Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch 7. Kemunculan Singa Emas.


__ADS_3

Matahari tepat diatas kepala Qinfeng Ketika ia menjumpai beast Ular Berjengger yang telah berevolusi. Hari ini ia telah banyak membunuh beast yang ditemuinya dan mengambil Batu Inti dari Beast yang ia bunuh.


Semakin masuk kedalam hutan semakin bertambah kuat beast yang dihadapi Qinfeng. Kini ia tengah menghadapi Beast Ular Berjengger yang telah berevolusi yang tingkatannya secara kasar telah berada pada tahapan Martial Emperor Puncak. Kali ini Qinfeng rupanya menghadapi lawan yang merepotkan.


"Haih... Benar-benar tidak bisa istirahat barang sejenak dihutan ini. Takutnya aku akan kehabisan Qi lebih dulu melawan Beast ini jika saja tadi tidak bermeditasi sebentar. Huh, Benar-benar merepotkan…" Keluh Qinfeng. Ia menghela nafas kemudian mengingat sudah berapa banyak Beast yang dibunuhnya hanya untuk menjumpai naga yang akan jadi ujian terakhirnya.


"Baiklah ular jelek maju sini!" Qinfeng kemudian memprovokasi Ular itu agar terlebih dulu menyerang. Sementara ular itu seakan mengerti bahasa Qinfeng yang sedang memprovokasinya, Ia meraung sembari mengibaskan ekornya yang panjang untuk mencoba menghantam Qinfeng. Qinfeng tidak diam saja dalam situasi tersebut, Ia melompat ke udara untuk menghindari serangan ular tersebut tetapi sayangnya gerakan Qinfeng terlalu mudah dibaca oleh Ular itu sehingga ketika Qinfeng melompat ke udara, ular itu telah bersiap melancarkan serangannya yang kedua.


Qinfeng bisa melihat ular itu dengan cepat menembakkan suatu cairan dari mulut kearahnya dalam jumlah besar. Merasa hal itu adalah bahaya jika mengenainya, Qinfeng mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dalam hitungan 0,1 detik sebelum serangan ular itu mengenainya, Qinfeng mengayunkan pedangnya menebas serangan ular tersebut. Melalui perpanjangan energi Qi yang dikeluarkan pedang Qinfeng, serangan berupa cairan yang kemungkinan besar adalah racun itu berhasil dibelah olehnya dalam waktu yang tepat. Jika saja ia tadi kurang cepat ia mungkin akan terkena serangan itu dan Qinfeng sungguh tidak ingin memikirkan kemungkinan yang terjadi jika hal itu benar-benar terjadi.


"Hah... Hampir saja. Dasar ular sialan ini!! Baiklah sepertinya aku harus sedikit serius untuk menghadapi mu." Tanpa banyak basa-basi, Qinfeng mengubah postur sikapnya untuk bersiap-siap melakukan teknik tarian wallet gerakan ke enam. Tiba-tiba tanpa bisa dipandang oleh mata biasa, Qinfeng telah berlari sampai didepan ular itu, kini ia melancarkan serangan pada ular itu dan bisa dipastikan jika ular itu selanjutnya pasti akan mati.


Tetapi hal yang tidak terduga terjadi, tepat sesaat sebelum Qinfeng ingin menebas ular itu ia bisa merasakan perasaan membunuh yang begitu kuat diarahkan padanya. Hal itu otomatis membuatnya mundur karena instingnya berkata jika itu sangat berbahaya.


Dan hal itu benar terjadi sesuai insting Qinfeng. Tepat sesaat ia mundur, sebuah serangan yang amat dahsyat dengan daya ledak yang kuat menghantam tempat berdirinya sebelumnya. Hal itu otomatis membuat Ular yang tadi dilawan oleh Qinfeng mati menghilang tanpa jejak. Sedangkan Qinfeng sendiri terpaksa melindungi dirinya dengan membentuk pelindung berbentuk Aura.


"A-apa itu?" Tanya Qinfeng pada dirinya sendiri. Ia melihat sekali lagi pada hamparan tanah yang kini telah menjadi lubang besar dan terasa lumayan dalam.


Qinfeng mengelus dadanya ketika dia selesai menverifikasi bahwa ledakan itu bahkan lebih kuat daripada Bom Atom yang ada dibumi."H-hahaha... A-apa ini? Apakah ini adalah keberuntungan pemulaku? Yang benar saja! Untung sekali aku mempercayai instingku yang tajam seperti biasa."


Tidak tunggu dulu. Yang paling penting darimana asal serangan ini? Apakah naga itu akhirnya keluar sendiri karena merasa terganggu dengan keributan yang kubuat dihutan ini? Jika itu memang benar berarti aku tidak perlu lagi harus repot-repot mengalahkan setiap beast lagikan?


Begitulah pikir Qinfeng ketika ia melihat serangan besar itu. Yang terlintas dipikirannya hanya Sang Naga, Karena bagaimanapun serangan itu sangat kuat dan Qinfeng tidak percaya ada beast biasa yang memiliki serangan sebesar itu.


