
Darren mendapati lengan kiri baju Shani yang robek setelah jaket milik Malvin yang menutupi punggung Shani tidak sengaja melorot ke lantai. Darren semakin marah. Ia sudah benar-benar dibutakan oleh kesalahpahaman dan rasa cemburu akut.
Darren pun mulai menyerang bibir Shani dengan pagutan kasar. Ciuman tidak beraturan ia luapkan sampai membuat Shani tersedak-sedak. Shani mendorong-dorong Darren untuk melepaskan diri, ia terus menangis.
Sembari terus menciumnya, Darren menggendong Shani menuju ke ruang kamar. Namun, Shani yang terus bergerak tidak ingin dicumbui Darren membuatnya terjatuh ke belakang sandaran sofa ruang televisi. Darren menatap Shani dengan sorotan mata menukik tajam.
"Kamu itu cuma milikku, Shani! Siapa pun nggak bisa rebut kamu dari aku!" seru Darren membuat Shani semakin takut.
Darren kembali memagut bibir Shani. Darren memandu tubuh Shani merosot ke bawah. la mencecap habis isi mulut Shani sembari menekannya ke punggung belakang sofa.
Shani memberontak menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Aku benci kamu, Darren! Aku benci kamu!!!" teriak Shani pada Darren.
"Kalau gitu aku akan buat kamu semakin benci sama aku," ungkap Darren terus merobek bagian belakang baju Shani.
"Darren, berhenti! Darren, aku mohon berhenti," kata Shani terisak.
Darren kembali membingkam mulut Shani dengan ciuman kasar. Tangan kiri Darren mengunci gerak tangan kanan Shani. Darren mulai menelusupkan tangan kanannya ke dalam rok yang Shani kenakan.
Darren merobek pakaian dalam Shani. Shani semakin berontak tidak karuan. Tangan kirinya yang masih bisa bergerak bebas mulai mendorong dan memukul-mukul Darren.
Darren dengan sangat lincah mulai menanggalkan pakaian bawahnya. Dan dengan segera Darren melakukan penetrasi secara langsung. "Aaaggghhhhh!" rintihan panjang Shani ketika Darren menerobos masuk ke dalam liang sanggamanya yang belum siap untuk digauli.
Shani menangis dengan telapak kaki mencengkeram. "Berhenti, Darren. Ah, aw...." Shani tidak kuat dengan rasa sakit yang aneh di bagian pusat pangkal pahanya.
Darren terus gencar menggagahi Shani. Ia terus memaksakan zakarnya masuk ke dalam lobang sempit milik gadis itu. "Ah! Berhenti! Ahhh! Aku nggak mau! Aku nggak mau, Darren.... Ahhh!" Shani menggeleng dengan tangis terisak-isak.
Darren tidak peduli kalaupun malam ini ia akan menikmati tubuh Shani dengan cara paksa. Darren tidak pernah mau kehilangan Shani. Dan mungkin menyetubuhi Shani adalah satu-satunya cara agar bisa terus bersamanya.
Shani terus mendesah kesakitan. Darren masih berusaha memperdalam penetrasinya. Dan kemudian dalam sekali hentakan yang menandak, Darren berhasil menerobos masuk merobek selaput dara milik Shani.
"Aaahhhhh...." Shani melenguh panjang disertai cairan merah yang mulai keluar dari organ intimnya. Kedua tangannya yang sudah dicengkeram Darren mulai melemas. Shani pun melemah.
Melihat Shani yang sudah terkapar tidak berdaya, Darren pun semakin dengan gencarnya menandak-nandak menikmati setiap sensasi bercintanya. Ruang apartemen itu mulai didominasi dengan ******* Darren dan suara becek penetrasinya. Setelah Darren berhasil mencapai puncak dan melepaskan benih nafsu ke dalam rahim Shani, ia pun membopong gadis itu menuju ranjangnya.
Darren masih belum puas. la mulai melucuti semua sisa pakaiannya juga pakaian Shani. Darren menggagahi Shani untuk lagi dan lagi. Darren mulai kecanduan dengan lobang sempit itu. Dan betapa beruntungnya ia bisa menikmatinya sebagai yang pertama kali.
__ADS_1
...•○⭕️○•...
Malvin baru saja tiba di tempat camping.
"Loh, Shani mana?" tanya Jia pada Malvin yang datang kembali tanpa bersama Shani.
"Shani sama Darren." Jawab Malvin merasa sangat bersalah.
"Maksudnya gimana? Shani nganterin Pak Darren pulang dulu gitu?" tebak Jia masih bingung sembari melirik Andra.
Malvin terdiam sebentar. Dan secara tiba-tiba ia berteriak mengacak-acak rambutnya seperti orang frustrasi berat. Napas Malvin terdengar memburu membuat Jia dan Andra semakin kebingungan.
"Pak Malvin, Shani kenapa? Dia di mana sekarang?" Jia mulai panik.
