
Shani bersiap untuk pergi ke perayaan ulang tahun pernikahan Wirawan dan Fiona. Dengan mengenakan gaun indah yang Darren belikan untuknya kemarin, Shani tiba di kediaman keluarga Argantara dengan sebuah taksi. Shani berjalan pelan menuju gerbang masuk pesta itu diadakan.
"Selamat malam," sapa Shani tersenyum pada Wirawan dan istrinya yang berdiri di pintu masuk menyambut para tamu yang tiba.
"Malam," sapa balik Wirawan dan Fion menatap bengong gadis itu.
"Selamat ya Pak, Bu, atas peringatan ke-30 tahun pernikahannya. Semoga selalu diberikan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga," doa Shani untuk kedua orang tua Darren itu.
"Ah, iya. Terima kasih, Shani." Dan kali ini Wirawan baru ngeh jika gadis yang membuatnya pangling itu adalah Shani, salah satu sekretarisnya di kantor.
"Oh iya, ini saya ada sesuatu untuk Ibu dan Bapak." Shani memberikan sebuah paper bag yang dipita rapi kepada Fiona.
"Terima kasih," ujar Fiona tersenyum pada Shani.
"Terima kasih ya, Shani. Silakan kamu nikmati pesta dan hidangannya." Wirawan menimpali.
"Sama-sama, Pak, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari," pamit Shani tersenyum meninggalkan 2 orang itu menuju ke dalam pesta.
"Dia siapa, Pa?" tanya Fiona pada suaminya setelah kepergian Shani.
"Sekretaris Papa di kantor." Jawab Wirawan membuat istrinya mengangguk.
...•○⭕️○•...
Shani tidak sengaja melihat Jia dan Andra tengah berdiri mengobrol berdua sembari menikmati minuman berwarna merah. Ia pun menghampiri mereka untuk bergabung. "Hei!" serunya menepuk pundak Andra.
"Wah, Siapa ni?" Jia menyeringai pada Shani.
Andra menangkup muka Shani menatapnya dengan mata memicing. "Lo beneran Shani, kan?" tanyanya memastikan.
"Ya iyalah." Jawab Shani seraya menyingkirkan tangan Andra dari wajahnya. "Bikin luntur make up gue aja lo!"
"Nyampe berapa senti tu make up? Bisa-bisanya bikin orang pangling," gurau Andra pada Shani.
"Foundation 1 botol gue bikin cuci muka! Puas lo!?" seru Shani membuat Jia dan Andra tertawa geli.
"Shani?" panggil seorang laki-laki yang baru saja menghampiri Shani yang tengah bercanda dengan Jia dan Andra.
"Oh, hai." Shani pun menyapa laki-laki itu balik.
"Aku kira siapa tadi, ternyata beneran kamu." Malvin, ia baru saja mengakui kalau hampir pangling dengan Shani.
Jia dan Andra saling melempar pandang. Mereka tentu tidak kenal dengan laki-laki yang tampaknya sudah dekat dengan Shani. Melihat hal itu Malvin pun mulai memperkenalkan diri, lagi pula Shani juga belum tau namanya.
"Emmm, kayaknya kita perlu kenalan dulu, deh. Aku Malvin, sepupunya Darren." Malvin tersenyum menyodorkan tangan pada Jia dan Andra. Jia dan Andra pun bergantian menjabat tangan Malvin juga memperkenalkan namanya.
__ADS_1
Empat orang itu mengobrol santai sembari tertawa-tawa. Tidak lama kemudian Darren datang menghampiri. Sebenarnya sudah sedari tadi ia menunggu mencari-cari Shani, namun ternyata Shani didapatinya sudah bergabung bersama Jia dan Andra, dan lalu juga ada Malvin.
"Kamu udah sampai dari tadi?" tanya Darren pada Shani.
"Udah 10 menitan sih, Pak." Jawab Shani memperkirakan.
"Suasana mendadak canggung. Jika sudah ada Darren di antara 3 karyawan Argantara Group itu, semuanya selalu hening. Jia dan Andra selalu merasa sungkan, dan Shani juga tidak tau harus merespon teman-temannya seperti apa, karena sebenarnya ia juga merasa tidak enak atas kedekatannya dengan Darren.
Malvin berdeham mencairkan suasana. "Gimana kalau kita dansa aja?" tawarnya pada 4 orang itu. Malvin tersenyum pada Shani. "Shani, ayo kita dansa."
"Shani dansa sama gue." Darren menyahut, lalu menggandeng Shani pergi meninggalkan Malvin, Jia, dan Andra.
"Cih, dasar posesif!" seru Malvin mengatai sepupunya sendiri. "Jia, kamu mau dansa sama saya?" tanya Malvin tersenyum pada Jia.
Jia mengangguk malu-malu. Gadis mana yang tidak mau kalau diajak berdansa dengan laki-laki muda yang tampan. Lagian malam ini Jia juga tidak kalah cantik, sebab itu Malvin mau mengajaknya berdansa. Karena Shani sudah diakuisisi oleh Darren, Jia pun jadilah sebagai penggantinya.
