RENGKUH

RENGKUH
BAB 12


__ADS_3

Shani baru saja tiba di halaman Argantara Group. la baru turun dari sebuah ojol. Shani pun berjalan pelan menuju pintu masuk kantor.


"Pagi, Shani," sapa Malvin yang mendadak muncul dari arah belakang Shani.


"Malvin? Kamu di sini?" Shani dan Malvin pun mulai mengobrol di halaman depan kantor tersebut.


"Iya. Aku mau ketemu sama Darren sebentar." Jawab Malvin tersenyum.


Shani menanggapinya dengan senyum yang sama.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, semalam kamu dibawa Darren ke mana? Dia nggak apa-apain kamu, kan?" tanya Malvin membuat Shani sedikit kikuk.


"Enggak, kok. Semalam Darren cuma anterin aku pulang. Baju aku juga basah semua soalnya." Jawab Shani.


Malvin mengangguk.


"Emmm. Kalo gitu kita masuk, yuk," ajak Shani pada Malvin.


Malvin tersenyum, lalu ia dan Shani berjalan bersama menuju ruangan pimpinan.


...•○⭕️○•...


Shani mengetuk singkat pintu ruangan Darren, kemudian ia masuk dan disusul oleh Malvin. Darren yang mulanya tersenyum ceria atas ketibaan Shani langsung mendatarkan ekspresi ketika mendapati Malvin ikut masuk ke ruangannya. Malvin pun dengan tanpa rasa sungkan langsung duduk menyandarkan punggung ke sofa ruangan itu.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Darren pada Malvin. la masih duduk di kursi CEO, dan Shani mulai menata berkas-berkas di mejanya.


"Ya ketemu sama pegawai lo, lah. Gue kan juga rindu." Malvin menyeringai pada Darren.


Batin Shani sedikit bingung. Pegawai mana yang membuat rindu Malvin? Apa itu Jia? Semalam Shani sempat mengobrol dengan Jia via whatsapp. Jia bilang, ia dan Malvin sempat melakukan dansa bersama saat di pesta anniversary pernikahan Wirawan dan Fiona semalam.


"Kalo lo nggak ada urusan penting, nggak usah ke sini. Sana pulang," suruh Darren pada sepupunya itu.


Malvin mengedikkan bahu. Ia beranjak berjalan menghampiri Shani. "Shani, nanti siang aku tunggu di Ini Cafe, ya. Kamu boleh ajak Jia sama Andra. Aku bakalan traktir kalian makan siang nanti," ujar Malvin tersenyum pada Shani. Ia tidak menunggu Shani merespon dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kamu kenapa diem aja?" tanya Darren menyadarkan lamunan Shani akan Malvin.


"Eh, enggak kok, Pak."


Darren bergerak mendekati Shani. Ia memeluk gadis itu dari belakang, lalu menghirupi aroma wangi dari sisi kanan lehernya. "Kamu lupa kita udah pacaran? Kenapa formal gitu panggil akunya. Santai, Shani. Cuma ada kita di ruangan ini," bisik Darren membuat Shani sedikit geli.


Shani beringsut melepas pelukan Darren. "Tapi ini kantor. Aku nggak mau ada pegawai-pegawai lain yang lihat terus salah paham." Shani beranjak menjauhi Darren. la berjalan membawa setumpuk map ke sofa, lalu mulai merapikan dan mengeceknya.

__ADS_1


Darren semakin gemas dengan tingkah Shani yang malu-malu kucing. Ia tidak bisa berhenti menggoda pacarnya itu. Darren pun menghampiri Shani terus menatapnya dengan senyum penuh arti.


...•○⭕️○•...


Shani dan Darren baru saja keluar dari ruang meeting Argantara Group. Mereka baru menyelesaikan pertemuan dengan beberapa relasi bisnis. Kebetulan sekali jam istirahat siang sudah dimulai, jadi Shani pun bisa merilekskan pikiran setelah memanajeri Darren hampir setengah hari ini.


"Ayo kita keluar makan siang," ajak Darren pada Shani. Mereka berdua berjalan menuju ruang CEO untuk mengembalikan beberapa berkas di sana.


"Tapi tadi Malvin udah ajakin kita makan siang bareng, kan? Dia pasti udah nungguin di Ini Cafe."


"Emang dia ajakin aku? Dia bilangnya aja cuma kamu, Jia, sama Andra. Nama aku nggak disebut tuh sama dia."


"Ya kamu kan sepupunya. Langsung dateng aja."


Darren melempar tatapan tajam ke arah Shani. Mereka yang tadinya berjalan kecil dengan beriringan mulai berhenti. "Kamu kok kayaknya ngebet banget mau makan siang sama Malvin. Kamu mau ketemu sama dia, ya? Rindu? Atau kangen?" tuduh Darren pada pacarnya.


"Eng-enggak, kok. Aku cuma nggak enak aja sama Malvin." Jawab Shani menunduk-nunduk.


Darren memalingkan wajah, kemudian menatap Shani lagi. "Kamu duluan aja ke ruangan. Aku mau ke pantri sebentar," ujar Darren pada Shani.


"Iya." Shani menurut, lalu berjalan menuju ruangan CEO.