"Shani bilang, dia bakalan baik-baik aja sama Darren. Tapi aku nggak yakin. Mendingan kita beresi semuanya. Aku mau pulang nenangin diri dulu," ujar Malvin pada Jia dan Andra.
Tiga orang itu pun mulai memberesi peralatan kemahnya. Suasana yang awalnya seru menjadi runyam. Malam minggu mereka benar-benar kacau.
Selesai memberesi, Malvin dan Andra pun berpamit pada Jia. Mereka pulang. Dan Jia pun akhirnya sendirian di rumah.
...•○⭕️○•...
Darren pun segera mengecek ponsel pacarnya itu. Darren mengernyit mendapati nama papanya yang menelepon Shani. Darren mulai mengangkatnya.
"Halo," sapa Darren di telepon itu dengan suara dingin.
"Darren? Astaga, ke mana aja kamu? Cepat pulang!" titah Wirawan pada anaknya.
"Darren nginep di apartemen. Papa nggak usah cariin Darren."
"Terus di mana Shani? Kenapa kamu yang angkat teleponnya?"
Darren pun cepat-cepat mencari alasan. "Shani udah pulang. Tadi HP-nya nggak sengaja ketinggalan di mobil Darren. Jadi ini Darren bawa dulu."
"Ya sudah kalau begitu. Kamu ini ngerepotin orang aja!" seru Wirawan lalu segera mematikan panggilannya.
__ADS_1
Darren kembali memasukkan ponsel Shani ke dalam tasnya. Ia lalu beranjak tidur lagi sembari memeluk gadis itu. Sekarang Darren sangat suka aroma tubuh Shani.
...•○⭕️○•...
Waktu berjalan dan hari sudah pagi, Shani mulai terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengerjap-ngerjap sembari merasakan seluruh tubuhnya pegal-pegal dan tidak nyaman, khususnya di bagian pangkal paha, pinggang, dan organ intimnya. Shani sontak berjingkat saat mendapati badannya yang polos tanpa mengenakan pakaian apa pun.
Shani terduduk memegangi selimut yang masih menutupi tubunya. Ia mulai mengingat kejadian semalam. Matanya pun berkaca-kaca dengan napas tercekat-cekat karena syok tidak mempercayai tragedi pilu yang menimpanya tadi malam.
Shani menutupi kedua telinganya. la mulai menangis seraya menggeleng-gelengkan kepala. Shani menolak kenyataan yang terjadi bahwa dirinya sudah tidak suci lagi.
Dengan pikiran dan perasaan kacau, Shani mulai menyapu pandang ke penjuru ruangan itu. Shani mendapati setumpuk pakaian yang ditaruh di atas nakas di samping kanannya. Shani pun cepat-cepat mengambil dan memakai baju itu.
Darren memang sengaja meninggali Shani pakaian baru yang sudah bersih sebelum ia keluar dari ruang apartemennya untuk pulang sebentar dan melakukan aktivitas lain.
Shani sudah selesai memakai baju. la mulai berjalan pelan sembari menolah-noleh untuk memastikan jika Darren tidak ada di sana. Shani seketika terhuyung ke tembok saat melihat sandaran sofa ruang TV yang mengingatkannya pada ulah Darren yang bajingan.
Emosi Shani tidak terkontrol. Sudut-sudut matanya terus mengeluarkan air mata yang artinya sudah tidak berguna lagi. Padahal Shani baru saja mulai sayang dan jatuh cinta pada Darren, tapi kenapa laki-laki itu malah membuatnya sangat membencinya?
Shani berlari menghindari punggung sofa yang seakan sangat menakutkan baginya. la mulai menggedor-gedor pintu apartemen itu. Shani tidak bisa keluar karena pintu itu dikunci dengan password.
"Tolong!!! Tolong!" Shani memekik lantang, namun tetap saja tidak ada orang yang bisa mendengar suaranya di ruang kedap bunyi itu.
Shani benar-benar kebingungan. Ia tidak ingin bertemu Darren lagi. Shani takut.
Shani pun teringat dengan ponselnya. la kembali ke ruang kamar Darren untuk mencari tasnya. Shani membuka tas kecilnya yang berada di atas laci dekat lemari, namun tasnya itu hanya berisi dompet, ponselnya entah ke mana.
Shani benar-benar frustrasi. Ia tidak tau harus melakukan apa untuk keluar dari apartemen itu. Shani mulai sesenggukan. Tubuhnya merosot ke bawah terduduk ke lantai. Shani meringkuk ke pinggir tembok meratapi nasibnya yang malang.
Beberapa menit kemudian suara pintu depan apartemen berbunyi. Shani cepat-cepat berdiri dari duduknya. Dan lalu Darren muncul.
Darren berdiri di ambang pintu masuk ruang kamarnya menatap Shani yang juga menatapnya. Wajah Shani sudah sangat basah. Matanya memerah karena tangisannya yang terus-menerus.
...•○⭕️○•...
Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.
__ADS_1