
Setelah melihat ayah memutuskan arus listrik dari kabel bel rumah kami, aku melanjutkan untuk makan. Ketika makan, ayah menasehati ku. Ayah berpesan agar aku tidak terlalu merasa takut, dengan hal aneh yang terjadi di rumah belakangan ini.
Aku sedikit kecewa kepada ayah, fikirku saat itu ayah tidak mengerti apa yang aku rasakan.
Saat ayah sedang menasehati ku, tiba - tiba ada suara keras yang menghantam tembok dari lantai atas.
"Braaaakkk.... " suara keras dari lantai atas.
Keluarga ku kaget mendengar suara keras itu,hingga membuat adik ku berteriak. Aku dan ayah langsung berlari ke atas menghampiri sumber dari suara itu.
Ketika kami sampai di atas, ternyata suara itu berasal dari suara bantingan pintu, yang berada di lantai atas menghantam tembok.
"Bagaimana bisa, sewaktu aku pulang pintu itu tertutup rapat ayah" Ucap ku sambil menunjuk ke arah pintu.
Lalu ayah memegangi pintu tersebut. Mungkin ayah merasa aneh, bagaimana bisa pintu yang tertutup rapat bisa terdorong oleh angin.
Ayah mengecek semua engsel pintu tersebut, namun ternyata tidak ada yang rusak. Karena engsel itu baru, pada saat proses renovasi ayah mengganti semua engsel pintu di setiap ruangan dengan yang baru.
Ayah pun menutup pintu itu. Lalu mengunci nya dengan tenang. Tapi aku tahu perasaan ayah saat itu, terlihat jelas raut wajah ayah masih merasa kebingungan atas kejadian yang tidak masuk akal tersebut.
Dulu ku kira semua kejadian mistis itu bohong dan hanya ada di dalam film saja. Tapi sekarang aku mempercayainya dan mengalami nya sendiri semua kejadian itu, semenjak menempati rumah ini.
Setelah itu, aku kembali turun bersama ayah menuju ruang keluarga. Kami pun melanjutkan kembali obrolan kami yang tadi tertunda.
Saat itu ayah berusaha mencairkan suasana. karena nampak dari raut wajah ku, ibu dan adik ku sangat tegang dengan kejadian suara pintu tadi.
"Mumpung ayah ada di rumah nih, bagaimana kalau kita makan di luar malam ini?" Ucap ayah mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ayoo.. aku ingin makan Kfc ayah" Saut adik ku shela dengan girang, sambil memeluk ayah.
"Kalau begitu, mari kita bersiap - siap. Selepas ashar kita berangkat" Saut ayah kembali.
Ibu dan aku hanya tersenyum, kami tahu maksud ayah mengajak kami keluar. Ayah bertujuan untuk mengalihkan perhatian kami dari semua hal yang telah terjadi.
Selepas ashar kami pun pergi, kami pergi menggunakan angkutan online. Karena saat itu keluarga kami belum mempunyai mobil. Di perjalanan, aku melihat adik ku cukup senang.
Adik ku tak henti - henti nya berbicara dan bernyanyi. Hingga membuat kami gemas melihat tingkah nya dan tertawa. Bahkan Supir angkutan online yang kami naiki pun ikut tertawa melihat tingkah adik ku ini.
Sampailah kami di tempat tujuan. Sebelum makan Ibu mengajak kami berjalan - jalan dulu di dalam mall, katanya ibu ingin mencari pakaian yang bagus untuk adik ku shela.
Karena hari minggu nanti adik ku akan menghadiri pesta ulang tahun teman nya.
Lalu kami memasuki satu persatu toko pakaian. Memang sedikit sulit mencari pakaian untuk adik ku ini.
Karena ukuran badan nya yang tanggung. Setelah lama berputar - putar di dalam mall, mencari pakaian untuk shela, akhirnya ibu mendapatkan pakaian yang di cari nya.
Setelah selesai membeli pakaian untuk shela, kami pun melanjutkan untuk makan. Sebenarnya perut ku masih merasa kenyang, karena sebelum berangkat aku sudah makan.
Tapi karena aku tidak enak dengan ayah dan ibu, apa boleh buat, akhirnya aku pun ikut memesan makanan juga. Kami pun makan dengan lahap saat itu.
