RENGKUH

RENGKUH
BAB 13


__ADS_3

"Dua minggu lagi kamu harus sudah siap memimpin perusahaan dengan sepenuhnya. Papa akan mempercayakan kendali Argantara Group ke kamu," tutur Wirawan pada Darren.


Hari ini adalah malam minggu, keluarga Argantara tengah makan malam bersama di meja makan.


"Darren, Mama yakin kamu pasti bisa jadi CEO yang hebat. Iya kan, Pa?" Fiona tersenyum menyemangati putranya.


Wirawan yang dimintai kepastian oleh istrinya hanya melempar senyum kecut. Sebenarnya Wirawan belum terlalu yakin jika Darren mampu menggantikan posisinya sebagai CEO Argantara Group. Tapi Wirawan juga tidak ingin mengulur waktu, ia akan lebih tenang jika Darren ada kesibukan bekerja.


Darren hanya terus diam menyimak ocehan kedua orang tuanya. Ia terus menikmati makan malam yang sebenarnya membuatnya tidak cukup berselera. Darren selalu malas kalau papa dan mamanya terlalu banyak bicara dan menasihatinya terus-terusan.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, Papa jadi kenalin anak gadis temen Papa ke Darren, kan?" tanya Fiona ke Wirawan membuat Darren berhenti mengunyah.


Wirawan mengedikkan alis kepada istrinya tanda jawaban iya. "Setelah pelantikan nanti, Papa akan kenalin kamu ke anak gadis temen Papa. Siapa tau dia akan cocok jadi istri kamu," ungkap Wirawan pada Darren.


Darren meletakkan garpu dan sendoknya ke meja makan dengan hentakan cukup keras. la membuat papa dan mamanya berjingkat karena terkejut. "Berhenti ngatur-ngatur hidup aku! Aku bukan anak kecil!" tegas Darren menatap tajam papanya.


Darren pun beranjak pergi meninggalkan makan malamnya yang masih tersisa banyak. la menuju kamar untuk mengambil dompet dan kunci mobil. Darren sangat muak dengan semua aturan orang tuanya yang otoriter. Dan apa itu? Apa papanya akan menjodohkannya dengan gadis lain?


Wirawan dan Fiona masih meneruskan makan malamnya berdua saja. Mereka seperti sudah terbiasa jika Darren tiba-tiba meninggalkan momen makan bersama keluarga karena obrolan yang sensitif. Wirawan dan Fiona terkadang juga lelah menghadapi perilaku Darren yang seperti itu, sulit diatur dan mudah marah.


"Apa kita emang udah keterlaluan sama Darren ya, Pa? Mama juga ngerasa kalo sejak kecil Darren selalu kita setirin. Dia jarang ngelakuin apa yang dia pengen, mungkin karena itu Darren jadi membangkang sama kita," curhat Fiona pada Wirawan.


"Itu semua untuk kebaikan Darren, Ma. Kita sabar aja ngadepinnya." Jawab Wirawan terus menyibuk dengan makan malamnya.


...•○⭕️○• ...


Darren berniat menghampiri Shani dan mengajaknya bermalam minggu untuk mengembalikan mood, tapi sayangnya gadis itu sedang tidak ada di rumah. Darren yang perasaannya berkabut pun memilih pergi ke sebuah bar untuk meluapkan emosi. la masih kepikiran dengan ucapan papanya saat di rumah tadi.


Waktu berlalu hingga pukul 11 malam, Darren yang masih berhura-hura di tempat hiburan malam mulai membuat orang tuanya cemas, khususnya Fiona.


"Pa, bangun." Fiona mengusik suaminya yang sudah tidur lelap. "Bangun, Papa."


"Apa sih, Ma?" tanya Wirawan dengan suara parau mulai mengerjap-ngerjapkan mata.


"Darren nggak ada di kamar. Mama intip di garasi mobilnya juga belum ada. Ke mana sih dia bikin orang tua khawatir aja."


"Mungkin Darren nginep di apartemen, Ma. Udah kita tidur lagi aja. Papa ngantuk banget."


"Papaaaaa!" seru Fiona pada Wirawan yang malah beringsut tidur lagi. "Kamu cepet cari Darren! Dia itu anak kita satu-satunya. Kalo Darren kenapa-napa gimana?"


Wirawan mendecak, lalu beranjak bangun dari tempat tidur. "Kalo gitu Mama tidur aja, biar Papa yang urus Darren." Ia pun bergegas pergi keluar kamar meninggalkan istrinya. Wirawan mulai menghubungi nomor Darren, tapi putranya itu tidak kunjung mengangkat teleponnya. Darren memang sengaja meninggalkan HP di atas nakas ruang kamarnya.


Wirawan pun segera menghubungi anak buahnya untuk mengecek apartemen. Namun yang ia dapatkan adalah Darren tidak ada di sana. Wirawan memerintah anak buahnya lagi agar mencari Darren sampai ketemu.


Setengah jam kemudian Wirawan kembali mendapatkan laporan dari orang pribadinya. Lokasi Darren berhasil ditemukan. Anaknya itu sekarang tengah berada di sebuah bar di pinggiran kota.


Wirawan cepat-cepat menyuruh anak buahnya untuk membawa Darren pulang. Beberapa menit kemudian anak buah Wirawan sampai di kediamannya. Wirawan pun bergegas membukakan pintu.


"Di mana Darren?" tanya Wirawan pada kedua anak buahnya yang tiba tapi tanpa membawa balik putranya.


"Maaf Pak, Pak Darren bersikukuh tidak mau diajak pulang. Dia melawan kami. Beberapa anak buah dipukuli oleh Pak Darren," jelas salah seorang anak buah itu.


