
Namaku Rendi umurku 15 tahun, aku anak pertama dari 2 bersaudara, dan Adik ku bernama Shela. Kami merupakan keluarga sederhana, Profesi Ibuku seorang Ibu Rumah Tangga dan ayahku adalah pedagang, beliau berjualan di salah satu Pasar Induk pusat di kotaku. Di bantu oleh om Rusman dia adalah adik dari ayahku.
Awal nya kami tinggal di rumah kontrakan yang amat kecil. Di kontrakan itu hanya ada satu ruangan, ketika malam tiba pun kami tidur di ruangan itu bersama - sama, seperti ikan pindang yang di susun dalam wajan.
Hingga suatu hari dagangan ayahku laris manis, dan berkembang pesat. Dari hasil penjualan ayahku itu pun kami bisa menyisihkan uang dari sisa kebutuhan sehari - hari, sisa nya juga lumayan banyak.
Hampir setahun lama nya penjualan ayahku terus seperti itu, dan tabungan kami pun sudah lumayan banyak. Kami pun merencanakan untuk membeli rumah, ketika tabungan kami di rasa sudah cukup.
Hingga pada suatu malam saat ayahku sedang berjualan di pasar, ada salah satu teman nya memberi informasi, bahwa di dekat rumah nya ada rumah model dulu yang di jual sangat murah.
Ayahku pun berencana melihat nya esok pagi hari. keeseokan hari nya, kami ber empat pun melihat kondisi rumah tersebut. Saat kami melihat rumah tersebut, tidak ada yang mencurigakan sama sekali.
Rumah itu terlihat seperti rumah biasa dengan design Model rumah jaman dulu dan tidak ada kesan seram sama sekali. Ayah pun tertarik karena harga nya sangat murah, pikir ayah hanya tinggal merenovasi sedikit. Dari hasil memberi rumah itupun masih ada banyak sisa lebih tabungan kami dan bisa di alokasikan untuk merenovasi.
Akhirnya ayahpun membeli rumah tersebut, namun kami tidak langsung menempati nya. Kami berencana merenovasi nya terlebih dahulu.
Kami pun merenovasi rumah tersebut. Saat proses merenovasi, beberapa kali kami selalu kehilangan 1 karung semen. Mungkin setiap malam ada pencuri yang masuk kedalam rumah, karena saat malam tidak ada yang berjaga di sana.
Karena sering terjadi kehilangan, ayahku pun meminta bantuan om ku untuk berjaga di rumah itu setiap malam, selama proses renovasi. Dan di sini lah awal mula keanehan di rumah itu terjadi.
ayahku pun membelikan televisi agar saat om ku berjaga seorang diri dia tidak merasa kesepian maklum lah bujangan.
Beberapa hari om ku berjaga belum terjadi sesuatu yang aneh. Namun ketika menginjak malam ke empat dia berjaga, awal ke anehan rumah ini mulai terjadi. pada malam itu om Rusman mendengar sesuatu di lantai atas, seperti ada seorang anak kecil yang berlari - lari, padahal di sana tidak ada siapa - siapa, hanya om Rusman seorang diri yang berada di rumah itu. Om Rusman pun berfikir mungkin itu hanya perasaan nya saja.
Keesokan harinya om Rusman pun kembali berjaga malam, dia pun mendengar kembali suara anak kecil berlari dari lantai atas. Om Rusman berfikir apa mungkin ada pencuri bersembunyi di atas.
Om rusman pun melihat ke sekeliling, mencari benda untuk di gunakan sebagai senjata, agar jika benar itu pencuri, dia bisa mementung kepala nya dengan benda tersebut. Akhir nya dia pun menemukan sebuah linggis, om Rusman berjalan perlahan menaiki tangga, sambil memegang linggis.
Namun saat om Rusman sampai di lantai atas, dia tidak menemukan siapapun. Karena rasa penasaran, om Rusman mencoba mengecek ke semua kamar yang berada di lantai tersebut. Saat kamar itu di cek satu persatu ternyata kosong tidak ada siapapun di sana.
Dalam hati nya bertanya - tanya, lalu yang tadi itu bunyi langkah siapa, gumam nya dalam hati. Bulu kuduk nya langsung berdiri seketika saat itu, dia pun memutuskan untuk turun kembali ke lantai bawah dengan perasaan bingung.
Keesokan nya saat di pasar om Rusman menceritakan tantang pengalaman nya tadi malam, kepada ayah. Seketika ayah langsung tertawa mendengar cerita om Rusman, ayah berkata, mungkin itu suara dari lantai atas tetangga di samping rumah, berusaha menenangkan om Rusman.
__ADS_1
Om Rusman berfikir bisa jadi ya itu suara dari langkah lantai atas tetangganya, yang tembok nya bersebelahan. pikirnya, berusaha memaksakan kejadian malam itu dengan logika nya.
Malam pun tiba, om Rusman kembali menjaga rumah malam itu. Malam itu om Rusman sedang asyik menonton televisi sambil memakan mie instan, om Rusman samar - samar mendengar seperti ada tangisan perempuan dari atas.
Om Rusman terdiam sejenak menghentikan aktifitas nya, ketika om Rusman mencoba untuk fokus mendengarkan, suara itu pun menghilang. Om Rusman melanjutkan lagi memakan mie sambil menonton televisi, tidak berselang lama, suara tangisan perempuan itu pun terdengar lagi.
Bulu kuduk Om Rusman mulai berdiri, dia pun memainkan logika nya, mungkin itu suara tetangga sedang cekcok, dan sedang ada masalah.
