Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa

Reinkarnasi Mengemban Misi Dewa
Ch.6 Pertempuran Pertama.


__ADS_3

Kini Qinfeng telah berada di perbatasan menuju hutan di Utara. Ia berjalan lurus memasuki hutan mengikuti arahan guru. Tadi sebelum Qinfeng berangkat, guru memberitahu untuk mencapai mata air dewa dengan cepat agar terus berjalan lurus.


Ia melihat kesekeliling hutan, Walau dirinya telah sekian lama berada disini tetapi ini pertama kali dirinya menapakkan kakinya dihutan ini.


Qinfeng terus berjalan masuk kedalam hutan, hingga tidak terasa beberapa waktu berlalu ia sama sekali tidak menjumpai satu pun beast yang menghadangnya. Bukannya senang, Qinfeng malah khawatir akan firasat buruk sekaligus jengkel karena tidak bahan latihan.


Berbalik mengikuti suasana hatinya, tiba-tiba Qinfeng menyadari bahwa kini ia telah masuk kedalam perangkap. Qinfeng kini menyadari bahwa ia telah dikepung oleh segerombolan beast yang Qinfeng tidak tahu apa - karena ia belum melihatnya.


Bukannya takut, Qinfeng justru bergetar karena semangat. Ini adalah pertarungan sungguhannya yang pertama, Walau Qinfeng telah banyak berlatih tarung dengan guru nya tetapi situasi ini tidak mungkin bisa disamakan dengan yang hanya latihan. Ini adalah pertarungan hidup mati pertamanya.


Qinfeng perlahan memegang selongsong pedangnya, segera setelah itu ia menebaskan pedangnya kesekeliling mengirimkan Qi pedang untuk menbas pepohonan disekitarnya. Pepohonan dalam radius dua puluh meter dari dirinya tumbang menyisakan gerombolan tikus sebesar orang dewasa berlompatan.


Menurut penjelasan guru, jenis tikus ini adalah tikus tanah yang telah berevolusi. Biasanya tikus yang telah berevolusi seperti ini berada Pada tahap Martial Spirit, tetapi yang lebih berbahayanya adalah mereka selalu bergerombol. Pergerakan mereka melompat dengan cepat dan masuk kedalam tanah menyulitkan lawan untuk menyerang, sebaliknya mereka dengan mudah menyerang mengandalkan lompatan ce


lat mereka dari segala arah.


Dan begitulah kini Qinfeng menghadapi Pergerakan tikus tanah yang merepotkan. Ia mencoba memprediksi gerakan tikus itu, tetapi hal itu hanya berhasil sesekali saja. Hal itu berlanjut sampai beberapa menit kemudian, lantaran kesal ia hanya dapat membunuh beberapa dari tikus itu, Qinfeng kemudian menyarungkan pedangnya.


"Sebenarnya aku tidak mau mengeluarkan jurus ini karena area serangannya lumayan besar sehingga Beast yang lebih kuat akan tertarik datang dan itu akan sangat merepotkan untuk ku, tetapi karena kalian sudah membuatku kesal maka matilah kalian semua! DATANGLAH PETIR PENGHAKIMAN!!" Qinfeng mengangkat tangannya keudara, melapisi tangannya dengan aura berwarna putih pekat yang kemudian ditembakkan seperti suar kelangit.


Ketika aura itu menghilang dibalik awan, mendadak angin kencang seperti badai muncul membuat awan diatas langit berhamburan mengikuti arah angin yang membuat awan-awan itu bergerak berputar berkumpul menjadi satu yang saling tumpang tindih. Awan itu kemudian menghalangi sinar matahari membuat hutan tempat Qinfeng berdiri sangat gelap.


Dari balik awan itu muncul percikan petir berwarna merah yang kian lama kian banyak hingga akhirnya petir itu jatuh kebawah dimana tempat Qinfeng tadinya berdiri - ia kini telah mundur jauh kebelakang hingga tidak terkena ledakan itu lagi dengan kecepatan super - dan menghancurkan segala yang ada dibawahnya. Petir itu menciptakan lubang yang lumayan dalam ditempat jatunya, seketika dalam radius seratus meter baik pepohonan dan tanah hangus terbakar, para tikus yang awal mulanya adalah sumber kekesalan Qinfeng kini bahkan tidak terlihat lagi bangkainya, sebagian lainnya telah lari ketika mereka menyadari tidak akan bisa menang melawan Qinfeng. Hal itu membuat Qinfeng tersenyum ringan.


