RENGKUH

RENGKUH
BAB 19


__ADS_3

Shani dan Darren masih berbincang di dalam mobil. Perasaan Shani sakit. Darren mencintainya, tapi kenapa laki-laki itu menyiksanya seperti ini?


"Cukup, Darren." Shani menahan napasnya sebentar untuk mengutarakan kalimat yang berat untuk diucapkannya. "Aku nggak akan mau dan nggak akan pernah nikah sama kamu," tegasnya pada Darren.


"Kamu bohong. Aku tau kamu punya perasaan buat aku. Walaupun sekecil apa itu, aku yakin kamu juga mencintaiku." Darren menyangkal.


Shani hanya diam. Darren benar, dirinya punya perasaan pada laki-laki itu. Tapi Shani mencoba menipu perasaannya sendiri, karena Darren bukan laki-laki yang baik untuknya, begitulah yang Shani simpulkan.


"Ayo, Shani. Ayo kita menikah," ajak Darren lagi menggenggam kedua tangan Shani, dan kali ini dengan tatapan sungguh-sungguh tulus.


"Apa kamu yakin bilang begitu? Apa orang tuamu mau menyetujui kalau kita menikah? Dan apa kamu yakin tentang kita?" Shani memberondong Darren dengan pertanyaan.


Darren berhenti sejenak untuk menyuara. Soal orang tuanya, mereka pasti akan menolak Shani mentah-mentah. Darren tau bagaimana watak papa dan mamanya. Tapi kalau soal keyakinan akan dirinya dan Shani, "Aku sangat yakin tentang kita." Shani masih menyimak Darren. "Kalau Papa sama Mama belum setuju, kita bisa nikah siri dulu."


"Nikah siri? Maksud kamu, kamu mau jadiin aku selir gitu? Dan setelah itu kamu bisa bebas menikah sama siapa pun secara sah?" Shani langsung tertegun.


"Bukan gitu. Maksud aku-"


"Enggak!" seru Shani menyela Darren. “Daripada aku nikah siri sama kamu, mendingan aku nggak akan pernah nikah sekalian," tukasnya.


Shani langsung membuka pintu mobil Darren dan segera pergi dari sana.


"Shani! Shani, kita belum-" Darren memotong kalimatnya dengan helaan napas berat. Shani semakin menjauh lalu lenyap dengan sebuah taksi. Sedangkan Darren, ia masih membisu di dalam mobilnya.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Sekitar pukul 10 malam, pintu rumah Shani mendadak digedor-gedor orang. Shani yang masih menyibuk dengan laptopnya terus berjalan mendatangi tamunya yang datang malam-malam begini. Shani terkejut setelah mendapati Darren yang tampak mabuk berat dengan bau alkohol menyengat menusuk lubang hidungnya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Shani pada Darren dengan suara datar.


Darren tersenyum aneh layaknya orang teler karena terlalu banyak minum. "Shani," panggilnya bergumam.


Shani terdiam, lalu Darren mulai memasuki rumah gadis itu tanpa permisi. Darren menutup pintu rumah Shani terus bersandar di sana. Matanya mengerjap-ngerjap, tangan kanannya memijat-mijat pelipis.


"Kamu ngapain sih ke sini? Bau banget!" seru Shani mengernyit tidak suka seraya menutupi hidungnya yang sangat terusik dengan bau alkohol yang berpusat di napas dan tubuh Darren.


Darren berjalan sedikit geloyoran mendekati Shani. Gadis itu mundur pelan-pelan dan lalu tubuhnya terkunci ke tembok. Darren mendekatkan wajahnya ke wajah Shani sampai-sampai rasa mual mulai bergelayut di perut Shani, ia benar-benar tidak tahan dengan aroma minuman keras itu.


Walaupun begitu, Shani tidak langsung menutupi mulut dan hidungnya. Ia menatap Darren dengan perasaan aneh. Tubuhnya juga mulai terasa aneh. "Buat apa kamu ke sini dengan keadaan mabuk berat begini? Keluar sekarang," suruh Shani pada Darren.


Begitu sadar atas ucapan Darren, seketika mata Shani melebar. Darren mulai mencengkeram kedua lengan atas gadis itu. Dan lalu, ia mulai memagut lembut bibir Shani.


