RENGKUH

RENGKUH
BAB 17


__ADS_3

"Darren, aku mau pulang," pinta Shani setelah Darren melepas pelukannya.


"Kondisi kamu masih lemah. Kamu di sini aja dulu, ya," bujuk Darren pada Shani.


Shani menggeleng. "Aku nggak pa-pa. Hari ini aku absen dari kantor, pasti orang-orang nyariin aku. Aku mohon Darren. Besok aku nggak mungkin kan absen lagi."


Darren menghela napas berat kemudian memaksakan senyum. "Ya udah. Tapi aku telepon dokter dulu ya buat cek kondisi kamu lagi. Infus kamu aja juga belum habis."


"Aku beneran nggak pa-pa. Aku cuma pengen pulang dan istirahat. Aku nggak mau di sini terus," ungkap Shani pada Darren.


Darren mencoba memahami. Ia harus mengalah demi kebaikan psikis Shani. Darren pun segera menghubungi dokter yang tadi memeriksa Shani untuk melepas infus dari tangan gadis itu. Dan setelah itu Darren bergegas mengantar Shani pulang.


...•○⭕️○•...


Jia dan Andra tiba di rumah Shani. Syukurnya Shani sudah ada di rumah saat jam istirahat siang di kantor tengah berlangsung. Jadi Jia dan Andra yang punya niatan menjenguknya tidak langsung curiga.


"Ya ampun, muka lo pucet banget," ungkap Jia menatap sedih wajah Shani.


Shani, Jia, dan Andra duduk bersama di kursi ruang tamu rumah Shani. Mereka mengobrol sembari menilik keadaan Shani yang katanya tidak enak badan. Jia dan Andra sampai membawakannya parsel buah.


"Kenapa HP lo sulit banget buat dihubungin sih, Sha? Dari semalem kita nggak bisa tidur gara-gara lo. Mana camping jadi kacau lagi." Andra merungut.


"Gue..., gue masih ada urusan sama Pak Wirawan. Gue kan disuruh nganterin Darren sampe rumah. Lagian abis itu gue langsung pulang, kok." Shani berdalih.


"Syukur deh kalo lo nggak pa-pa." Jia mendecak. "Tapi kok semalem si Malvin aneh banget sih tingkahnya? Dia kayak marah gitu. Pake bilang mau nenangin diri segala lagi."


Shani hanya terdiam mendengar cuitan Jia. la sebenarnya sangat kesal pada Malvin. Jika saja laki-laki itu tidak berbohong pada Darren, pasti dirinya tidak akan mengalami hari yang buruk.


"Lo beneran nggak kenapa-napa kan, Sha?" Andra menanyai keadaan Shani lagi untuk memastikan jika temannya itu benar-benar baik-baik saja.


Shani cepat-cepat tersenyum. "Gue nggak pa-pa, kok. Beneran. Kalian nggak usah terlalu khawatir gitu."


Shani, Jia, dan Andra terus mengobrol sembari sesekali bercanda. Mungkin dengan ini Shani sedikit lebih tenang. Ia juga butuh seseorang yang bisa menghiburnya di saat terpuruk seperti ini.


"Sha, kalo gitu gue sama Andra balik ke kantor lagi, ya," pamit Jia pada Shani.


"Ya udah, hati-hati."

__ADS_1


"Yuk Ndra, cabut!" seru Jia mengajak Andra kembali ke Argantara Group.


Jia dan Andra pun pergi. Shani kembali sendirian. Shani masih sayang dengan tubuhnya, jadi ia pun bergegas istirahat.


...•○⭕️○•...


Sekitar pukul 7 malam seseorang bertamu ke rumah Shani. Shani yang mendengar pintu rumahnya diketuk pun segera membukanya. Ternyata itu adalah Malvin.


"Shani," panggil Malvin menatap Shani penuh kerinduan dengan perasaan lega.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Shani mulai marah pada Malvin.


"Aku tadi tanya Jia alamat rumah kamu. Aku ke sini karena khawatir sama kamu, Sha," ungkap Malvin.


Shani enggan merespon Malvin. Ia bergegas menutup pintu rumahnya lagi. Namun sayangnya Malvin dengan sigap menyerobot masuk.


"Shani," panggil Malvin meraih tangan Shani, namun Shani menampik-nampiknya. "Shani, dengerin aku. Aku mau minta maaf sama kamu."


"Buat apa? Buat apa kamu minta maaf? Kemarin kamu udah buat Darren salah paham. Sebenernya mau kamu apa sih, Vin?"


"Aku ngelakuin itu karena aku suka sama kamu, Sha."


"Aku suka sama kamu. Kemarin aku sengaja manas-manasin Darren karena aku pengen dia salah paham dan cemburu. Aku-" Belum sempat Malvin meneruskan kalimatnya Shani sudah dengan cepat menampar laki-laki itu.


