Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Wisudah S1


__ADS_3

"Alhamdulillah yaa Allah Terimakasih untuk semua berkah ini, akhirnya aku bisa menyelesaikan studi ku sebelum 4 tahun"


senyum cerah terbit dibibir mungil Sasa, ia menatap penuh haru ibu dan abangnya.


Sasa menyelesaikan studi Strata satunya dengan masa studi 3,4 tahun termasuk sangat cepat dibanding dengan teman-teman yang masih berjuang menuntaskan Skripsi yang tak kunjung usai.


"selamat yah sa sekarang kamu sudah sah menjadi Sarjana Ekonomi sekarang kamu sudah berhasil" ucap Ratna membuyarkan lamunan Sasa.


Sasa menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Ratna "tidak rat aku belum berhasil, justru ini adalah awal dari segalanya" balas Sasa sembari tersenyum manis.


"yah kamu benar sa, setelah ini akan dipusingkan dalam perihal mencari pekerjaan" ia setuju dengan pendapat sasa sembari mengusap punggung Sasa ia mangut-mangut paham.


"assalamu'alaikum" sapa seseorang dari arah belakang dengan suara bass khas seorang pria.


"wa'alaikumsalam" balas Sasa dan Ratna bersamaan.


pria itu tersenyum manis pada Sasa iya cukup terkesima dengan kecantikan Sasa yang sudah sangat cantik dan ditambah polesan makeup yang natural semakin menambah kecantikannya.


"sa, selamat yah atas gelarnya ini buat kamu semoga kamu suka" seraya menyerahkan seikat buket bunga plastik pada Sasa.


"terimakasih banyak Fin, sudah mau repot-repot datang"


"tidak repot sama sekali, aku senang bisa melihat mu tersenyum bahagia secara langsung" ucap Alfin dengan lembut.


Sasa menatap pria yang ada dihadapannya dengan tatapan haru, pria yang selalu ada di garis terdepan untuk membantu dan menolongnya kapan pun itu meskipun Sasa tak pernah meminta tolong karena Sasa adalah anak yang mandiri ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa menyulitkan orang lain.


Sasa tahu jika Alfin menyimpan rasa untuknya walau Alfin tak pernah mengatakannya secara langsung namun melihat dari gelagat Alfin Sasa bisa menebak jika Alfin menyukainya, karena itu Sasa hanya merespon dengan sewajarnya agar Alfin tak berharap lebih padanya.


"kamu juga yah Fin, semangat selalu semoga di wisuda berikutnya kamu sudah bergelar seperti diriku, usaha tidak akan mengkhianati hasil. terimakasih untuk semua kebaikanmu pada ku selama kita kuliah kamu ikut andil dalam pencapaian ku saat ini" jelas sasa dengan lembut.


"iya sa, aku akan semangat demi kamu" ucapnya pelan namun lebih terdengar seperti gumaman sehingga Sasa tak mendengarnya dikarenakan suara riuh diarea auditorium yang penuh dengan para wisudawan. Ratna yang berdiri diantara Sasa dan Alfin cukup jelas mendengar apa yang dikatakan Alfin, Ratna mendongakkan wajahnya menatap wajah Alfin yang terus memandangi Sasa Tampa henti


"Aah aku jadi kasian sama kamu Fin, tapi mau gimana lagi sasa hanya menganggap mu sebagai teman" batin Ratna merasa iba


"Sa acara foto-fotonya udah kan? kalau udah pulang yuk, keluarga sudah pada nungguin dirumah katanya mereka gak bakalan makan sebelum kamu datang tadi aku ditelpon sama bang Yusuf disuruh cepat pulang" sahut nur yang datang dari arah berlawanan.


nur adalah kakak sepupu Sasa. ibu nur dan Sasa bersaudara, usia nur dan Sasa tidak terpaut jauh hanya lebih tua beberapa bulan dari sasa, dan nur lebih dulu menyelesaikan studi D3nya sebagai bidan.


Sasa yang tadinya fokus pada Alfin dibuat terkejut dengan kehadiran nur yang datang secara tiba-tiba "astaghfirullahal'adzim bikin kaget kamu nur, ohya kenapa gak makan ajah kok malah nungguin aku, tolong beritahu bang Yusuf agar keluarga makan duluan ajah"

__ADS_1


"yaa Allah sa kamu kan tokoh utamanya, masa ia makan duluan sedang yang mau di doain gak ada kan aneh" sungutnya memutar bola matanya malas ia melirik Alfin sejenak lalu kembali menatap Sasa. ia penasaran dengan kehadiran Alfin namun malas untuk bertanya, Karena rasa lapar diperutnya lebih mendominasi.


"trus mama dan bang Ferdi mana?" Sasa celingak-celinguk kesana kemari mencari sosok yang dicarinya.


