
Qinfeng dengan diam dan tenang mendengar penjelasan guru tentang misi yang akan diemban olehnya nanti di dunia Kultivator. Intinya didalam misi itu Qinfeng disuruh untuk menghentikan pemberontakan yang akan terjadi apapun dan bagaimanapun caranya.
Penjelasan itu berlanjut hingga berjam-jam lamanya. Semisal ini Qinfeng yang dulu mungkin sekarang ia sudah mengeluh karena untuk waktu yang lama harus duduk diam mendengar cerita yang seperti dongeng, tetapi kini Qinfeng telah berubah, ia bukan lagi bertindak seperti ia yang dulunya masih remaja, pemikirannya kini sudah matang berkat penempaan pribadinya oleh guru.
"Jadi, apa kau sudah mengerti dengan jelas apa maksudku?" Setelah guru mengakhiri ceritanya, ia mengkonfirmasi kan apakah Qinfeng telah mengerti apa yang sejak tadi diceritakannya.
"Mengerti guru. Intinya misiku ini hanya untuk menghentikan pemberontakan apapun yang terjadi bukan?? Tenang saja, aku akan membereskannya dengan baik." Dengan penuh percaya diri Qinfeng menjawab pertanyaan guru.
"Ingat ini Qinfeng, walaupun kau sudah berada diranah Dewa Puncak bukan berarti kau tak terkalahkan. Penjaga yang kutempatkan disetiap dunia itu bukan hanya lelucon saja ia bisa layak dipanggil Dewa. Hal itu karena ia memilki kekuatan yang mampu mendukung gelarnya sebagai Dewa. Dan kau tahu itu artinya? itu artinya ia sudah tidak berada dilevel yang sama dengan level manusia normal..." Jelas guru sembari memperingatkan Qinfeng.
Mendengar hal itu Qinfeng mengerutkan dahinya. "Apakah guru mau mengatakan bahwa diatas ranah Dewa Puncak masih ada lagi ranah yang lebih tinggi?"
"Memang benar, tetapi hal itu tidak akan ku jelaskan pada mu saat ini. Hal itu akan kau ketahui ketika kau telah melihat dunia yang lebih luas lagi diperjalananmu nanti..." Jelas guru kemudian.
"Begitu ya guru. Walaupun aku merasa penasaran dengan itu tetapi aku akan menghormati pilihan guru untuk tidak menceritakan nya padaku. Jadi selanjutnya sudah saatnya aku untuk pergi, bukan begitu guru?" Setelah tadi guru mengakhiri ceritanya kini Qinfeng merasa tidak ada yang harus dilakukannya lagi disini dan itu membuatnya mengingatkan kembali gurunya.
"Yah, itu memang benar. Lagipula tidak ada lagi yang kau perlukan ditempat ini. Tapi tunggu dulu, apakah kau memang sebegitunya ingin pergi dari sini ya..." Dengan ekspresi pura-pura terganggu, guru mengeluhkan sikap Qinfeng.
"T-tidak, Bukan begitu guru. Bukannya kau sudah tahu jika aku sudah menunggu hari ini begitu lama, maka dari itu aku merasa sangat bersemangat sekali." Qinfeng dengan buru-buru membela diri.
"Omong kosong! Bukannya aku mengatakan bahwa kau sudah boleh untuk pergi dari sini jika memberikan setidaknya luka pada Naga itu, tetapi kau malah menantang untuk mengalahkannya. Jangan salah kan aku karena kau lama pergi dari sini..." Guru menumpahkan kekesalan nya dalam satu tarikan nafas. Qinfeng yang menjadi arah tujuan kekesalan guru nya hanya menoleh ke kanan-kiri menghindari berkontak mata langsung dan tersenyum canggung.
"Ahahaha.... I-itu bagaimana aku mengatakannya ya, aku hanya merasa tertantang. Hanya itu saja guru..."
"Haih terserahlah. Jadi apa kau sudah membawa perbekalan Air Suci mu?" Tanya guru untuk mengingatkan kembali Qinfeng.
__ADS_1
"I-itu, aku tidak tahu apa tempatnya, hehehe....." Dengan senyum tanpa dosa Qinfeng mengaku jujur.
"Hmm Benar juga ya. Kalau begitu ambil dan isi disini!" Guru kemudian menyerahkan kantong kulit kepada Qinfeng.
"Ingat, karena air suci ini hanya terbatas gunakan hanya untuk keadaan darurat saja!!"
"Baik guru!!"
*****
Kini Qinfeng tengah berdiri berhadap-hadapan dengan gurunya. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan guru yang telah menemaninya dan sekaligus melihat secara langsung perkembangannya dari awal sampai akhir.
"Cincin ini akan kuberikan padamu. Didalamnya ada segala yang kau butuhkan untuk menjalani hari-harimu ketika disana." Cincin yang disebut guru itu diserahkan kepada Qinfeng. Itu adalah cincin Dimensi yang sering Qinfeng lihat dipakai oleh gurunya.
"Bukankah itu sangat berharga guru? Mengapa Harta Pusaka seperti itu bisa dengan mudah memberikannya padaku??" Qinfeng agak ragu untuk menerimanya mengingat itu adalah Harta Pusaka yang tak ternilai harganya, walau ia tidak terlalu tahu soal itu tapi Qinfeng yakin bahkan didunia kultivator tidak ada yang memiliki Cincin Sekaliber itu.
"E-eh?? Baiklah guru, berikan padaku jangan diambil lagi..." Dengan tatapan memelas Qinfeng meminta kembali Cincin itu, ia tidak ingin kesempatan sebagus ini lewat begitu saja.
