
"Nona apa yang kau lakukan?" Ucap seorang pria yang membuatku terkejut.
"Aku tak tahu apa yang membuatmu melakukannya. Tapi apa kau tak memikirkan orang-orang yang akan kau tinggalkan?" sambungnya lagi.
Dia menyalakan rokok sambil duduk diatas pembatas jembatan tempatku berdiri. Sesekali menghisap batang rokok yang sedikit membuatku sesak.
"Kalau boleh ceritakan padaku apa masalahmu?" sambungnya lagi.
Ku mulai ragu dengan apa yang sedang kulakukan. Tapi hati ini terlalu sakit untuk melupakan apa yang sudah terjadi.
"Ayolah nona, pasti orang tuamu sudah menunggumu?" Bujuknya lagi.
Deg, Wajah mamaku terlintas dimataku. Bertapa sedihnya beliau nanti ketika melihat anak perempuannya mati konyol karena cinta.
Aku menurunkan kakiku. Tak henti-hentinya meratapi kebodohanku. Terduduk menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis nona? masuklah ke mobilku dulu, nanti aku antarkan kau pulang" membukakan pintu lalu menutupnya. sekilas ku lihat dia menelepon, Kurang dari 5 menit kemudia dia masuk ke mobil menyalakan mesin dan mulai melaju.
Suasana hening memenuhi mobil yang melaju sedang ini " Nona dimana alamatmu?"
Ku katakan dimana alamatku, sekitar 15 menit sampai sudah di depan rumah sederhana berlantai dua dengan halaman depan penuh dengan tanaman yang asri.
"Terima kasih" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
Senyum menghias di wajah pria paruh baya itu. Wajah yang teduh yang penuh kharisma.
Dia mengangguk kemudian melajukan mobil hitamnya menghilang dipekatnya malam.
Dibukanya pintu rumah, Kulihat wajah wanita yang telah melahirkanku. Ku menangis tersedu memeluknya. Hanya Elusan lembut di punggungku tampa kata apapun.
"Mandilah dulu, mama akan siapkan makan malam"
Ku menuju kamarku. Rasa sakit ini kembali menghinggap di hatiku. Ku tepuk-tepuk dadaku dengan keras sambil membungkap mulutku agar suara tangisan tak keluar.
Kesetiaanku selama 5 tahun ini berbuah penghianatan. Alvin, Begitu senangnya aku membaca pesan darinya. Setelah dua minggu tak bersua akhirnya rasa rindu ini akan terobati.
Kulihat mobilnya didepan kantorku. Begitu bahagianya hatiku. Orang yang kucintai jauh-jauh dari luar kota hanya ingin menemuiku.
Kupeluk dirinya erat, Namun tak ada balasan seperti biasanya.
"Rachel?" Alvin memegang kedua bahuku. "Maafkan aku, Kita harus mengakiri hubungan kita?"
__ADS_1
Deg
"Apa maksudmu vin? jangan bercanda?" kataku dengan suara bergetar.
"Bella hamil" ia memalingkan mukanya dariku.
"Lalu kenapa kalau Bella hamil? apa hubungannya denganku?" ku masih tak percaya.
"Dia hamil anakku" Jawabnya.
"Maafkan aku?? Bukan maksudku menyakitimu, Aku khilaf" Dia tertunduk. Namun apa mau dikata nasi sudah jadi bubur. Ku menangis sejadi- jadinya. Kini baru kusadari kebodohanku. Alvin hanya memanfaatkan aku. Semua barang-barangnya adalah pemberianku. Bahkan mobil yang ia kendarai adalah hasil kerja kerasku selama 3 tahun ini. Kisah cinta 5 tahun hanya perlu 5 menit untuk mengakhirinya.
Ingin ku sumpahi dia, Namun apa? Hanya tangisan yang mampu keluar dari mulutku.
Diberikan kunci mobil padaku. Dia meninggalkanku sendiri. Ku bingung apa yang harus ku lakukan. Pikiran kalut, shock dan hancur yang kurasakan.
"hel" sebuah panggilan menyadarkanku. kuhapus sisa air mataku.
"Apa kau baik- baik saja" kata joice sahabatku.
"Yeah, Aku ingin sendiri jo, Bisakah kau bawa mobil ini?"