"Bye, Andra," pamit Jia dengan suara berbisik tersenyum lebar pada Andra. la berlalu pergi bersama Malvin.
"Lha terus gue dansa sama siapa?" Andra berceloteh sendiri menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
...•○⭕️○•...
Kedua tangan Darren memegangi pinggang Shani. Netranya menatap intens setiap sisi wajah gadis itu. Darren sangat terpesona dengan kecantikan Shani malam ini.
"Pak Darren, tangan saya pegal. Kita udahan aja ya Pak dansanya," ungkap Shani enggan menatap Darren.
"Kamu santai aja. Rileks." Darren terus memandu kaki Shani untuk bergerak ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang.
Darren tersenyum mendekatkan bibirnya ke telinga Shani. "Kamu cantik, Shani. Kamu cuma boleh jadi milik saya," bisiknya membuat Shani merinding juga semakin berdebaran.
Darren menormalkan posisi kepalanya. la kembali menatap mata Shani. Shani yang menunduk-nunduk tidak berani saat ditatap oleh Darren tiba-tiba dagunya dipilin oleh laki-laki itu. Darren mendongakkan wajah Shani agar menatapnya. Dan mereka pun mulai saling beradu pandang.
Beberapa detik kemudian seorang pewara memulai pidatonya. Ia mengumumkan jika acara inti akan segera dimulai. Darren dan kedua orang tuanya dipanggil untuk ke atas panggung.
"Kamu tetap di sini. Sebentar lagi saya kembali," tutur Darren pada Shani.
"Iya, Pak." Jawab Shani menurut.
Darren pun bergegas pergi meninggalkan Shani menuju panggung pesta perayaan anniversary penikahan kedua orang tuanya.
...•○⭕️○•...
"Hai, Shani," sapa Malvin membuat Shani menolehnya.
Darren masih sibuk di atas panggung menemani ayah dan mamanya yang tengah menyerukan kata-kata sambutan untuk para tamu undangan. Dari kejauhan ia memperhatikan Shani sedari tadi. Darren mulai kesal karena mendapati Malvin menghampiri Shani.
__ADS_1
"Hai." Shani tersenyum pada Malvin.
"Sendirian aja, nih?"
"Ah, iya."
"Keliling sama aku, yuk," ajak Malvin.
"Keliling ke mana?" tanya Shani.
"Emmm, gimana kalau aku ajak keliling rumahnya Darren?"
Shani hanya mengerling.
"Kamu tenang aja, kan ada aku. Om Wirawan sama Tante Fiona pasti nggak bakalan marah," bujuk Malvin pada Shani.
"Ya udah, deh. Oke." Shani tersenyum.
Shani dan Malvin pun berjalan bersama menyusuri sisi sepi pesta itu. Malvin terus mengajak Shani mengobrol dan mencandainya. Shani tertawa dan merasa nyaman bersama Malvin. Pikir Shani, Malvin itu orangnya santai dan lucu. Walaupun laki-laki itu dan Darren bersaudara, tapi watak keduanya cukup kontras.
"Dulu aku sering renang bareng Darren di sini," cerita Malvin pada Shani saat sampai di pinggir kolam renang rumah Darren.
"Oh, ya?" Shani menatap Malvin dengan senyum imutnya.
"Iya. Dulu kayaknya aku cengeng banget. Aku pernah kalah lomba renang sama Darren. Terus aku nangis."
Shani merespon Malvin dengan tawa kecil. Malvin berjalan pelan menuju bibir kolam. la tersenyum menatap beriak air kolam itu. Malvin teringat betapa menyenangkannya masa kanak-kanaknya bersama Darren. Shani pun ikut menghampiri Malvin.
"Kamu kenapa?" tanya Shani pada Malvin.
"Nggak pa-pa, cuma kangen masa kecil aja." Jawab Malvin tersenyum pada Shani.
Malvin menghela napas lega. "Shani, kita balik ke depan, yuk," ajaknya untuk kembali ke acara pesta Wirawan dan Fiona.
"Iya."
Tapi baru saja saat Shani hendak berbalik, tiba-tiba saldal jinjitnya terpeleset bibir kolam membuat Shani tercebur ke sana. Shani yang tidak bisa berenang terus tenggelam ke kolam sedalam 1,5 meter itu. Malvin yang sempat berteriak memanggil nama Shani langsung menceburkan diri menolongnya.
Malvin membawa Shani keluar dari kolam. Shani pingsan karena hidung dan mulutnya kemasukan cukup banyak air. "Shani! Bangun, Shani!" Malvin menepuk-nepuk pipi Shani dengan perasaan cemas.
Karena Shani tidak kunjung sadar, Malvin pun segera membuat napas buatan untuk gadis itu. Malvin menyandarkan Shani ke pangkuannya. la sedikit mengangkat kepala Shani, lalu dengan pelan-pelan Malvin mulai menyentuhkan bibirnya ke bibir Shani untuk membantu memberikan bantuan pernapasan.
...•○⭕️○•...
Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.
__ADS_1