RENGKUH

RENGKUH
BAB 21


__ADS_3

Waktu berjalan sudah seminggu. Hari ini Shani baru kembali ke kota. Selama seminggu itu ia sibuk merawat Rumi. Tapi syukurnya Rumi cepat membaik. Ia hanya butuh 5 hari untuk bisa keluar dari ruang opname, dan sisa 1 harinya Shani lakukan untuk bermanja-manja dengan bibinya itu di rumah.


Setelah menata dan membersikan rumah juga badannya, Shani pun meletakkan diri untuk duduk di tepi kasur di ruang kamarnya. Pandangan Shani kosong, melamun, memikirkan sesuatu yang rasanya mengganjal tapi ia tidak tau sesuatu apa itu. Shani mencoba mengingat-ingatnya.


Saat bola matanya tertuju pada sebuah pil kontrasepsi darurat di sudut kiri meja riasnya, hati Shani tiba-tiba berdesir seperti teriris, rasanya perih. la benar-benar lupa harus mengkonsumsi pil itu. Terlalu mengkhawatirkan Rumi membuat Shani tidak mengingat dengan apa yang seharusnya ia lakukan setelah adegan panasnya bersama Darren. Semuanya terlalu mendadak. Saat mendengar keadaan Rumi yang sedang sakit parah membuat Shani lupa segala hal.


Shani memegangi kepala dengan kedua tangannya. Bahkan sudah 7 hari ini setelah persetubuhannya dengan Darren, apa pil itu akan bekerja jika dikonsumsinya? Tangan Shani beralih pada perutnya. Shani gelisah. Di dalam perut rata itu, siapa tau bayi kecil sedang akan tumbuh?


Segala emosi kembali berkumpul menjadi 1, dan itu membuat Shani hilang arah. Sudah terlewat seminggu? Bagaimana jika ia hamil?


"Enggak. Positif thinking, Shani. Kamu harus positif thinking," seru Shani berguman menenangkan dirinya sendiri.


Shani masih punya hati nurani. Awalnya ia berniat untuk mencegah sebuah nyawa hadir di perutnya, atau bahkan sampai lahir ke dunia. Tapi ini sudah seminggu, dan jika Shani melakukan pencegahan itu, itu bisa dikatakan sebagai membunuh kalau sampai sebuah nyawa itu memang benar adanya.


Kesalahan dan dosa besar sudah Shani perbuat. Dan kali ini, ia tidak bisa menambah dosa itu. Membunuh calon janin yang tidak berdosa, Shani tidak bisa melakukannya.


Shani hanya bisa berharap agar keajaiban menyertainya. Shani tidak ingin hamil di luar nikah. Dan semoga itu nyata, jika ia tidak akan hamil.


...•○⭕️○•...


"Alhamdulillah, udah baikan, kok." Jawab Shani atas pertanyaan Jia dan Andra tentang keadaan Rumi.


Hari ini adalah hari pertama Shani kembali bekerja setelah mengambil cuti seminggu penuh. Jia dan Andra merindukannya, begitu pun sebaliknya. Saat ini 3 orang itu tengah mengobrol di kantin kantor sembari menunggu pesanan makan siang dihidangkan.


"Syukur, deh." Andra menimpali dengan senyuman.


"Oh, iya. Sha, lo udah denger kabar soal Pak Darren belum?" tanya Jia tiba-tiba.


"Kabar apa?" Dahi Shani mengernyit.

__ADS_1


"Jadi setelah 3 hari saat lo mulai ambil cuti, Pak Darren tunangan. Gosipnya sih malah mau nikahan cepet."


Seketika hati Shani tersambar petir. Darren akan menikah? Dengan siapa?


"Sha?" panggil Jia menyadarkan Shani yang tampak tertegun.


"Iya?"


"Lo kenapa?"


"Nggak pa-pa, kok." Jawab Shani tersenyum pada Jia.


Suasana mendadak hening. Jia dan Andra saling melempar tatapan bingung karena gerak-gerik Shani yang terlihat gelisah. Jelas sekali pikiran Shani berkelana jauh.


...•○⭕️○•...


Dengan bermodalkan sebuah map berisi dokumen yang harus ditandatangani Darren, Shani pelan-pelan mengetuk pintu ruangan CEO. Selain berniat untuk memberikan dokumen itu, tujuan utama Shani adalah ingin berbicara dengan Darren secara pribadi. Anggap saja dirinya saat ini sedang dalam keadaan tidak tau malu.