Dia mengangguk."Aku tak kan bertanya. jika kau butuh teman curhat, aku selalu ada untukmu.
"Kau mau kemana?" jojo menerima kunci itu.
"oke!! aku tahu kau ada masalah dengan pacarmu.Tapi ingat jangan macam- macam" Ancam joice.
"Aku hanya butuh angin segar jo, Pergilah". Kulihat jojo panggilan akrab joice mengemudikan mobil berwarna putih itu meninggalkanku.
Ku berjalan. Tak berpikir ku berjalan kemana. Sakit hati ini kembali menyeruak. Air mata turun tampa suara. Tatapan orang yang ku lalui tak ku hiraukan. Hingga tiba di tengah jembatan. Malam sudah semakin larut dan jalan semakin sepi. Angin menerpa wajahku.Dingin kulihat sungai bawah jembatan namun yang tampak hanya kegelapan. Hati kecilku berbisik mungkin dengan mati rasa sakit ini akan hilang. Kulepaskan highhells yang terpasang apik di kakiku. Pagar pembatas yang tingginya kurang lebih 90cm kupanjat dengan mudahnya.Angin malam semakin kuat menerpa tubuhku. Rasa takut mati tiba-tiba menghampiri namun seketika itu ku tampik.
ku kumpulkan niat untuk segera terjun. Tiba-tiba seseorang pria seumuran kakak laki-lakiku datang. membuatku membatalkan niat bodohku itu.
---
Pagi hari ini begitu berat bagiku. Bahkan mataku tak biaa kubuka karena bengkak efek semalam menangis.
Seluruh keluargaku sudah bersiap sarapan pagi. Tak ada tawa ataupun candaan yang biasanya tak pernah absen tiap harinya. Aku memilih hanya mengambil segelas susu dan kembali ke kamar. Sempat ku lirik wajah mamaku khawatir. kusunggingkan senyum padanya pertanda aku baik- baik saja.
Ku kirim pesan pada Joice supaya ia mau menyampaikan ijinku pada HRD tempatku bekerja.
__ADS_1
"Baiklah, Semoga lekas membaik" Jawabnya singkat.
Ku teringat pada pria yang menolongku semalam. kenapa hanya "Terima kasih yang keluar dari mulutku" . Namun ku buang rasa bersalahku itu.
Hari ini ku bertekat akan kulupakan Alvin. Toh dia yang rugi meninggalkan aku. Untung saja selama ini aku selalu menolaknya saat dia ingin melakukan hubungan intim.
Beberapa kali ku lihat pesan dari alvin.
Alvin : Maafkan aku
Alvin : Tolong maafkan aku hel.
Alvin : Aku masih mencintaimu hel
Alvin : Tunggu aku, setelah anak ini lahir aku akan kembali padamu.
"*******, Tak tau malu" Ucapku.
Selama ini aku salah menilainya. Kukira dia pria yang sangat bertanggung jawab namun ia hanya tak lebih dari seorang ********.
Ketukan pintu membuyaran lamunanku. Ku bukakan pintu disana ada mama yang membawa sepiring nasi berserta *****-bengeknya. Namun tak ada napsu untuk melahapnya.
"Rachel? Mama tahu kau ada malah dengan Alvin nak. Tapi jangan siksa dirimu"
"Rachel baik-baik saj mah. Dia bukan jodoh Rachel mungkin" ucapku kuat.
Mama membelai puncak kepalaku. Dia begitu bangga. Sebenarnya mama beberapa kali menolak hubunganku dengan Alvin. Karena kata teman mama, beliau melihat Alvin bersama wanita lain di mall saat menemani suaminya dinas. Namun tentu saja aku tak percaya karena kami berdua masih begitu intens berhubungan via telepon ataupun videocall.
Mungkin inilah jalan Tuhan. Sebelum aku. melangkah semakin jauh Dia menunjukan wajah asli orang yang selama ini ku cintai.
Sakit? Memang sakit. Kecewa? Sangat kecewa sekali. Beginikah cara Tuhan mendewasakan hambanya?. Bila waktu bisa diputar, aku akan memilih tidak mencintainya bila begini sakitnya rasanya dihianati.Semakin tinggi harapan semakin sakit pula saat terjatuh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa vote dan likenya ya? Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.