
"ahh karna mereka juga, para hewan spiritual tingkat tinggi mengamuk diperbatasan hutan wilayah utara",jelas penyihir rikei.
"pantas saja ermo tidak kelihatan ternyata saat ini dia sedang sibuk.",ucap raja ariel dengan tawa kecil.
"dia pasti berkali-kali mengumpat karna menunggu kedatanganmu",ucap jenderal hiko dengan menatap penyihir rikei.
"buka portal . kita pergi ke hutan wilayah utara. aku harus menemui seria",ucap raja kine dengan nada memerintah.
🔜
"Felix? ",panggil Alisha yang sedari tadi menatap intens Felix dengan berpangku dua tangan. sedangkan Felix berkali-kali membuang wajahnya kesamping sambil melipat kedua tangannya.
dirinya saat ini sangat gugup karna ditatap oleh putri kesayangan majikannya, bahkan kedua telinganya sudah bersemu merah.
jika saja wajah palsunya tidak ditutupi oleh topeng, pasti kedua pipinya sudah terlihat merah merona. ingin rasanya dia pergi dari tempat santai ini. walaupun itu sudah pasti tidak mungkin.
sedangkan Roland menatap tajam kearah felix sambil menggenggam erat tangannya bahkan hampir menembus kulit putihnya.
"Elis? ",panggil Roland dengan nada sedikit bergetar.
"ya Ron",jawab Alisha tanpa mengalihkan pandangannya pada Felix.
"Elis",ulang Roland lagi.
"Iya Ron",jawab Alisha lagi tetap tanpa menoleh.
"Elis",panggil Roland kembali.
Alisha yang mendengar Roland kembali memanggil namanya merasa kesal. padahal ia sudah menjawab dan menunggu kelanjutan perkataannya namun tak kunjung tiba juga.
"Apa sih Ron",jawab Alisha yang menoleh kearah Roland dengan kesal.
"Mengapa Elis selalu menatap dia?",tanya Roland yang menatap Alisha dengan raut sedih dan pada saat kata terakhir, Roland menoleh kearah Felix dengan tatapan sinis.
"benar. apa kau tidak takut kedua bola matamu akan menggelinding karna menatap dirinya terlalu lama", sahut Daren dengan menatap aneh kearah Felix.
"iss dasar iri",jawab Alisha dengan kesal.
"Ekhem ekhem sudah-sudah jangan bertengkar lagi.", sahut Ezra menengahi.
"hmm apakah kita tidak bisa makan sesuatu disini? ",lanjut Ezra dengan suara kecil karna merasa tidak sopan pada perkataannya.
"Ahh apa Ezra ingin makan sesuatu? baiklah tunggu sebentar..........Laniaa! ",ujar Alisha memanggil Lenia yang berdiri tak jauh dari posisi Alisha saat ini.
Lenia sedikit bingung, saat Tuan Putrinya itu memanggil nama yang terdengar asing dan familiar ditelinga nya.
Namun dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi, Lenia merasa bahwa nama dirinya lah yang dipanggil oleh Tuan Putrinya itu. tanpa menunda-nunda lama, Lenia langsung berlari-lari kecil mendekat kearah Alisha.
"Iya Tuan Putri. apakah Tuan Putri memanggil saya? ",tanya Lenia dengan punggung yang berkeringat dingin.
"hmm benar. aku memanggilmu",jawab Alisha dengan menatap kearah Lenia.
sedangkan Lenia bernafas lega bahwa dirinya tak salah.
"Tuan Putri butuh sesuatu? ",tanya Lenia kembali.
"Tolong sajikan makanan yang enak di meja ini sekarang untuk mereka",perintah Alisha sambil menunjuk kearah para pria dihadapannya.
"baik Tuan Putri,Tuan-Tuan dan Pangeran Daren saya permisi dulu",ucap Lenia dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
mereka semua hanya menggangguk pelan dan Alisha kembali berpose seperti sebelumnya yaitu memandangi Felix.
Di Sisi Lain
Ditengah hutan. yang hanya memperlihatkan pohon-pohon besar yang tertanam dibagian sisinya dikejutkan terlihatnya empat pria dewasa yang cukup tampan walau umur mereka sudah tak terlalu muda.
"Kerusakan yang lumayan parah pada inti Array sihirnya",buka salah satu suara Pria Dewasa diantara mereka.
Mereka adalah Para penjaga Hutan wilayah Bagian Utara yaitu, Penyihir Rikei, Raja Ariel, Jenderal Emas Hiko dan pemimpin utama mereka Si Tirani Kine Atau Raja Kine.
"Bukankah itu bagus. pasti banyak hewan spiritual tingkat tinggi yang mencoba menerobos masuk ataupun keluar",sahut Jenderal Hiko yang menanggapi perkataan Penyihir Rikei sebelumnya.
"Iya pasti kau senang karna hal ini menyusahkan Ermo",ujar Raja Ariel.
"Tentu saja. aku tidak sabar melihat ekspresi tertekan di wajah telinga berbulu itu",sahut Ermo dengan mata berkilat membara.
