Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch.15 Harimau Sayap Ungu Vs Badak Api Bercula Dua


__ADS_3

Keesokan harinya Karavan telah bersiap-siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan. Dengan Qinfeng yang mengawal perjalanan ini, tidak perlu ada laporan bantuan ke Sekte Lembah Pedang.


Sejak duelnya kemarin dengan Yue Shan yang diakhiri dengan kemenangan telak, Qinfeng semakin disegani dan dihormati dalam kelompok karavan itu, tidak sedikit juga yang membentuk kelompok dan menjadi sekelompok fans dadakannya.


Tidak hanya para cecunguk saja yang berubah sikapnya, Yue Shan sendiri juga telah merubah sikap nya menjadi lebih baik terhadap Qinfeng. Hal itu menjadi suatu keuntungan bagi Qinfeng dan mempermudahnya untuk bergerak kesana kemari dengan bebas dikaravan.


Mereka mulai bergerak pagi sekali sebelum matahari terbit, agar ketika mereka sampai pada perbatasan hutan matahari baru terbit. Hal itu dilakukan agar perjalanan menjadi lebih cepat, juga stamina dipagi hari lebih banyak dan tidak terlalu panas.


Kini mereka telah sampai pada perbatasan hutan, dan sesuai prediksi matahari baru saja terbit. Di Perbatasan, suara geraman bisa didengar oleh orang yang berada dikaravan, tetapi tanpa sepengetahuan orang lain Qinfeng yang berada dibarisan terdepan mengusirnya dengan auranya. Para Beast yang merasakan aura yang begitu menekan tidak mungkin untuk tidak melarikan diri.


Dan dengan itu perjalanan mereka lancar tanpa halangan, karena setiap ada beast yang mengincar mereka Qinfeng dapat mengatasinya tanpa harus bertarung. Dengan begitu juga korban didalam karavan tidak ada.


Enam jam telah berlalu, matahari telah naik semakin tinggi, rombongan karavan yang dikawal Qinfeng telah sampai pada pertengahan jantung hutan ini. Kini mereka telah melewati setengah dari jalur hutan dan situasinya masih tetap sama.


Tetapi semakin jauh lagi mereka berjalan, rombongan karavan mulai merasa was-was - terkecuali Qinfeng - karena sejak memasuki hutan bagian dalam ini jejak pertarungan terlihat jelas, dan dari jejak ini mereka tahu bahwa pertarungan itu adalah milik para ahli yang setidak telah mencapai ranah Martial King. Dengan rasa waspada itu, rombongan tetap terus melanjutkan perjalanan.


Ketika perjalanan semakin jauh, Qinfeng dapat merasakan niat membunuh yang kuat beredar diudara. Walau niat membunuh itu tidak diarahkan padanya ataupun rombongannya tetapi tidak salah lagi, itu adalah niat membunuh yang cukup membuat seseorang dengan mental yang lemah pingsan. Karena hal itulah Qinfeng memberhentikan rombongan ini, ia terlalu tidak ingin untuk repot jika mereka nantinya terseret dalam pertarungan itu. Lebih baik menunggu mereka saling membunuh dan mengambil hasilnya ketika mereka sudah mati.


"Ada apa? Mengapa kau menyuruh untuk berhenti??" Tanya Yue Shan sambil keluar dari kereta yang ditarik oleh dua kuda putih.


"Ada pertarungan didepan sana, mungkin itu adalah Beast besar yang saling bertarung. Aku tidak ingin kita terseret dalam pertarungan mereka dan mengakibatkan korban yang sia-sia, maka dari itu lebih baik untuk kita berhenti dulu disini." Jawab Qinfeng pada pertanyaan Yue Shan.


"Pertarungan dua Beast besar? Seberapa jauh jarak mereka dengan kita disini?" Tanya Yue Shan kemudian.


"Hmm... Kalau bertanya jarak mungkin sekitar tiga kilometer dari sini. Itu juga tidak bisa dipastikan soalnya mereka juga bergerak - entah menjauh atau mendekat kemari." Jelas Qinfeng dengan tidak yakin.


Yue Shan hanya mengangguk mendengar jawaban Qinfeng, tetapi ada satu hal yang membuatnya penasaran. "Aku penasaran, bagaimana kamu bisa tahu jika ada Beast besar yang bertarung didepan sana? Tidak mungkin kau memakai Divine Sense kan? Lagi pula jika memang benar kau memakai itu untuk melihat kedepan, itu setidaknya harus seseorang dengan basis Kultivasi yang sangat tinggi, dan aku tidak percaya kau memiliki basis Kultivasi setinggi itu!"


"Hmm... Apakah Nona penasaran? Saya hanya mengetahui itu melalui niat membunuh yang sangat besar diudara lalu saya memprediksi arah dan jaraknya dari sini, itu saja!" Jawab Qinfeng santai.

