Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch-3. Pelatihan Kultivasi Pertama


__ADS_3

"Ugh... Dimana ini?" Qinfeng akhirnya membuka matanya setelah pingsan selama lima hari. Ia sekarang tidur tempat tidur beralaskan papan, yang ia tidak tahu dimana tempatnya.


"Oh... Kau sudah bangun?" Gurunya yang tadi duduk di luar mendebgar Qinfeng yang sudah masuk bergegas kedalam.


"Guru, dimana ini?" Tanya Qinfeng sambil menoleh pada gurunya.


"Oh, ini adalah gubuk kecil yang kubuat ketika kau pingsan. Tidak mungkinkan kau tidur diluar?" Kata gurunya.


"Maaf Guru karena menyusahkan mu..." Kata Qinfeng dengan pelan. Ia merasa bersalah karena gurunya yang sudah tua ini harus bekerja keras demi dirinya.


"Sudahlah tidak perlu kau pikirkan itu! Sekarang bagaimana perasaanmu?"


"Ah iya, karena guru bertanya begitu sekarang aku baru sadar kelihatannya tubuhku terasa ada yang beda. Tubuhku terasa sangat ringan, dan bahkan aku yang dulunya sangat kurus kini tubuhku telah berisi."


"Itu karena kau telah selesai menjalankan transformasi tubuh, semua tubuhmu telah dirombak sedemikian rupa, bahkan tulangmu telah menjadi sangat kuat."


"Oh jadi begitu guru, ngomong-ngomong guru kenapa badanku masih terasa pegal semua?"


"Mungkin karena kau terlalu lama berbaring jadi badan mu pegal semua. Tidak perlu kau pikirkan itu, sebentar lagi juga itu akan sembuh."


"Baik guru."


Kemudian ruangan itu sunyi sesaat, tidak ada yang membuka percakapan diantara keduanya.


"Oh ya guru, apakah kualitas tulang juga ada pembagian tingkatannya?" Tanya Qinfeng.


"Hmm... Sepertinya ada." Kata guru sambil mengelus jenggot putihnya dengan wajah berpikir.


"Benarkah guru, jadi setelah transformasi tubuh tingkatanku keberapa guru?" Tanya Qinfeng antusias. Memikirkan rasa sakit yang luar biasa saat itu membuatnya berharap jika hasilnya tidak mengecewakannya.


"Hmm baiklah, biarkan ku jelaskan terlebih dahulu tingkatan tulangnya. Tingkatan tulang dibagi menjadi empat, yang pertama Tulang Serigala, Tulang Peri, Tulang Naga, dan yang terakhir adalah Tulang Dewa. Bakat kultivasi seseorang juga ditentukan dari kualitas tulang, semakin tinggi kualitasnya semakin tinggi juga bakatnya. Jika kualitas tulangnya hanya Tulang serigala maka untuk sampai pada Ranah Martial Spirit saja sudah dianggap keajaiban."


Mendengar penjelasan dari gurunya, hati Qinfeng jadi was-was. Guru yang melihat gelagat cemas dari Qinfeng tersenyum hangat sambil mengelus kepala Qinfeng.


"Kau tenang saja, Kau mempunyai kualitas tulang yang bagus. Walapun tidak kulitas Dewa tetapi kau mendapat kualitas naga, masih ada kesempatanmu untuk mencapai ranah To God."


"Benarkah guru?" Qinfeng yang tadinya menunduk seketika mengangkat kepalanya, melihat gurunya dengan mata berbinar. Melihat gurunya mengangguk mengiyakan jawabannya membuat hati Qinfeng sungguh senang.


"Oke, kau sudah cukup beristirahat nya. Sana pergi keatas altar! Sekarang kita akan mulai latihan kultivasi yang sesungguhnya." Kata gurunya.


"Baik guru." Dengan antusias Qinfeng berlari menuju altar. Dunia barunya sekarang baru dimulai.

__ADS_1


Haih sungguh anak yang semangat. Dia antusias sekali untuk berlatih....


*******


"Oke, karena kau belum tahu dasaran kultivasi, maka ikuti intruksi gurumu ini!" Kini mereka telah berada dialtar tepatnya didalam kubah Aura. Qinfeng duduk diatas batu, duduk dengan gaya lotus seperti yang diinstruksikan gurunya.


"Baik guru..."


"Oke, pertama guru akan membantumu membuka semua titik meridianmu. Itu untuk melancarkan sirkulasi peredaran Qi ditubuhmu. Kau harus fokus untuk mengikuti aliran nya!"


"Baik guru."


"Bagus. Sekarang akan kita mulai, persiapkan dirimu!"


Kemudian tangan guru mulai bergerak menyentuh punggung Qinfeng, menyalurkan Qi nya yang sangat murni.


Mata Qinfeng terpejam, rasa nyaman merasuk dalam dirinya membuatnya merasa seperti ingin tidur. Mengesampingkan rasa nyaman itu, ia mulai fokus merasakan energi yang masuk dalam tubuhnya.


Ia seakan melihat sebuah benang berwarna emas dari tangan gurunya masuk kedalam tubuhnya. Benang itu kemudian mengakar menjadi lebih banyak dan masuk kedalam syarafnya.


Selama proses itu Qinfeng dibuat takjub, Ia baru tahu jika hati dan pikiran kita telah terfokus seluruhnya maka aliran disekitar kita juga dapat kita bayangkan.


Kemudian begitulah proses itu berlangsung selama lima belas menit.


"A-apa ini guru? mengapa aku melihat banyak cahaya putih yang seperti embun?" Tanya Qinfeng pada gurunya.


