Rumah Terminal Gaib

Rumah Terminal Gaib
Eps 2. Latar belakang


__ADS_3

Setelah mengecek renovasi rumah ayah kembali ke rumah, hari itu aku melihat ayah nampak berbeda. Raut wajah kecemasan terpancar dari wajah nya.


Aku menghampiri ayah mencoba untuk bertanya, namun ayah hanya berkata tidak ada apa - apa. Aku sedikit curiga dengan sikap ayah yang berbeda dari sebelum nya, sepulang dari rumah itu.


Malam pun tiba, seperti biasa aku bersama keluargaku bercengkrama sambil menonton televisi. Tiba - tiba ada suara ketukan pintu, ibu pun bergegas menghampiri pintu untuk mengecek siapa yang berkunjung ke rumah kami.


Saat membuka membuka pintu, aku melihat ada seorang pria memakai peci dan memakai baju muslim, aku pun bertanya - tanya dalam hati, siapa orang itu.


Saat ayah menyapa nya, baru aku tau ternyata itu ustad Arif teman dari ayahku. Ustad Arif datang ke rumah, karena tadi siang ayah menghubungi nya untuk datang ke rumah.


Kemudian ayah mempersilahkan nya masuk ke dalam rumah. Ayah memulai percakapan dengan menanyakan kabar beliau. Karena kontrakan ku yang kecil dan tidak ada kamar atau ruangan yang lain, semua percakapan antara ayah dan ustad Arif pun terdengar oleh ku.


Setelah beberapa lama mereka berbincang ke sana kemari, akhirnya ayah pun mengutarakan maksud dari mengundang ustad Arif ke rumah. Ayah bertanya tentang rumah baru kami dengan segala ke anehan yang terjadi. Kebetulan ustad Arif mempunyai kelebihan dalam hal gaib, beberapa kali beliau membantu keluarga yang mempunyai permasalahan seperti kami.


Ayah merasa khawatir apakah nanti saat keluarga kami menempati rumah itu tidak akan terjadi apa - apa. Saat itu Ustad Arif menyarankan agar ayah mencari tahu dulu tentang latar belakang rumah itu, agar bisa di obati.


Ayah terdiam mendengar dari saran ustad Arif, karena ayah bingung mencari informasi tentang latar belakang rumah itu kemana. Warga sekitar rumah seolah menutupi dan bungkam tentang masa lalu rumah itu.


Ustad Arif berusaha meyakinkan ayah, bahwa tidak akan terjadi apa - apa jika kita selalu berdoa. Ayah pun sedikit tenang mendengar ucapan Ustad Arif. Setelah berbincang cukup lama ustad Arif pun berpamitan untuk pulang, karena malam sudah sangat larut.


Beberapa saat setelah ustad Arif pulang, ayah pun berbincang dan meminta saran kepada ibu tentang cara menyelidiki tentang latar belakang rumah itu.


Ibu pun mendapatkan ide, ibu menyarankan ayah bagaimana kalau bertanya kepada ketua Rt. Karena ketua Rt pasti mengetahui tentang identitas warga nya. Besok kita ke sana sekalian mengurus surat kepindahan kita, saran ibu kepada ayah. Ayah pun menerima saran ibu dan besok mereka berencana untuk menemui ketua Rt setempat.


Keesokan hari nya ayah dan ibu pergi menemui ketua Rt menggunanakan sepeda motor. Sesampai nya di sana, ayah dan ibu memarkirkan sepeda motor di rumah kami yang baru. Karena rumah ketua Rt tidak terlalu jauh, mereka memilih untuk berjalan kaki, sekalian ibu ingin melihat lingkungan baru kami seperti apa.


Saat di perjalanan menuju rumah ketua Rt, banyak sekali warga sekitar yang menatap ke arah Ibu dan ayah sambil berbisik. Hal itu membuat Ibu risih.


"Ayah, kenapa orang - orang itu dari tadi memandangi kita terus ?" tanya ibu kepada ayah dengan sedikit bingung.


"Mungkin warga belum pernah melihat kita di sekitar lingkungan sini bu,dan bertanya - tanya kita siapa" saut ayah sambil berjalan.


Mereka pun kembali melanjutkan langkah nya menuju rumah ketua Rt. Sampailah mereka Di rumah ketua Rt setempat. Saat sampai di rumah ketua Rt suasana terlihat sepi, seperti tidak ada penghuni, ibu mencoba mengetuk pintu rumah itu. Dan benar ternyata, setelah ibu mencoba mengetuk beberapa kali tidak ada nampak orang di dalam rumah itu merespon.


