
Malam itu suasana di dalam restoran sangat ramai, tampak beberapa orang penting yang sedang membicarakan masalah bisnis. Delia memasuki restoran dengan rasa gugup dan merasa asing karena ia tak mengenal siapapun di sana. Ia mencoba untuk membaur dengan beberapa tamu lainnya.
Meeting akan segera dimulai, namun CEO PT. Marvel masih saja belum muncul. Selama ini orang penting di PT. Marvel itu terkesan misterius karena ia selalu mengutus sekretarisnya untuk mengerjakan segala keperluan kantor. Sepertinya rapat kali ini akan sedikit molor.
Saat itu beberapa orang berbisik membicarakan mengenai sosok CEO yang hampir tidak pernah muncul. Mereka bertanya-tanya kenapa sosoknya sangat misterius. Apakah CEO itu mempunyai wajah yang jelek hingga malu untuk muncul di hadapan orang banyak. Tak beberapa tamu undangan yang merasa penasaran , ternyata jiwa ingin tahu Delia pun terpancing dengan pembicaraan tersebut hingga membuatnya mencari sosok itu diantara para tamu yang lain. Ketika Delia sedang menoleh ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba ada orang yang menepuk bahunya dari belakang yang membuat Delia terkejut.
“Kamu ... Kok kamu ada disini?” tanya Delia terkejut melihat Kenzo.
“Aku kerja di PT. Marvel, sayang.” Jawab Kenzo.
Yaaah ... Laki-laki bertubuh tegap, putih dan tinggi itu adalah kekasih Delia.
“Ooow ya, aku baru tahu.” Kata Delia.
“Jelaslah sayang, aku ini udah macam pacaran sama koran aja. Telepon kagak pernah, WeChat juga cuma dibaca doang.” Ucap Kenzo.
“Huuuuuussshh ... Jangan ngomong gitu ah.” Kata Delia, mencubit pinggang Kenzo.
Meski sudah terbilang cukup lama namun hubungan keduanya sangat datar, seakan tidak ada magnet cinta diantara mereka.
“Kamu sendiri gimana, kok bisa sampai sini? Ga ngabarin aku?” tanya Kenzo.
“Aku mewakili kantor Ken dan emang ga sempat ngabarin kamu. Maaf ya sayang.” Jawab Delia manja.
“Hahahaha ... Emang pernah sempat ya kamu hubungi aku?” Jawab Kenzo dengan nada mengejek dan membuat beberapa orang menatap mereka.
“Kenzo ... Please.” Kata Delia, menarik tangan Kenzo menuju taman dekat restoran.
“Kenapa sayang? Apa kamu marah? Apa aku keterlaluan?” Tanya Kenzo menggenggam tangan Delia.
Delia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, seakan dipenuhi rasa bersalah.
“Kok diem?” Tanya Kenzo, mengangkat wajah Delia yang tertunduk dan menatapnya dengan lembut.
“Aku ga marah kok. Aku salah, maafin aku ya.” Kata Delia, membalas tatapan Kenzo dan kemudian memeluknya.
“Kamu terlihat cantik malam ini, jadi tetaplah tersenyum sayang.” Puji Kenzo.
“Makasih sayang.” Sahut Delia.
“Ayo kita masuk ke dalam, Nanti kita terlambat mengikuti rapat. Lagi pula disini udaranya dingin." Ajak Kenzo.
“Baiklah, lagi pula aku bertugas untuk mengikuti rapat malam ini.” Ujar Delia.
Mereka berdua pun masuk ke dalam dan mengikuti rapat yang baru saja dimulai, hanya saja CEO PT. Marvel belum juga menunjukkan batang hidungnya. Semua orang masih bertanya-tanya apakah beliau akan datang menghadiri rapat penting ini.
__ADS_1
“Sayang, apakah kamu sama penasarannya dengan mereka?” tanya Kenzo.
“Entahlah, aku tak begitu tertarik dengan hal itu karena toh aku ga akan bertemu dengannya setiap harinya.” Sahut Delia, meskipun sebenarnya ia ingin tahu juga sebenarnya siapa yang sedang orang-orang itu bicarakan.
Tak lama kemudian para tamu dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sangat misterius, laki-laki itu mengenakan tuxido dan topeng hitam yang menutupi bagian matanya seperti Zoro. Ia dikawal oleh beberapa bodyguard. Rapat kali ini terasa aneh bagi Delia karena lawan bicaranya yang tak ingin diketahui identitasnya, bahkan didampingi oleh beberapa orang bodyguard.
Setelah rapat, laki-laki itu pun berusaha mendekati Delia dan memberi sapaan khusus ketika makan malam.
“Bukankah kamu sangat menyukai makanan manis?” Tanya laki-laki itu pada Delia dan memberikan cake berselimut cokelat pada Delia.
Delia tampak terkejut karena laki-laki itu seakan tahu tentang dirinya, begitu juga dengan Kenzo.
