jawab Delia lagi.
”Aku boleh makan di rumah kamu ga?” Kata Ozwin.
”Emang mama kamu ga masak?” ucap Delia.
”Jadi ga boleh ya?” Kata Ozwin dengan nada merajuk.
”Ya udah … serah aja.” Jawab Delia.
”Aku jemput yah nanti.” Kata Ozwin lagi dan mengakhiri teleponnya.
”Huuuft … kenapa sih ni orang maksa banget.” Batin Delia, sambil menggeleng gelengan kepalanya.
Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.30, pantas saja suasana di kantor sudah mulai sepi. Delia bergegas merapikan mejanya dari tumpukan dokumen.
”Aku harus bergegas agar si Ozwin perlu menunggu ku terlalu lama,bisa-bisa dia masuk ke ruangan ku kalau aku ga bergegas.” gumam Delia sambil memasukkan hp nya ke dalam tas.
”Loooh kemana dompet aku yah? jangan-jangan jatuh waktu aku bayar siomay.” Gerutu Delia sambil membongkar lagi isi tasnya.
”Tanya Ruzel ga yah, hmmm … tapi tadi yang bayar kan aku. Huufftt … ya sudahlah.” gumamnya lagi.
Tiba-tiba hp nya berbunyi ….
Tiriiiiiit … Tiiriiriit ….
Delia pun segera mengangkat teleponnya.
”Iyaa … Tunggu yah, bentar lagi.” Jawab Delia dan ia segera menutup teleponnya.
Delia segera menuju ke lobby dan bertemu dengan Ozwin.
”Hei … Sorry yah, kamu jadi nungguin aku.” kata Delia.
”Aaaahhh ga pa pa kok, yok langsung pulang.” ajak Ozwin.
Mereka menuju parkiran dan segera menuju ke rumah Delia. Ozwin sempat bingung bagaimana mengawali pembicaraan dengan Delia, karena Delia terlihat cuek dan sepertinya sedang ga bisa diganggu.
Akhirnya Ozwin pun memberanikan diri untuk mengajak Delia mengobrol.
”Del … kusut amat mukamu. Kenapa?” Tanya Ozwin.
__ADS_1
”Ga pa pa kok.” Jawab Delia singkat karena sambil mengingat -ingat bagaimana kejadiannya hari ini benar-benar jackpot untuk Delia.
Dari kejadian bersama Ruzel sampai raibnya dompetnya.
”Terus aku boleh nanya ga kenapa kamu akhirnya mengijinkan aku buat makan malam di rumahmu.” Tanya Ozwin.
”Karena kamu maksa banget.” jawab Delia merasa sedikit jengkel.
Jawaban Delia membuat Ozwin enggan untuk melanjutkan pertanyaan yang lain, suasana menjadi canggung. Mereka hanya terdiam, sampai akhirnya tidak terasa mereka sudah berada di depan rumah Delia.
Namun betapa kagetnya mereka saat melihat si Betty mobil Ruzel ada di depan rumah Delia, keduanya saling berpandangan dan mengangkat bahu. Delia dan Ozwin turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak ditutup pintunya, mereka kaget saat mendapati Ruzel ada di dalam sedang menyantap hidangan makan malam bersama bunda.
”Delia pulang bunda ….” Salam Delia pada bundanya.
”Eeehhh udah pulang Del, ini ada nak Ruzel. Lhoooh ada nak Ozwin juga, mari makan bersama nak Ozwin.” kata bunda.
”Permisi bunda, maaf merepotkan bunda. Sebenarnya memang itu niat Ozwin bunda, udah lama Ozwin ga makan masakan bunda.” kata Ozwin.
”Zel … Kok kamu di sini juga?” Tanya Delia.
”Niatnya mau balikin dompet kamu yang jatuh di dalam mobil aku, tapi lihat bunda habis masak aku jadi lapar. Hahahaha.” jawab Ruzel diiringi dengan tawa.
Delia dan Ozwin pun mengambil posisi untuk makan. Namun ketika mereka berdua mulai makan, Ruzel mohon diri untuk pulang.
”Bunda … Terima kasih ya sudah mengijinkan Ruzel makan malam di sini. Dompet Delia sudah ya Bun, Ruzel mohon pamit ya bun karena ada banyak kerjaan di rumah.” pamit Ruzel.
”Kok buru-buru nak Ruzel, kita ngobrol aja dulu udah lama juga ga ketemu kan.” kata bunda.
”Iya, kenapa buru-buru Zel. Thanks ya buat dompetnya, tadi aku sempet bingung cari di kantor.” ucap Delia.
Ruzel yang merasa sungkan dengan Ozwin, memutuskan untuk segera pulang.
”Sorry Del, aku harus buru-buru pulang” kata Ruzel lagi.
”Hati-hati yah bro.” sahut Ozwin.
Ruzel menganggukkan kepalanya, sedangkan Ozwin sudah memalingkan wajahnya lagi.
”Oh Tuhan … rasa panas apa ini yang membakar wajahku.” Batin Ozwin, sambil melanjutkan makannya.
”Ruzel … tunggu, aku antar Sampai depan yah.” Kata Delia memberi tawaran pada Ruzel dan ia pun meninggalkan piring makan malamnya sejenak.
”Oke.. Saya pamit ya bunda, sekali lagi terima kasih” pamit Ruzel sambil berdiri dan mulai jalan ke depan ditemani oleh Delia.
Mereka berjalan dalam diam Sampai ke gerbang rumah Delia. Ruzel pun pamit.
”Makasih ya Del, selamat malam. Segeralah masuk ke dalam karena di luar udara sangat dingin.” Kata Ruzel.
Delia menganggukkan kepala, Ruzel pun masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan melalui kaca mobilnya yang bisa buka setengah.
”Zel … Ruzel … tunggu.” panggil Delia.
”Ya Del … Ada apa Del?” jawab Ruzel.
”Kamu ga tanya kenapa aku bisa bareng sama Ozwin?” kata Delia yang berharap Ruzel akan menanyakan kenapa Delia bersama dengan Ozwin.
”Ya kan kalian pulang bareng, kenapa aku harus menanyakan hal itu.” jawab Ruzel, yang sebenarnya dari hati yang terdalam ia ingin tahu. Namun rasa ingin tahunya itu ia tepiskan untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.
”Owh baiklah … hati-hati di jalan. Makasih ya Zel.” Sahut Delia segera, karena ia merasa malu udah terlalu percaya diri. Delia kira, Ruzel pasti ingin tahu mengapa dirinya bersama Ozwin, namun ternyata reaksi Ruzel tidak sesuai yang diharapkannya.
Ruzelpun menutup kaca mobilnya, namun sebelum Delia membalikkan badannya ia mengucapkan sesuatu yang terlontar begitu saja dari bibir Delia dan tidak sengaja terdengar oleh Ruzel.
”Dasar bodoh.” kata Delia merasa gemas, dan kemudian membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
****
Bersambung...