
Aku mencoba beranjak dari tempat duduk ku, Untuk melihat suara yang tadi ku dengar dari arah halaman depan rumah. Aku berjalan perlahan, dengan langkah harap - harap cemas.
Saat ku lihat, ternyata itu adalah suara ayah yang sedang membuka gerbang. Hati ku sangat lega saat melihat ayah pulang. Lalu ayah masuk untuk menemui kami.
Betapa kaget nya ayah saat memasuki rumah, melihat ibu dalam keadaan lemah terbaring di atas sofa. Lalu ayah bertanya kepadaku dengan apa yang telah terjadi.
Lalu aku pun menceritakan semua kejadian yang kami alami tadi, sebelum ayah tiba di rumah. Ayah terlihat kesal, setelah mendengar semua yang aku ceritakan.
Lalu ayah menggendong ibu yang terbaring di atas sofa untuk memindahkan nya ke tempat tidur yang berada di kamar. Saat di kamar, aku melihat ayah memandang ibu yang sedang tertidur dengan wajah sedih.
Mungkin ayah merasa bersalah dengan semua kejadian di rumah ini, kepada ibu dan kami semua. Setelah lama di kamar menjaga ibu, ayah pun keluar kamar. Lalu ayah memanggilku ke ruang tamu untuk mengobrol.
Ayah memintaku untuk pergi ke rumah ustad Arif. Untuk meminta bantuan nya dan menceritakan semua yang telah terjadi. Ayah merasa bahwa, semua kejadian yang terjadi di rumah kami sudah di luar batas, dan membahayakan keselamatan dari keluarga kami.
Aku pun menuruti perintah ayah untuk berkunjung ke rumah ustad Arif. Sesampai nya di rumah ustad Arif, aku menceritakan semua yang keluarga kami alami selama ini.
Aku lihat ustad Arif seperti kebingungan, dia berfikir setelah mengadakan ritual penguburan kepala kambing hitam, seharusnya rumah itu menjadi aman.
Aku meminta ustad Arif, untuk berkunjung ke rumah dan melihat kondisi rumah kami. Setelah lama berbincang ustad Arif pun menyetujui untuk berkunjung ke rumah kami.
Selepas magrib aku dan ustad Arif pun pulang menuju rumah. Sesampai nya di sana aku melihat ibu masih berbaring di kamar, mungkin ibu masih syok dengan kejadian tadi siang.
Ustad Arif meminta segelas air kepadaku saat itu, dia bermaksud untuk memberikan segelas air yang telah di bacakan do'a kepada ibu. Lalu ibu pun meminum nya.
Kemudian ustad Arif berjalan untuk berkeliling di rumah kami. Ustad Arif merasakan aura negatif yang cukup besar di rumah kami.
__ADS_1
Ustad Arif lalu memanggil ayah yang sedang duduk di kamar menjaga ibu. Ustad Arif berbicara kepada ayah, bahwa makhluk halus yang berada di rumah kami berbahaya untuk keselamatan keluarga ayah.
Ustad Arif meminta ayah, mencari paktisi spriritual untuk membantu ustad Arif menetralisir aura negatif di rumah ini. Karena ustad Arif merasa tidak sanggup bila harus melakukan nya seorang diri.
Ustad Arif lalu menjelaskan kembali, bahwa rumah ini adalah perlintasan gaib dari lingkungan sekitar rumah kami. Sebutan warga sebagai Rumah Terminal Gaib memang benar untuk rumah ini.
Setiap makhluk halus di lingkungan rumah kami saat melintas pasti singgah dulu di rumah kami. Terkadang cukup banyak juga makhluk halus yang sedang melintas, karena merasa nyaman dengan rumah kami akhirnya menetap dan berdiam di rumah ini.
Mendengar ustad Arif menjelaskan keadaan rumah ini, ayah semakin merasa bersalah. Ayah berfikir seandainya saja dia tidak tergiur dengan harga murah saat membeli rumah ini, mungkin saat - saat seperti ini, tidak akan terjadi.