‘OMG ... Semoga hanya kebetulan.’ Batin Delia.
“Terima kasih pak.” Jawab Delia,menerima cake dalam piringan kecil dan mulai memakannya secara perlahan.
“Apa kamu bisa menemani saya sebentar jalan-jalan di taman karena saya ga terbiasa menjadi pusat perhatian.” Ajak laki-laki itu.
Delia pun tak sanggup menolak ajakan laki-laki itu, Delia menatap Kenzo penuh arti dan akhirnya Delia dan orang itu berjalan menuju taman. Mereka berjalan berdampingan dan karena merasa canggung maka Delia berjalan dengan melipat tangannya dan matanya mulai menjelajahi indahnya taman bunga dengan lampu malam yang menyinarinya, mereka berjalan dalam keheningan malam.
“Apa kamu kedinginan? Maafkan saya, kamu jadi kedinginan.” Ucap laki-laki misterius itu, melepas jas nya dan menyelimutkan pada tubuh mungil Delia.
Hal itu membuat Delia salah tingkah.
“Panggil aja Marvel, saya rasa kita seumuran. Mari kita bicara lebih santai seperti biasanya.” Kata Marvel.
Delia bingung bagaimana menyikapinya karena bagaimanapun juga orang yang berada di hadapannya ini adalah orang penting. Delia juga bingung mendengar kata-kata Marvel mengenai bicara seperti biasanya.
“Baik pak ... Eh, Marvel.” Jawab Delia masih merasa canggung.
“Nah gitu lebih nyaman rasanya.” Kata Marvel.
“Tapi, bicara seperti biasanya yang seperti apa yang bapak. Eeh, Marvel maksud.?” Tanya Delia dengan wajah polos.
“Bicara layaknya teman lama.”Kata Marvel.
“Kamu cocok pakai gaun itu!! Kalau kamu terlihat aneh malam ini, mungkin aku akan pecat sekretaris ku.” Puji Marvel.
“Terima kasih Vel, ini pas banget sama tubuhku.” Kata Delia.
Mereka pun ngobrol santai layaknya teman lama, entah kenapa Delia merasa nyaman saat berbincang dengan Marvel. Seakan mereka udah mengenal satu sama lain. Tiba-tiba Delia menanyakan sesuatu.
“Kenapa kamu pakai topeng?” tanya Delia.
Marvel hanya mengalihkan pandangannya dan terdiam.
__ADS_1
“Kalau ga mau jawab ga pa pa kok.” Sahut Delia buru-buru, takut membuat Marvel tersinggung.
“Aku memang disetting misterius sebagai ambasador PT. Marvel.” Jawab Marvel yang membuat Delia bingung.
“Del ... Apa aku boleh tanya sesuatu? “ tanya Marvel lagi.
Delia terhenyak bagaimana mungkin orang hebat ini tahu namanya.
“Kamu panggil aku?” Tanya Delia memastikan.
“Iya kamu Delia, siapa lagi emang? Hantu ?” Jawab Marvel setengah bercanda.
“Sorry, aku bingung aja kamu tahu namaku.” Kata Delia masih merasa heran.
“Apa kamu beneran ga mengenali aku?” Tanya Marvel menatap Delia.
“Yaaaa kan kamu pakai topeng udah gitu disini remang-remang, pencahayaan kurang memadahi. Gimana aku bisa ngenalin kamu?” Kata Delia dengan wajah polos.
“Baiklah, bahkan suara ini kamu juga ga mengenalinya.” Kata Marvel.
“Habis kalau suara kan bisa pasaran juga, muka aja banyak yang pasaran.” Jawab Delia bercanda.
“Terus gimana kamu mengenal Kenzo?” Tanya Marvel tiba-tiba membuat Delia salah tingkah.
“Kenzo ... Kenzo itu laki-laki yang baik, dan aku rasa aku beruntung memilikinya. Tuhan mempertemukan kami dengan cara yang ga diduga di dalam pesawat.” Jawab Delia.
Saat mendengarnya ada perubahan pada raut wajah Marvel. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sesak. Beberapa waktu kemudian Kenzo menghampiri mereka.
“Maaf permisi pak, sekretaris bapak mencari bapak.” Kata Kenzo.
“Ooh baik terima kasih Kenzo, sampai jumpa Delia. Terima kasih sudah menemani mencari udara segar malam ini. Bila ada sesuatu yang kamu butuhkan katakan saja pada pihak hotel.” Kata Marvel dan berlalu pergi.
“Waaaahhh ga terasa udah larut yah.” Kata Delia.
“Iya kembalilah ke kamarmu sayang. Ayo aku antar kamu.” Kata Kenzo.
“Makasih sayang kamu yang terbaik.” Kata Delia memeluk Kenzo.
Dari kejauhan Marvel memandang kehangatan mereka.
“Syukurlah Del, kamu menemukan pasangan yang tepat.” Gumam Marvel.
***
Bersambung ...
__ADS_1