Ayah dan Ibu mencoba menunggu beberapa menit di depan rumah itu, berharap pemilik rumah membuka kan pintu untuk mereka.


Saat ayah dan ibu sedang menunggu di depan rumah, ada salah seorang warga yang bernama Bu Yani menyapa kami.


"Maaf mau bertemu pak Rt ?" Tanya Bu Yani tiba - tiba kepada Ibu dan ayah.


"Iya bu, kami mau bertemu pak Rt untuk mengurus surat kepindahan" jawab ibu dengan ramah.


"Pak Rt sedang ada Rapat di Kecamatan,mungkin setengah jam lagi beliau pulang. Bagaimana kalau ibu dan bapak menunggu di rumah saya saja ? " ucap Bu Yani.

__ADS_1


Bu Yani dengan baik hati menawarkan ayah dan ibu untuk menunggu ketua Rt di rumah nya, kebetulan rumah Bu Yani bersebelahan dengan rumah ketua Rt. Ayah dan Ibu pun dengan senang hati menerima penawaran nya.


Saat itu ayah dan ibu berbincang, dan saling memperkenalkan tentang keluarga masing - masing. Bu Yani ternyata sudah tahu bahwa Ibu dan ayah adalah pemilik baru rumah di depan pohon belimbing sana, yaitu rumah baru kami.


Bahkan bukan hanya Bu Yani, semua warga di daerah lingkungan rumah kami yang baru pun mengetahui nya, dan merasa aneh saat ada yang berani membeli rumah itu, tutur Bu Yani.


Mendengar cerita Bu Yani, terlintas dalam pikiran ibu untuk mempertanyakan asal usul dari rumah tersebut,barangkali saja Bu Yani tau sejarah rumah itu, gumam ibu dalam hati.


Ibu pun mencoba bertanya tentang latar belakang rumah baru kami kepada Bu Yani.


"Anu bu, saya mau bertanya tentang pemilik sebelum nya, dan latar belakang rumah itu ?" tanya Ibu kepada Bu Yani.


"Saya fikir Ibu dan Bapak mengetahui tentang rumah itu dan bisa mengatasinya, makanya berani untuk membelinya" saut Bu Yani.


Ternyata Bu Yani mengetahui latar belakang rumah itu dan mengenal pemilik nya yang lama.


"Baik kalau begitu saya ceritakan dari awal, menurut sepengetahuan saya ya Bu" ucap kembali Bu Yani.


Lalu Bu Yani mulai menceritakan tentang rumah tersebut kepada ibu dan ayah.


Dulu rumah itu adalah kepunyaan dari keluarga Pak Priadi. Pak Priadi mempunyai istri yang bernama ibu Lusi dan 2 anak nya, anak laki - laki pertama bernama Lutfi berumur 16 tahun dan anak kedua perempuan bernama Ismi berumur 5 tahun.


Pekerjaan pak Priadi adalah seorang Kontraktor. Keluarga mereka cukup harmonis saat itu. Namun ada satu kejadian yang membuat situasi keluarga mereka berantakan.


Melihat anak nya berbuat hal tidak pantas seperti itu sebagai pelajar. Lantas Pak Priadi pun menepikan mobil nya dan berhenti, dia turun dari mobil berjalan menghampiri Lutfi yang sedang berpesta minuman keras dengan teman nya.


" Lutfi apa yang kamu lakukan? bapak memyekolahkan mu untuk menjadi anak yang baik, bukan untuk mabuk seperti ini" Teriak Pak Priadi kepada Lutfi.


Lutfi yang setengah mabuk kaget, melihat ayah nya ada di depan matanya.


" Plaaaaaakkk.. " bunyi tamparan tangan Pak Priadi mengenai wajah Lutfi.


"ayoo pulang, dasar anak tidak tahu di untung" teriak pak Priadi sambil menggendong Lutfi.


Pak Priadi memarahi Lutfi bahkan sampai menampar Lutfi di depan teman - teman nya.


Dengan kondisi badan setengah mabuk Lutfi di gendong oleh Pak Priadi dan di masukan ke dalam mobil untuk membawa nya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Pak Priadi memarahi Lutfi dengan sangat hebat nya, Lutfi di bawa ke kamar mandi dan di guyur hingga sulit bernafas.


"Byuuuuuuuurrrr..." suara air yang mengguyur badan Lutfi.


"Mau jadi anak macam apa kamu" ucap pak Priadi sambil mengguyur badan Lutfi dengan air.

__ADS_1


"Sudah pak, kasian anak kita. Lihat si bungsu menangis ketakutan melihat marah bapak" ucap Ibu Lusi menangis, sambil memegang tangan pak Priadi.