Shani terkesiap. Ia mendorong Darren sekali, namun tenaga laki-laki itu 2 kali lebih kuat dari biasanya. Tidak, Shani tidak tau pasti meningkat sampai berapa kali tenaga Darren, tapi itu benar-benar sangat kuat.


Rasa alkohol dari mulut Darren membuat Shani cukup pusing. Terkutuklah Shani saat ini. Mereka sudah saling bertukar saliva. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, semakin lekat. Darren mengulum, mengecap, menjejal-jejalkan lidahnya, dan Shani juga turut andil akan itu.


Entah setan apa yang sudah merasuki Shani saat ini, tapi ia juga mendadak memiliki hasrat untuk bercinta. Shani yang awalnya terlihat pasif mulai mengalungkan tangannya ke leher Darren. Dan beberapa detik saat pagutan itu semakin mengasyikkan, Shani mulai menuntun Darren ke kamarnya. Tentu, mereka berjalan saling mendorong-dorong dengan bibir basah yang saling bertautan sama-sama enggan melepaskan.


Setelah mencapai kasur, Darren dengan cepat menanggalkan pakaian Shani. Melepas luaran dan dalaman gadis itu, semuanya, dengan sangat lihai. Darren menghempaskan tubuh Shani untuk berbaring, dan ciuman di bibir itu beralih ke setiap sisi tubuh Shani.


Darren menaruh banyak cupangan merah di leher, di tulang selangka, di dada, di pundak, di perut, dan di paha gadis itu. Hampir semuanya ia jelajahi dengan ciuman yang menghisap-hisap. Lalu saat hasrat menyuruh bibirnya meminta lebih, Darren mulai bermain di lubang sempit itu.

__ADS_1


Seperti orang yang tidak sadarkan diri, Shani justru mendesah dengan kenikmatan. Rasa geli dan menyenangkan saat Darren menggelitik organ intimnya dengan lidah membuat Shani enggan mengingat dosa. Dan Darren terus dibuat lebih bergairah dengan lenguhan-lenguhan menggoda gadis itu.


Dengan terus menghisapi cairan itu yang membuatnya lebih mabuk, dan Darren mulai melepasi pakaiannya. Zakarnya sudah cukup sangat tegang, dan dengan sekali tusukan Darren berhasil menerobos masuk ke dalam lubang sempit itu. Lebih dalam, dan lebih dalam lagi.


"Ahhhhh...." Dan kali ini Shani mendesah dengan ringis kesakitan. Pelan-pelan kesadarannya terkumpul, matanya tiba-tiba melebar. Apa yang sedang ia lakukan saat ini?


Shani tiba-tiba berontak hendak kabur dari penyatuannya. Tapi Darren semakin mengekang dan menandak-nandak. Sudah terlambat, Shani tidak bisa pergi.


Rintihan demi rintihan keluar bersahut-sahutan dari mulut Shani. Darren juga melenguh, pelan, tapi menikmati. Mereka terus bercumbu di kasur itu. Yang 1 ingin menyudahi dan mengutuki dirinya sendiri, dan yang 1 ingin lagi dan lagi. Kegiatan itu terus berlanjut sampai di mana Darren hampir merasakan puncaknya.


"Berhenti.... Sakit, Darren. Ahhhhh...," ungkap Shani dengan suara sangat lelah. Ia sudah merasakan klimaksnya berkali-kali, tapi Darren terus memaksanya untuk lanjut.


"Sebentar lagi. Ahhh." Darren menjawab berbisik di telinga kiri Shani.


Tempo permain Darren semakin cepat. Menandak-nandak seolah lubang sempit itu adalah tempat ternikmatnya. Tidak ingin lepas, mungkin begitulah yang diinginkan Darren.


Rasa perih merajai organ intim Shani. Pangkal pahanya sudah sangat linu. Pinggangnya dipaksa bergerak terus-menerus. Tungkainya tegang mencengkeram.


"Aaaggghhhhh...," lenguh Shani memanjang seiring ia dan Darren melepaskan cairan itu bersamaan.


Darren kemudian ambruk ke sisi kiri Shani, memeluk gadis itu. Dan kemudian keduanya tertidur. Sangat melelahkan setelah adegan panas itu.


...•○⭕️○•...


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.

__ADS_1


__ADS_2