
namun saat mantra tersebut diucapkan oleh Penyihir Rikei, saat itu juga Alisha langsung menghilang dari tempat suram itu.
hanya hitungan helaan nafas, Raja Kine langsung mencengkram erat leher Seria dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"berani sekali kau menyakiti Putriku, bahkan kau hampir membunuh putriku?",ucap Raja Kine dingin dengan tatapan yang menusuk.
🔙
🔜
"Kine... maafkan ak... u. aku... benar... benar tidak... tau.. ji.. ka itu putrimu",ucap Seria yang terputus-putus karna menahan rasa sesak dan sakit pada lehernya.
"ohh kau bisa menjelaskannya nanti. sebelum itu, aku ingin kau merasakan apa yang Alisha rasakan",ucap Raja Kine yang langsung membanting seria kearah dinding penuh karat diantara mereka.
BBAAMMMM
"uhuuhhukk uhhuuhhkk uhhhkk...Kine",ujar Seria yang di sertai batuk darah.
Dinding karat yang sebelumnya terlihat kokoh, menjadi hancur seketika saat tubuh Seria menghantam dinding itu dengan penuh kecepatan.
"oi oii Kine. Bukankah itu terlalu berlebihan, lagi pula kau tidak boleh terlalu kasar pada wanita",ucap Penyihir Rikei dengan tatapan khawatir yang mengarah pada Seria.
"dia tidak akan mati",jawab Raja Kine dengan datar.
'iya dia tidak akan mati, tapi akan sekarat', pikir Penyihir Rikei dengan wajah masam.
"apa? Tidak suka? ",ujar Raja Kine dengan tatapan tajam.
"hohoho lanjut lanjut",jawab Penyihir Rikei dengan tawa hambar.
"bukankah kau terlalu lemah, untuk ukuran seekor naga murni. Bahkan hanya serangan kecil seperti itu saja kau sudah kesakitan",ucap Raja Kine dengan nada dingin dan berjalan mendekat kearah Seria.
'serangan kecil?. oii oii kau itu ras campuran terkuat, tentu dampak rasa sakit dari serangan mu itu berbeda.',dalam hati Penyihir Rikei dengan tatapan tidak suka.
"keberatan? ",ucap Raja Kine dengan menatap malas pada Penyihir Rikei.
"tidak. Semangat",ucap Penyihir Rikei dengan nada membara yang dibuat-buat.
Sedangkan Seria menatap horor pada penyihir Rikei, bahkan ia ingin menelannya saat itu juga.
__ADS_1
Berbeda dengan Penyihir Rikei yang langsung membuang wajahnya kesamping, sambil perlahan-lahan kakinya bergeser kearah Raja Kine berada.
Sedangkan ditempat lain.
Terlihat tiga Pria yang masih dikatakan berwajah tampan serta muda namun bertolak belakang dengan usia mereka yang sudah menginjak kepala 40'an.
mereka mengumpat keras kepada dua orang yang sedari tadi mereka tunggu kedatangannya namun tak kunjung datang juga.
bagaimana tidak? mereka saat ini sedang berjuang mati-matian menghadapi hewan spiritual dengan keganasan tingkat tinggi.
di tambah lagi jumlah mereka yang sangat banyak bermunculan di setiap sisi perbatasan hutan tersebut.
"sialan. apa yang mereka lakukan sih. jika begini terus kita akan mati",ucap seorang pria setengah paruh baya dengan kedua telinga dikepalanya.
Dia adalah Ermo dan salah satu anggota penjaga hutan wilayah utara.
"bukankah sudah kukatakan. kalau Rikei yang di pentingkan disini.",ucap Raja Ariel dengan kesal.
"jika kalian ingin protes. protes saja pada Kine gila itu. ntah berapa kali kita hampir mati karna nya",ucap Tuan Hiko dengan tertawa kecut.
sedangkan seseorang yang mereka bicarakan sedang sibuk menyiksa wanita dengan acuh tak acuh.
Tanpa memberi banyak kesempatan untuk Seria menstabilkan rasa sakitnya, Raja Kine kembali meraih leher Seria dengan erat dan melempar kasar kesamping.
