Rumah Terminal Gaib

Rumah Terminal Gaib
Eps. 4 Mulai Menempati Rumah


__ADS_3

Saat aku sedang tertidur, aku terbangun mendengar kegaduhan di depan halaman rumah ku. Aku mencoba berjalan menuju jendela untuk melihat. ternyata aku melihat ayah turun dari mobil ustad Arif dalam keadaan lemah tak berdaya, sedang di bopong oleh kedua teman ustad Arif.


Aku langsung membangunkan ibu bermaksud untuk memberitahu nya bahwa ayah pulang, namun karena aku membangunkan ibu terlalu keras hingga membuat adik ku terbangun.


Lalu Ibu pun membukakan pintu. Ibu sangat terkejut melihat kondisi ayah pulang dalam keadaan lemah tak berdaya. Saat itu Adik ku berteriak menangis melihat kondisi ayah.


"huaaaaa, ayaaaaah kenapa" teriak adiku shela saat melihat ayah.


"Sini shela sama kaka, biar ayah di bawa masuk dulu oleh ustad Arif. saut ku menenangkan shela.


Ayah pun di bopong masuk ke dalam rumah. Kemudian Ustad Arif menceritakan kronologis mengapa ayah terjadi seperti ini kepada ibu.


Setelah bercerita, Ustad Arif meminta ibu untuk membawa segelas air, kemudian ibu berjalan ke arah dapur untuk membawakan nya.


Lalu ustad Arif membacakan do'a pada segelas air itu dan meminumkan nya kepada ayah. Tak berselang lama setelah ayah meminum nya, ayah mulai terbangun untuk duduk, namun kondisi nya sedikit agak linglung.


Saat dalam kondisi setengah sadar, ayah menceritakan tentang sosok yang dia lihat di rumah itu hingga akhir nya membuat dia tak tersadar saat itu.


Aku merinding mendengar ayah menceritakan sosok wanita tersebut, bulu kuduk ku berdiri. Tak terbayangkan bila aku yang mengalami nya, jangankan untuk berlari mungkin aku tak akan bisa bergerak sedikit pun saat itu.


Ustad Arif pun menceritakan kepada ayah, bahwa penghuni rumah nya, menginginkan kepala kambing hitam di kubur di halaman rumah, sebagai syarat agar mereka semua pergi.


"Baik kalau begitu ustad Arif, besok pagi saya akan mencari kambing hitam untuk memenuhi syarat itu" ucap ayah dalam keadaan yang masih letih.


Lalu Ustad Arif dan kedua teman nya berpamitan untuk pulang.


Keesokan pagi harinya, ayah berkeliling ke pinggiran kota bersamaku. Saat itu ayah menyewa mobil kol buntung, untuk mempermudah kami membawa kambing yang akan kami beli nanti. kemuadian kami menemui beberapa peternak untuk mencari kambing berwarna hitam.


Aku berkeliling di pinggiran kota dengan ayah cukup lama, hingga entah berapa lama dan berapa perternakan yang telah kami datangi dan kelilingi.

__ADS_1


Hingga saat itu kami menemukan perternakan terakhir yang sangat jauh dari pusat kota. Kami mencoba menanyakan kembali tentang kambing berwarna hitam itu, kepada peternak.


Kami bersyukur setelah berkeliling cukup lama, ternyata di peternakan terakhir yang kami kunjungi, menjual kambing berwarna hitam. Tapi kambing berwarna hitam itu masih sangat muda.


Harga nya pun cukup mahal sekali. Karena aku dan ayah sudah tidak tahu lagi harus mencari kemana, ayah pun langsung membelinya.


Setelah membeli kambing hitam muda, kami langsung pulang menuju rumah. karena sore harinya, ayah dan Ustad Arif akan melakukan ritual penguburan kepala kambing hitam di rumah itu untuk memenuhi syarat.


Saat di perjalanan pulang, aku berbincang dengan ayah. Aku mencoba memberanikan diri, bertanya tentang rumah baru kami.


"Ayah, apa aku boleh bertanya?" tanya ku kepada ayah.


"Silahkan nak, mau bertanya apa?" jawab ayah.


"Apa rumah baru yang akan kita tempati aman untuk keluarga kita? aku khawatir setelah beberapa kejadian yang terjadi di rumah itu" tanya ku kembali kepada ayah.


"Insya allah, Kita kan sudah berusaha untuk mengobati rumah itu, mungkin setelah syarat ini terpenuhi semua akan baik - baik saja. Perbanyak saja berdo'a dan perbaiki solat mu, agar kita di jauhi dari marabahaya" jawab ayah.


Aku merasa sedikit tenang saat itu, mendengar jawaban ayahku yang cukup bijak dan menenangkan hati. Aku pun berusaha membuang pikiran cemasku saat itu, menanamkan keyakinan bahwa semua akan baik - baik saja.