Lalu Om Rusman membesarkan Volume televisi agar suara itu tidak terdengar oleh telinga nya, namun semakin volume televisi itu di besarkan, suara tangisan perempuan itu pun semakin mengeras. Om Rusman sadar ada yang tak beres d rumah ini.
Bulu kuduk nya semakin berdiri, saat sedang mengamati suara tangisan itu, tiba - tiba terdengar suara barang jatuh dari atas.
"Braaaaakkkk... " suara barang jatuh dari atas.
Om Rusman pun terkejut, dia langsung berlari keluar dari rumah tanpa mematikan televisi,mie yang sedang dia makan pun di tinggalkan karena panik. Dia berlari terbirit -birit menuju rumah kontrakan tempat kami tinggal, untuk melaporkan kejadian ini kepada ayah.
Sesampainya di kontrakan, om Rusman mengetuk pintu rumah dengan kencang dan berteriak memanggil ayah, kami semua yang berada di dalam rumah kaget mendengarnya dan langsung menghampiri pintu rumah.
Saat membuka pintu aku dan keluargaku kaget melihat Om Rusman sudah terkapar di lantai dekat pintu karena kelelahan. Lalu aku berinisiatif membawa kan segelas air untuk om Rusman, agar om Rusman merasa lebih tenang.
"Ada apa Rus, kamu sampai kelelahan begini dan berteriak" tanya ayah sedikit aneh.
"aa.. anu kak, Saya tadi mendengar tangisan perempuan di rumah sangat kencang, dan barang yang berjatuhan di lantai atas" jawab Om Rusman sambil terengah - engah.
Ayah pun sedikit aneh mendengar cerita om Rusman tentang rumah itu. Setelah mendengar kejadian itu dari om Rusman, ayah memerintahkan om Rusman untuk tidur di kontrakan saja untuk malam ini.
Saat pagi datang, sayup - sayup aku mendengar suara orang sedang berbincang. Saat ku tengok, Ternyata itu adalah suara percakapan antara ibu dan ayah.
Lalu aku menghampiri mereka. Saat itu aku mendengarkan pecakapan antara ayah dan Ibu, mereka sedang membicarakan tentang rumah itu.
Ibu khawatir bila nanti sudah di tempati, takut terjadi sesuatu kepada keluarga kita, apalagi setelah mendengar kejadian akhir - akhir ini.
Sebenarnya dalam hati, Ayah juga sedikit merasa khawatir. Tapi karena sudah terlanjur membeli nya, ayah tidak bisa berbuat apa - apa. Ayah pun mencoba meyakinkan dan menenangkan ibu.
__ADS_1
"mungkin rumah itu sudah lama kosong, makanya terjadi seperti itu, kalau kita nanti sudah pengajian syukuran di rumah itu mungkin semua nya akan baik - baik saja bu" Ucap ayah meyakinkan ibu.
Setelah ayah berbincang panjang lebar dengan ibu mengenai rumah itu. Siang harinya nya ayah pergi mengontrol ke rumah baru kami yang sedang di renovasi.
Ayah ingin melihat sejauh mana renovasi sudah berjalan. Ayah pun berkeliling dari belakang hingga kedepan halaman rumah, memastikan rumah dalam kondisi baik.
Saat ayah sedang mengamati rumah dari halaman depan rumah, ada seseorang menyapa nya. Kemudian ayah menengok ke arah sumber suara itu.
Ternyata orang itu adalah mbah Jaka, dia adalah petugas kebersihan dari komplek rumah baru kami.
"Siang pak? saya mbah Jaka petugas kebersihan komplek ini. Bapak pemilik baru rumah ini ?" tanya mbah Jaka.
"Iya mbah, saya beberapa hari lalu membelinya" saut ayah menjawab.
"Mau renovasi untuk di jual kembali, atau ada niat untuk di tempati pak ?" tanya mbah Jaka kembali.
"Rencana nya sih akan di tempati, setelah selesai renovasi mungkin kami sudah mulai menempati nya" jawab ayah sambil menatap ke arah rumah.
"Waduuhh" ucap mbah Jaka sedikit cemas.
"Kenapa mbah ?" Jawab Ayah sedikit bingung.
"Tidak ada apa - apa pak, saya turut senang ada warga baru di komplek ini, kompek ini jadi semakin ramai. Saya hanya berpesan agar bapak bersama keluarga selalu berhati - hati saat sudah menempati rumah ini. semoga bapak dan keluarga betah ya pak. Kalau begitu saya pamit dulu pak, saya masih harus berkeliling komplek untuk mengambil sampah warga" ucap mbah Jaka pamit kepada ayah dengan langkah sedikit terburu - buru.
Ayah pun aneh melihat tingkah dari mbah Jaka. Ayah merasa bingung, maksud dari hati - hati mbah Jaka apa yah, dalam pikiran ayah bertanya - tanya. Setelah itu, ayah kembali memasuki rumah untuk mengontrol bagian dalam kembali.
Saat di dalam, ayah melihat para tukang sedang saling berbisik, entah apa yang mereka sedang bicarakan. ayah pun tidak mengambil pusing dengan hal itu dan kembali berkeliling. Waktu menunjukan pukul 4 sore, tapi para tukang sudah berkemas untuk pulang.
"wehh mang, ini kan baru jam 4 kenapa sudah pada mau pulang, bukan nya jam kerja tukang selesai jam 5 ya" tanya ayah kepada para tukang.
"maaf pak, kami tidak berani kalau sampai terlalu sore di rumah ini. lebih baik kami besok datang lebih pagi saja untuk mengganti waktu hari ini" jawab salah satu tukang.
Ayah pun semakin bingung, setelah mendengar jawaban dari salah tukang yang merenovasi rumah nya.
__ADS_1
"Ada apa dengan rumah ini" gumam ayah dalam hati.