"Hehe... apakah kalian tahu kekuatan ku sekarang tikus? Masih terlalu cepat ratusan tahun bagi kalian untuk menantangku! Hmm...." Kata Qinfeng menyombongkan diri.


'Hei feng'er.' Suara guru masuk kedalam kepala Qinfeng .

__ADS_1


"Ah guru, apakah kau lihat tadi kehebatanku? Bagaimana, bukankah aku sangat hebat?? Hehehehe..."


'Aku tidak akan memuji mu kali ini Feng'er. Tindakanmu itu sungguh ceroboh, hanya untuk mengatasi para tikus saja mengapa sampai harus mengeluarkan serangan yang menguras banyak Qi? Bahkan tikus tanah adalah Beast terlemah dihutan itu, jika kau menjumpai beast yang lebih kuat apakah kau akan mengeluarkan serangan terkuatmu?'


"A-ahaha... Maaf guru, tadi aku hanya terbawa suasana saja. Lain kali hal seperti itu kupastikan tidak akan terulang kembali." Ucap Qinfeng dengan wajah yang malu.


'Baguslah kalau begitu. Sekarang karena kecerobohan mu sepertinya kau dapat masalah dengan cepat.'


"Y-ya, sepertinya memang begitu..." Qinfeng kemudian mengamati sekelilingnya, dari balik pepohonan ia menyadari niat membunuh yang sangat kuat.


'Baiklah, kau urus itu dengan baik, dan ingat tidak ada kecerobohan seperti tadi lagi! Gunakan pedangmu untuk melawannya!!"


"Baik guru..."


Setelah Qinfeng Memutus transmisi suara dengan gurunya, ia melangkah kedepan sambil mencabut pedangnya. Dari balik pepohonan muncul kawanan serigala yang menghadang didepan Qinfeng.


Qinfeng memperhatikan kawanan itu dan menemukan ada serigala yang berbeda. Serigala yang ada dihadapannya ini adalah serigala perak yang berada ditahap Martial Spirit, tetapi yang kini diperhatikan Qinfeng berbeda. Serigala itu berwarna Emas dengan besar tubuh tiga kali lipat daripada serigala lainnya yang kira-kira sekitar tiga meter. Tingkat kekuatannya juga terlihat lebih menindas dari pada yang lainnya, mungkin serigala ini telah berada pada tahapan Martial King, hal ini menunjukkan identitas serigala ini sebagai pemimpin mereka, mungkin?


Ketika Qinfeng sedang sibuk berpikir, para serigala itu tidak menunggu lama lagi langsung bergerak menyerang Qinfeng. Qinfeng dengan santai meladeni serangan mereka dengan mengeksekusi teknik tarian Wallet. Hal ini ia lakukan supaya lebih menghemat Energi Qi nya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membereskan para keroco itu, kini tinggal hanya Serigala Emas yang kini tengah menggeram marah.


Serigala itu kini mengambil ancang-ancang sebelum kemudian melompat untuk menerkam Qinfeng. Tetapi sayangnya karena kecepatan Qinfeng lebih baik, ia melihat serangan Serigala itu dengan sangat lambat. Qinfeng hanya bergeser dua langkah kesamping untuk menghindari serangan itu dan membalas serangan itu dengan reflek pedangnya.


Tetapi sayang serangan reflek Qinfeng dimentahkan oleh serigala itu, ia-serigala- melompat kesana kemari yang menyulitkan Qinfeng untuk menyerang kembali.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Qinfeng kemudian mengeksekusi teknik Tarian wallet yang kelima. Teknik ini mengandalkan kecepatan bergerak dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Setiap tebasan dari teknik ini sangat kuat dan setiap tebasannya mengincar organ vital lawanya. Karena kini ia tidak memakai pedang kayu melainkan pedang yang telah secara khusus ditempa oleh guru dengan bahan dasar logam mulia, dalam beberapa gerakan Serigala itu kini langsung terbaring tanpa nyawa ditanah.