"Kamu tau akibat ulah kamu kemarin? Kamu tau apa yang dilakuin Darren gara-gara ulah kamu?" Shani membentak Malvin dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Malvin meraih kedua pundak Shani menatapnya penuh rasa penyesalan. Shani terus menangis sembari menatap Malvin. "Darren perkosa aku," ungkap Shani membuat Malvin langsung tertegun.


Tangan Malvin yang mencengkeram pundak Shani mulai mengendur seiring dengan Shani yang merosot ke lantai. Shani mulai menangis sesenggukan sembari memeluki tubuhnya sendiri. la merasa sudah sangat kotor.


"Darren perkosa aku gara-gara kamu. Aku benci kamu, Vin. Aku benci kalian!" Shani hanya bisa menyalahkan Malvin dan Darren atas semua musibah yang menimpanya. Dirinya yang sudah cukup tenang kembali menjadi emosi karena kedatangan Malvin.


Tanpa sepatah kata pun Malvin langsung keluar dari dalam rumah Shani. Ia bergegas menaiki motornya pergi menuju ke rumah Darren. Malvin sangat marah, rasanya ia ingin sekali membunuh Darren.


Setibanya Malvin di rumah Darren, ternyata sepupunya itu sedang tidak ada di rumah. Fiona memberitahunya kalau Darren masih menginap di apartemen sejak Sabtu malam. Dan lalu Malvin pun bergegas menyusul Darren ke apartemennya.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Darren mendengar bel pintu depan apartemennya berbunyi. Ia pun segera membukanya. Dan baru saja Darren membuka pintu, bogem Malvin langsung mendarat di pipinya.


Malvin dengan segala emosi tiba-tiba menonjok wajah Darren membuat laki-laki itu sangat terkejut. Tidak sampai di situ saja, Malvin terus menarik kerah baju Darren. Keduanya saling berpandang dengan tatapan tajam.


"Bajingan! Lo bajingan, Ren!" seru Malvin memekik di depan wajah Darren.


Darren yang tidak terima ikut terpancing emosi dan langsung menarik kerah baju Malvin juga. Keduanya saling melempar tatapan sinis. Suasana apartemen semakin panas karena perseteruan mereka.


"Lo yang bajingan! Beraninya lo bawa pacar orang ke bar?! Lo harus tau kalo gue sama Shani itu udah pacaran!" ungkap Darren pada Malvin.


Malvin menyeringai. "Terus kalo lo udah pacaran sama dia, lo bisa bebas perkosa dia gitu?" celetuk Malvin membuat Darren memelotot mata.


Malvin dengan sigap menyentakkan tubuh Darren. Darren mulai menundukkan pandangannya. la merasa sangat malu atas kelakuan bejatnya sendiri.


"Asal lo tau aja, Ren. Kemarin itu gue sama Shani dateng ke bar buat nyamperin lo." Malvin mulai menjelaskan. "Om Wirawan nyuruh Shani buat jemput lo pulang."


Darren kemudian teringat kalau dirinya sempat didatangi beberapa anak buah papanya. Mereka memaksa Darren pulang. Tapi ia tidak mau dan meminta untuk Shani saja yang menjemputnya.


"Terus kenapa lo bohong sama gue?" tanya Darren pada Malvin.


"Karena lo nggak tau malu. Bisa-bisanya lo langsung salah paham dan hajar gue kayak gitu? Apa lo nggak sepercaya itu sama Shani? Apa lo pikir Shani itu cewek murahan kayak cewek-cewek lain yang pernah lo tidurin?"


Darren terdiam, ia tidak mampu menjawab Malvin.


"Shani khawatir sama lo. Tapi apa yang lo lakuin ke dia? Semalem dia hampir aja dilecehin cowok-cowok gila di bar gara-gara cari lo. Tapi-" Malvin hampir tidak sanggup mengatakannya. "Tapi lo sendiri malah perkosa dia?"


Darren mulai mencengkeram kepalanya. la frustrasi. Darren tersadar jika dirinya sudah mengambil tindakan gegabah karena rasa cemburu yang mengakibatkan kesalahpahaman fatal.


"Apa lo puas sekarang?" Malvin menanyai Darren. "Apa lo puas setelah hancurin masa depan Shani?"


"Ini semua gara-gara lo! Coba aja kemarin lo nggak nipu gue, gue nggak akan mungkin bikin Shani kayak gini!" Darren berdalih melempar kesalahan pada Malvin.


"Terserah lo mau bilang apa, Ren. Tapi asal lo tau aja, gue nggak akan biarin lo sakitin Shani lagi. Gue nggak akan segan-segan hancurin lo kalo sampe gue tau Shani lo kecewain. Lo camin itu!" Malvin mengancam Darren, lalu ia bergegas pergi dari ruang apartemen tersebut.


Darren pun beranjak duduk ke sofa. Ia memijati pelipisnya yang mulai pusing. Darren beringsut mengambil ponselnya yang berada di meja depannya. la mulai menelepon Shani. Darren mendecak kesal karena ponsel Shani tidak bisa dihubungi.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.


__ADS_2