
"Ndra, menurut lo Shani aneh nggak, sih?" tanya Jia pada Andra.
Pesta barbeku yang diadakan mereka sudah kacau. Shani dan Malvin pergi. Dan sekarang di tempat camping hanya ada Jia dan Andra.
"Aneh gimana maksud lo?" Andra tidak mengerti.
"Lo tu nyadar nggak sih kalo wajah Shani tadi kayak panik banget. Terus dia juga dengan pedenya panggil Pak Darren sama namanya doang. Itu bukan gayanya Shani banget, Ndra," cuit Jia.
"Iya, ya." Andra menyetujui.
"Jangan-jangan Shani sama Pak Darren ada apa-apa lagi?" Jia mulai menebak-nebak.
"Ngawur aja lo! Ya nggak mungkin, lah."
"Ya mungkin aja, dong. Nih ya, waktu di kantor Pak Darren tu selalu apa-apa harus Shani. Lo juga kan kena imbasnya. Buktinya kemarin seminggu penuh tugas lo sama Shani dituker sama Pak Darren. Shani juga disuruh stand by di ruangannya CEO."
Andra memilin dagu mulai ikut mencurigai hubungan Shani dan Darren. "Masa sih Shani sama Pak Darren ada itu? Kalo iya tapi kok Shani nggak kasih tau kita apa-apa?"
"Kalo gue pribadi sih lihat Pak Darren itu kayak suka sama Shani. Kalo Shaninya sendiri gue nggak tau. Ya bisa aja sih dia juga suka sama Pak Darren," tukas Jia.
"Terus lo sendiri?" Tiba-tiba Andra melempar pertanyaan. "Lo suka kan sama Malvin?"
Jia mulai salah tingkah. "Apaan, sih. Gue tu cuma mengagumi aja."
"Hilih, ngaku aja lo!"
"Gue tu serius Ndra cuma kagum aja. Lagian kayaknya Malvin sukanya sama Shani bukan sama gue."
"Kenapa? Lo cemburu?" Andra menyeringai pada Jia.
"Kepo banget sih lo!" Jia beringsut menyamankan duduknya. "Gini ya, gue itu lebih seneng kalo Shani sama Malvin. Daripada sama Pak Darren yang galak dan sok bossy itu. Ih, nggak rela gue."
Andra mendecak. "Iya juga, sih. Sampe sekarang gue juga takut kalo Shani kenapa-napa. Pak Darren itu orangnya bahaya banget."
Jia dan Andra pun merenung berdua. Mereka melamun memikirkan keadaan Shani dan Malvin. Jia sebenarnya sangat patah hati melihat sikap Malvin yang perhatian pada Shani, namun Jia juga tidak ingin api cinta menguasainya.
Bagi Jia, Shani itu adalah sahabat sekaligus rekan kerja yang teramat baik. Jia sangat menyayangi Shani. Ia tidak ingin menyalahkan Shani karena faktanya Malvin memang menyukainya. Jia tau jika perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Lagi pula dirinya juga akan ikhlas kalau Shani dan Malvin sampai menjalin hubungan yang lebih daripada sekadar teman.
...•○⭕️○•...
Shani dan Malvin baru saja tiba di sebuah bar tempat di mana Darren berada.
__ADS_1
"Itu mobilnya Darren, kan?" tanya Malvin pada Shani untuk memastikan jika sebuah sedan hitam yang dilihatnya terparkir di halaman depan bar itu adalah milik Darren.
"Iya, bener." Jawab Shani sangat pasti karena ia hafal nomor pelat mobilnya.
"Ya udah, yuk kita masuk," ajak Malvin pada Shani.
Shani mengangguk. Dan kemudian 2 orang itu pun masuk ke dalam bar. Suasana di dalam ruangan bar itu masih sangat ramai. Mungkin karena tengah malam jadi semakin tambah banyak pengunjungnya. Musik disko berdengung-dengung membuat Shani dan Malvin hampir tidak mendengar suara satu sama lain.
"Shani, kita pencar aja cari Darrennya. Di sini rame banget. Kamu berani, kan?" Malvin memberi saran agar Darren cepat diketemukan.
"Iya." Shani setuju.
Shani dan Malvin pun mulai berpencar untuk mencari Darren. Mereka celingukan menolehi setiap laki-laki yang terkesan mirip dengan pawakannya Darren. Shani semakin khawatir karena pacarnya itu tidak kunjung ia temukan.
Shani melangkah mundur dan tanpa sengaja menubruk segerombolan pria.
"Hei, kamu mau ikutan gabung?" tanya seorang pria itu menatap mesum wajah dan tubuh Shani.
"Maaf, permisi." Shani hendak kabur dari pria-pria asing itu, tapi mereka menahan Shani. Shani dirundung dan mulai digerayangi.
"Kalian jangan macem-macem, ya!" Shani cepat-cepat menyingkirkan tangan-tangan pria itu dari tubuhnya.
