RENGKUH

RENGKUH
BAB 9


__ADS_3

Shani dan Darren sampai di sebuah butik di pusat kota. Butik itu terkenal dengan desainnya yang sangat bagus juga produknya yang dihargai hingga ratusan juta. Shani tau betapa mahalnya harga-harga gaun di butik itu.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan butik menghampiri Shani dan Darren.


"Tolong carikan gaun pesta yang paling cantik untuk dia." Darren menarik lengan kiri Shani membuat gadis itu bingung. "Berapa pun harganya akan saya bayar," sambung Darren ke pelayan itu.


"Baik, Pak." Si pelayan tersenyum pada Darren. "Mari Mbak ikut saya." Dan Shani pun diajak ke sebuah ruangan khusus.


Sekitar 5 menitan Shani dan pelayan tadi kembali menghampiri Darren yang duduk di ruang tunggu butik. Pelayan itu menenteng 2 gaun pesta dengan desain dan warna yang berbeda. 1 gaun berwarna emas, dan 1 lagi berwarna silver keabu-abuan.


"Permisi, Pak Darren," seru Shani membuat Darren yang tengah membaca majalah yang disediakan oleh butik itu menoleh padanya.


"Ada apa?" tanya Darren.


"Ini ada 2 gaun yang direkomendasikan. Pak Darren mau pilih yang mana?" tanya Shani.


"Kenapa tanya sama saya? Kamu sendiri pilih yang mana? Gaun itu saya belikan untuk kamu."


"Tapi, Pak. Ini-"


"Jangan banyak ngomong," potong Darren pada Shani. "Tolong bantu dia mencoba 2 gaun itu," suruh Darren pada si pelayan butik.


"Baik, Pak." Si pelayan pun mengajak Shani ke ruang ganti.


Beberapa menit kemudian Shani keluar menghampiri Darren dengan mengenakan sebuah gaun berwarna silver. Darren menatap Shani dari ujung kaki hingga ke wajah gadis itu. Shani terlihat cantik, tapi gaunnya kurang menonjolkan sisi seksinya.


Darren pun menyuruh Shani berganti kostum lagi. Dan selang tidak lama Shani kembali dengan sebuah gaun satunya yang berwarna keemasan. Seketika Darren terpana dengan keanggunan visual gadis itu.


Shani terlihat sangat cocok memakai gaun yang memperlihatkan tulang selangkanya dengan sangat jelas. Gaun itu juga menunjukkan pinggang Shani yang ramping. Lekuk tubuh Shani sangat indah dengan gaun yang ia kenakan.


Darren pun membayar mahal untuk gaun keemasan itu. Setelah urusan di butik selesai, ia mengajak Shani pergi. Shani hanya terus menuruti semua kemauan Darren.


...•○⭕️○•...


"Pak Darren beneran beliin saya gaun ini?" Shani menjinjing singkat paper bag berisi gaun dari butik tadi.


"Kamu pakai gaun itu saat pesta anniversary orang tua saya nanti," ujar Darren seraya terus mengemudikan mobilnya.


"Tapi, Pak. Saya tidak bisa menerima ini. Ini terlalu mahal untuk saya. Lagi pula orang tua Bapak juga belum tentu mengundang saya ke pesta ulang tahun pernikahannya."


"Mereka pasti mengundang kamu. Orang-orang di Argantara Group juga pasti diundang. Kalaupun kamu tidak diundang, saya sendiri yang akan mengundang kamu."


Shani menunduk diam.


Darren menghela napas pendek. "Terus bagaimana soal malam minggu kemarin? Apa kamu bersedia menjadi pacar saya?"

__ADS_1


Mata Shani mendelik. "Bapak serius?"


"Saya tidak pernah seserius ini. Jadi bagaimana?"


"Maaf Pak, tapi saya tidak bisa berpacaran dengan atasan saya sendiri. Orang-orang kantor pasti akan berbicara buruk soal saya." Shani menolak Darren.


"Kita bisa menjalani hubungan secara diam-diam. Yang terpenting kita punya rasa sama suka." Darren menoleh pada Shani. "Perasaan kamu sendiri bagaimana? Apa kamu juga suka sama saya?"


Shani salah tingkah. Perasaannya pada Darren? Shani tidak yakin jika ia juga menyukai Darren. Darren itu tampan dan gagah, ia sering berdebaran juga kalau dekat dengannya. Namun apa itu bisa dikatakan sebagai jatuh cinta?


"Saya tidak punya perasaan lebih dari sekedar atasan dan bawahan saja pada Pak Darren. Maaf Pak, tapi saya benar-benar tidak ingin berpacaran dengan Bapak."


Darren terkekeh mendengar ucapan Shani. Baru kali ini ia ditolak menatah-mentah oleh seorang gadis. Apa kekayaannya yang dibonusi visual oke tidak semenarik itu untuk Shani?


"Kalau begitu saya akan bikin kamu jatuh cinta sama saya," tegas Darren pada Shani.