Namun mau bagaimana pun tidak ada yang namanya kebetulan yang disengaja didunia ini. Bagaimanapun Qinfeng berpikir bahwa itu adalah naga tidak akan pernah berharap sama sekali sesuatu yang lain, dan hal itu sedikit melukai harapannya karena kini yang berdiri dengan gagah diatas langit setelah ia mengeluarkan serangan yang begitu besar itu tidak lain dan tidak bukan adalah Singa Emas.


Setelah Singa Emas dan dua Beast lainnya selesai berkumpul, atas saran yang diberikan oleh harimau putih untuk menguji kekuatan Qinfeng, ia langsung terbang untuk mencari keberadaan Qinfeng. Tidak butuh waktu berapa lama untuk menemukan sosok Qinfeng dihutan kecil ini. Ketika Singa itu sampai, ia melihat jika Qinfeng saat ini sedang bertarung melawan ular berjengger yang telah berevolusi. Singa emas berniat untuk menonton pertarungan itu sampai akhir dan juga ingin menganalisa kekuatan Qinfeng, tetapi kemudian sesuatu terlintas dipikirannya. "Aku disuruh oleh Kedua tua bangka itu untuk mengujinya kan sebenarnya itu adalah untuk membiarkanku membunuhnya. Berarti ini adalah kesempatan emasku untuk membunuh dia langsung, Walaupun ia belum mati setidaknya dengan seranganku ia harusnya sudah menghabiskan energi yang banyak untuk melindungi diri. Walaupun ini adalah sesuatu yang tercela karena menyerangnya diam-diam, tetapi siapa yang peduli itu, tidak akan ada juga yang melihatku." Singa Emas menyeringai lebar dengan pemikiran dangkalnya itu. Ia kemudian menunggu saat yang tepat untuk menyerang Qinfeng.

__ADS_1


Tepat ketika singa emas itu melihat Qinfeng melakukan perubahan postur untuk memakai sebuah teknik pedang, Ia menyeringai lebih lebar lagi. "Kesempatan ku harus lah sekarang."


Singa itu kemudian membuat energi berwarna ungu di mulutnya. Ia menahan energi itu untuk sementara waktu, membuatnya lebih besar. Ketika ia rasa Energi itu sudah cukup besar, singa emas itu menembakkannya pada Qinfeng tepat ketika Qinfeng berlari untuk menyerang Ular.


Tetapi hal selanjutnya yang terjadi membuat Singa emas terdiam untuk waktu yang agak lama. Hal yang tidak dapat ia percayai terjadi tepat didepan matanya, Tidak sampai satu detik sebelum Serangan itu meledak ditanah ia melihat Qinfeng dengan tanpa bayangan mundur dengan cepat dan menghindari serangan itu.


Melihat hal itu, wajah singa emas berubah gelap, jantungnya seakan berhenti berdetak dan membuatnya tidak bisa memompa darah sehingga aliran darahnya terhenti dan mengakibatkan wajahnya pucat tidak berdarah.


'A-apa-apaan ini? ia bisa menghindari seranganku dalam jarak sedekat itu? Aku tidak menyangka manusia ini sekuat itu. Walaupun dua tua bangka itu telah memperingatkanku untuk berhati-hati menghadapinya karena ia adalah murid orang itu, tetapi seharusnya aku masih sanggup untuk mengalahkannya. Bagaimanapun juga ia masihlah baru memasuki ranah Saint, Aku yang telah beratus-ratus tahun berada dipuncak Saint seharusnya bisa untuk mengalahkannya, tetapi kenapa? Kenapa aku merasa takut hanya karena ia bisa menghindari seranganku?


Kukira dua orang tua itu terlalu tinggi menilai bocah ini atau mereka berdua terlalu meremehkanku, tetapi tidak kusangka jika penilaian kedua orang tua itu benar.'


"H-hebat s-sekali kau bocah bisa menghindari seranganku sedekat itu!" Akhirnya Singa Emas memberanikan diri bersuara walaupun dari suaranya terdengar sangat gugup. 'Kenapa aku hari ini? Tidak seperti diriku yang biasa. Tidak ada yang perlu ditakuti dari orang ini, aku hanya perlu memperlihatkan kekuatan yang sangat kuat agar dia bisa memahami perbedaan kekuatan diantara kita. Ya, harus.'


****


"H-hebat s-sekali kau bocah bisa menghindari seranganku sedekat itu!"


"A-apa? Bukan Naga itu yang menyerang?" Qinfeng terkejut ketika ia mengetahui identitas sebenarnya Beast yang menyerangnya bukanlah naga yang dicarinya melainkan sesuatu yang tidak pernah diharapkannya sama sekali.


"Tidak kusangka masih ada beast yang sangat kuat selain naga itu yang ada dihuatan ini. Kukira guru berbohong soal sosok Beast selain naga yang memiliki kekuatan diatasku, kupikir hal itu dikatakanya supaya aku harus berhati-hati karena aku masih belum punya pengalaman bertarung sama sekali. Tapi ternyata guru tidak berbohong, memang beast ini jauh diatasku, walaupun aku masih dapat merasakan jika ia masihlah diranah Saint yang sama dengan ku. Kemungkinan besar dia sudah berada ditahap puncak..." Kata Qinfeng sembari mengamati Singa Emas yang masih melayang dilangit.