Orang-orang itu saling melempar tatapan ngeri sembari tersenyum menyeringai. Tanpa aba-aba apa pun Shani langsung diseret ke penjuru lorong. Shani didorong ke tembok.
Rahang bawah Shani mulai dicengkeram oleh 1 pria itu. Pelan-pelan pria itu hendak mencium Shani. Tapi tiba-tiba seseorang menarik terus menonjok si pria kurang ajar itu.
Syukurnya Malvin segera menolong Shani. Malvin mulai menghajar pria-pria berengsek itu. Ia tidak memberi ampun sama sekali dan setelahnya langsung menggandeng Shani pergi dari sana.
Shani dan Malvin berdiri tepat di depan pintu masuk dan keluar bar. Shani masih sesenggukan. Dress selutut berbahan kain chiffon tipis yang Shani kenakan sudah robek di bagian lengan kirinya.
Melihat Shani yang mendekapkan tangannya ke dada tampak syok dan ketakutan, Malvin pun langsung melepas jaket yang ia kenakan dan memasangkannya ke punggung Shani.
Di sisi seberang Darren yang entah sudah berapa lama berada di dalam kursi kemudi mobil di tempat parkir tidak sengaja melihat Shani dan Malvin berduan di depan bar yang tadinya ia kunjungi. Darren yang mulai salah paham langsung menghampiri mereka berdua dengan emosi yang menggebu. Ia berjalan cepat menuju ke arah Shani dan Malvin berdiri.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Malvin menangkup wajah Shani yang hanya menunduk. Gadis itu masih meneteskan air mata. Dan tiba-tiba saja seseorang menggeret Mavin lalu menonjok pipinya.
Shani sangat terkejut melihat Darren yang mendadak memukul Malvin.
"Darren, stop!" Shani merangkul lengan kanan Darren menghentikan laki-laki itu yang hendak memukul Malvin lagi. "Berhenti!" pekik Shani dengan tatapan marahnya kepada Darren.
"Kamu ngapain sama dia ke sini?" Darren yang dibentak Shani malah juga ikut marah.
__ADS_1
"Aku-"
"Kita abis seneng-seneng. Kenapa?" Tiba-tiba Malvin memotong ucapan Shani membuat gadis itu ternganga tidak percaya.
"Bajingan!" umpat Darren menatap tajam wajah Malvin.
Shani tidak tau harus bicara apa. Ia tidak mengerti kenapa Malvin berbohong pada Darren dan malah membuat suasana tambah kacau. Malvin memang sengaja memanas-manasi Darren, tapi ia tidak berpikir panjang akan akibatnya.
Darren dengan semua api amarah mulai menarik lengan Shani dengan kasar. la menggeret paksa gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. "Darren, lepasin!" seru Shani kesakitan.
Malvin hendak membantu Shani lepas dari cengkeraman Darren, tapi sepupunya itu mendorongnya lagi.
"Jangan ikut campur! Mendingan lo pergi sekarang!" bentak Darren pada Malvin.
"Enggak. Gue bakalan pergi kalo Shani juga pergi sama gue," ujar Malvin.
Darren yang sudah sangat emosi hendak menghajar Malvin lagi, tapi Shani cepat-cepat menahannya. "Malvin, mendingan kamu pulang sekarang. Aku nggak pa-pa kok sama Darren," kata Shani pada Malvin. Shani tidak ingin ada keributan lagi, jadi lebih baik ia menurut pada Darren dan menyuruh Malvin pergi.
Darren pun kembali memaksa Shani masuk ke dalam mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan Malvin yang masih mematung berdiri menatap kepergian Shani dan Darren. Malvin menghela napas berat sembari menunduk, dan kemudian ia kembali ke tempat camping bersama motornya.
...•○⭕️○•...
Di dalam perjalanan, Shani hanya terus diam. la tidak berani mengajak bicara Darren. Karena laki-laki itu kelihatannya sangat emosi dan marah sekali.
"Darren, kita ngapain ke sini?" tanya Shani yang mendapati Darren memberhentikan mobil di parkiran gedung apartemennya.
Darren enggan menjawab. la segera turun dari mobil dan menarik Shani keluar. Darren menyeret paksa Shani untuk ikut padanya.
"Darren, lepasin aku!"
"Aku mau pulang."
"Darren!"
Shani memohon dengan tangisan kecil. la takut karena Darren terus menarik-narik tangannya. Darren tidak menggubris Shani, ia gencar membawa gadis itu menuju apartemennya.
Darren memasukkan pin pintu ruang apartemennya. Dan Shani terus memberontak melepaskan cengkeraman Darren dari tangan kirinya. Darren membawa Shani masuk dan langsung menyungkurkannya ke lantai. Shani pun menangis. la sangat ketakutan.
"Beraninya kamu main-main di bar sama sepupuku sendiri! Kamu ngapain sama dia, hah?" bentak Darren seraya menjambak rambut Shani.
Shani terus menangis. Ia memegangi tangan Darren yang mencengkeram rambutnya. Kepala Shani sakit, begitu juga perasaannya.
__ADS_1
...•○⭕️○•...
Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.