Shani menatap calon bosnya itu dengan seringai dalam hati. Mana bisa Darren membuat Shani jatuh cinta, kerjaannya tiap hari saja memerintah seenak jidat. Tentu saja Shani tidak akan semudah itu bisa jatuh cinta dengan Darren.


...•○⭕️○•...


Shani dan Darren tiba di sebuah rumah makan. Mereka memesan menu lalu menikmatinya. Beberapa menit saat keduanya baru menghabiskan setengah porsi makan siangnya, seorang laki-laki tinggi menghapiri Darren.


"Darren? Lo ngapain ke sini?" sapa orang itu menyeringai pada Darren, lalu melirik Shani.


Darren langsung mengenal sosok laki-laki jangkung itu yang juga tidak kalah tampan darinya. Ia adalah Malvin, sepupu Darren. Keduanya seumuran.


Shani merasa bingung. la pikir dirinya tidak mengenal laki-laki itu. Tapi kenapa laki-laki itu tau namanya?


"Kalian saling kenal?" Darren mulai menyuara.


"Lo sendiri kenal sama dia?" tanya Malvin pada Darren seraya menunjuk Shani.


"Dia sekretaris gue." Jawab Darren acuh tidak acuh.


Malvil mengangguk. "Kalo gue sekampus sama dia," ungkapnya tersenyum pada Shani.


Shani melebar mata. "Oh, ya?"


"Iya. Kita beneran sekampus, loh. Tapi kayaknya kamu lebih terkenal daripada aku, deh." Malvin mencebik bibir sok imut.


"Enggak, kok. Mana ada aku terkenal," sanggah Shani.


"Buktinya aja sekarang kamu nggak tau siapa aku." Jawab Malvin.


Telinga Darren mendadak panas. Mendapati sepupunya dan Shani yang saling memanggil dengan sebutan aku kamu membuatnya cemburu. Padahal mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


"Udah sana lo pergi," usir Darren pada Malvin.


"Kenapa, sih? Gue masih pengen di sini juga." Malvin menolak.


Darren hanya melempar tatapan tajam. Malvin tidak menghiraukan sepupunya itu, ia malah tersenyum ramah pada Shani. "Jadi kita itu sekampus, tapi beda jurusan. Lagian aku juga lebih tua dari kamu," ungkapnya.


"Ah, begitu ya." Shani menggaruk sekali samping lehernya yang tidak gatal. Ternyata laki-laki itu adalah seniornya di kampus dulu. Tapi kenapa Shani bisa sampai tidak mengenalnya?


Selama kuliah dulu Shani hanya seorang mahasiswi yang tertutup. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tapi rupanya yang ayu diam-diam menarik banyak perhatian orang-orang di kampusnya tanpa ia sadari.


Malvin mengenal Shani karena cerita teman-temannya tentang gadis itu yang sangat sulit didekati oleh para mahasiswa. Terkadang secara tidak sengaja Malvin melihat atau berpapasan dengan Shani. Malvin akui jika Shani memang sangat cantik, tapi sayangnya Malvin tidak punya keberanian untuk melakukan kontak bicara atau bahkan PDKT.


"Shani, ayo kita balik ke kantor sekarang," ajak Darren secara tiba-tiba, ia sudah tidak betah melihat keakraban Shani dan Malvin.


"Bentar dong, woi." Malvin mencegah Darren berdiri. "Gue masih mau ngobrol sama Shani," ungkapnya.


"Lo ngobrol sendiri noh sama vas bunga," cuit Darren pada Malvin menunjuk sebuah vas bunga yang berada di tengah meja makan dengan dagunya.


"Ayo, Shani." Dengan sigap Darren menggandeng tangan Shani pergi meninggalkan Malvin.


Malvin terus menatap punggung 2 orang itu yang semakin menjauhinya. Ia terkekeh kecil mendapati sepupunya yang terkesan posesif pada Shani. Malvin cepat tanggap, pasti bagi Darren, Shani itu bukan cuma sekretarisnya.


...•○⭕️○•...


Darren menyeret Shani masuk ke dalam sedan hitamnya. Ia lalu mengemudikan mobilnya itu pergi. Shani hanya diam memperhatikan gerak-gerik Darren yang terkesan aneh.


"Pak Darren, kenapa?" Shani mulai bertanya ragu-ragu.


Darren tidak menggubris terus fokus pada kemudinya.


"Tadi temennya Pak Darren, ya?" tanya Shani lagi.


"Dia sepupu saya." Dan kali ini Darren menjawab.


"Oh, pantesan," gumam Shani sangat pelan, namun sepertinya telinga Darren berhasil mendengarnya.


"Pantesan kenapa?"


Shani gelagapan cepat-cepat mencari alasan. la tidak mungkin mengatakan pada Darren kalau laki-laki tadi yang mengaku sebagai mantan seniornya di kampus terlihat sama tampannya seperti Darren. "Ma-maksud saya orang tadi kelihatan mirip sama Pak Darren."


"Lebih gantengan saya ke mana-mana," bantah Darren percaya diri.


Batin Shani menyeringai. Ia menahan bibirnya untuk tidak tertawa. Shani pikir perangai Darren yang seperti itu terlihat cukup lucu.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.


__ADS_2