Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch-4. Teknik Pedang Tarian Wallet.


__ADS_3

Qinfeng kemudian mengambil pedang kayu itu dari gurunya. Ia memulai dengan peraturan pertama teknik dasar berpedang yaitu pernapasan. Dibuku teknik dasar itu dijelaskan agar seseorang pendekar pedang dapat dengan maksimal mengeluarkan potensi dirinya, Pengolahan pernapasan nya haruslah stabil.


Sesuai instruksi buku, ia mulai mempraktikkan postur tubuh yang sesuai. Kaki dibuka selebar bahu, kedua tangan memegang bilah pedang tepat didepan perut bagian atas. Kemudian langkahkan kaki kiri sedikit kedepan, sesuaikan ritme langkahnya dengan pernapasan agar tetap stabil. Itu adalah salah satu postur dasar memegang pedang.


Dengan mengikuti instruksi buku, Qinfeng mengulang-ulang gerakan yang sama berulang kali.


"Feng'er, gerakan mu itu terlalu kaku. Kau bisa sakit pinggang jika gerakan mu seperti itu. Hal itu juga membuatmu memiliki banyak sekali celah. Sesuai instruksi buku, kau harus mengikuti ritmenya, biarkan saja gerakanmu mengalir seperti air, tidak perlu terlalu dipaksakan gerakannya!"


Guru yang sedari tadi mengamati Qinfeng berlatih memberi komentar pertamanya.


"Baik guru!" Dengan arah instruksi dari guru, Qinfeng memulai kembali postur tubuhnya dari awal. Karena gerakannya telah dikoreksi oleh gurunya, kini ia dapat melakukan gerakan dengan lebih halus.


"Ya... seperti itu! Bagus feng'er. Untuk melatih ketahananmu, kau harus melakuan gerakan seperti itu sebanyak sepuluh ribu kali! Setelah itu besok akan guru ajarkan teknik pedang tingkat dasar padamu..." Guru kemudian bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju gubuk. Qinfeng yang diberi tugas menoleh pada gurunya sembari berkata "Baik guru!"


Kemudian siang itu Qinfeng terus mengayunkan pedangnya hingga petang menjelang malam tiba ia baru menyelesaikan kuota latihannya.


****


Setelah seharian penuh Qinfeng mengayunkan pedang, tubuhnya kini terasa pegal semua. Ia kini berbaring dikasur kayu digubuk rumah mereka.


"Feng'er, kemarilah dulu!" Dari arah belakang rumah terdengar teriakan guru memanggilnya.


"Baik guru..." Tanpa membuang waktu Qinfeng langsung beranjak dari tidurnya menuju belakang rumah, memenuhi panggilan gurunya.


Ketika tiba dibelakang rumah Qinfeng dapat melihat gurunya tengah menaburkan sesuatu kedalam ember besar yang berisi air. Air itu otomatis berubah warna menjadi lebih gelap setelah sesuatu yang ditaburkan guru mulai larut.


"Ada apa guru?" Tanya Qinfeng setelah ia memeriksa air itu.


"Oh Qinfeng, kau sudah tiba? Malam ini kau akan berendam di air ini. Air ini telah guru campur dengan obat-obatan herbal yang berguna mencuci tulang dan organ-organ dalammu." Kata guru sambil menjelaskan sesuatu yang dilarutkan didalam air beserta kegunaannya.


"Baik guru..." Kata Qinfeng mengiyakan perintah gurunya.


Qinfeng kemudian mulai membuka bajunya, meninggalkan celana dalaman yang dipakainya. Ia masuk kedalam ember besar itu. Perlahan tapi pasti ia membenamkan seleuruh tubuhnya didalam ember itu menyisakan kepalanya yang tetap berada diluar.

__ADS_1


Dimenit-menit awal tidak ada reaksi apapun membuat Qinfeng berpikir jika ia bisa merilekskan diri sedikit. Tetapi anggapan itu segera dipatahkan ketika tiba-tiba rasa yang terasa tidak asing itu menyapa tubuhnya.