"Ini ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani," ungkap Shani pada Darren sembari meletakkan map kuning yang dibawanya ke meja.


Shani masih berdiri. Ia menatap Darren ragu-ragu. Shani bertekad untuk memberanikan diri berbicara 4 mata bersama laki-laki itu. Dan Darren, ia terus menatap gadis itu yang sudah seminggu penuh membuat pikirannya berkabut. Darren merindukan Shani, sangat merindukannya.


Sejak jam kantor dimulai, dan siang ini setelah jam istirahat selesai Darren baru melihat Shani untuk yang pertama kali. Ia sibuk dengan pekerjaannya, juga dengan rencana pernikahannya yang tidak ia inginkan. Benar, Darren memang akan menikah.


"Ada yang pengen aku tanyain ke kamu," celetuk Shani pada Darren saat mendapati laki-laki itu hanya terus diam memandangnya.


Shani pun beringsut duduk di kursi depan meja Darren setelah bosnya itu mempersilakannya duduk dengan menunjuk kursi menggunakan dagunya.


"Apalagi yang perlu kita bahas? Bukannya semuanya sudah selesai?" ujar Darren.

__ADS_1


Shani terdiam memaku mata menatap Darren. "Apa kamu mau menikah?" tanyanya setelah beberapa detik. Sungguh sangat tidak tau malu untuk mengatakan itu, tapi Shani juga perlu kepastian.


Darren terkekeh tidak acuh. "Peduli apa kamu?"


Shani menundukkan pandangannya. Ia tersenyum kecut. "Kamu bener." Shani kembali menatap Darren. "Peduli apa aku kalau kamu beneran mau nikah? Aku sama sekali nggak peduli."


Shani berusaha menguatkan hatinya yang rapuh. Darren akan benar-benar meninggalkannya. Laki-laki itu sudah tidak peduli dengan keadaannya sekarang.


Darren terdiam menatap mata Shani. Darren tau gadis itu berbohong. Sorot matanya memberikan kesan kekecewaan dan sedih. Sebenarnya Darren juga tidak mau meninggalkan Shani. Namun jika gadis itu berani jujur dan menahannya untuk terus bersama, Darren bersumpah akan memeluknya sekarang, memegangnya erat, dan akan memilih hidup bersamanya, selamanya.


"Apa kamu yakin?" tanya Darren memastikan. "Apa kamu bisa hidup tanpa aku?"


Shani membisu.


"Apa aku beneran nggak harus bertanggung jawab?" Darren menatap perut Shani tiba-tiba terus diikuti gerakan gadis itu yang memeluk perutnya sendiri.


"Kamu nggak perlu bertanggung jawab," ujar Shani dengan sangat sesak sekali.


"Bagus. Aku bersyukur nggak hamilin kamu. Setidaknya aku terhindar dari menikahi wanita murahan." Sebenarnya Darren tidak harus mengatakan itu, tapi mulutnya seolah ingin mencaci Shani.


Shani mengerjap sekali menutup matanya untuk beberapa detik, dan setetes air mata keluar dari sana. Mencoba kuat saat ini adalah hal tergila yang pernah Shani lakukan. Perasaannya sangat tertohok atas ucapan Darren akan dirinya.


"Mulai sekarang kamu bisa bebas kasih perasaan ke siapa pun. Karena aku sudah ada yang lain." Walaupun sudah ada yang lain, tapi sejujurnya hanya ada Shani di hati Darren. Satu-satunya, hanya gadis itu. "Dan soal aku yang pernah meniduri kamu, anggap saja itu suatu kesalahan."


Shani benar-benar sudah tidak kuat dengan ucapan dan sikap Darren yang seperti itu. "Permisi," pamitnya cepat. Shani langsung berdiri dari duduknya pergi meninggalkan Darren dan ruangan itu.


Seketika Darren beringsut berdiri. "Aaargh!!!" teriaknya seraya membanting kursi yang sudah didudukinya. la sangat frustrasi. Darren pun menyandarkan punggungnya ke tembok sembari memijati pelipis. Ekspresi terakhir Shani yang berhasil ditangkap Darren, gadis itu mengernyit menahan air matanya.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH agar author rajin update.


__ADS_2