
Perlahan-lahan Darren mulai berjalan mendekati Shani. Dengan semua emosi yang bercampur, Shani melangkah mundur seakan menolak dengan kedatangannya Darren. Kecewa, marah, takut, semua kebencian berkumpul menjadi satu di dalam lubuk hati Shani.
Ruang gerak Shani terkunci saat tubuhnya berhasil dihimpit Darren ke lemari. Darren membelai pipi gadis itu. Shani hanya bisa menunduk-nunduk dengan air mata terus bercucuran.
"Maafin aku, Shani. Aku janji akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku nggak bisa kehilangan kamu." Seringan bulu Darren tersenyum tipis. la mengelus lembut bahu Shani, tapi gadis itu dengan lekas menampiknya.
"Aku benci kamu, Darren. Aku benci kamu!!!" Shani berteriak sembari menatap muak mata Darren.
Darren mencoba menggenggam tangan Shani. Gadis itu terus berontak, tapi Darren semakin mempererat genggamannya. Darren terkejut mendapati tangan Shani yang bergemetar hebat. Setakut itukah ia padanya? Dan dengan cepat Darren memeluk Shani memberikan ketenangan untuknya.
Shani yang tenaganya sudah tidak cukup untuk berontak mulai diam. Ia melemas di pelukan Darren. Suara tangisannya yang sedikit berteriak-teriak mulai mereda digantikan suara napas yang tersekat-sekat. Sudah lama Shani menangis. Shani sangat syok dengan semua musibah yang menimpanya.
"Jangan takut, Shani. Aku bakalan selalu ada buat kamu. Kapan pun," tegas Darren setelah Shani cukup tenang di pelukannya.
...•○⭕️○•...
Shani dan Darren tengah sarapan bersama di meja makan apartemen. Shani tidak langsung menyendoki bubur ayam yang Darren belikan untuknya. Ia hanya memainkannya dengan sendok dan menatapnya dengan lamunan.
"Shani, kamu harus makan. Aku nggak mau kamu sakit," tutur Darren yang mendapati Shani hanya mengaduk-aduk makanannya.
Shani tidak menggubris. Ia tetap diam dengan tatapan kosong. Darren yang berada di kursi seberang beringsut berganti duduk di samping kanan kursi Shani.
Darren meraih sendok yang Shani pegang. la menyendok sedikit bubur kemudian menyodorkannya ke mulut Shani. Shani membuang muka pelan enggan melahap suapan Darren.
"Shani, ayolah." Darren membujuk.
"Aku mau pulang," ucap Shani enggan menatap Darren. Dan kemudian ia menoleh karena Darren tidak kunjung merespon. "Antar aku pulang," pinta Shani berkaca-kaca.
"Kamu boleh pulang asalkan kamu tenang dulu. Kamu harus makan." Darren kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Shani. Shani bersikukuh tidak mau, ia langsung menampik sendok itu hingga jatuh ke lantai. Darren menatap mata Shani yang mulai bercucuran air mata lagi.
"Aku mau pulang. Aku mau pulang sekarang, Darren. Antar aku pulang." Shani memohon.
"Oke." Dan kali ini Darren luluh. "Tapi kamu bersihin diri dulu. Kamu belum mandi, kan? Mendingan sekarang kamu mandi dulu, dan nanti aku bakalan antar kamu pulang."
...•○⭕️○•...
Darren bersandar di kepala ranjang menunggu Shani yang masih menyibuk di kamar mandi. Namun hampir 30 menitan Shani tidak kunjung keluar. Darren yang merasa khawatir mulai mengetuk-ngetuk pintu toilet.
__ADS_1
Karena tidak ada jawaban dari Shani, Darren langsung mendobrak pintu itu. Darren terkejut mendapati Shani terkapar pingsan dengan shower air yang masih menyala. Darren pun langsung membopong tubuh Shani yang pakaiannya sudah basah ke tempat tidur.
Darren menyuruh seorang wanita si petugas apartemen untuk mengganti pakaian Shani yang basah, dan lalu ia bergegas menghubungi dokter.
Beberapa menit kemudian seorang dokter langganan keluarga Argantara tiba. Shani mulai diperiksa. Gadis itu harus mendapatkan infus.
"Gimana Dok keadaannya?" tanya Darren pada si dokter menanyai kondisi Shani.
"Pasien tidak apa-apa. Tapi sepertinya dia mengalami tekanan psikis yang cukup kuat hingga menyebabkan hilang kesadaran. Apa baru-baru ini pasien mengalami hal buruk atau semacamnya?"
Pertanyaan dokter seolah menusuk hati Darren. Shani pasti trauma karena ia sudah memperkosanya. "Sepertinya begitu, Dok. Lalu bagaimana untuk mengatasinya?"