Adik ku makan banyak sekali, hingga dia memesan 2 paha ayam, dan semua nya habis. Ya aku bisa memaklumi nya, karena itu adalah makanan favorit dari adiku.
Setelah makan, kami pun memutuskan untuk pulang. Karena melihat adik ku yang sudah mulai mengantuk, mungkin karena terlalu banyak makan. Lalu kami pun memesan kembali angkutan online untuk kendaraan kami pulang ke rumah.
Saat di perjalanan aku mulai merasa khawatir. Aku selalu saja khawatir saat menjelang malam tiba. Karena aku selalu terbayang dengan kejadian - kejadian yang aku alami setiap malam saat di rumah.
__ADS_1
Aku bertanya dalam hati, malam ini akan ada kejadian apalagi. Sebenarnya aku ingin sekali pergi dari rumah itu. Karena semenjak menempati rumah baru itu, malam ku menjadi tidak tenang dan selalu di selimuti rasa ketakutan.
Tak terasa kami pun sampai di rumah. Ayahku turun dari mobil, sambil menggendong adik ku yang tertidur saat perjalanan tadi. Aku pun meminta kunci rumah kepada ibu, agar aku bisa membukakan pintu rumah.
Saat aku baru saja membuka pintu rumah dan mencoba masuk, baru saja kaki kanan ku melangkah, tiba - tiba lampu ruang keluarga beserta televisi menyala sendiri. Padahal sebelum berangkat ruang keluarga dan televisi dalam keadaan mati.
Seingatku yang menyala hanya lampu atas beserta kamar, dan di lantai bawah hanya lampu halaman depan saja yang menyala. Aku sontak kaget dan berteriak sambil berlari keluar rumah saat itu.
Ayah yang berada di belakang ku juga ikut terperanjat kaget, melihat kejadian tersebut dengan mata kepala nya sendiri. Lalu ayah dengan berani masuk lebih dahulu ke dalam rumah.
Ayah membaringkan shela yang yang tadi tidur di pangkuan nya ke dalam kamar. Lalu ayah duduk di sofa ruang keluarga dan berucap.
"Kalian sudah keterlaluan mengganggu keluarga ku, kalau berani tampak kan wujud kalian di hadapanku!!" Ucap ayah melihat sekeliling rumah dengan emosi.
"Hey ayah, sudah.. sudah jangan membuat keadaan semakin mencekam" saut ibu memegangi ayah mencoba menenangkan.
Ayah pun terdiam saat ibu menenangkan nya. Tak berselang lama hp ayah berbunyi, dan ayah pun menerima panggilan telepon dari hp nya.
Ternyata itu telepon dari om Rusman adik ayah, yang memberitahu bahwa dagangan jualan ayah sudah habis. Dan dia memberitahu ayah bahwa dia akan ke rumah.
Kemudian ayah pun menutup panggilan telpon nya, lalu ayah menatapku dan memerintahkan ku untuk membersihkan diri. Aku pun menuruti perintah ayah, lalu aku pun berjalan melangkah meninggalkan ruangan itu menuju kamar.
Di dalam kamar aku merenung, aku sedih dengan semua kejadian yang menimpa keluarga kami. Kami yang seharusnya merasa bahagia, karena bisa mewujudkan impian kami untuk mempunyai rumah sendiri.
Saat ini malah terbalik, kami selalu di selimuti rasa kecemasan dan kekhawatiran semenjak mempunyai rumah baru.
Selesai berganti baju dan membersihkan diri, aku kembali turun ke lantai bawah untuk berkumpul di ruang keluarga. Saat aku turun ternyata om Rusman sudah ada di rumah.
__ADS_1
Aku lihat om Rusman sedang mengobrol dengan ayah. Semenjak renovasi hingga rumah ini di tempati oleh keluarga kami, baru kali ini lah om Rusman kembali ke rumah.
Om Rusman pernah berkata, dia masih trauma atas kejadian beberapa minggu yang lalu. ketika om Rusman sedang berjaga malam, sewaktu rumah ini masih dalam proses renovasi, ada suara wanita yang sedang menangis.