RENGKUH

RENGKUH
BAB 11


__ADS_3

Darren memelotot mata menyaksikan adegan ciuman antara Shani dan Malvin. Di sisi lain, Shani baru saja tersadar dari pingsannya. Shani terbatuk-batuk mengelurkan sedikit air kolam yang tidak sengaja ia telan.


"Shani, kamu nggak pa-pa?" tanya Malvin masih memegangi kepala Shani.


Belum sempat Malvin mendapat jawaban, Darren tiba-tiba datang mendorongnya menyingkir dari Shani. Darren menarik tangan kanan Shani dengan kasar mengajaknya berdiri. la sangat marah karena Malvin berani mencium Shani.


"Ren, lo apa-apaan, sih?" Malvin melerai cengkeraman Darren dari pergelangan tangan Shani, tapi Darren mendorongnya lagi.


"Lo yang apa-apaan!" teriak Darren pada Malvin, lalu tanpa pikir panjang Darren menggeret Shani pergi dari tempat itu.


"Pak Darren, lepasin. Sakit, Pak. Pak Darren." Shani memohon dengan suara yang masih parau karena habis kecebur kolam renang, namun Darren tidak menggubrisnya.


Darren membawa Shani menghindari keramaian pesta yang diadakan kedua orang tuanya. Shani yang tadinya hanya memohon untuk dilepaskan dari cengkeraman Darren mulai menangis. Darren tidak memberinya ampun dan terus menyeretnya dengan kasar.


Darren memaksa Shani masuk ke dalam mobilnya, dan ia pun membawa gadis itu meninggalkan pesta yang masih berlangsung.


...•○⭕️○•...


"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Shani pada Darren. Shani yang seluruh badannya basah kuyup itu mulai menggigil. "Pak Darren, kita mau ke mana?" tanyanya lagi karena Darren tidak kunjung menjawab.


Darren terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Shani yang melihat Darren seperti orang kesetanan mulai ketakutan. "Pak Darren, berhenti," suruh Shani pada Darren, tapi Darren masih tetap mengabaikannya.


Shani mulai terisak. Ia meringkuk menutupi kedua telinganya dengan mata memejam. Darren yang mengendarai mobil dengan mengebut membuatnya sangat takut.


Darren yang melihat Shani menangis mulai mengerem mobilnya ke pinggir jalan. "Berhenti menangis!" seru Darren pada Shani. "Saya bilang, berhenti menangis!" Darren semakin membentak Shani karena gadis itu tidak mendengarkannya.


Shani yang sesenggukan mulai diam. Jantungnya berdebaran hebat karena bentakan Darren. Darren pun mulai mendekati Shani. Ia menarik dagu Shani melengoskan wajah gadis itu menghadap ke wajahnya. Tapi Shani enggan menatap Darren.


"Kenapa kamu biarin Malvin cium kamu? Apa kamu suka sama dia?" Darren mulai menginterogasi Shani.


Shani hanya menggeleng.


"Kamu itu cuma milik saya, Shani. Jangan berani-beraninya kamu pergi dengan laki-laki lain. Kamu paham?"


Shani pun mendorong Darren menjauhinya. "Pak Darren itu bukan siapa-siapa saya. Pak Darren nggak bisa ngatur-ngatur saya kayak gini," tegas Shani dengan mata berkaca-kaca.


Darren yang mulai muak dengan tingkah Shani yang sok jual mahal itu langsung mendorongnya menghimpit ke sandaran kursi. Tangan kanan Darren menekan rahang Shani dan tangan kirinya mengunci lengan kanan gadis itu.


Darren mencium kasar bibir Shani. Shani berusaha memberontak, tangan kirinya yang masih bebas bergerak mencoba mendorong-dorong Darren. Namun apalah daya, tenaga Shani tidak cukup kuat untuk melawan tubuh kekar Darren.


Lidah Darren berusaha menjejal masuk ke dalam mulut Shani, namun gadis itu terus menutup bibirnya. Darren pun menggigit sedikit keras bibir bawah Shani. Dan ia berhasil membuat Shani membuka mulutnya.

__ADS_1


Kecapan kasar membuat Shani tersedak-sedak. Darren terus memagut tanpa ampun. la mengulum lidah dan bibir Shani.


Bibir Shani sudah sangat basah, tapi Darren masih gencar mencecapnya. Darren hampir menghabiskan semua udara di rongga mulut Shani. Gadis itu melemas dengan napas memburu.


Darren pun menyudahi pagutannya. Ia menatap wajah Shani sembari menelan saliva yang tersisa. "Mulai malam ini kamu adalah milikku, Shani." Darren membelai dahi Shani, lalu mengecupnya lembut.


...•○⭕️○•...


Darren mengantar Shani pulang. Baju Shani basah, ia harus segera ganti. Darren tidak ingin pacar barunya itu masuk angin atau bahkan deman karena habis tercebur kolam renang di rumahnya.


"Kamu mandi dan langsung istirahat. Besok pagi aku bakalan jemput kamu buat kerja." Darren tersenyum pada Shani.


Mulai sekarang Shani dan Darren resmi membina hubungan. Walaupun Shani merasa perasaannya pada Darren seperti paksaan, tapi Shani mencoba untuk menerima Darren. Mungkin dengan berjalannya waktu, keduanya bisa lebih damai lagi.


"Besok pagi kamu nggak usah jemput aku. Aku takut ada kesalahpahaman di kantor. Aku bisa naik ojek, kok." Shani menolak.