"Kau memang senang melihat penderitaan orang lain",ujar Penyihir Rikei dengan tatapan sinis.
"hentikan",ujar suara dingin dan datar yang langsung membungkam mulut mereka. siapa lagi kalau bukan Raja Kine yang melakukannya.
"Ariel dan Hiko temui Ermo. aku dan Rikei akan menemui Seria",ucap Raja Kine.
namun perkataan terakhir disamarkan oleh Raja Kine agar tidak ada yang mendengarnya kecuali mereka. berempat.
"Kau yakin? bukankah lebih baik Rikei menemui Ermo? ",tanya Raja Ariel.
" Dia juga tidak akan mati kalau Rikei tidak menemuinya. ",ucap Raja Kine. sedangkan mereka hanya bisa menghela nafas karna perkataan yang dilontarkan Sitirani ini.
"masalah?",tanya Raja Kine dengan alis terangkat.
"Tidak-tidak. hahhaa Ayo Ariel kita segera temui Ermo",ajak Jenderal Hiko dengan tertawa garing.
Tentu saja mereka tidak ingin mempermasalahkannya lebih lanjut, jika tidak? mereka akan diberi pekerjaan gila dari sitirani Kine.
untuk membayangkannya kembali saja, mereka tidak berani. sungguh tersiksanya batin dan tubuh mereka jika melawan setiap perkataan dingin dan datarnya itu.
"Pergi",ucap Raja Kine yang mulai berjalan kearah kanan dan diikuti oleh Penyihir Rikei.
Jika berhadapan dengan Raja Kine, Penyihir Rikei lebih banyak membungkam mulutnya dibandingkan terkena imbas menyakitkan darinya.
"Ya kami pergi",jawab Jenderal Hiko sambil menarik pergelangan Raja Ariel yang tengah menatap tidak ikhlas kearah Raja Kine dan Penyihir Rikei.
"Ayo cepatlah",lanjut Jenderal Hiko yang lebih mempercepat langkahnya.
"aku tidak mau. bagaimana bisa Kine lebih mengajak Rikei dibanding diriku?",ujar Raja Ariel dengan masih menoleh kebelakang sambil sedikit meronta-ronta pada pergelangan tangannya.
"Cihh. bukankah kau sudah cukup lama menempel padanya?. lagi pula bagaimana bisa kau tetap menempelinya selalu seperti benalu?",ucap Jenderal Hiko.
"kau ingin tidak bisa berjalan lagi selama sebulan kedepan? ",jawab Raja Ariel yang menoleh menatap Jenderal Hiko dengan sangat tajam.
"Ekhm-ekhmm tenang-tenang aku hanya bercanda",ujar Jenderal Hiko dengan sok cool.
Posisi kedua yang lumayan mereka takuti saat marah setelah Kine adalah Ariel, karna kelakukannya hampir mirip dengan Kine. ya walaupun ia tak separah si pemimpin utamanya.
berbeda cerita dengan Raja Kine dan Penyihir Rikei yang telah sampai kebagian hutan tempat khusus yang penuh kekuatan pelindung disetiap sisinya atau tempat yang dikhususkan pada satu orang yaitu Seria sang Ras Naga Murni.
"Kine. kau lihat? ada orang lain yang pernah masuk kebagian hutan yang terhubung dengan Seria ini. tapi anehnya, tidak seinci pun ada kerusakan dipelindung ini. yang ada hanya bekas jejak seperti seretan suatu benda disini. ",buka suara Penyihir Rikei dengan bingung.
"Siapa?........ tanpa seizinku tidak ada yang bisa masuk. bahkan mungkin hanya aku dan Vee yang bebas masuk kemari. ",ujar Raja Kine dengan kening berkerut tanda ia saat ini sedang berfikir.
"aku juga tidak tau. coba saja lihat kedalam",tawar Penyihir Rikei.
__ADS_1
"berikan tanganmu",ujar Raja Kine. yang langsung dilakukan oleh Penyihir Rikei dengan sudah menjulurkan telapak tangannya.
Raja Kine mulai merapalkan mantra secara singkat dan meletakkan jari telunjuknya pada telapak tangan Penyihir Rikei.
seketika simbol rumit berukuran kecil berwarna hijau muncul di telapak tangan penyihir rikei dan secara tiba-tiba darah mengalir kesetiap inci simbol tersebut.
"masuk",perintah Raja Kine yang telah masuk kehutan khusus tempat Seria dan diikuti oleh Penyihir Rikei.
namun saat sampai di tempat tinggal Seria pemandangan tak biasa terlihat. beberapa pohon telah rusak,bahkan ada yang sudang hangus terbakar, terdapat bercak-bercak darah dibeberapa titik, bangkai hewan spritual tingkat rendah dan bekas cangkang telur berwarna emas di bagian sisi lainnya.