BBAAMMMM
Puing-puing berserakan dimana-mana, abu-abu dari dinding tersebut mengudara memenuhi indra penciuman mereka bertiga.
Suara batuk mulai bersahut-sahutan dibagian sisi yang berbeda, pandangan yang menyakitkan mata pun harus ditahankan oleh mereka.
Namun hanya ada satu orang yang tidak merasa terganggu akan kekacauan ditempat itu.
Tentu saja karna hal tersebut adalah hasil buah tangan dirinya, siapa lagi kalau bukan Si tirani Kine.
"uhuhhkk uhhukk. bisakah kau sedikit lebih lembut Kine?. Lihat kehancuran yang kau perbuat",ujar Penyihir Rikei sambil mengibas-ngibaskan tangannya karna abu yang menguap cukup banyak ditempat itu.
"perbaiki. Aku membawamu kemari bukan untuk cuma-cuma",jawab Raja Kine dengan nada datar.
"tapi..... ",ucap Penyihir Rikei yang langsung dipotong oleh Raja Kine.
"membantah? ",ucap Raja Kine dengan tatapan tajam.
"Laksanakan",ucap Penyihir Rikei dengan badan tegap.
__ADS_1
"Reparo",lanjut Penyihir Rikei yang mengucapkan mantra sambil mengayunkan tongkat sihirnya.
(Reparo : Memperbaiki yang rusak)
Perlahan-lahan getaran kecil mulai terjadi, satu-persatu bagian dinding yang hancur mulai kembali ketempat sebelumnya.
Keretakan dan kehancuran pada dinding mulai terlihat menyatu kembali tanpa ada cacat sedikit pun.
Disudut dinding terlihat Seorang wanita yang kondisi nya cukup mengerikan tergeletak dilantai.
Darah berceceran dimana-mana, bahkan wajah yang sebelumnya terlihat cantik menjadi wajah yang cukup menakutkan jika dilihat.
"Menyedihkan",ucap Raja Kine sambil menatap malas pada Seria.
"kursi",lanjut Raja Kine yang melirik Penyihir Rikei.
"cihh. berhenti menyuruh-nyuruh diriku",ujar Penyihir Rikei dengan menatap tajam kearah Raja Kine.
"Kau melawan? baiklah... ",ujar Raja Kine yang mulai mengangkat tangannya. namun sebelum tangannya beraksi, Penyihir Rikei langsung menuruti apa yang dikatakan Raja Kine.
"Kursi dengan kualitas terbaik akan segera datang. Waddiwasi",ucap Penyihir Rikei dengan kembali mengayunkan tongkatnya.
(Waddiwasi : Memunculkan suatu benda ketempat yang diinginkan).
Kemudian secara ajaib sebuah kursi yang cukup mewah muncul didekat Raja Kine, bahkan tanpa berbasa-basi lagi ia langsung duduk dikursi tersebut.
"sembuhkan dia",sahut Raja Kine sambil menyanggah dagunya.
"kau saja yang menyembuhkannya. kalau perlu tidak usah disembuhkan sekalian",ucap Penyihir Rikei yang mulai menatap horor pada Seria.
Karna sebelumnya ia tanpa berpikir panjang telah menyinggung naga pendendam tersebut. tentu saja dirinya tidak akan berakhir baik nantinya.
"jika aku menyembuhkannya. sudah bisa dipastikan! setelah dia berurusan dengan Kine, dia pasti akan menghajar habis-habisan diriku",gumam Penyihir Rikei dengan merinding.
"aku tidak butuh pendapatmu",sahut Raja kine malas.
"Mengapa dulu aku menjadikan makhluk dingin ini untuk menjadi temanku?. ",gumam Penyihir Rikei dengan wajah yang tertekan.
"Episkey",ucap Penyihir Rikei yang mengarahkan kembali tongkat sihirnya pada Seria.
__ADS_1
Ilustrasi Ermo (Ras Demi Human)
Jangan lupa Like, Vote, And Comment. Terima Kasih🤗.