__ADS_1


Serigala itu mati tanpa banyak tebasan sana-sini, melainkan hanya terdapat dua tusukan yaitu tepat pada jantung dan matanya.


"Kata guru ketika Beast telah memiliki tingkat praktik yang cukup tinggi, itu akan memungkinkannya untuk memiliki Batu Inti. Apakah Beast ini sudah memilikinya ya?" Batu Inti adalah batu yang terdapat didalam tubuh beast yang memiliki tingkat praktik yang tinggi. Batu ini sangat diinginkan oleh para kultivator dikarenakan batu ini berisi esensi atau basis pelatihan beast yang dapat membantu meningkatkan pelatihan kultivasi.


Qinfeng kemudian membelah perut Beast itu menggunakan pedangnya. Ia kemudian menemukan sesuatu bola kristal seukuran kelereng berwarna emas tepat didalam Perut bagian samping hatinya. Sekali melihat juga Qinfeng bisa mengetahui jika benda itu adalah inti yang dicarinya, hal itu terlihat jelas dari pancaran energinya.


"Wah, jadi inikah Batu Inti itu ya..." Qinfeng kemudian memperhatikan Bola itu dengan seksama. Dan ia bahkan tidak melihat sedikitpun sesuatu yang istimewa dari batu ini selain energi yang terpancar didalamnya.


"Terserahlah. Aku akan melanjutkan saja lagi perjalananku..." Setelah menyimpan batu inti itu didalam spatial ring yang diberi guru padanya tadi sebelum berangkat, Qinfeng kini melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu dihutan bagian paling dalam terdapat tiga Beast yang masing-masing memancarkan aura yang kuat. Tiga beast ini masing-masing adalah Singa Emas, Burung Vermillion dan harimau putih yang suci.


Ketiganya berkumpul karena sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.


"Bagaimana ini saudara semuanya, Manusia itu bahkan sudah berhasil mengalahkan Serigala emas. Apa kita harus turun tangan untuk mengatasi manusia ini? Jika Tuan tahu keributan dihutan ini dia akan sangat marah." Kata Harimau putih membuka percakapan diantara mereka bertiga.


"Hahaha... Apa yang perlu ditakutkan dari manusia itu? Ia bahkan baru menembus Ranah Saint sedangkan kita sudah dipuncak Saint beratus-ratus tahun yang lalu!" Kini giliran Singa Emas yang membalas Perkataan Harimau putih.


"Haih, kau selalu menganggap remeh semuanya singa tua. Kau tahu kan jika dia itu murid langsung dari 'orang itu'? Bagaimana jika ia telah menyiapkan sesuatu untuk kita?" Harimau putih menyela kembali perkataan Singa Emas.


"Tapi itu tidak mungkin-" Tiba-tiba perkataan Singa emas kembali dipotong kini oleh Burung Vermillion yang sedari tadi tidak berbicara.


"Menurutku apa yang dikatakan saudara harimau tua ada benarnya juga! Bukankah selama ini orang itu selalu mengerjai kita jika ia ada waktu luang sedikit saja. Beruntung akhir-akhir ini ia memfokuskan semua perhatiannya pada muridnya, jika tidak mungkin kita masih akan jadi bahan buliannya."


"Ugh... I-itu benar juga." Singa Emas yang sedari tadi yang paling Provoaktif kini semangatnya bagaikan melayang dibawa angin ketika diingatkan kembali akan 'Orang itu' oleh vermillion.


"Begini saja. Bagaimana jika kau saja yang menguji dia singa tua!" Kata Harimau putih mengajukkan usulan yang dengan semangat langsung diterima oleh singa tua. Singa Emas itu langsung melupakan wajah khawatir tadi dan balik ke ekspresi seperti awal.

__ADS_1


"Baiklah, akan kuhancurkan dia dengan tangan ku sendiri..." Singa emas itu kemudian terbang kelangit untuk mencari Qinfeng.


******


__ADS_2