"apa-apaan ini? ",ujar Penyihir Rikei dengan tatapan tak percaya.
tanpa sepatah katapun Raja Kine langsung berjalan kearah bercak darah itu berada.
ia mengambil ranting yang terkena bercak darah cukup banyak dan melihatnya secara teliti.
sedangkan Penyihir Rikei melihat bekas cangkang emas tersebut dengan menatap setiap sisi dari cangkang itu.
"baru kemarin. ini darah Ras campuran, Ras Elf dan............"ucap Raja Kine yang terhenti karna sepertinya ia sudah mengetahui siapa pemilik darah ini.
"tidak mungkin. bagaimana bisa?",gumam Raja Kine dengan larut dalam pikirannya.
"Kine. sepertinya cangkang ini bekas telurnya Seria,karna terdapat sedikit hawa tubuh seria. kau tau aku hampir tidak percaya Seria telah mempunyai Anak. bukankah Erdogan telah berhasil mencetak mahkota Seria? ",ucap Penyihir Rikei dengan semangat sambil memegang cangkang emas tersebut.
namun Penyihir Rikei merasa aneh,mengapa temannya ini tidak merespon sepatah katapun dari mulutnya.
"ada apa?"tanya Penyihir Rikei dengan penasaran.
ia yang melihat temannya itu hanya memandang ranting dengan penuh bercak darah secara larut pun membuat semangat penasarannya bertambah membara.
"apa kau menemukan sesuatu dari bercak darah itu? hmm melihat warna nya, bisa dipastikan itu darah............hmm Elf mungkin tapi sedikit gelap. berarti itu lebih ke Ras campuran, tapi bagaimana bisa ia masuk?. padahal hanya kau dan Vee yang bisa masuk, karna yang kulihat jika ingin masuk bebas ketempat ini harus memiliki salah satu darah kau atau Vee ditubuhnya. berarti........",jelas Penyihir Rikei yang diujung kalimatnya tiba-tiba terdiam karna ia sedikit ragu untuk melanjutkannya.
namun Penyihir Rikei kembali melanjutkan kalimatnya dengan penuh rapalan doa dihatinya.
"b.. bukankah ada satu orang lagi yang dapat dengan bebas masuk kesini tanpa merusak kekuatan pelindungnya",lanjut Penyihir Rikei dengan keringat dingin.
"Alisha.",ucap Raja Kine dengan sedikit jeda.
"Kurang ajar. Seria berani melukai putriku dengan parah seperti ini? bahkan ia hampir meregang nyawa ditempat ini",lanjut Raja Kine dengan aura membunuh yang pekat dan ranting yang semula ia pegang sudah menjadi butiran debu.
Penyihir Rikei seketika terduduk dan merasa tercekik hebat di lehernya. bahkan dirinya bersusah payah agar bisa bernafas, sekuat tenaga ia memaksa suaranya untuk keluar dari mulutnya.
hutan yang awalnya sedikit gelap namun menyejukkan berubah menjadi mencekam dan panas membara.
"K.. ki... ne..... hen........ ti.... kan.... a...ku ti..... dak bi... sa ber.... na....fashh. Ki.... ne.... ",ucap Penyihir Rikei dengan mengerahkan seluruh kekuatannya dan kedua tangannya memukul kuat ketanah.
bahkan bajunya sudah basah sebasah basahnya oleh keringat yang mengalir deras disetiap inci tubuhnya.
"Ki..... ne.... ",ulang Penyihir Rikei yang hampir diambang batas.
saat itu juga suasana menjadi normal kembali, bahkan Penyihir Rikei langsung ambruk kesamping dengan nafas yang tersedat-sendat.
Raja Kine berjalan mendekati Penyihir Rikei dan berjongkok menyentuh keningnya dengan jari telunjuk dirinya. cahaya keemasan keluar dari ujung jari telunjuk Raja Kine dan memasuki kening Penyihir Rikei.
seketika nafas Penyihir Rikei mulai normal kembali dan perlahan-lahan kedua matanya kembali terbuka. kemudian Raja Kine kembali berdiri dengan menatap datar teman dan bawahannya itu.
"kondisimu cukup baik. buat mantra sekarang. kita kembali ke Kerajaanku. Karna Seria bersama Alisha saat ini",ucap Raja Kine dengan datar. namun diujung kalimatnya, kilatan membunuh terlihat dimatanya.
"baiklah",jawab Penyihir Rikei dengan suara sedikit serak dan mulai kembali berdiri.
walau sebenarnya mental nya sedikit tidak enak namun ia sudah biasa seperti ini jadi tidak terlalu mempengaruhinya.
"tapi Jangan lakukan itu lagi didepan Alisha dan dengarkan dulu penjelasan Seria sebelum kau menghajar dirinya",lanjut Penyihir Rikei dengan berjalan selangkah kearah Raja Kine.
__ADS_1
"aku tau apa yang akan aku lakukan",jawab Raja Kine dengan tatapan tajam.
"ya ya baiklah. Apparatte ",ucap Penyihir Rikei yang sudah membaca mantra dengan mengayun pelan tongkat sihirnya.