RENGKUH

RENGKUH
BAB 7


__ADS_3

Shani duduk di kursi kayu pelituran di teras depan rumahnya. Darren sudah di perjalanan akan menjemputnya untuk pergi makan malam bersama vendor. Shani pun menunggu ketibaan Darren.


Tidak berselang lama sebuah sedan hitam berhenti di jalanan depan lurus dari pekarangan Shani. Itu adalah Darren. Shani mengampirinya, lalu masuk ke dalam mobil.


Tepat Sabtu malam, Darren yang niatnya hanya mengajak Shani untuk membina hubungan baik bersama vendor nyatanya malah deg-degan seperti ABG yang sedang melakukan malam mingguan. Apalagi melihat Shani yang dimatanya semakin hari semakin cantik dan menarik. Apa Darren menyukai gadis itu?


"Kita mau makan malam bersama vendor di mana, Pak?" tanya Shani pada Darren. Daripada ia diam tidak ada hal yang dibicarakan, lebih baik ia basa-basi mengajak ngobrol Darren.


"Zui Cafe." Jawab Darren seringan bulu.


Shani seketika membelalak. "Kenapa harus di sana, Pak?" Raut wajah Shani mulai cemas. la masih trauma dengan kejadian kala itu. Dan dengan gampangnya Darren akan mengajaknya ke sana lagi?


"Vendornya sendiri yang minta. Lagian di sana kamu seruangan sama saya, jadi tidak usah berpikiran aneh-aneh."


Shani menunduk. Kuku-kuku tangannya saling berpetikan. Shani takut jika kejadian buruk itu menimpanya lagi.


...•○⭕️○• ...


Sesampainya di Zui Cafe, Darren mengajak Shani menuju ke sebuah ruangan VIP. Ternyata vendor yang akan bertemu dengan Darren sudah menyewa ruang khusus untuk mereka saling mendekatkan diri dan membahas soal bisnis. Shani merasa dejavu dengan seluruh penjuru kafe itu yang suasananya tidak jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu.


"Selamat bergabung, Pak Darren. Ternyata Pak Darren masih kelihatan muda sekali." Salah seorang vendor itu tersenyum memuji Darren.


Darren dengan ditemani Shani sekarang tengah berada di sebuah ruangan bersama 2 orang pria paruh baya yang merupakan seorang penjual tanah yang mungkin nantinya akan dibeli oleh pihak Darren. Awal tadi keempatnya sudah berkenalan. Jadi sekarang saatnya membahas hal-hal penting.


"Terima kasih. Jadi, bagaimana dengan kesepakatan kita?" Darren memulai obrolan bisnis.


"Kami akan tetap menjual tanah itu seharga 5 juta untuk per meternya, Pak. Letaknya cukup strategis jika dibangun kantor atau tempat usaha. Jadi mungkin kalau Pak Darren berkenan, kami akan memberikan potongan sebesar 5 persen untuk 1 hektar tanah itu," ujar salah si seorang vendor.


Darren menoleh pada Shani. Ia tidak tau harga untuk 1 meter tanah dibanderol 5 juta termasuk mahal atau tidak. Setahu Darren di kotanya harga 1 meter tanah juga tidak semahal itu.


"Maaf Pak, apa boleh kami mendapat keringanan untuk harga tanah setiap meternya? Saya rasa itu terlalu mahal jika untuk dibangun tempat usaha. Kami juga harus memperkirakan untung dan rugi," ujar Shani.

__ADS_1


Dua vendor itu saling melepar pandang. "Saya pikir Argantara Group bukan perusahaan yang miskin. Kalau Pak Darren dan Bu Shani merasa harga itu terlalu mahal, bagaimana kalau potongannya kami tambah menjadi 10 persen?" tawar salah seorang vendor itu.


Perbincangan bisnis terus berlanjut. Dan akhir dari kesepakatan, Darren memilih membatalkan niat membeli sehektar tanah dari 2 orang vendor itu. Darren menghitung jika ia malah rugi kalau sampai membeli tanahnya.


Darren pun mengajak Shani berpamit pergi kepada para vendor itu. Saat keduanya melintas di depan meja bar, mereka berpapasan dengan Zui. Ketiganya pun saling menyapa.


"Hai, kalian ngapain di sini?" tanya Zui menatap bingung Darren kemudian Shani.


"Kita abis meeting sama vendor." Jawab Darren.


"Oh." Zui melirik Shani, lalu menatap Darren dengan wajah centilnya. "Kamu mau stand di sini dulu? Aku traktir minum, deh," bujuk Zui pada Darren.


"Aku masih ada urusan. Lain kali aja, ya." Darren menolak.


"Em, oke." Zui memasang senyum cantiknya.