__ADS_1


"Hah... Bagaimana kamu tahu bahwa prediksi mu itu benar? Bagaimana jika para Beast itu tidak bertarung sejauh yang kamu prediksi dan tiba disini kapan saja?" Tanya Yue Shan dengan wajah yang cemas, bagaimana pun yang dibicarakan disini adalah beast dengan kekuatan Martial King, apalagi ada dua.


"Tenang saja Nona, lagi pula aku bisa hidup saat ini berkat insting ku, dan aku yakin akan hal itu. Lagi pula dari mana nona yakin bahwa aku tidak sekuat itu?" Tanya Qinfeng, ia kemudian duduk disalah satu bonggol kayu yang ada didekat situ.


"Itu memang kenyataannya. Mau seberapa jenius pun seseorang tidak mungkin bisa untuk menjadi sekuat itu di usia yang semuda dirimu!" Jawab Yue Shan dengan jelas. Jawabannya memang sangat tepat dan cerdas, tetapi itu tidak berlaku untuk Qinfeng. Yue Shan sama sekali tidak mengetahui sedikitpun tentang Qinfeng dan itu adalah masalahnya.


"Jadi, Bagaimana Nona tahu bahwa aku semuda kelihatannya? Lagipula bukankah sudah kubilang bahwa aku adalah seorang pengembara, resiko pengembara lebih besar dibanding dengan seseorang yang berasal dari tempat seperti Sekte. Tapi walaupun begitu, asal sumber daya yang dibutuhkan cukup, keuntungan seorang pengembara juga banyak. Jadi Nona tidak akan bisa mengerti akan hal itu!" jawab Qinfeng dengan nada santai tetapi kalimatnya berhasil menohok Yue Shan.


"Baiklah aku akan pergi dulu kedepan untuk melihat situasinya. Sampai aku kembali usahakan jangan bertindak gegabah!" Ucap Qinfeng kemudian. Ia bangkit berdiri dan memulai langkahnya untuk berlari, tetapi niatnya dihentikan oleh Yue Shan.


"Aku akan ikut! Jika cuma untuk melihat situasinya saja seharusnya itu baik-baik saja. Lagipula jarang bagiku untuk melihat pertarungan besar begini." Kata Yue Shan. Kini wajahnya terlihat lebih antusias berbanding terbalik dengan wajah cemas nya tadi.


"Aku tidak akan menghentikanmu untuk ikut denganku, tapi kurasa Tetuamu tidak akan mengizinkan nya." Ujar Qinfeng sembari menoleh kebelakang Yue Shan dan melihat Tetua Yan yang tampak cemas.


Setelah mendengar perkataan Qinfeng, Yue Shan menoleh kearah tetua Yan, dan benar saja tampak terlihat raut cemas diwajah nya yang sudah tidak muda lagi.


"Nona muda, coba pertimbangkan kembali lagi. Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan, dan nona adalah salah satu perwakilan yang diharapkan oleh sekte. Jika sampai terjadi sesuatu pada nona bagaimana saya menjelaskan ini pada Sekte?" Ucap tetua Yan.


"Tidak Nona! Walaupun itu dari jauh sekalipun seperti yang nona katakan, tapi yang kita bicarakan ini adalah Beast ranah Martial King. Tidak mungkin mereka tidak dapat mengetahui keberadaan nona."


"Tapi tetua Yan...."


Melihat Yue Shan yang kini ingin kembali bernegoisasi membuat Qinfeng yang sedari tadi mendengar nya kesal. Ia kemudian berkata untuk menuruti saja perkataan tetuanya. Selesai berkata begitu Qinfeng langsung pergi tanpa mendengar kembali perkataan Yue Shan. Menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, hanya dalam sekejap membuat Qinfeng hilang dari pandangan, dan hal itu membuat mereka yang melihatnya yang ada disana berdecak kagum.


Hanya butuh beberapa menit untuk Qinfeng sampai ditempat pertarungan, ia kemudian menghilangkan keberadaan nya disana menggunakan seni beladiri Assasain kelas tinggi.


Ia dapat melihat kedua beast saling berpandang-pandangan. Kedua Beast yang saling bertarung itu adalah Harimau Sayap Ungu dan Badak Api Bercula Dua. Keduanya memiliki tingkat praktik yang sama yaitu Martial King tahap puncak.


Sesaat kemudian Qinfeng melihat keduanya mengeluarkan jurus masing-masing yang mengeluarkan tekanan mengerikan. Harimau yang spesialisasinya adalah petir ungu mulai menembakakan semacam suar keatas langit, dan dalam sekejap langit yang cerah berubah gelap, awan hitam yang terasa dingin berkumpul diatas mereka siap menghantam tanah dengan petir ungunya.

__ADS_1


Tetapi walaupun begitu Qinfeng tidak melihat raut kekhawatiran diwajah Badak api bercula dua. Badak api terkenal karena pertahanannya yang juga hampir menyamai ketahanan kura-kura, tapi bukan hal itu yang membuatnya masih percaya diri. Walaupun bisa dibilang Badak api spesialisasi pertahanan, tetapi serangan apinya juga berada dikelas atas. Dicatatan kuno terdapat naskah yang mengatakan bahkan serangan api beast ini bahkan bisa menyamai api level tinggi.