Ibu Lusi pun menangis tak sanggup meredam kemarahan dari Pak Priadi. Pak Priadi tersadar karena melihat anak bungsu nya Ismi menangis ketakutan melihat ayah nya yang sedang marah.


Pak Priadi pun memerintahkan Lutfi untuk masuk ke dalam kamar nya.


"Sana kamu masuk kamar, ganti pakaian mu. bukan nya berbakti malah jadi beban kamu ini" ucap pak Priadi kepada Lutfi.


Setelah kejadian hari itu keesokan harinya Lutfi dan Pak Priadi tak bertegur sapa, karena Pak Priadi masih sangat kecewa kepada Lutfi.


Lutfi pun merasa bersalah dan merasa gagal sebagai anak, karena telah mengecewakan kedua orang tua yang selalu membanggakan nya. Lalu terlintas dalam pikiran nya untuk pergi dari rumah karena malu dan tidak mau menjadi beban orang tua nya.


Dini hari saat orang tua nya tertidur lelap, Lutfi mengendap - ngendap berjalan menuju pintu keluar, rupa nya Lutfi memang benar - benar akan pergi dari rumah orang tua nya. Dia pun berhasil keluar dan pergi entah kemana.


Pagi hari nya saat ibu Lusi akan membangunkan Lutfi untuk bersiap - siap sekolah, alangkah kaget nya dia melihat anak nya Lutfi tidak ada di dalam kamar. Bu Lusi mengecek ke semua ruangan di dalam rumah namun Lutfi tidak ada.


Bu Lusi pun memberitahu Pak Priadi bahwa Lutfi tidak ada di rumah, namun Pak Priadi menanggapi nya dengan acuh. Pak Priadi fikir itu hanya emosi anak muda sesaat saja, nanti juga akan kembali ke rumah.


Namun perkiraan Pak Priadi ternyata salah, sudah 4 hari Lutfi tak kunjung pulang. Selama itu ibu Lusi terus menangis teringat anak nya, Pak Priadi pun mulai khawatir dengan keadaan Lutfi.


Sore hari nya mereka bertiga mencari Lutfi ke rumah teman - teman nya,namun tidak ada di sana. Mereka mencari hingga larut malam sekali, raut wajah lelah pun terpancar dalam wajah mereka.


Hingga malam itu mereka memutuskan untuk pulang, dan mencari kembali keesokan hari nya. Namun takdir berkata lain, saat mereka dalam perjalanan pulang sesuatu terjadi. Terjadi kecelakaan terhadap keluarga Pak Priadi.


Mobil Pak Priadi menabrak truk yang sedang terparkir di tepi jalan, tabrakan itu menyebabkan Pak Priadi dan Ibu Lusi meninggal di tempat kejadian. Dan Ismi anak bungsu mereka yang berada dalam mobil itu meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Kabar itu pun sampai ke kampung halaman Pak Priadi. Namun sayang Lutfi tidak mengetahui kabar bahwa keluarga nya mengalami kecelakaan, dan meninggal saat mencarinya.


Karena di kota ini Pak Priadi hanya tinggal bersama anak istrinya dan tidak mempunyai saudara. keluarga Pak Priadi dari kampung pun berdatangan ke kota tersebut untuk mengurus keperluan pemakaman.


Semenjak kejadian itu, rumah mengalami banyak berbagai keanehan dari hari ke hari. Pernah suatu malam tetangga sebelah saat menjelang maghrib melihat sosok hitam besar berdiri di samping jendela rumah, dan masih banyak kejadian lagi yang aneh di dalam rumah itu.


"Begitu lah bu, cerita dari pemilik dan rumah yang baru saja ibu beli" ucap Bu Yani setelah menceritakan.


Ayah dan Ibu pun saling menatap setelah mendengar cerita Bu Yani. Dalam hati mereka tentu saja semakin cemas.


"Nanti kita obati saja rumah nya, kita minta tolong ustad Arif untuk membersihkan rumah dari gangguan gaib" ucap ayah menenangkan ibu.


Tak begitu lama, dari samping rumah terdengar suara ada yang membuka pintu.


"ayah mungkin itu ketua Rt sudah pulang" ucap ibu sambil menunjuk ke rumah dibsamoing bu Yani.


"Baik bu, kalau begitu terima kasih untuk cerita dan waktu nya. Ibu baik sekali sampai menawarkan kami menunggu di rumah ibu Yani, kami pamit ya bu untuk ke rumah ketua Rt, mengurus surat kepindahan alamat kami" ucap ayah berpamitan kepada Bu Yani.

__ADS_1


Ayah dan Ibu pun pamit untuk melanjutkan ke rumah ketua Rt.


__ADS_2