"Ya udah, kalo gitu kamu buruan masuk sana." Darren tersenyum mengelus puncak kepala Shani.


"Iya. Kamu hati-hati." Shani pun berpamit dan keluar dari mobil Darren. Ia melambai tangan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Darren tersenyum senang karena sekarang Shani adalah pacarnya. Ia bisa berbicara santai dengan Shani juga bebas memeluk gadis itu. Dengan rasa gembira yang luar biasa, Darren pun mengegas sedan hitamnya pergi menuju kembali ke pesta anniversary papa dan mamanya.


...•○⭕️○•...


"Papa juga nggak tau, Ma." Begitu pula Wirawan, ia juga celingak-celinguk mencari-cari Darren.


"Om sama Tante kenapa?" Malvin menghampiri Wirawan dan Fiona yang tampak cemas menunggu sesuatu.


Malvin sudah terlihat berganti baju. Karena menolong Shani yang tercebur kolam tadi, seluruh pakaiannya juga ikut basah. Malvin pun akhirnya meminjam baju milik Darren.


"Malvin? Kamu lihat Darren nggak?" tanya Fiona.


"Lha emang Darren nggak di sini, Tan?" Malvin mulai bingung.


"Masalahnya ya itu. Ke mana sih dia? Kebiasan deh ada orang tua lagi punya acara juga," gerutu Fiona kesal.


Pikiran Malvin mulai bertanya-tanya. Terakhir kali ia melihat Darren membawa pergi Shani, Shani juga tidak kelihatan batang hidungnya. Ke mana perginya 2 orang itu?


Beberapa detik kemudian Darren baru saja muncul. Ia berjalan menghampiri papa dan mamanya yang tengah bersama Malvin. Darren berdeham merapikan jas yang ia kenakan.


"Habis dari mana kamu?" Wirawan dengan wajah garang langsung melempar pertanyaan pada putranya.

__ADS_1


"Jalan-jalan bentar." Jawab Darren acuh tidak acuh.


"Astaga, Papa sama Mama panik nyariin kamu tau nggak!?" Fiona menimpali.


"Vin, Om titip sepupu kamu ya. Jangan biarin dia kelayapan ke mana-mana," titah Wirawan pada Malvin. "Ayo, Ma. Kita masih harus menyapa tamu," sambungnya mengajak Fiona pergi.


Wirawan dan Fiona kembali menyibuk dengan para tamu undangannya yang dominan seorang pejabat tinggi juga orang-orang penting. Darren dan Malvin masih berdiri saling membisu. Darren masih kesal pada Malvin karena kejadian tadi yang mana Malvin mencari kesempatan dalam kesempitan pada Shani.


"Lo bawa Shani ke mana?" Malvin mulai menanyai Darren.


"Bukan urusan lo!" seru Darren melengoskan bola mata meninggalkan Malvin.


Malvin pun mengikuti Darren. Dua orang itu menghampiri meja minuman berwarna merah. Darren mengambil segelas, lalu meneguknya hingga habis.


"Lo suka kan sama Shani?" tebak Malvin seraya meraih segelas minuman, kemudian mencicipinya sedikit.


Darren melempar tatapan tajam pada sepupunya itu. "Kalo iya kenapa?"


Malvin menyeringai. "Lo tau kan Om Wirawan bakalan lakuin apa kalo dia sampe tau lo sama pegawai Argantara Group ada something?"


"Gue nggak akan biarin Papa macem-macem sama Shani," tegas Darren.


Malvin meneguk minumannya lagi sekali. "Kita lihat aja nanti," ujarnya, lalu menghabiskan sisa minuman itu. "Dan asal lo tau, gue juga suka sama Shani," ungkap Malvin pada Darren.


"Jangan berani-beraninya lo sentuh dia!" ancam Darren pada sepupunya.


Malvin tertawa geli. "Gue nggak sekurang ajar lo. Seharusnya lo introspeksi diri. Jangan sampe Shani jadi korban kebejatan lo," cibir Malvin pada Darren tanpa rasa berdosa sama sekali.


Darren mulai geram dengan semua omongan angkuh Malvin. Ia mengepal kedua tangannya menahan emosi. Sepupunya itu benar-benar membuatnya meradang.


"Gue mau kita bersaing secara sehat. Jadi gue juga nggak akan tinggal diem kalo lo sampe ngapa-ngapain Shani," ungkap Malvin pada Darren.


"Gue nggak akan biarin lo dapet celah sedikit pun buat deketin Shani!" seru Darren dengan tatapan tajamnya.


Malvin terkekeh. "Kalo gitu apa gue juga perlu terang-terangan kayak sikap lo tadi? Shani lo kemanain sekarang?"


Darren melangkah maju dan berhenti tepat di samping kanan Malvin. "Lo nggak perlu tau Shani gue kemanain," ujar Darren seraya melirik sepupunya itu, kemudian berlalu meninggalkannya.


Batin Malvin cukup kesal. Ia sudah berusaha keras untuk mencari tau ke mana sebenarnya Darren membawa pergi Shani. Malvin hanya khawatir dengan keadaan Shani. Melihat perlakuan kasar Darren pada Shani tadi membuat Malvin berpikiran buruk. Malvin takut jika Darren melakukan hal gila pada gadis itu.


...•○⭕️○•...

__ADS_1


Ayo beri LIKE, KOMEN, dan HADIAH supaya author rajin update.


__ADS_2