"Mungkin merilekskan pikiran pasien adalah jawaban yang tepat. Pak Darren harus bisa menghibur pasien agar melupakan beban pikirannya untuk sementara waktu ini. Karena kondisi pasien masih lemah, jadi harus ekstra diperhatikan."
Darren melempar tatapan iba pada Shani yang masih memejam mata dengan selang infus di tangannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi saya lagi." Dokter itu berpamit.
"Iya, Dok. Terima kasih."
...•○⭕️○•...
Shani mendapati Darren ketiduran di samping kirinya. Darren duduk di sebuah kursi dan bersedekap ke pinggir kasur dengan kepala bertumpu pada tangan menghadap ke kanan ke arah Shani. Shani tidak habis pikir dengan Darren, ia kelihatan baik dan perhatian, tapi kenapa semalam ia bisa sebejat itu?
Shani beringsut mencoba duduk menyandar pada kepala ranjang. Darren pun terbangun karena merasakan kasurnya bergerak. la mendapati Shani hendak duduk, dan cepat-cepat Darren membantunya.
"Gimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit? Apa aku perlu panggil dokter lagi?" Darren memberondong Shani dengan pertanyaan.
"Aku baik-baik aja." Jawab Shani mencoba melengkungkan tipis bibir pucatnya walau hatinya teramat perih.
Darren merasa sedikit lega karena Shani kelihatan mulai tenang dan mau tersenyum lagi. Darren pun meraih kedua tangan Shani menggenggamnya. Ia menatap Shani dengan mata berkaca-kaca. "Maafin aku, Shani," ucap Darren, kemudian menunduk. "Aku minta maaf."
Shani berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan Shani hanya bisa menjalaninya sekarang.
"Aku nggak tau habis ini harus gimana lagi, Darren," ungkap Shani membuat Darren kembali menatapnya. "Aku takut. Aku takut kalo aku hamil."
Air mata yang ditahan Shani mulai keluar. Darren pun memeluk Shani mengusap punggungnya. Shani kembali tenang karena kehangatan telapak tangan Darren.
__ADS_1
"Secepatnya aku akan nikahin kamu, Shani. Kamu sabar, ya," ujar Darren terus memeluk Shani.
...•○⭕️○•...
"Andra, masa kerja saya tinggal 2 minggu lagi. Nanti setelah Darren menggantikan saya, tolong kamu bantu dia menjalankan tugas. Manajeri dia dengan baik," tutur Wirawan pada Andra.
"Baik, Pak."
Wirawan dan Andra tengah bersiap untuk meeting bersama klien beberapa jam lagi. Mereka berdua mulai menyiapkan berkas-berkas di ruangan direktur utama. Masa magang Darren menjadi pimpinan sudah selesai, dan 2 minggu lagi ia akan resmi dilantik menjadi CEO Argantara Group.
"Setelah rapat nanti tolong kamu panggil Shani ke sini. Saya ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan dia," titah Wirawan pada Andra.
"Maaf Pak, tapi hari ini Shani tidak masuk."
"Tidak masuk? Kenapa?"
"Saya kurang tau, Pak. Tapi Shani mengirim pesan kalau dia sedang tidak enak badan."
Wirawan mengerling sebentar. "Ya sudah kalau begitu."
Ini adalah hari Senin, Shani masih di apartemen Darren bersama laki-laki itu. Shani tidak memegang ponselnya. Namun Darren yang diam-diam menyimpan ponsel Shani mulai mengabari teman-teman Shani bahwa Shani tengah baik-baik saja.
Jia, Andra, begitu juga Malvin sudah banyak misscall dan mengirimi Shani pesan singkat. Darren dengan lincahnya memberitahu mereka kalau Shani sedang tidak enak badan. Karena itulah ia tidak masuk bekerja.
Seusai menemani Wirawan meeting bersama klien, Andra bergegas menuju ruang sekretariat. Di sana Jia tengah sibuk dengan komputernya. Andra pun menghampiri gadis itu.
"Ji, gimana kabar Shani? Dia udah baikan belum?" tanya Andra pada Jia. Kebetulan di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Bu Sandra dan Bu Mika tengah ada tugas keluar kantor.
"Belum, Ndra. Gue WA nggak dibales. Gue telepon juga nggak diangkat. Sebenernya kenapa sih tu anak?" Jia mulai cemas dengan keadaan Shani.
"Apa entar pas istirahat siang kita jenguk aja di rumahnya?" tawar Andra pada Jia.
"Ya udah, deh. Gue juga khawatir kalo Shani sampe kenapa-napa." Jia setuju.
...•○⭕️○•...
Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.
__ADS_1