Saat Istri Berhenti Peduli

Saat Istri Berhenti Peduli
15.episode 15


__ADS_3

Saat siang hari di perusahaan R'corp tepatnya perusahaan Farhan,dia sedang termenung dengan mata fokus ke arah iphone mahalnya,sejak waktu makan siang datang hp nya tak ada dering atau notifikasi dari Naysila.


Naysila?ya Naysila dia bahkan tak tau sejak kapan hatinya gundah gulana karena tak bertemu selama tiga hari meski tinggal dalam satu atap yang sama.


Fikirannya yang selalu berfikir jika Naysila hanya pura pura bersikap acuh padanya,tapi hati tetaplah yang paling tidak bisa di bohongi jika dia merasa sakit saat Naysila tak memperdulikannya lagi.


Gengsi yang besar tak dapat membuatnya untuk menghubungi atau sekedar berkirim pesan pada Naysila.


Jarinya pun melihat dan flashback melihat dan membaca pesan pesan dari Naysila tanpa ada tulisan atau kalimat jawaban sedikitpun darinya.


Diatasnya terdapat tulisan online menandakan Naysila sedang aktif.


Terasa ada gurat penyeselan yang di rasakan Farhan,sesekali Farhan melihat foto profil Naysila yang sedang tersenyum ke arah kamera.


Tanpa sadar bibir Farhan tertarik ke atas melihay potret Naysila.


Bahkan hingga istirahat makan siang usai tak ada satu notifikasi pun dari Naysila,hingga terlihat gurat kecewa dari wajah Farhan.


"padahal dia sedang online".Gumamnya.


Saat sedang melamun Farhan di kejutkan dengan suara ketukan pintu.


Tok....tok....tok...


"Masuk!".


Mendapat respon dari dalam,orang yang mengetuk pintu itu pun membuka pintunya.

__ADS_1


Terlihat seorang pria masuk kedalam ruangan Farhan.


"Tuan anda belum makan siang apa perlu saya bawakan,kebetulah anda tidak ada jadwal selam 2 jam kedepan".Ucap pria tersebut.


Farhan hanya menghela nafas berat sambil melirik sekilas kearah handphonenya lalu memasukkan handphone tersebut kedalam saku jas nya.


"Baiklah Tio tolong pesankan aku soto ayam saja dan es teh tawar".Jawab Farhan.


"Baik tuan pesanan anda akan segera sampai",Tukas pria yang di panggil Tio itu.


"Ya terima kasih tio".


Tio hanya mengangguk lalu berbalik pergi sambil menutup pintu.


Tio adalah sekretaris sekaligus asisten Farhan,dia bahkan sudah di anggap adik oleh Farhan karena kinerja dan dedikasinya pada perusahaannya sangat baik dan selalu ada di saat Farhan sedang mengalami keadaan yang tak baik.


"Silahkan tuan"


"Eem nya terima kasih,apa kau sudah makan siang Tio"


"Sudah tuan....kalau begitu saya keluar dulu".


Farhan hanya menanggukkan kepalanya saja.


Saat Farhan memasukkan satu suap sendok ke dalam mulutnya,lagi lagi dia teringat masakan yang di buat Naysila,bahkan sekarang lidahnya tak menerima makanan yang di masak orang lain,meski lidah menolak tapi perutnya merasa mual dan tubuhnya lemas,karena saat berangkat dia tak sarapan dengan benar dan kini perutnya yang terimbas.


Meski tak berselera soto ayam itu pun tandas habis tak tersisa.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam,Farhan meregangkan otot ototnya dan bernafas lega seraya mematikan laptopnya,lalu membereskan meja dan barang barangnya.


Lalu menghubungi asistennya Tio guna mengantarkan nya pulang,entah kenapa di sangat malas untuk menyetir.


Farhan segera keluar dari ruangannya setelah mendapat jawaban dari Tio jika dia sedang menunggu tuannya di pintu lobi.


Terlihat masih ada beberapa karyawan yang masih hilir mudik kesana kemari karena lembur.


Cukup menguras waktu akhirnya selama 30 menit menempuh perjalanan Farhan sampai di mansionnya.


Sementara Tio putar balik untuk pulang ke apartemen yang tak jauh dari mansion Farhan berada.


Saat Farhan membuka pintu lagi lagi sepi...tak ada sambutan hangat, tak ada sapaan ramah,ataupun sosok wanita yang mulai mengisi hatinya,mengisi?Farhan juga bingung kapan rasa itu mulai berakar di hatinya.


Saat melewati ruang makan terlihat bi Asih sedang menyajikan makanan tanda sudahndi panaskan kembali.


"Tuan anda sudah pulang...mari tuan makan malam dulu bibi sudah hangatkan"ucap bi Asih.


"siapa yang masak bi?",tanpa menjawab pertanyaan dari bi Asih Farhan malah balik bertanya.


Pertanyaan dari Farhan sontak membuat bi Asih kikuk,ada apa dengan tuannya ini...baru kali ini Farhan bertanya padanya siapa yang memasak...dan bi Asih sepertinya tau isi dari pertanyaan Farhan ini.


"Yang masak saya tuan".


Farhan hanya mengangguk,kemudian tanpa berkata apapun dia langsung melangkah dan menaiki tangga,namun saat akan melangkah kepalanya menoleh kearah kamar di tepatvdi sebelah tangga.


Seperti tak ada kehidupan layaknya saat dia belum menikah kamar itu kosong,sama seperti saat ini terlihat kosong!.

__ADS_1


__ADS_2