Melihat sikap guru nya Qinfeng berpikir bahwa gurunya mungkin saja seorang Tsundere.
"Baiklah, kau sudah boleh pergi sekarang! Aku akan mengirim mu dalam beberapa detik kedepan."
Setelah mengatakan itu mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum tiba-tiba Qinfeng berlutut. Ia dengan rendah diri berlutut untuk mengucap salam perpisahan yang tidak tahu kapan lagi akan bertemu.
"O-oii, apa yang kau lakukan Feng'er, walaupun disini tidak ada orang tapi tetap saja ini sangat memalukan. Berdirilah!!" Selama ini guru tidak pernah merasakan canggung karena pada dasarnya ia adalah entinitas yang sendiri jadi tidak perlu baginya merasakan perasaan seperti itu, tetapi dihadapkan dengan situasi tidak terduga ini ia tidak tahu harus bereaksi apa.
__ADS_1
Disisi lain Qinfeng tidak mengindahkan kata-kata gurunya. Ia semakin menunduk dengan dalam dan berkata dengan nada agak serak, "Terimakasih untuk bimbingan mu selama ini guru! Nasihat dan pengajaranmu akan kuingat selalu dan akan kulaksanakan sebaik-baiknya, juga aku tidak akan menyuruh guru untuk memaafkan kelakuanku selama ini yang sangat merepotkan mu tetapi setidaknya lihatlah dari atas ini muridmu berhasil!" Hanya dalam satu tarikan nafas saja Qinfeng berbicara dengan lugas kepada gurunya, suaranya yang sedikit serak sedikit menarik perhatian, mungkinkah dia menangis?
Melihat kesungguhan dalam nada bicaranya, membuat guru mau tidak mau harus mengakui bahwa ia sangat tersentuh. Ia berjongkok menyelaraskan tingginya dengan Qinfeng lalu kemudian memeluknya. Tidaka ada kata-kata yang keluar, hanya air mata yang mengalir deras dapat membuktikan bahwa gurunya mungkin juga merasa sangat kesepian.
Dulu sekali ia sudah terbiasa dengan suasana bernama sepi, tetapi ia lupa entah kapan terakhir kali ia merasa sepi sejak kemunculan Qinfeng. Kini rasanya perasaan saat itu kembali muncul dan hal itu membuat guru menangis walaupun tidak bersuara.
Lima menit telah berlalu sejak mereka dalam posisi berpelukan - yang sebenarnya hal itu karena guru yang menunggu air matanya untuk mengering. Guru bangkit berdiri dan memandang Infeng seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Sudah, sekarang kamu boleh pergi. Aku akan mengirim mu sekarang!" Selesai berkata demikian tanpa banyak kata guru membuat sebuah lingkaran pentagram yang tampak seperti lingkaran sihir dibawah kaki Qinfeng. Lingkaran itu bersinar terang sebelum sejurus kemudian menghilang bersamaan dengan sosok Qinfeng yang berdiri diatasnya.
"Semoga Dia bisa membantumu nanti disana dan tidak hanya menjadi beban saja, Haihh.." Setelah kepergian Qnfeng, guru nya bergumam pelan. Ia kemudian tersenyum dan terbang kembali ke istana yang telah lama ditinggalkan nya.
****
Sementara itu Qinfeng dalam balutan lingkaran sihir muncul ditengah hutan yang terlihat lebat. Pepohonan yang besar dan tinghi menghalangi cahaya matahari untuk masuk membuat hutan ini menjadi gelap sehingga sedikit terasa menakutkan.
"Yang benar saja!! Guru, mengapa harus mengirim ku ketempat antah berantah begini sih? Tidak mungkin alasannya supaya mendapat pengalaman bertarung melawan beast kan??" Hal itu diutarakan Qinfeng setelah ia merasakan banyak niat membunuh yang terarah padanya dikegelapan sudut hutan.
Melihat hal itu, Qinfeng hanya dapat menghela nafas pasrah. Ia kemudian melompat kesalah satu pohon dan memanjat keujung pohon. Dari atas ini ia dapat mengamati daerah sekitar hutan, ia mengamati sekeliling hutan sampai keujung hutan yang jauhnya berkilo-kilo meter dan akhirnya menemukan jalan dua kilometer ke Utara tempatnya saat ini.
Tidak ingin berlama-lama, Qinfeng berlari dengan cepat dari dahan-kedahan untuk sampai pada jalan yang dituju. Ada alasan mengapa Qinfeng berlomapt kesana kemari dari atas pohon yaitu ia tidak ingin jalannya dihalang oleh kawanan beat yang sejak tadi terus mengintainya. Walaupun dapat Qinfeng rasakan bahwa semua Beast yang ada dihutan ini terkesan lemah tetapi jika ada banyak akan repot juga, dan Qinfeng tidak ingin itu.
Qinfeng hanya memakan waktu beberapa menit untuk sampai dijalan yang ditujunya, dan kini ia bingung harus mengambil arah mana untuk dengan cepat sampai kepemukiman manusia. Jalan ini tidak begitu besar, mungkin sekitar dua kereta kuda saja lebarnya dan tidak ada bekas jejak jalan ini digunakan akhir-akhir ini.
Tidak ingin berlama-lama dihutan ini, Qinfeng memutuskan untuk berlari menuju Utara. Setelah ia melihat sekitar menggunakan Divine Sense, Qinfeng melihat bahwa arah utara adalah yang paling dekat menuju ujung hutan ini - Walaupun jaraknya masih ada berpuluh-puluh kilometer lagi.
__ADS_1
...*****...