
Shani duduk terdiam memandangi dirinya di depan kaca rias ruang kamarnya. Tatapannya kosong dengan perasaan penuh penyesalan. Wanita rendahan, 2 kata itu seolah terus bersahut-sahutan di gendang telinganya.
"Tadi sangat menyenangkan. Terima kasih, Shani," ujar Darren tersenyum seraya mengusap lalu mengecup ubun-ubun gadis itu.
Shani masih diam. Darren mulai mengalungkan tangannya ke leher Shani, kemudian menaruh dagunya ke pundak kanan gadis itu. "Setelah ini kita akan menikah. Jadi kita bisa sering-sering melakukannya," imbuh Darren.
Air mata Shani tiba-tiba berlinang, mengalir di kedua pipinya. Darren yang menatapnya dari kaca terus mengusap cairan bening itu. Lalu mendaratkan ciuman singkat di pipi kanan Shani.
"Pergi dari sini," titah Shani pada Darren tiba-tiba. Darren diam. "Pergi!!!" Shani pun berteriak sembari beringsut berdiri dengan cepat.
Dua orang itu saling bertatapan. Air mata keluar lagi dari sudut-sudut mata Shani. Sedangkan Darren, ia tidak habis pikir pada gadis itu.
"Laki-laki sialan! Aku benci kamu, Darren! Aku benci kamu!!!" Shani membentak pada kalimat terakhir.
Darren terkekeh menyeringai. "Sekarang kamu bisa bilang begitu setelah semuanya yang kita lakuin?"
"Apa yang kita lakuin? Bukan kita, tapi kamu! Apa yang udah kamu lakuin ke aku?"
Darren semakin bingung dengan sikap Shani. Jelas-jelas gadis itu juga menikmati hal panas itu bersamanya. Dan kenapa sekarang Shani menyangkalnya?
"Aku nggak tau kalo kamu semunafik ini. Apa kamu kecewa sekarang? Seharusnya aku yang kecewa."
Shani menangis sedikit terisak. Ia menunduk. Dan lalu terduduk ke tempat semula di kursi kaca rias itu.
Darren masih berdiri menatap Shani dengan kekecewaan, namun juga kasihan. "Semuanya sudah terjadi. Kita nggak bisa saling menyalahkan. Aku akan bertanggung jawab. Dan kalo kamu hamil-"
"Aku nggak akan hamil," potong Shani, lalu mendongak menatap Darren. "Aku akan lakuin apa pun supaya aku nggak hamil anak kamu," tukasnya dengan sorot mata tajam.
Darren tertegun sebentar. "Jadi kamu mau membunuh bakal calon anak kita?" la terkekeh miris.
"Aku nggak membunuh. Tapi aku mencegah dia hadir. Aku nggak mau kalo sampe dia ada atau bahkan lahir ke dunia terus tau gimana bejatnya ayahnya."
Sekali lagi, ucapan Shani membuat Darren mati rasa. Hatinya hancur berkeping-keping. Pendirian Shani untuk menjauhi Darren dan menolak cintanya membuat laki-laki itu sangat sakit hati.
"Oke." Darren berceletuk. "Oke, kalau mau kamu begitu. Aku akan coba berhenti," tutur Darren ragu-ragu. "Aku akan coba berhenti atas perasaanku."
__ADS_1
"Itu bagus. Sekarang kamu bisa pergi," suruh Shani mengusir Darren.
Darren pun pergi dari rumah Shani. Ia telah memutuskan untuk mengakhiri rasa cintanya pada Shani. Walaupun ia juga belum tau akan bisa melakukannya atau tidak.
Setelah kepergian Darren, Shani hanya bisa menangis. Mulutnya sangat mudah mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan hatinya. Alhasil, Shani hanya merasakan penderitaan.
Di sela-sela tangisnya, posel Shani tiba-tiba berdering. Shani mulai meraih dan melihat siapakah gerangan yang menghubunginya di tengah malam ini. Seketika Shani cepat menyeka air mata, menormalkan suaranya supaya tidak terkesan parau, lalu ia mengangkat telepon dari Rumi, bibinya yang di kampung.
"Halo, Bi," sapa Shani pada Rumi.
Setelah suara orang asing berbicara dari sana, Shani langsung melebar mata. Tetangganya di kampung menelepon dengan ponsel bibinya dan mengabari kalau Rumi tengah sakit saat ini. Sudah berjalan 2 hari Rumi berbaring di kasur dengan keadaan demam tinggi.