"Ayo, Shani." Darren menggandeng tangan Shani pergi dari ruang kafe itu.


Wajah Zui yang mulanya ramah melihat kebersamaan Darren yang tampak akrab dengan Shani berubah menjadi jutek dan datar setelah 2 orang itu meninggalkannya. Zui bergegas menuju ruang VIP yang Darren gunakan untuk bertemu dengan vendor tadi. Di sana 2 orang vendor tadi masih menetap.


...•○⭕️○• ...


"Maaf, Bos. Pak Darren menolak kerja sama dan membatalkan pembelian tanahnya." Jawab salah seorang pria itu menunduk-nunduk pada Zui.


"Dasar bodoh! Percuma saya menggaji kalian!" seru Zui murka pada 2 orang suruhannya. Ia melempar tatapan kesal, lalu bergegas keluar dari ruangan VIP itu.


...•○⭕️○• ...


Batin Shani menggerutu. Kata Darren malam ini ia akan diajak makan malam bersama vendor, tapi nyatanya apa? Shani merasa pertemuannya dengan vendor tadi hanya membahas soal pembelian tanah yang ujung-ujungnya tidak jadi.


Ini sudah pukul 7, dan perut Shani mulai keroncongan karena belum makan nasi sedari sore. Tadi di Zui Cafe, ia dan Darren hanya disuguhi minuman sejenis anggur. Shani jelas tidak meminumnya karena ia tidak pernah dan tidak ingin mencoba meminum sesuatu yang berbau alkohol. Darren tadi juga tidak mencicipinya sedikit pun. Shani kira Darren akan suka dengan minuman seperti itu, tapi ternyata Darren tidak meminumnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Darren pada Shani sembari terus mengemudikan sedannya.


"Nggak pa-pa, Pak." Jawab Shani, tapi mendadak perutnya berbunyi cukup keras.


Darren terkekeh kecil. "Kalau kamu lapar jujur saja. Kamu mau makan apa?"


Shani menatap wajah Darren dengan perasaan aneh. Tumben sekali calon bosnya itu berbicara lembut dengannya. Apa Darren sedang kerasukan roh halus sehingga nada suaranya terdengar halus juga?


Darren menoleh pada Shani karena gadis itu tidak kunjung menjawab. "Kenapa?" tanya Darren mengernyit mendapati Shani yang menatapnya bengong.


"Ah, nggak pa-pa, Pak." Shani cepat-cepat menyadarkan otaknya yang hampir saja berhenti berpikir.


"Anggap saja malam ini saya sedang memberi kamu kompensasi. Jadi sekarang kamu bisa memilih tempat makan yang kamu suka. Saya akan traktir kamu," ujar Darren.


Shani berpikir sejenak. Akhir-akhir ini ia selalu dibawa Darren ke tempat makan yang mewah dan kebanyakan menunya berharga fantastis. Karena itu Shani jadi kangen dengan makanan pinggir jalan yang biasanya ia sering beli di sana bersama Jia dan Andra atau kadang juga sendirian.


"Saya pengen makan ayam penyet di warung tenda pinggir jalan, Pak." Shani mengatupkan rapat mulutnya sebentar. "Emmm, apa Pak Darren mau makan di tempat seperti itu?"


"Yah, oke. Saya nggak keberatan." Jawab Darren pada Shani.


Darren pun dengan sigap membawa mobilnya melaju menuju tempat makan yang Shani inginkan.


...•○⭕️○• ...


"Siapkan semua bukti dan saksi. Lalu segera laporkan kafe itu ke pihak berwajib." Dengan suara tegasnya Wirawan memerintah anak buah untuk menumpas bangkrut usaha Zui.


Sekitar 15 menit setelah Darren selesai meeting dengan vendor di Zui Cafe, mata-mata Wirawan berhasil mendapatkan fakta bahwa Zui bekerja sama dengan vendor-vendor itu untuk menipu Darren.


Wirawan berencana menjebloskan Zui ke dalam penjara atas tuduhan penipuan dan penyimpangan usaha dagang. Sejauh ini Wirawan tau banyak soal bisnis Zui di kafenya. Selain memperjualbelikan miras, Wirawan juga tau kalau Zui membuka jasa prostitusi di barnya yang berkedok kafe.


Tanpa sentuhan tangannya secara langsung, juga tanpa menyeret-nyeret nama baiknya, Wirawan bisa dengan mudah membereskan gadis bodoh seperti Zui. Siapa suruh gadis itu berani macam-macam dengan anaknya. Jika sudah menyangkut keluarga dan bisnisnya, Wirawan tidak bisa tinggal diam.

__ADS_1


...•○⭕️○•...


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.


__ADS_2