Ia mulai merasakan perasaan sakit yang menyengat sampai ketulang membuatnya menggeliat didalam Ember besar itu.


"Guru, ada apa ini? Mengapa terasa menyakitkan?" Tanya Qinfeng pada gurunya yang senantiasa memperhatikan itu.


Gurunya diam beberapa detik sebelum kemudian menjawab pertanyaan Qinfeng. "Tadi sudah guru sebutkan bukan jika air itu berguna untuk pembersihan tulang dan organ-organ dalammu... Rasa sakit yang kau rasakan saat ini adalah reaksi yang ditimbulkan ketika Cairan herbal itu mulai berefek. Jadi tahan saja untuk beberapa saat feng'er!"


"Ugh... Ba-baiklah kalau begitu guru, uh...." Kata Qinfeng sembari menahan rasa sakit. Ia dengan sangat terpaksa melanjutkan berenjamnya sembari sekali-kali mengeluh.


Setengah jam berlalu dan kini langit sudah mulai menggelap, perasaan sakit berenjam itu kini mulai tidak terasa. Gurunya kemudian menyuruhnya untuk menyudahi berenjamnya karena air itu sudah kehilangan khasiatnya diserap Qinfeng.


Qinfeng buru-buru berdiri dan mengambil pakaian yang telah disediakan gurunya, Pakaian itu adalah jubah berwarna abu-abu dengan bahan kain yang sangat halus. Ia kemudian mengenakan jubah itu dan berjalan kembali kedalam rumah meninggalkan gurunya dibelakang.


"Maaf guru. Aku ingin istirahat sebentar..."


"Baiklah, kamu boleh beristirahat..." Guru kemudian memberi izin padanya membuat Qinfeng masuk kedalam rumah. Sesampainya didalam rumah Qinfeng langsung merebahkan dirinya dikasur bambu yang keras.


"Ah... Walaupun sudah tidak terasa sakit tetapi pegalnya masih belum hilang. Semoga ketika bangun nanti sudah tidak pegal lagi..." Kata Qinfeng sambil memejamkan matanya. Tidak lama kemudian ia tertidur dalam posisi terlentang.


****


"Pagi guru..." Kata Qinfeng sembari masih menguap. Ia menyapa gurunya yang terlihat selesai bermeditasi.


"Pagi, bagaimana keadaanmu pagi ini Feng'er." Tanya Qinfeng antusias guru pada Qinfeng sembari berjalan keluar rumah.


"Guru tidak perlu khawatir. Murid merasa sangat bertenaga pagi ini guru..." Kata Qinfeng bersemangat, ia juga memperagakkannya dengan mengangkat otot tangan nya.


"Bagus. Kalau begitu sebagai pemanasan untuk latihan hari ini, kau berlari bolak-balik dari sini sampai altar sebanyak dua puluh kali dan tanpa ada berhenti. Mengerti?"


"Siap guru. Murid ini mengerti..." Kata Qinfeng dengan semangat.


"Ok bagus, guru suka semangat mu. Kalau begitu mulailah segera!" Kata Guru menyuruh Qinfeng untuk segera berlari.

__ADS_1


"Baik guru..."


Qinfeng kemudian mulai berlari menuju altar. Jarak dari sini menuju altar ada sekitar tujuh ratus meter. Qinfeng kemudian mulai menghitung jika ia mulai berlari penuh dari awal mungkin akan selesai sepuluh sampai lima belas menit dalam dua puluh putaran.


Ia kemudian memutuskan untuk berlari penuh dari awal agar dapat secepat mungkin menyelesaikan latihan pemanasan ini.


Sesuai perhitungan awal Qinfeng, lima belas menit kemudian ia telah menyelesaikan putarannya yang kedua puluh. ia kemudian berjalan menuju altar dengan nafas terengah-engah, ia dapat melihat gurunya telah disana sedang memandang jauh kearah utara dimana terdapat Mata Air Suci.