Seketika Shani panik. Dan setelah panggilan itu diakhiri Shani langsung berkemas. la memasukkan beberapa baju ke koper kecil dan keperluan yang saat ini ia terpikirkan untuk bawa.
Tanpa pikir panjang Shani segera memesan taksi untuk kembali ke kampung halamannya. Yang Shani khawatirkan saat ini adalah Rumi. Shani tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Rumi dan membuatnya kehilangan wanita itu. Sudah cukup orang-orang di sekitarnya pergi. Tapi Rumi, ia lebih dari segalanya bagi Shani.
...•○⭕️○•...
Bu Sandra membawa setumpuk berkas menuju ruangan Darren. Ia mengetuk pintu ruangan itu, lalu membukanya pelan-pelan. "Permisi, Pak," sapanya pada Darren.
"Ini ada berkas-berkas yang perlu ditindak lanjuti," ujar Bu Sandra seraya menaruh setumpuk HVS ke meja Darren.
"Kenapa Bu Sandra yang membawa kemari? Di mana Shani?" tanya Darren yang merasa bingung karena pekerjaan Shani dilakukan oleh Bu Sandra.
"Shani mengambil cuti selama seminggu, Pak. Katanya bibinya di kampung sedang sakit." Jawab Bu Sandra.
Darren termenung. Pantas saja dirinya tidak melihat batang hidung Shani sejak pagi tadi. Ternyata gadis itu tidak masuk kerja. Tapi, apa benar Shani pulang kampung dan mengambil cuti karena bibinya sakit? Atau ini semata-mata Shani lakukan buat menghindarinya untuk sementara waktu?
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak." Bu Sandra terus berceletuk saat mulai mendapati Darren tengah melamun.
"Ah, iya." Jawab Darren sedikit terperanjat.
Bu Sandra pun pergi dari ruangan itu meninggalkan Darren yang masih berkecamuk dengan pikirannya akan Shani.
...•○⭕️○•...
__ADS_1
"Jia!" panggil Darren saat mendapati Jia baru saja keluar dari pantri, dan kemudian menghampirinya.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Jia pada Darren.
"Saya dengar Shani pulang kampung untuk 1 minggu ke depan. Kenapa?"
"Oh iya, Pak. Bibinya sakit, katanya sih demam tinggi. Tadi Shani baru whatsapp saya kalau bibinya harus dirawat di rumah sakit, bibinya kena tifus."
Darren terdiam sebentar mencoba mempercayai ucapan Jia tentang alasan Shani mengambil cuti seminggu dari kantor.
"Apa ada lagi yang mau ditanyakan, Pak?" tanya Jia pada Darren memastikan.
"Tidak ada. Kamu bisa pergi."
"Iya, Pak. Permisi." Dan Jia pun meninggalkan Darren yang masih mematung di dekat pintu pantri.
...•○⭕️○•...
"Bibi kangen banget sama kamu, Sha," ungkap Rumi yang tengah terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.
Shani tersenyum meneteskan air mata menatap sendu wajah bibinya. "Maafin Shani ya, Bi. Shani nggak bisa jagain Bibi tiap hari. Shani terlalu sibuk di kota dan jadi durhaka sama Bibi," katanya seraya menggenggam tangan kanan Rumi.
Rumi mengusap air mata gadis itu dengan tangan satunya. "Siapa bilang kamu durhaka sama Bibi? Kamu itu anak sekaligus keponakan yang Bibi selalu banggain." Rumi tersenyum tulus terlihat begitu menyayangi Shani.
Shani menunduk menciumi punggung tangan Rumi. Ia menangis meluapkan semua emosi yang dipendamnya akhir-akhir ini. Semuanya, tentang dirinya yang patut dikasihani, tentang Darren, dan tentang keadaan Rumi saat ini.
"Shani," panggil Rumi dengan pasti membuat Shani pelan-pelan menatapnya. "Apa kamu ada masalah?" tanyanya mulai merasakan jika putri angkatnya itu tengah berada di situasi yang tidak baik-baik saja.
Shani tersenyum singkat walaupun mata dan pipinya sudah sangat basah. "Enggak, Bi. Shani cuma ngerasa bersalah karena lihat Bibi kayak gini."
"Bibi nggak pa-pa. Bibi sakit kayak gini itu bukan salah kamu," ujar Rumi mengelus kepala Shani menenangkannya.
...•○⭕️○•...
Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.
__ADS_1