RENGKUH

RENGKUH
BAB 6


__ADS_3

"Menurut informasi yang saya dapatkan, Nona Zui sering pergi ke tempat hiburan malam. Ada beberapa pria yang mengaku pernah tidur dengannya. Nona Zui juga punya sebuah bar yang berkedok kafe."


Ini sudah 5 hari sejak Wirawan mulai memata-matai Zui melalui anak buahnya. la baru saja mendapatkan laporan mengenai gadis yang bernama Zui yang katanya adalah teman SMA Darren. Ternyata dugaan Wirawan benar, gadis itu hanyalah sampah.


"Bagus. Terus dapatkan informasi tentang gadis itu. Cari tau kenapa dia bisa dekat dengan Darren. Dan kalau memang dia ingin mendekati putraku, cari dan dapatkan apa alasan dan motifnya," tegas Wirawan memerintah anak buahnya lagi.


"Baik, Pak." Laki-laki bertubuh kekar itu menunduk pada Wirawan dan kemudian pergi.


Wirawan masih di ruang kerja rumahnya. Ruangan itu adalah tempat privasi Wirawan yang tidak sembarang orang boleh masuk. Di tangan kanan Wirawan ada sebuah foto wajah Zui, ia menatapnya tajam dengan sorot mata menusuk.


Wirawan tidak akan membiarkan gadis semacam Zui coba-coba mendekati atau bahkan berniat buruk pada Darren.


...•○⭕️○•...


Siang ini Shani, Jia, dan Andra pergi ke taman kota. Shani sengaja menyembunyikan diri dari Darren. Ini sudah hampir seminggu dirinya selalu terusik dengan suruhan dan perintah Darren yang terus mengajaknya pergi di jam-jam istirahat siang.


Ketiga karyawan Argantara Group itu menggelar tikar kecil ke rerumputan sembari menikmati suasana rindang di bawah pohon besar. Mereka juga membawa camilan ringan, minuman, dan nasi kotak yang dibelinya sebelum menuju taman. Jadi siang ini Shani, Jia, dan Andra akan mengadakan piknik kecil-kecilan bersama.


"Udah lama ya kita nggak kayak gini," celetuk Jia pada Shani dan Andra.


"Jangankan kayak gini. Noh si Shani, semenjak ada Pak Darren jadi sering absen makan siang bareng kita," cibir Andra menekuk muka.


"Ya maaf. Sebenernya mau gue sih selalu makan siang bareng kalian sambil ngobrol santai. Tapi gara-gara anak Pak Bos yang nggak ramah ke gue, gue harus ekstra nurut sama dia." Shani memutar bola mata seakan muak dengan perlakuan Darren yang selalu memerintah seenak jidatnya.


Jia terkekeh. "Tapi lo seneng kan bisa nikmatin makan siang yang selalu enak!? Apalagi Pak Darren itu orangnya ganteng, sekalian bisa PDKT. Siapa tau kan dari kerja jadi membina cinta."


Andra menoyor pelipis Jia membuat gadis itu mengaduh. "Nggak ada PDKT-PDKT-an. Pak Darren tu nggak cocok buat Shani!"


"Lo kenapa, sih? Nggak jelas banget jadi orang!" Jia mengernyit mengelus-elus pelipisnya yang sakit karena toyoran Andra.


"Nih ya, gue kasih tau. Pak Darren itu waktu di Amerika pernah terlibat pergaulan bebas. Jadi jangan sampe lo sama Shani dibutakan oleh muka sok tampannya itu," ungkap Andra pada kedua rekan perempuannya.


"Masa, sih? Emang Pak Darren pernah ngelakuin apa aja?" tanya Jia mulai tertarik dengan gosip Andra.


"Ya pokoknya hal yang kayak gitu, lah. Jadi please buat kalian berdua, gue nggak mau kalo kalian sampe ada macem-macem sama Pak Darren. Terutama lo, Sha. Lo harus jaga diri lo baik-baik. Siapa tau kan Pak Darren tiba-tiba nerkam lo," kata Andra membuat Shani sedikit ngeri.


Pikiran Shani berkelana. Sejauh ini Darren tidak pernah kurang ajar padanya. Malah waktu itu saat dirinya hampir diperkosa pria-pria jahat, Darren dengan baik hati menolongnya.


Shani ingat saat Darren menghajar orang-orang itu dan lalu memakaikannya jas dan menatihnya pergi. Saat itu Darren terkesan bertanggung jawab dan menghargainya sebagai seorang wanita. Ya walaupun di mobil Darren berbicara sedikit tidak sopan padanya.

__ADS_1


"Yang bener aja lo, Ndra?" Jia tidak mempercayai Andra.


"Terserah lo mau percaya atau enggak. Intinya gue udah kasih tau sama lo pada. Jadi kalo ada apa-apa gue nggak tanggung jawab."


Shani dan Jia saling melempar pandang. Dan tiba-tiba seseorang datang menghampiri 3 orang tersebut. Itu adalah Darren.


Shani, Jia, dan Andra menatap kikuk wajah Darren. Mereka mendongak karena Darren berdiri tepat di dekat Shani. "Kalian sedang apa di sini?" tanya Darren pada 3 orang itu.


Shani, Jia, dan Andra enggan menjawab dan malah saling tatap-tatapan.


"Apa kalian bisu?" Darren menyuara lagi.