Sekitar 5 menitan, Darren akhirnya menjumpai Jia tengah mengobrol dengan seorang resepsionis di meja tamu lobi utama. Darren pun menghampiri gadis itu. "Jia, kamu ditunggu Malvin di Ini Cafe sekarang. Dia sudah ada di sana, jadi kamu buruan berangkat," titah Darren membuat batin Jia sedikit bingung.


"Iya, Pak." Tapi karena Darren itu bosnya, Jia pun akhirnya menurut.


Darren bergegas kembali ke ruangannya untuk menemui Shani. Sedangkan Jia dengan perasaan berbunga-bunga cepat-cepat menuju ke Ini Cafe untuk menemui Malvin. Rasa kepercayaan diri Jia seketika melambung tinggi, ia pikir Malvin mulai ada rasa dengannya.


...•○⭕️○•...


Darren mengajak Shani ke sebuah rumah makan. Ia menyewa ruang privasi untuknya dan Shani menghabiskan waktu makan siang. Darren tidak ingin waktu berduanya dengan Shani diganggu oleh siapa pun.


"Sebenernya aku kangen banget sama Bi Rumi. Kalo ada waktu aku pengen pulang kampung jengukin bibi aku." Shani tersenyum kecut.


Darren baru saja mendengarkan cerita pilu Shani. Shani mengungkapkan pada Darren bahwa ibu dan ayahnya telah meninggal dunia saat ia masih sangat kecil, dan sampai saat ini ia diangkat sebagai putri kakak ibunya. Darren merasa kasihan pada Shani, namun ia pikir gadis itu cukup kuat dengan semua cobaannya.


"Kenapa bibi kamu nggak tinggal aja sama kamu di sini? Lagian kamu juga sendirian kan di rumah," saran Darren pada Shani.


"Aku udah sempet bilangin itu sih ke Bibi, tapi bibinya nggak mau. Bibi nggak bisa ninggalin rumah peninggalan suaminya. Bibi bilang, di sana udah banyak kenangan. Aku juga nggak bisa paksa bibiku." Shani menunduk.


Darren yang duduk di samping Shani langsung memeluk gadis itu untuk memberikan kenyamanan. Shani menyukai Darren yang seperti ini. Darren yang lembut dan membuatnya merasa aman.

__ADS_1


Shani melepas pelukan Darren. Ia tersenyum pada laki-laki itu. "Ngomong-ngomong, gimana sama Malvin? Dia masih nungguin di Ini Cafe nggak, ya?" Shani penasaran.


Darren kembali menyibuk dengan makan siangnya. Ia melahap sesuap nasi, kemudian menatap Shani kembali. "Mungkin dia lagi berduaan sama Jia, cuit Darren pada Shani.


Shani terus menyendoki es krim vanila dan melahapnya. Hari ini Shani hanya makan sedikit nasi, ia lebih memilih memesan beberapa macam dessert. "Malvin suka sama Jia?" tanya Shani pada Darren.


Darren mengedikkan bahu. "Kayaknya sih gitu." Jawabnya asal membuat Shani mengangguk.


Darren terus memperhatikan Shani yang tengah memakan es krim. Sesekali Shani menjilati bibirnya membuat Darren menelan saliva. "Enak?" tanya Darren pada Shani.


"Kamu mau?" Shani menyodorkan sesendok es krim vanila pada Darren.


Darren menatap Shani untuk beberapa detik, lalu ia mulai meraih tengkuk Shani dan mencium bibirnya. Darren mencicipi rasa vanila yang tertinggal di mulut Shani. Darren pun semakin memperdalam pagutannya.


Shani masih terkejut dengan ciuman mendadak dari Darren, namun pelan-pelan ia mulai memejamkan mata menikmati setiap kecapan yang Darren berikan. Darren terus mengulum mulut Shani. la semakin gencar menyesap dan memagut bibir gadis itu.


Setelah Darren merasakan kalau Shani mulai kehabisan napas, ia menyudahi ciumannya. Darren mengusap lembut kedua pipi Shani. la menyandarkan dahi Shani ke dahinya hingga hidung keduanya saling bersentuhan.


...•○⭕️○•...


Jia menolah-noleh ke penjuru ruangan Ini Cafe, lalu seseorang tampak melambai-lambai kepadanya. Itu adalah Malvin. Jia pun segera menghampiri laki-laki itu.


"Selamat siang, Pak Malvin," sapa Jia tersenyum.


"Siang, Jia. Silakan duduk," suruh Malvin pada Jia.


"Shani sama Andra mana?" tanya Malvin tiba-tiba membuat Jia bingung.


"Shani sama Andra?" Jia mengernyit.


"lya. Mereka belum sampai?" tanya Malvin lagi semakin membuat Jia tidak paham.


"Saya ke sini sendiri loh, Pak. Bukannya Pak Malvin pengen ketemu sama saya? Tadi Pak Darren bilang kalau Pak Malvin sudah nunggu saya di Ini Cafe. Makanya saya ke sini," ungkap Jia pada Malvin.


Batin Malvin mengumpati Darren habis-habisan. Bisa-bisanya Darren mencuranginya. Mulai sekarang Malvin harus bergerak lebih cekatan lagi untuk mendekati Shani.


Dan pada akhirnya Malvin pun hanya makan siang bersama Jia. Jia merasa kalau ada yang mengganjal sekarang. Jia tidak tau saja jika Darren sudah menipu dan memanfaatkannya untuk mengerjai Malvin.


...•○⭕️○•...


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.

__ADS_1


__ADS_2