"Itu bukanlah embun, yang kau lihat sekarang itulah yang dinamakan Qi. Karena titik meridian mu telah sepenuhnya terbuka yang membuatmu dapat melihat itu." Kata guru menjelaskan.


"Oke karena titik meridian mu telah sepenuhnya terbuka, sekarang guru akan ajarkan cara berkultivasi. Ikuti instruksi guru!"


"Baik guru..."


"Kultivasi adalah soal ketenangan hati, jika kau tidak tenang maka kau tidak akan bisa menyerap energi Qi disekitarmu. Setelah kau sepenuhnya tenang, bayangkan kau menyerap Qi yang ada disekitarmu seperti kau menghirup udara. Alirkan Qi yang kau serap ke Dantian yang di bawah pusar tubuhmu tepat dimana guru mengalirkannya tadi. Dan lakukan itu seterusnya." Qinfeng mendengar semua instruksi guru dan melakukan sesuai apa yang diperintahkannya, membuatnya dapat menguasainya hanya dalam sekali percobaan.


"Oke bagus, kau telah dapat memahaminya hanya dalam sekali percobaan..." Gurunya memuji Qinfeng ketika ia melihat Energi Qi berhasil diserap oleh Qinfeng.


"Kalau begitu guru tidak akan mengganggumu..." Guru Kemudian mulai berdiri dari duduknya meninggalkan Qinfeng yang masih bermeditasi.


*****


Keesokan pagi-

__ADS_1


"Guru ternyata kau disini." Kata Qinfeng ketika melihat gurunya sedang duduk diberanda rumah.


"Oh Feng'er. Kau sudah selesai kultivasimu?"


"Benar guru..."


Ketika Guru mengecek sudah sampai mana kemajuan Qinfeng, ia terkejut begitu melihat Bakat Qinfeng yang diluar dugaannya.


"Oh kau lumayan juga ternyata. Dalam waktu semalam kau telah berhasil sampai tahap ke tiga Martial Practicioner."


"Ah apakah aku telah sampai tahap tiga?"


"Itu benar. Jadi bagaimana perasaanmu setelah kau resmi menjadi seorang kultivator?"


"Sangat luar biasa guru. Aku merasakan energi meluap-luap didalam tubuhku. Membuatku merasa tidak terkalahkan." Kata Qinfeng bergebu-gebu. Guru yang mendengar hanya menggelengkan kepala.


"Haih, Feng'er kau belum tahu apa-apa. Ranah Martial practicioner hanya sedikit lebih kuat dari orang biasa, jika kau sudah bangga hanya karena hal kecil itu jalanmu bisa terhambat loh. Kau harus punya ambisi untuk kekuatan yang lebih tinggi, jangan merasa puas karena kemampuan kecilmu itu." Guru menasihati Qinfeng, mengubah pandangannya terhadap arti kekuatan yang sebenarnya.


"Baik guru, Murid ini minta maaf. Murid ini akan memenuhi nasihat guru untuk mencapai kekuatan tertinggi." Balas Qinfeng sambil menundukkan kepalanya.


"Bagus sekali kalau kau sudah menyadari kesalahanmu. Sekarang karena kau telah memiliki Qi, aku akan mengajarkanmu dasar-dasar ilmu beladiri." Kemudian Guru mengeluarkan sebuah buku dari dalam cincin dimensinya. Buku yang tebalnya tidak sampai lima milimeter itu berjudul teknik pedang dasar.


"Ini adalah dasar-dasar berpedang. Untuk sekarang kau akan mempelajari ini terlebih dahulu, jika ada kesulitan yang kau rasa kau bisa bertanya pada guru. Sekarang pergilah ke altar dan berlatihlah!" Kata guru menyuruh Qinfeng untuk berlatih secepatnya. Dengan sopan Qinfeng menjawab perintah gurunya sembari membungkuk. Ia kemudian pamit dari sana.


*****


Qinfeng yang telah tiba dialtar membuka bukunya untuk melihat gambar yang tertera didalam buku. Buku itu berisi tentang penjelasan dasar pedang seperti sikap pendekar pedang dan latihan dasar berpedang, contohnya cara memegang pedang, bentuk tubuh berpedang dan yang lainnya.


Karena ia telah melihat gambar posisi tubuh yang tertera dibuku, ia kemudian bangkit berdiri memparaktekkannya. Ketika ia ingin mengayunkan pedang sesuai petunjuk buku, ia menepuk jidatnya karena melupakan sesuatu yang sangat penting.


"Ah... Bagaimana aku bisa lupa untuk meminta pedang pada guru? Bagaimana aku bisa berlatih tanpa pedang? Haih..."


Tiba-tiba dibelakang Qinfeng muncul Gurunya yang membawa pedang kayu ditangannya. "Feng'er, kau melupakan sesuatu yang sangat penting." Ia berbicara pada Qinfeng membuat Qinfeng otomatis berbalik menghadap gurunya.


Ketika Qinfeng melihat ada sebuah pedang kayu ditangan gurunya, ia langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf guru, murid ini lupa hal terpenting latihan pedang yaitu pedang itu sendiri, dan juga terimakasih karena telah membawakan pedangnya untuk murid ini."


"Aih, baiklah. Kali ini guru akan memaafkan kecerobohan mu, lain kali tidak ada lagi kecerobohan seperti ini! Mengerti?" Kata guru dengan tegas memperingatkan Qinfeng.


Dengan anggukan kepala Qinfeng menjawab denga mantap. "Baik guru. Murid ini Mengerti!"

__ADS_1


******


__ADS_2