Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch-5. Skip 37 tahun kemudian.


__ADS_3

Setelah guru selesai memperagakkan tarian keempat, ia kemudian berjalan menuju Qinfeng berdiri.


"Bagaimana... Apakah kau sudah melihat dengan jelas gerakan guru?" Tanyanya ketika sampai dimana Qinfeng berdiri.


"Sudah guru.Teknik itu sungguh sangat indah..." Puji Qinfeng dengan tulus.


"Benarkan... Ketika aku yang menciptakan suatu teknik, tidak mungkin ada yang berani menyebut teknik mereka nomor satu Hahahaha..." Kata guru memuji dirinya sendiri.


"...Jadi bagaimana? Apakah kau sudah menghapal sedikit dari gerakan guru?" Tanyanya kembali pada Qinfeng.


"Sudah guru. Murid percaya diri sudah hapal semua gerakan guru dari tarian pertama sampai ketiga." Kata Qinfeng dengan lugas.


"Bagus, kau sudah menghapal tarian pertama sampai keti- APA??? Sudah menghapal semuanya kau bilang?" Guru terkejut mendengar Qinfeng mengatakan ia telah menghapal semua gerakan itu hanya dalam sekali lihat.


"Benar guru." Kata Qinfeng sambil tersenyum.


"Kalau kau sudah hapal semua itu bagus. Sekarang coba kau peragakan!" Kata guru sembari menyodorkan pedang kayu yang tadi dipakainya.


"Baik guru." Qinfeng menerima pedang kayu dari gurunya dengan senang hati.


Ia kemudian berjalan ketempat dimana guru tadi mempraktikkan tekniknya. Qinfeng mulai mengambil ancang-ancang, ia mengambil napas pelan-pelan kemudian dikeluarkan perlahan.


Ia mengingat kembali gerakan gurunya, bagaimana indahnya gerakan itu memukau matanya. Tanpa sadar Qinfeng sudah mulai teknik pedangnya dari tarian pertama.


Guru yang melihatnya dari pinggiran altar tertegun sesaat. Ia hanya memperagakannya sekali, bagaimana bisa Qinfeng bisa hapal hanya dalam sekali lihat?


Apakah dia sungguh seberbakat itu? Tanya Guru dalam hati. Guru terus mengamati gerakan Qinfeng, kini Qinfeng tengah memasuki Tarian yang kedua.


Lima menit kemudian Qinfeng telah menyelesaikan gerakan tarian yang ketiga. Ia kemudian mengatur napasnya dan berjalan kearah gurunya. Melihat gurunya mengelus jenggotnya sambil berpikir membuat Qinfeng bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan gurunya.


"Apakah ada yang salah guru?" Tanya Qinfeng pada guru.


"Tidak ada yang salah. Hanya saja gerakanmu pada tarian ketiga tadi terasa sangat lambat sekali. Apakah hanya itu saja batasmu Feng'er?" Tanya gurunya pada Qinfeng.


"Uhh... Benar guru. Aku belum terbiasa bergerak dengan cepat walaupun tubuhku sidah ditransformasi." Kata Qinfeng dengan nada rendah. Ia sedikit menunduk merasa bersalah pada gurunya.


"Benar juga. Sejak kau mulai berlatih, belum sekalipun dirimu berlatih fisik yang tepat..." Kata gurunya sembari mengelus jenggot putihnya.

__ADS_1


"...Baiklah, Guru akan menyusun jadwal latihanmu agar lebih teratur lagi. Lebih baik latihanmu hari ini mangulang-ulang kembali tarian itu. Tujuanya agar kau lebih terbiasa dan gerakan mu tidak kaku, juga untuk melatih kecepatanmu. Ingat Jurus pedang harus mengikuti alirannya, dan jangan dipaksakan. Oke mulailah berlatih!" Kata guru sembari berjalan pergi meninggalkan Qinfeng.


"Baik guru."


****


Ketika hari mulai menggelap, Qinfeng kembali kegubuk tempat tinggal mereka. Ia meregangkan badannya karena pegal yang menusuk tulang yang disebabkan karena satu hari ini ia hanya mengulang gerakan yang sama.


Ketika sampai dirumah ia dipanggil gurunya untuk datang kebelakang. Ketika mendengar ia akan mandi herbal, wajahnya tiba-tiba berubah masam.


"Guru, mengapa harus tiap hari mandi herbal ini?" Tanya Qinfeng. Wajahnya ia tekuk sempurna menyiratkan betapa tidak senang dirirnya.


"Ini untuk membantu pelatihanmu Feng'er, Sudah lakukan saja! Tidak mungkin guru menyuruhmu untuk melakukan sesuatu yang tidak baik."


"Haih... Baiklah guru." Dengan begitu Qinfeng tidak bisa lagi membantah. Ia kemudian berenjam diair itu. Rasanya masih sama seperti kemarin, hanya saja kini rasa sakitnya mulai berkurang mungkin karena Qinfeng hampir terbiasa dengan engan rasa sakit sehingga tubuhnya sedikit mentolerir rasa sakit.


Sama seperti kemarin, Qinfeng selesai berenjam kurang lebih setengah jam. Ia kemudian memakai baju yang telah disiapkan gurunya.


Ia masuk kedalam gubuk dan melihat gurunya tengah duduk santai. Ketika guru melihat Qinfeng, ia langsung menyuruh Qinfeng untuk berkultivasi.


"Feng'er, jangan buang-buang waktu. Pergi kealtar dan lanjutkan kultivasimu!" Suruh guru.


****


- 37 Tahun Kemudian.


Dibatu Giok yang ada didalam kubah Aura duduk seorang pria tua sedang bermeditasi. Pria itu memiliki rambut sepanjang pinggang berwarna putih dibarengi dengan jenggot panjangnya juga yang telah memutih. Jubah abu-abu yang dikenakannya melambai-lambai tertiup angin.