Jadi melihat serangan harimau sayap ungu tidak membuatnya khawatir, Badak api kemudian mulai mempersiapkan serangan balasannya juga. Badak api mengumpulkan energi Qi yang besar dicelah antar culanya. Energi Qi yang sangat besar itu kemudian dipadatkan menjadi api berwarna merah yang percikannya sampai tanah, sesaat kemudian ia melepaskan nya mengarah pada langit berniat menghancurkan serangan Harimau Sayap Ungu.


Harimau Sayap Ungu yang juga tidak ingin menunggu serangan lawan menghancurkan serangan petirnya melepaskan petir dilangit.


Serangan terkuat keduanya akhirnya saling bertubrukan membuat gelombang angin yang sangat besar disekitarnya, menambah kerusakan hutan yang sejatinya bahkan telah gundul. Serangan keduanya saling tekan-menekan membuatnya terasa lama, bahkan setelah berlalu satu menit serangan keduanya masih terus berlanjut.


BOOOMMM....


Ledakan besar terjadi meyebabkan gelombang yang lebih mengerikan daripada sebelumnya akibat serangan itu. Debu beterbangan diarea ledakan membuat Qinfeng tidak dapat melihat apa yang terjadi ditempat pertarungan, ia pada akhirnya menggunakan energi Qi miliknya untuk menciptakan angin kecil dan menyapu bersih debu disana.


Sesaat debu menghilang, Qinfeng akhirnya dapat melihat keadaan yang menurutnya sesuai dugaan. Harimau api masih berdiri dengan tegak dengan luka parah disekujur tubuhnya, sedangkan badak api telah jatuh ketanah dan tidak bergerak. Kondisi tubuhnya bahkan lebih parah lagi, terdapat lubang besar dibadannya, dan bahkan jika ia masih bisa hidup itu mungkin hanyalah sesuatu keaajaiban.


Qinfeng yang niatnya hanya ingin melihat sehebat apa kedua beast ranah Martial King didunia ini akhirnya tidak ingin berlama-lama lagi. Menurutnya Beast yang berada didunia ini bahkan tidak dapat dibandingkan dengan Beast yang ada ditempat gurunya, saking lemahnya. Qinfeng menembakkan energi Qi yang berisi niat pedang menggunakan jari telunjuknya dan membunuh harimau sayap ungu seketika, ia juga menembak badak api sekali lagi memastikan nya benar-benar mati. Pada akhirnya pertarungan dua beast besar tidak memiliki pemenang selain Qinfeng.


Ia berjalan mendekati kedua mayat beast dan mengambil batu Inti dari kedua mayat itu. Kedua Batu ini memilki ukuran yang sama yaitu seukuran kepalan tangan, dan ukuran ini lebih besar daripada batu inti milik serigala emas yang dulu pernah dilawan Qinfeng.


"Hei Shen Long, apakah kau ingin batu Inti ini menjadi cemilanmu?" Tanya Qinfeng pada Shen Long yang kini tengah santai bersandar dibahunya. Qinfeng menawarkan pada Shen Long karena pada dasarnya batu ini sangat disukai oleh hewan gaib atau suci untuk dimakan.


"Apa kau menghinaku? Bahkan jika itu adalah beast tingkat Saint aku tidak ingin memakannya apalagi cuma Beast kecil seperti mereka! Menurutmu apa aku mau??" Dengus Shen Long yang sambil melihat kedua batu inti dengan tatapan remeh.


"Baiklah jika kau tidak mau. Kita nanti bisa menjual batu ini atau memberikannya pada Yue Shan kalau begitu." Dengan begitu mereka akhirnya pergi begitu saja meninggal kan kedua mayat itu.


"Hey Shen Long, bahkan jika kau ingin batu inti milik beast level tinggi, tidak mungkin itu ada dialam rendah ini kan? Bahkan jika pun ada yang kuat mungkin hanya sekelas Saint, berarti sebelum kita sampai di Alam Dewa kau tidak makan apa-apa?" Tanya Qinfeng ketika mereka sedang diperjalanan.


"Hey Qinfeng, apa kau berpikir bahwa aku hanya memakan batu inti saja?" Tanya Shen Long dengan nada sarkastik.


"Apakah bukan?" Pertanyaan balik dari Qinfeng dengan wajah polosnya membuat Shen Long tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Hey, aku juga bisa memakan makanan selayaknya manusia pada umumnya. Jika aku hanya makan Inti Beast bukankah Beast kuat yang ada didunia ini akan habis." Jawab Shen Long. Qinfeng hanya meng-oh- kan saja perkataan Shen Long barusan.


Mereka terus berlari menyusuri hutan dan tidak lama kemudian sampai dibarisan karavan.


__ADS_2