Lalu ayah menuruti saran ustad Arif untuk mencari praktisi spiritual. Ayah berharap keadaan ini akan segera berakhir dan keluarga kami bisa hidup dengan tenang.
Malam semakin larut, ustad Arif pun sudah berpamitan pulang. Ayah meminta malam ini kami tidur bersama di kamar ayah, agar ayah bisa menjaga aku dan adik ku.
Malam itu aku dan shela tidur bersama di kamar ayah. Ketika malam menjelang subuh ibu terbangun dalam keadaan menangis. Kami pun bingung dengan sikap ibu yang tiba - tiba menangis.
Tiba - tiba ibu menatapku dengan tatapan tajam sambil menangis dan tertawa. Seolah ibu mengetahui apa yang aku fikirkan tentang nya. Lalu kemudian ibu menyerang ku, seperti akan mencekik leher ku.
Namun ayah segera menahan nya. Melihat sikap ibu yang aneh, lalu ayah mengucapkan do'a terus menerus. Kemudian Ibu berteriak seperti kepanasan, lalu pingsan.
Pagi pun datang, aku membersihkan rumah menggantikan ibu yang sedang sakit. Aku sengaja ijin tidak sekolah beberapa hari, karena melihat kondisi ibu yang sedang sakit, aku rasa ayah tidak mungkin bisa menangani nya sendiri.
Siang nya, ayah mengajak ibu ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tubuh nya. Setelah memeriksa kondisi ibu ke rumah sakit, kemudian mereka pun pulang.
Ayah merawat ibu dengan sangat telaten. Selama ibu sakit ayah tidak berjualan ke pasar. Karena ayah begitu sangat khawatir kepada ibu dan kami.
__ADS_1
Tak berselang lama kejadian aneh pun terjadi, saat ayah sedang menyuapi ibu untuk makan. Tiba - tiba lantai tempat mereka duduk di penuhi darah, mereka pun kaget saat itu.
Setelah mengecek sumber dari darah itu, ternyata itu berasal dari kelamin ibu, yang terus mengeluarkan darah seperti menstruasi tapi ini lebih banyak.
Ayah langsung menggendong ibu menuju kamar mandi untuk membersihkan nya. Dan aku membersihkan darah yang menggenang di lantai hingga bersih.
Aku menangis saat membersihkan darah itu, aku merasa sedih melihat kondisi ibu yang seperti ini. Rasa nya aku ingin membunuh makhluk halus yang membuat ibuku menjadi sakit seperti ini.
Ayah kembali malam itu membawa ibu ke rumah sakit, ibu di cek seluruh badan nya saat itu. Aku, ayah, dan shela pun menunggu di kursi ruang tunggu pasien.
Tiba - tiba terdengar dari suara resepsionis memanggil nama ayah,untuk memasuki ruangan dokter yang memeriksa ibu. Ayah pun masuk ke ruangan dokter tersebut.
"Selamat malam dok?" ucap ayah.
"Malam, pak Romli apakah benar suami nya ibu Lasmi?" tanya dokter kepada ayah.
"Betul dok, saya suaminya. Ada apa ya dok?" saut ayah.
"Begini pak Romli, saya sudah cek semua bagian tubuh dari ibu lasmi. Namun saya tidak menemukan apapun di dalam tubuh bu Lasmi. Kalau bisa tolong di bantu dengan obat kampung nya" ucap dokter kepada ayah.
Ayah terlihat sedih saat itu, ternyata penyakit yang di derita ibu adalah non medis.
"Baik dok terima kasih, saya akan coba pengobatan menurut saran dokter" jawab ayah.
Ayah pun keluar dari ruangan dokter dengan wajah sangat kesal, kemudian ayah mengajak ibu dan kami pulang. Di jalan ayah berbisik kepadaku.
__ADS_1
"Besok kamu ke rumah Pak Rt, minta tolong carikan praktisi suprantural untuk mengobati ibu" bisik ayah kepadaku.
Aku pun menjawab dengan menganggukan kepala. Dari awal aku juga sudah curiga, bahwa penyakit yang di derita ibu bukan penyakit medis.