Pria tua itu telah melakukan meditasi selama beberapa hari karena ia berfirasat ia akan melakukan terobosan ke ranah selanjutnya.


Wajahnya yang sebelumnya tenang tiba-tiba berkerut seperti sedang menahan sesuatu. Tiba-tiba aura disekitarnya berubah, semua aura disana berkumpul mengelilinginya membuat pancaran cahaya yang menyilakan mata. Aura itu kemudian mulai masuk kedalam tubuh pria itu dan tubuh pria itu tiba-tiba bersinar dengan terang sampai kelangit.


Setelah sinar itu redup pria tua itu kemudian membuka matanya. Pancaran matanya sangat teduh, perpaduan yang sangat cocok untuk orang dewasa.


Ia kemudian berdiri dari duduknya dan mengepalkan tangannya sebelum kemudian ia melompat kegirangan.


"YES! YES!! YES!!!-"

__ADS_1


"Akhirnya selama tiga puluh tahun lebih aku bisa masuk ke ranah Martial Saint. Sebentar lagi aku akan pergi dari tempat membosankan ini!" Teriaknya sambil melompat-lompat kegirangan.


"Haih Feng'er, apakah kau sungguh sesenang itu?" Tanya guru yang kini telah berdiri membelakangi Qinfeng menatap jauh kearah Utara.


Benar, Pria tua yang kini telah memasuki ranah Saint ini adalah Qinfeng. Dalam tiga puluh tujuh tahun ini ia sungguh berlatih keras hingga ia bahkan tidak sempat mengurus dirinya sendiri. Rambutnya ia biarkan hingga memanjang dan jenggot diwajahnya tidak dicukurnya. Kini Perawakannya telah sepenuhnya menjadi orang tua walau badanya kini tambah berisi.


Dalam Tiga puluh tujuh tahun ini ia juga telah menerima pembelajaran dari gurunya mulai dari ilmu beladiri yaitu ilmu tangan kosong, ilmu berpedang, dan ilmu senjata yang lainnya serta Ia juga belajar alkemis, pemahamannya tentang alkemis kini bahkan bisa disandingkan dengan alkemis Top didunia Mortal.


Dalam tiga puluh tujuh tahun ini juga pandangan hidupnya telah berubah. Tidak ada lagi Qinfeng yang periang seperti dulu, ia kini pelan-pelan mulai berubah menjadi sangat pendiam. Hal itu disebabkan karena ia terlalu keras berlatih dan juga faktor yang lainnya adalah karena disini tidak ada teman mengobrol kecuali guru nya.


Pandangan matanya kini telah berubah menjadi sangat dingin dan membosankan, tekadang gurunya juga menghela napas melihat Qinfeng yang seperti ini.


Melihat Qinfeng sesenang itu ketika menerobos tahap Saint membuat guru hampir menangis bahagia. Dalam dua puluh tahun terakhir, baru kali ini ia melihat Qinfeng sangat bahagia hingga tertawa lepas seperti itu.


"Benar guru, sebentar lagi impian lamaku akan tercapai yaitu pergi kedunia Isekai..." Kata Qinfeng dengan semangat.


"Hmm, Kau tidak lupakan jika Masuk Ranah Saint hanya sebagai Syarat untuk menantang naga? Kau masih akan lama lagi tinggal disini sepertinya..." Guru mengingatkan Qinfeng.


"Tidak apa guru. Itu hanya masah setengah langkah lagi menuju dunia baruku. Lagian aku juga sudah sangat penasaran untuk melihat Naga yang sangat melegenda itu dan juga untuk mengukur kekuatanku yang sekarang…" Jelas Qinfeng masih dengan semangat yang sama.


"Baiklah kalau begitu. Jadi kapan kau akan memulai ujiannya?" Tanya gurunya kemudian. Wajah tuanya tersenyum melihat Qinfeng yang kini telah kembali sepenuhnya seperti dulu.


"Hari ini tidak mungkin karena sudah hampir gelap, mungkin besok saja guru…" Kata Qinfeng, tangannya ia letakkan didagu dengan gaya berpikir.


"Tapi Feng'er ingat ini, ancaman mu disana tidak hanya naga itu saja. Banyak Beast disana yang telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi darimu, jadi kau harus berhati-hati, jangan terlalu memaksakan diri!" Kata guru mengingatkan Qinfeng. Ia berbalik menghadap Qinfeng, menatap matanya dengan penuh kasih.


Qinfeng yang melihat tatapan gurunya tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan berkata "Baik guru, Murid ini akan ingat nasihatmu..."


"Bagus!" Ucap Guru sambil tersenyum hangat, ia kemudian mengelus-elus kepala Qinfeng yang lantaran membuat Qinfeng menjadi kesal seketika.


"Aishh guru, Hentikan sikap guru yang selalu mengelus kepalaku! Bagaimanapun aku sudah tidak muda lagi."


"Hahahaha... Memang kau sudah menjadi kakek tua tetapi bagaimanapun aku tidak bisa menghilang kan kebiasaan ku begitu saja..."


"Haih sudah lah. Hari ini aku ingin istirahat dulu guru, rasanya sudah sangat lama aku tidak mengambil waktu santai ku. Bolehkan guru?" Pinta Qinfeng dengan suara dan wajah yang di imut-imutkan.


"Haih, bukannya kau tadi yang menyebutmu tidak lagi muda tetapi kau bersikap seperti anak-anak. Baiklah hari ini lakukan saja sesukamu. Hari ini kamu bebas..." Kata Guru sembari melangkah pergi meninggalkan Qinfeng.

__ADS_1


"Yey... Guru memang yang terbaik!"


*****


__ADS_2