
Hari hari telah berlalu setelah kedatangan nyonya dan tuan Rajasa,hubungan Naysila dan Farhan kembali seperti semula dimana hanya ada bentakan dan ucapan kasar dari Farhan untuk Naysila.
Tapi Naysila rupanya masih kuat dan terus bersabar menghadapinya,apakah stok kesabarannya masih masih banyak?entahlah dia hanya yakin dan percaya suatu saat suaminya akan berubah,tapi kapa?hatinya juga sedikit sedikit mulai goyah.
Entahlah....hanya Naysila yang tau.
Seperti biasa juga Naysila tak pernah lelah mengetik pesan pada Farhan saat suaminya tengah berada di kantor,dan selalu menampilkan senyum hangatnya yang tak pernah surut saat menyambut sang suami pulang.
Apakah Farhan peduli?jelas tidak,dia bahkan selalu menampilkan wajah datar dan dinginnya pada Naysila.
Bahkan nomor Naysila di blok olehnya.
Naysila selalu bertanya tanya pada dirinya,apa salahnya?kenapa Suaminya setega itu padanya?apa karena dia miskin?atau apa?.
hanya ada apa dan kenapa yang ada dalam fikiran Naysila tentang perilaku Farhan.
-
-
-
-
Pagi menyabut,Naysila tetap optimis dengan keyakinan,dia bangun dan mekakukan rutinitasnya sebagai seorang istri memasak dan menyediakan makanan di atas meja.
dan begitu lah meski tak pernah disentuh oleh suaminya kecuali saat terakhir kali orang tua suaminya bertandang kerumah.
"Mas sarapan dulu",sapa Naysila dengan tersenyum hangat.
Tak ada jawaban atau apapun hanya ekspresi datar yang di tampilkan Farhan,dan berlalu pergi begitu saja.
"Ya Allah..hiks...hiks",ucap Naysila yang lagi lagi berderai air mata.
__ADS_1
Saat siang hari untuk menghilangkan kegundahan hatinya Naysila memilih pergi keluar untuk sekedar jalan jalan dan menghirup udara,berharap dapat merilekskan fikirannya.
Saat sedang berada di taman dan duduk sembari menghirup angin segar dia dikejutkan dengan suara tangisan seorang anak perempuan kira kira berumur 6 tahunan dengan lutut yang sedikit lecet dan kunciran rambut yang berantakan.
"Ya Allah....hey sayang...kenapa menangis hem,dimana orang tuamu sayang?".Tanya Naysila dengan penuh kelembutan.
"Hiks....hiks...tadi lili sedang bermain sama papih hiks...terus...terus lili liat kucing dan ikutin kucing itu tapi lili tersesat dan pisah sama papih dan lili juga jatuh hiks..lututnya sakit..huaaa",ujar anak itu dengan mata berair memenuhi pipi gembilnya.
Naysila langsung menggendong anak itu sembari menggendongnya dengan menepuk nepuk punggung anak itu.
"Cup...cup..cup...anak pinter gak boleh nangis ya.Ayo kita cari papih lili".Ujar Naysila menenangkan sembari melepas mengurai pelukannya dan menghapus air mata anak itu.
"Ya ampun,lili sayang...".Ujar seorang pria dari arah belakang yang mengagetkan Naysila.
"Eh...emm maaf mas ini anaknya,tadi dia nangis katanya pisah sama papihnya dan lututnya juga agak lecet".Ucap Naysila sembari memberikan Lili pada pria itu.
"eehh bukan mbak saya uncle nya dia ponakan saya,kebelutan saya tadi di telpon oleh ayahnya katanya Lili hilang alhasil saya langsung kemari dan untunglah Lili berada di tangan orang tepat".Ujar pria itu dengan senyum canggung nya,karena melihat wajah Naysila yang terlihat cantik alami tanpa polesab make up tebal,Namun pesonanya membuat pria itu gugup.
"Ya ampun saya uncle sampai lupa nanyain kamu,mana yang sakit coba uncle lihat".Ujar pemuda itu sembari mendudukan anak perempuan itu di kursi kayu yang ada di taman itu.
Setelah selesai mengobati lutut anak itu kemudian pemuda itu memperkenalkan dirinya pada Naysila.
"Kita belum kenalan ya,kinalin nama saya Ravin krhis Laurent,ini keponakan saya Lili shiren krhis Laurent putri kakak saya",jelas Pemuda itu yang bernama Ravin,"dan kamu...".
"Saya Naysila,kebetulan tadi saya sedang duduk disini,dan mendengar seorang anak yang sedang menangis"jawab Naysila.
"Tadi kata Lili dia sedang bermain dengan ayahnya lalu terpisah"lanjut Naysila.
pukkk
"Ya ampun aku sampai lupa dengan bang Reno",Ravin menepuk jidat nya karena lupa jika mengabari sang kaka jika putrinya telah di temukan
Tanpa babibu Ravin langsung menghubungi kakaknya.
__ADS_1
Naysila hanya menggeleng pelan melihat tingkah Ravin.
"Hallo".
-
"Bang gue udah nemuin Lili,du taman sebelah barat dekat air man...".
tuttt.
belum sempat menyelesaikan ucapannya telepon langsung terputus dari sebrang sana.
"**** dasar...belum selesai jua".Umpat Ravin dengan kekesalannya.
Saat melihat kebelakang di mendapatkan Lili tengah tertidur dalam dekapan Naysila dengan Naysila yang menepuk pelan punggung anak itu.
Hati Ravin menghangat melihat Lili bisa langsung dekat dengan orang yang baru di temuinya.
saat sedang melihat pemandangan indah itu,pundak Ravin ada yang menepuk dengan sedikit keras.
"Shitt"
"Mana Lili?",tanya seorang pria yang menepuk pundak Ravin.
Ravin hany menunjuk dengan dagunya
Tanpa mengatakan apapun pria itu melihat Lili yang sedang tertidur dalam dekapan seorang wanita yang asing menurutnya.Lalu melangkahkan kakinya menuju Naysila.
"Ehem siap kau...kenapa putriku ada bersama mu?",tanya pria itu dengan nada dingin.
Naysila terkesiap mendengar ucapan seseorang yang tiba tiba beridiri di depannya.
Sebelum Naysila menjawab,Ravin sudah mendahuluinya.
__ADS_1