Sampailah kami di rumah, kami sampai di rumah pukul 14.00 menjelang sore hari, karena perjalanan kami cukup jauh dan memakan waktu.


Saat sampai di rumah, ternyata Ustad Arif dan kedua teman nya sudah menunggu di rumah. Kami pun segera turun dari mobil untuk memasuki rumah.


Di dalam rumah, ayah bercerita bagaimana susah payah nya mencari kambing Berwarna hitam polos ini. Mereka bercanda dan tertawa lepas agar situasi ketegangan ini sedikit tercairkan.


Selapas ashar, mereka pun berangkat ke rumah baru kami, untuk menjalakan ritual syarat penguburan kepala kambing hitam ini.


Sesampainya di sana, ayah melihat ada ketua Rt sedang mengobrol dengan salah satu warga. Ayah pun turun dan menyapa, ayah meminta pak Rt sebagai saksi dari ritual ini, agar tidak ada fitnah kepada keluarga kami dari warga sekitar dengan apa yang kami lakukan.

__ADS_1


Pak Rt pun bersedia, mereka langsung memulai proses nya. Saat proses baru di mulai, tiba - tiba angin bertiup sangat kencang seolah memberi tanda bahwa mereka para makhluk halus penunggu rumah, menunggu proses penguburan ini.


Perhatian ayah dan yang lain tidak teralihkan, mereka terus melakukan proses nya, karena khawatir tidak selesai saat petang. Warga sekitar pun berdatangan melihat proses ini karena rasa penasaran.


Akhirnya proses penguburan kepala kambing hitam itu pun selasai sebelum petang, Ustad Arif mengajak ayah dan beberapa warga yang melihat proses untuk berdo'a, agar dengan di laksanakan nya proses ini ke kawatiran keluarga ayah dan kecemasan warga di lingkungan itu selama ini sirna, dan lingkungan menjadi aman.


Hari itu pun berlalu, tibalah keesokan hari nya. Hari ini adalah hari dimana kami mulai menempati rumah baru kami. Kami sekeluarga pun di sibukan dengan memindahkan barang, dari kontrakan awal yang kami tempati ke rumah baru kami.


Semua barang yang kami punya di kontrakan dulu kami pindahkan ke rumah baru. Memang barang yang kami punya tidak bisa memenuhi semua ruangan rumah baru kami.


Tapi kata ayah tidak apa - apa. Sambil berjalan menempati rumah baru, kami bisa menyicil membeli barang satu persatu untuk mengisi sisa ruang kosong di rumah baru.


Rumah baru kami cukup lumayan luas. Di lantai bawah ada 6 ruangan. Ruang tamu, Ruang keluarga, 2 kamar tidur, Dapur, dan juga Kamar mandi. Sementara di atas ada ada 7 ruangan. 3 Kamar tidur, kamar mandi, mushola, ruang keluarga dan ruangan jemur pakaian.


Hari itu kami sangat sibuk sekali, di mulai dari mengangkut barang dari kontrakan, menata posisi barang, dan membersihkan rumah, semua di lakukan hanya oleh kami saja sekeluarga berempat.


Waktu pun cepat berlalu, setelah kami selesai melakukan semua itu, tak terasa adzan maghrib sudah berkumandang. kami pun bergegas mandi secara bergantian karena kamar mandi hanya ada dua saja.


Selepas maghrib, ayah mengajak kami untuk makan malam keluar rumah. Katanya ayah ingin sekalian melihat perabotan untuk rumah kami yang baru.


Aku dan adik ku shela pun senang mendengar ayah mengajak makan malam di luar, karena sudah lama sekali kami tak melakukan hal itu.


Lalu kami berangkat menuju salah satu Mall yang jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Kami makan malam bersama di sana, berjalan - jalan, dan membeli beberapa perabotan rumah. Setelah selesai kami pun pulang.


Setelah sampai di rumah, kami langsung menuju kamar kami masing - masing untuk istrahat. Karena seharian ini kami sekeluarga sudah sangat lelah seharian melakukan pindahan rumah dan membersihkan rumah.


Malam pertama kami menempati rumah itu, aku merasa tidak terjadi hal aneh apapun. Mungkin karena tidur kami cukup pulas karena kelelahan. Jikalau semalam ada terjadi sesuatu yang aneh pun pasti kami tidak menyadari nya.


Tibalah pagi hari aku terbangun untuk bersiap - siap pergi sekolah. Ibu ku pagi hari itu sangat sibuk memasak, menyiapkan sarapan untuk kami.

__ADS_1


Aku sangat bahagia saat itu, karena impian kami mempunyai rumah sendiri, akhirnya terwujud. Tapi saat itu aku tidak tahu bahwa rumah itu, ternyata adalah petaka untuk keluarga kami.


__ADS_2