"Kami sedang makan siang, Pak." Shani pun menjawab.


Darren menghela udara dari hidungnya tanpa mengeluarkan suara. Ia beringsut duduk di tikar kecil itu bergabung bersama Shani, Jia, dan Andra. Tiga orang itu merasa aneh dengan perilaku Darren.


"Kenapa kalian lihat saya seperti itu? Apa saya tidak boleh bergabung?" sungut Darren.


"Tentu saja boleh, Pak," sahut Jia tersenyum sok ramah pada Darren.


Karena kedatangan dan keberadaan Darren, suasana piknik yang awalnya santai berubah menjadi canggung. Namun 4 orang itu berusaha akrab. Darren juga mulai banyak bicara walau terkesan galak dan mengintimidasi.


...•○⭕️○•...


"Kita ngapain Pak ke sini?" tanya Shani pada Darren.


Darren sengaja mengajak Shani ke apartemennya karena harus mengambil sebuah berkas yang ketinggalan. "Ada berkas yang harus saya ambil."


Darren pun turun dari mobilnya terus diikuti oleh Shani. Mereka berjalan beriringan menuju ruang apartemen Darren. Darren menekan pin kunci pintu apartemennya dan lalu mempersilakan Shani masuk.


"Kamu duduk saja di sofa," suruh Darren pada Shani.


"Iya, Pak."


Dan Darren mulai mencari berkasnya di laci ruang apartemen itu. Tidak berselang lama Darren kembali menghampiri Shani. "Apa kamu mau minum sesuatu?" tawarnya.


"Enggak, Pak. Saya nggak haus." Jawab Shani.


"Saya mau istirahat sebentar. Kamu tidak keberatan kan menunggu saya di sini?" Darren meraih remot menyalakan TV, lalu ia juga duduk di sofa itu bersama Shani.

__ADS_1


"Iya, Pak." Sebenarnya Shani masih ada banyak tugas di kantor, tapi ia tidak berani speak up atau juga berprotes pada Darren.


"Tolong ambilkan saya air," titah Darren pada Shani.


"Baik, Pak." Shani pun bergegas menuju dapur dan mengambilkan Darren segelas air putih.


Bibir Darren melengkung tipis. Sebetulnya ia hanya ingin mengerjai Shani. Dan tidak berselang lama, Shani tiba dengan segelas air untuknya.


Shani berjalan mendekati Darren menyodorkan segelas air itu. Namun mendadak kaki kanan Darren yang bergerak membuat Shani tersandung dan terjungkal ambruk ke pelukannya. Shani dan Darren sama-sama terkejut.


Bola mata Shani dan Darren saling bertemu. Jantung mereka sama-sama berdebaran. Secepatnya Shani menyadarkan pikirannya.


Shani menarik jarak dari Darren. Dan saat itu juga Darren terpaku pada baju Shani yang menerawang di bagian dada. Karena tumpahan air, kemeja tipis Shani yang berwarna biru muda jadi menerawang memamerkan bra warna hitam dengan belahan di tengahnya.


Melihat Darren yang menatap bagian itu, Shani cepat-cepat menutupinya dengan tangan. Darren merasa pikiran kotornya terpanggil. la segera mengalihkan pandang dan berdiri.


"Saya mau ganti baju. Kamu keringkan saja kemejamu dengan hairdryer di ruang kamar saya," tutur Darren pada Shani. Darren yang mengenakan kemeja putih di bagian dadanya juga basah kuyup terkena siraman air itu. la pun pergi mengambil kemeja ganti dan menuju toilet.


Shani dengan cekatan mengeringkan pakaiannya menggunakan suhu panas hairdryer. Walau branya masih terasa sedikit basah, setidaknya di bagian dadanya tidak menerawang lagi. Setelah dirasa cukup kering, Shani pun kembali ke ruang sofa televisi menemui Darren.


"Maaf Pak, apa sekarang kita bisa kembali ke kantor?" Shani sudah tidak betah di apartemen itu. la takut jika kejadian konyol akan terulang lagi. Dan sebelum itu terulang lagi, lebih baik ia segera pergi dari sana.


Sebenarnya Darren masih ingin menghabiskan waktu bersama Shani di apartemennya. Tapi berhubung gerak-gerik Shani terlihat tidak nyaman, Darren pun menghapus niat dan membawa gadis itu kembali ke Argantara Group. Darren bergegas mengambil berkas yang tadinya ia sudah siapkan, lalu mengajak Shani pergi.


...•○⭕️○•...


"Sabtu malam nanti kamu harus ikut saya makan malam bersama vendor." Darren yang sibuk menyetir mobil mulai memerintah Shani.


"Pak Darren ada meeting?" tanya Shani sedikit bingung. Padahal Darren belum resmi menjadi CEO Argantara Group, tapi kenapa ia ada agenda makan malam bersama vendor?


"Saya harus mulai membiasakan diri untuk hal-hal seperti itu. Bukannya kamu sendiri yang mengajari saya?"


"Tapi, Pak. Apa Bapak sudah berunding dengan Pak Wirawan soal ini?"


"Papa saya sendiri yang meminta. Sudahlah kamu tidak usah banyak tanya. Kerja kamu tinggal menurut dan mengikuti. Sabtu malam saya jemput kamu di rumah."


"Baik, Pak."


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.


__ADS_2