
Berharap pada manusia itu sungguh sangat menyakitkan, itulah yang di rasakan oleh Annisa saat ini.
Annisa telah berusaha menerima yang telah di takdirkan. Tapi hati tetap tidak bisa berpaling. Hatinya telah terpaut kepada Azwar, Annisa mengagumi pria itu dalam diam semenjak Azwar mengutarakan niat baiknya. Berusaha menjaga pandangan karena janji yang telah terucap.
Tapi yang terjadi tidak sejalan yang di harapkan. Bertahan menunggu hanya karena sebuah janji. Bahkan yang mengucapkan janji pun seakan telah lupa dengan apa yang diucapkan. Apakah ini , yang di namakan tidak berjodoh.
Annisa hanya bisa menyimpan dalam diam perasaannya, Hanya kepada sang pencipta tempat ia mencurahkan segala perasaan yang dia rasa, berharap rasa yang pernah ada akan hilang. Tapi yang di rasakan Annisa seakan perasaan nya semakin besar. Menekan rasa itu bukan perkara mudah, ditambah lagi harus sering bertemu karena Azwar yang mengurus semua acara pernikahan.
Sudah 2 hari Azwar sudah tak datang lagi kerumah pak Radit untuk dekorasi akad nikah, Rita yang terlihat sibuk untuk mendekor ruang yang akan di pakai untuk berlangsungnya akad nikah. Semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Annisa melihat takjub dengan dekorasi yang di buat Rita, semua dekorasi telah di buat sesuai dengan keinginan Annisa.
H - 1, menuju hari akad nikah, kini MUA ternama yang datang untuk melakukan perawatan untuk calon pengantin wanita, MUA yang datang melihat takjub dengan dekorasi kamar pengantin yang begitu indah.
" Wow mbak Annisa sungguh indah kamarnya, jadi pengen jadi manten lagi," ucap salah satu anggota MUA.
" Mbak bisa aja," jawab Annisa.
Annisa mulai melakukan semua rangkaian perawatan, dan yang terakhir adalah memakaikan Henna di tangan dan kaki Annisa.
" Mbak Annisa mau dituliskan nggak nama pengantin laki-lakinya?" ujar yang mengukirkan Henna di tangan Annisa.
" Terserah, bagusnya gimana," jawab Annisa.
" Nama pengantin laki-lakinya siapa mbak Annisa," tanyanya lagi.
" Ahmad Ridwan A." Jawab Annisa.
" kita buat inisialnya aja ya mbak," ucapnya
Annisa menjawab dengan senyuman.
__ADS_1
Semua rangkaian perawatan telah selesai kini para MUA itu pamit.
" Mbak Annisa kami pulang dulu ya, jangan lupa besok bangun pagi-pagi, kita akan mulai makeup setelah sholat subuh." Ucap salah satu anggota MUA.
" Siap mbak," Ucap Annisa.
*****
Malamnya Annisa tak bisa memejamkan matanya, ada rasa bimbang di hatinya karena masih menyimpan rasa untuk orang lain. Sedangkan besok ia akan menjadi istri orang. Annisa bangun dari pembaringan, mengambil wudhu dan menjalankan sholat tahajud untuk meminta petunjuk. Mengadukan semua yang ia rasa kepada pencipta. Meminta agar pencipta membolak-balikkan perasaannya agar berada pada orang yang tepat. Hingga azan subuh Annisa masih setia diatas sejadahnya. Selesai melaksanakan 2 rakat sholat subuh Annisa bergegas membersihkan diri karena tim MUA yang akan meriasnya akan segera datang.
Tak lama terdengar ketukan pintu, dan ternyata benar tim MUA telah datang. Dan mulai mendandani Annisa.
Tepat pukul 08.00 WIB Rombongan pengantin laki-laki tiba dengan membawa banyak hantaran, Di mulai dengan acara penyambutan pengantin laki-laki, dan diteruskan dengan acara lamaran, dan tibalah di acara inti di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, diteruskan tausiyah nikah dan sampailah di acara akad nikah. Annisa masih didalam kamarnya menyimak rangkaian acara dari layar tv di dalam kamar. Tapi Annisa tetap tak bisa melihat calon suaminya karena yang terlihat hanya bagian belakang calon suaminya. Sampai pak penghulu meminta pak Radit dan calon suaminya untuk memulai ijab kabul, dengan saling berjabat tangan.
" Ananda Ahmad Ridwan Azwar bin Kamil saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Annisa Al Latif binti Radit dengan seperangkat perhiasan di bayar tunai." ucap papa Radit
" Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Al Latif binti Radit dengan mas kawin tersebut." ucap pria yang sekarang telah menjadi suami Annisa.
" Sah"
"Sah,"
" Sah," ucap para saksi
Di saat Ijab Kabul itulah mata Annisa terbelalak untuk pertama kalinya Annisa melihat pria yang telah mengkhitbahnya dan sekarang telah menjadi suaminya. Anisa masih tak percaya pria yang mengucapkan ijab Kabul dalam satu tarikan nafas itu telah menjadi suaminya. Air mata Annisa jatuh begitu saja ketika melihat wajah laki-laki yang telah berstatus menjadi suaminya. Annisa hanya diam dan tidak beranjak dari tempat duduknya ketika Amira ingin membawanya keluar menuju tempat dimana akad nikah telah dilaksanakan.
" Annisa, ayo kita turun," ucap Amira.
Annisa hanya diam dengan air mata yang seolah tak mau berhenti.
__ADS_1
Karena lama dan Annisa tak kunjung turun akhirnya pengantin pria yang menjemput Annisa.
" Biar saya saja yang menjemput nya," ucap pria yang sekarang telah berstatus suami Annisa.
Pria yang telah berstatus suami nya pun sekarang berada di depan pintu kamar Annisa, Annisa melihat nya dan menundukkan kepalanya. Annisa masih diam di tempatnya. pria yang telah berstatus suami mendekati Annisa, ia berjongkok dihadapan Annisa sambil memegang tangan Annisa.
" Maafkan aku yang membuat mu menangis hari ini. Aku datang kepada mu sebagai suami mu untuk memenuhi janji yang aku ucapkan dulu. Apakah kamu tidak menerima pernikahan ini?" tanya Azwar.
Annisa menoleh kearah Azwar dengan air mata yang terus mengalir.
" Kamu jahat kak," ucap Annisa
" Maaf Nissa, kakak hanya mencoba memberikan kejutan untuk mu," ucap Azwar.
Azwar mencium tangan Annisa. menghapus air mata Annisa dan memeluk nya.
" Maafkan kakak, jangan nangis lagi. Atau jangan-jangan kamu tidak mengharapkan kakak yang jadi suamimu." ucap Azwar.
Annisa menggeleng saat mendengar ucapan Azwar.
" Annisa kira kakak telah melupakan janji itu," jawab Annisa.
" Udah nangisnya, ayo kita turun kasihan pak penghulu dan para tamu," ucap Azwar.
Azwar menggenggam tangan Annisa membawa Annisa turun bersamanya semua menyambut pasangan pengantin itu.
Azwar memakaikan cincin dijari manis Annisa. Kemudian Annisa mencium punggung tangan Azwar dengan takzim.
Sepasang pengantin itu pun menanda tangani surat-surat kelengkapan administrasi pernikahan, Sekarang mereka tidak hanya sah di mata agama tetapi sah di mata hukum negara juga. Pak penghulu memberikan buku nikah kepada Annisa dan Azwar. Setelahnya Acara ditutup dengan do'a.
__ADS_1