"Anak kurang ajar," gumam Wirawan mengatai putranya sendiri.


"Pak Darren tadi sempat bicara kalau dia mau pulang asalkan gadis yang bernama Shani menjemputnya."


"Shani?" Wirawan mengernyit.


"Iya, Pak."


"Ya sudah, kalian boleh pergi. Saya sendiri yang akan mengurus Darren."


"Baik, Pak."

__ADS_1


Dua anak buah Wirawan sudah pergi. Wirawan pun bergegas menutup pintu rumahnya lagi. la cepat-cepat menelepon Shani.


Di sisi lain, Shani bersama Jia dan Andra tengah melakukan kemah kecil di halaman samping rumah Jia yang cukup luas. Tidak hanya mereka bertiga, ternyata Malvin juga bergabung. Empat orang itu tengah asik membakar jagung dengan api unggun.


Siang tadi di sebuah grub chat yang beranggotakan Shani, Jia, dan Andra tengah mengobrolkan soal agenda malam minggu.


Andra


Udah lama nggak malmingan bertiga, nih. Ngumpul yuk, hehe.


Jia


Gue sih gas aja.


^^^Shani ^^^


^^^Gue juga free, hehe. ^^^


Jia


Kebetulan gue lagi di rumah sendiri, nih. Ortu lagi keluar kota. Gimana kalo kita barbekuan? Semua bahan ada di rumah gue.


Andra


Mantap, tuh. Sekalian camping kita. Yuk-yuk aja gue.


^^^Shani ^^^


^^^Gue ikut!!! ^^^


Jia


Deal nih cuma bertiga?


^^^Shani ^^^


Jia


Malvin, hehe. Boleh, kan? Biar tambah rame.


Andra


Terserah sih gue. Asal jangan bos kampret aja!


Jia


Kena pecat tau rasa lo!


^^^Shani ^^^


^^^Gue ngikut kalian aja.^^^


Jia


Jadi oke ya, nih? Ntar lo setenda sama Malvin, Ndra. Gue sama Shani.


^^^Shani ^^^


^^^Tendanya siapa yang bawa? ^^^


Andra


Tenda urusan gue.

__ADS_1


^^^Shani^^^


^^^Okey.^^^


Jia


Jam 4 udah ngumpul, ya. Jangan telat.


Andra


Siap.


^^^Shani^^^


^^^Siap.^^^


Jadi begitulah awalnya. Dan sekarang sudah tengah malam. Shani, Jia, Andra, dan Malvin yang dapat undangan khusus tengah bersenang-senang menikmati camping kecil-kecilannya.


"Sha, HP lo dari tadi kok kayaknya bunyi terus, ya?" celetuk Jia pada Shani.


"Masa, sih?" Shani pun beringsut mengambil ponselnya yang terselip di dalam tenda. la terkejut mendapati 3 misscall dari Wirawan. Dengan segera Shani menghubungi Wirawan kembali.


"Halo? Ada apa, Pak?" tanya Shani pada Wirawan di telepon.


...•○⭕️○• ...


"Shani, sekarang juga kamu jemput Darren. Bawa dia pulang ke rumah," suruh Wirawan dengan suara tegas.


"Memangnya Pak Darren ke mana, Pak?"


"Dia ada di sebuah bar di pingiran kota. Tolong kamu bujuk dia untuk pulang."


"Tapi Pak, ini sudah larut."


"Saya tidak mau tau. Lagian tugas kamu masih berlaku. Gimana bisa kamu biarin anak saya seperti ini? Kamu sudah janji sama saya untuk bikin Darren tidak melakukan hal-hal aneh. Pokoknya kamu harus bereskan ini."


"Ba-baik, Pak."


"Saya akan share lokasi Darren ke kamu. Tunggu sebentar."


"Iya Pak, saya tunggu."


Telepon pun dimatikan oleh Wirawan, dan Shani mulai khawatir pada Darren. Kenapa pacarnya itu bermain di bar lagi? Shani tidak suka jika Darren mabuk-mabukan atau bahkan bersenang-senang dengan gadis lain di belakangnya.


"Kenapa, Sha?" tanya Jia pada Shani. Jia, Malvin, dan Andra sedari tadi memperhatikan Shani yang tengah berteleponan dengan seseorang. Apalagi Malvin, ia langsung memasang mata dan telinga dengan tajam setelah Shani menyebutkan nama Darren.


"Pak Wirawan suruh gue jemput Darren yang lagi di bar," ungkap Shani menautkan kedua alisnya memberikan ekspresi bingung yang terkesan memelas.


"Apa-apaan, sih! Kenapa lo harus jemput Pak Darren yang lagi di bar?" Jia tidak terima.


"Tapi Pak Wirawan sendiri yang merintah gue, Ji. Udah ah, gue mau berangkat jemput Darren." Shani pun bergegas mengambil tasnya yang berada di dalam tenda.


"Shani, aku temenin kamu, ya?" tawar Malvin setelah Shani selesai mengambil tas.


"Iya Sha, biar Pak Malvin temenin lo. Lagian malem-malem gini kalo lo sendirian di bar bakalan horor," timpal Andra.


"Ya udah, deh." Shani tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Memang benar Shani tidak berani kalau harus sendirian pergi ke bar dan mencari-cari Darren. Untung ada Malvin.


Shani dan Malvin pun berpamit pada Jia dan Andra. Malvin membonceng Shani dengan sepeda motornya. Mereka berdua segera meninggalkan tempat camping dan menuju ke lokasi yang Wirawan sudah share ke Shani.


...•○⭕️○•...


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAN supaya author rajin update.

__ADS_1


__ADS_2