"Guru, aku telah menyelesaikan latihan pemanasannya." Kata Qinfeng membuat gurunya yang mendengar menoleh.


"Oh, kau sudah selesai ternyata. Lebih cepat dari yang kuharapkan..." Kata guru sambil membalikkan badannya mengarah Qinfeng.


"Baiklah, Seperti yang guru katakan kemarin hari ini guru akan mengajar kan mu teknik pedang yang dasar. Nama teknik pedang ini adalah Tarian Wallet. Teknik ini guru ciptakan dua ribu tahun yang lalu ketika guru tidak ada kerjaan. Teknik ini juga sangat cocok untukmu yang tidak memiliki banyak tenaga dalam, karena jurus pedang ini dapat digunakan tanpa tenaga dalam, dan murni hanya mendalami teknik pedang." Guru kemudian mulai menjelaskan terkait seputar teknik tarian Wallet ini.


"Tarian Wallet ini memiliki enam jurus yang disebut tarian. Setiap tarian memiliki lima puluh sampai seratus gerakan pedang, dan kau harus mengingat semuanya." Kemudian guru mengambil sebuah buku didalam cincin dimensi miliknya yang tebalnya hampir tidak menyamai buku yang diberikan pada Qinfeng kemarin.


"Kau baca dulu buku itu, Guru telah menyalin semua gerakan tarian wallet tarian pertama sampai keenam. Kau hapalkan dulu pelan-pelan, minimal hari ini kau harus sudah menguasai satu jurus tarian pertama!" Kata guru sembari memberi buku ditangannya pada Qinfeng.


"Oke, selagi kau membacanya, guru akan mempraktikkan langsung tarian pertama sampai ketiga. Kau hrus mencocokkan yang ada dalam buku dengan gerakan guru, paham?"


"Paham guru!" Kata Qinfeng tegas.


Kemudian gurunya mulai memperagakkan jurus tarian pertama dari jurus tarian Wallet sesudah sebelumnya ia mengambil pedang kayu dari Qinfeng.


Tarian pertama memiliki seratus delapan gerakan dengan basis serangannya mengarah pada bagian Vital. Tarian pertama yang diperagakkan guru lebih mengandalkan pada keindahan dan kelenturan dengan serangan-serangan yang menukik tajam sehingga sulit diprediksi.


Qinfeng yang baru pertama kali ini melihat teknik pedang yang sesungguhnya sungguh terpukau karena keindahannya. Ia tidak sedikit pun memalingkan pandangan nya dari gerakan gurunya, Ia menghapal semua gerakan gurunya sedetail mungkin.


Setelah tarian pertama selesai, guru kemudian melanjutkan kegerakan tarian kedua. Ditarian kedua hanya terdapat sembilan puluh enam gerakan dengan basic serangannya hampir menyamai tarian pertama. Tetapi tarian kedua memiliki tempo yang sedikit lebih cepat dibanding tarian pertama. Karena tarian ini memanfaatkan kelenturan ditambah tarian ini menambah kecepatan sehingga tercipta gerakan yang tidak dapat diprediksi.


Sama seperti tarian pertama, Qinfeng juga menghapal sedetail-detailnya gerakan tarian kedua.


Ketika ditarian ketiga terlihat jelas perbedaan dengan dua tarian sebelumnya. Di tarian ketiga memiliki delapan puluh empat gerakan yang semua gerakannya memanfaatkan kecepatan dan ketangkasan. Basic serangan tarian ini mengincar titik buta lawan. Karena gerakan yang sangat cepat maka lawan tidak akan sempat berkutik ketika kita mengeluarkan tarian ketiga ini.

__ADS_1


Semua itu dihapal oleh dengan sangat detail oleh Qinfeng, membuatnya mengingat hampir semua gerakan yang diperagakkan gurunya dengan sempurna.


*****


__ADS_2