"... Ia tadi berbicara, seharusnya ia sangat kuat dan juga memiliki kecerdasan. Sungguh sesuatu yang merepotkan terus saja mendatangiku sejak masuk hutan ini." Kata Qinfeng bergumam pelan.


"Maaf Senior, Aku tidak bermaksud mengganggumu." Qinfeng akhirnya meminta maaf pada singa itu. Jika ia melawannya itu hanya akan merepotkannya saja, ada lagi juga Qi miliknya telah terkuras banyak menghadapi beast sebelum-sebelumnya. Lebih baik mengambil inisiatif ini dulu untuk sekarang.


"Huh... Rupanya kau masih memiliki sedikit sopan santun bocah. Lalu apa yang kau lakukan dihutan ini? Itu tergantung pada jawabanmu jika kau ingin lepas dari ku." Yes, dia sepertinya tidak memiliki niat bertarung sama sekali denganku. Untunglah anak ini masih memiliki sedikit sopan santun, jika tidak takutnya kami benar-benar akan bertarung. Walaupun aku mengatakan itu tergantung pada jawabannya, tetapi sebenarnya itu hanyalah gertakan saja. Sudah untung dia mau berbicara baik-baik, mana mungkin aku mau melepaskan kesempatan ini begitu saja.

__ADS_1


"Sebenarnya aku hanya ingin bertemu dan bertarung dengan naga yang mendiami Mata air suci diujung hutan ini. Tetapi banyak Beast yang menghada-"


"EH....." Ketika Qinfeng mengatakan dengan jujur tujuannya memasuki hutan ini adalah untuk bertarung dengan naga, Singa Emas langsung memotong ucapan Qinfeng dengan kata Eh.


"Ada apa senior?" Tanya Qinfeng ingin tahu alasan mengapa singa itu memotong pembicaraannya.


"A-aku tidak salah dengarkan? Kau tadi mengatakan 'hanya ingin bertarung dengan naga' kan?" Tanya Singa Emas sekali lagi mencoba memastikan pendengarannya.


"Benar senior tidak salah dengar, memang itulah yang kukatakan." Beritahu Qinfeng dengan polosnya.


Sementara itu Singa Emas kini malah menjadi frustasi. 'Mampus aku. Situasi ini bahkan aku yang telah hidup ribuan tahun tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku sampai terdiam dengan kepolosan anak ini.


Apa yang harus kulakukan? Ternyata manusia ini membuat keributan demi untuk bertemu raja, dan apa katanya?bertarung? Sungguh lelucon. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa jika bukan karena situasiku kini yang sedang gawat.


Jika itu raja, maka hal ini sangatlah mudah untuk dihadapi. Jadi aku biarkan saja dia pergi menemui raja dan dikalahkan oleh raja. Baiklah sudah kuputuskan!'


"Tidak boleh! Kau harus menghadapiku dulu jika ingin bertarung melawan raja. Rajaku tidak punya waktu untuk meladeni Sampah sepertimu! Jadi pergilah dari sini!!" Apa ini?? Mengapa aku tanpa sadar mengatakan sesuatu yang berbahaya??


"Maaf senior sepertinya junior ini tidak bisa mengambil pilihan kedua yang senior tawarkan. Bagaimanapun hal ini sangat penting untuk masa depanku, Tolong maafkan Junior ini karena tidak sopan tetapi sepertinya junior tidak punya pilihan selain bertarung dengan senior." Melihat negoisasi dengan Singa Emas tidak berhasil, terpaksa Qinfeng harus memilih jalan kekerasan.


Singa Emas yang telah melihat Qinfeng memasang kuda-kuda yang terlihat sangat menakutkan membanjiri kepalanya dengan keringat. Ia tidak punya pilihan lain selain bertarung karena ini adalah pilihannya sendiri. "Baiklah, karena kau memaksaku jangan dendam padaku jika aku seperti menindasmu!" Akhirnya Singa Emas membulatkan tekadnya.


Melihat Singa emas sudah siap ingin bertarung serius dengan nya, Qinfeng menghela nafas. Ia harus mulai serius diawal jika tidak ingin terbunuh, ia tidak ingin mati disini sebelum ia bisa melihat isekai impiannya. Walaupun ia masih bisa dihidupkan, tetapi Qinfeng juga tidak ingin lagi merasakan sakit karena ia telah banyak merasakan kesakitan sepanjang latihannya.


Kini Qinfeng berubah, pandangannya tidak lagi tersirat akan kesantaian seperti biasa. Ia sudah sepenuhnya fokus akan pertarungan ini.


"Hati-hati senior, Walaupun ini masih diawal tetapi junior ini terpaksa memakai salah satu kartu truf karena junior ini merasa kurang percaya diri."

__ADS_1


'Tebasan Malam:Pembelah Dimensi.'


Syuushh.....


__ADS_2