"tuh disana dibawa pohon lagi mengadem sambil nungguin kamu" nur menunjuk ke arah salah satu pohon yang cukup rindang di samping auditorium.


"yah udah yuk kita kesana" ajak Sasa pada nur dan Ratna.


"eh tunggu" potong Ratna berusaha menahan tangan Sasa agar berhenti "trus Alfin gimana?" tanya Ratna melirik Alfin.


"yaa Allah kok aku bisa lupa sih, maaf Fin saking pengen buru-buru nih yah gini kebiasaan suka gak fokus, Fin kamu ikut yah ke rumah, keluarga ku lagi Adain syukuran kecil-kecilan" ucap Sasa merasa tak enak karena mengabaikan keberadaan Alfin.


"nasib cinta satu arah, pasti selalu tak terlihat" batin Alfin seraya mengangguk tanda setuju iya berdiri 1 meter berada dibelakang para wanita.


mereka berjalan ke arah tempat dimana ibu Sania dan Ferdi berada yang sedari tadi hanya memandangi orang-orang lalu lalang dihadapannya.


"eh darimana ajah, udah ditungguin dari tadi" keluh Ferdi saat melihat Sasa dan nur mendekat, jujur saja sedari tadi iya sudah sangat bosan hanya duduk diam menunggu ditambah rasa lapar yang mencekik lambungnya.


"maaf bang tadi Sasa menyapa beberapa teman, Sasa gak enak asal main pergi gitu ajah, udah lama yah nunggunya?" ucap Sasa merasa bersalah dan hanya dibalas deheman oleh Ferdi.


"maafin Sasa Bu karena kelamaan" Sasa mendekat pada ibunya lalu menuntun nya berdiri.


"sa ini biar aku yang bawa" tawar Ratna karena melihat Sasa yang kesusahan memegang cukup banyak buket bunga ditangannya.


Ferdi yang melihat Ratna menawarkan bantuan hanya mengerutkan keningnya "siapa orang asing ini", ia melirik kearah nur meminta penjelasan, seolah paham dengan lirikan Ferdi nur hanya mengindikkan bahu tanda tak tahu.


"Ah iya, terimakasih rat, ayo mah kita pulang" Sasa menuntut ibunya ke menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.


...****************...


Suara gaduh yang lebih dominan terdengar suara tawa menyelimuti kediaman kakak Sasa.


Sasa yang sebenarnya tinggal dikampung dan kakaknya tinggal dikota karena menikah dengan seorang pebisnis asal kota tersebut tempat Sasa mengenyam pendidikan.


mobil Fortuner berwarna putih bersih berhenti tepat di depan kediaman yang cukup mewah.


sepasang kaki turun satu persatu.


"onty Sasa udah datang" teriak salah seorang anak kecil berlari masuk kedalam rumah guna untuk memberitahu semua orang yang ada dalam rumah tersebut jika sang toko utama sehingga syukuran ini bisa terjadi telah tiba.

__ADS_1


"assalamu'alaikum" ucap Sasa diikuti dengan yang lainnya.


"wa'alaikumsalam" jawab anggota keluarga sasa serentak, membuat Alfin dan Ratna terkejut.


"benar-benar keluarga besar" batin Alfin sedikit malu-malu namun berusaha menyembunyikan rasa malunya, apa kata orang jika sorang pria malu bisa-bisa dikatain pria lembek nantinya


"waaah gak nyangka keluarga Sasa serame ini, gak heran Sasa kalau menyebut kata keluarga selalu bilang keluarga besar ternyata memang sangat rame dan banyak, syukuran tapi malah lebih mirip acara pesta pernikahan" batin Ratna terkikik membayangkan betapa ramenya jika Sasa menikah nanti.


semua ekspresi Ratna tak luput dari pandangan Ferdi. "ada apa dengan dia senyum-senyum sendiri seperti itu, dasar cewek aneh" Ferdi geleng-geleng kepala tak habis pikir mungkinkah Ratna tak waras, pikirnya.


"aah adik bungsuku akhirnya sarjana juga" Yusuf datang seraya memeluk Sasa dengan sayang


"terimakasih Abang" Sasa membalas pelukan Yusuf tak kalah erat.


"ciee yang udah wisudah, tinggal tunggu disudahi, iyakan kek?" ucap salah satu sepupu Sasa seraya melirik kakek Sasa seolah meminta pembenaran.


Yusuf menatap tajam ke sepupunya karena mulut sepupunya yang memang rada gak punya rem itu. ia heran jenis kelaminnya saja laki-laki tapi mulutnya seperti ibu-ibu tukang nyinyir.


melihat tatapan tajam Yusuf bak sebilah pedang dengan cepat Riyan melipat bibirnya rapat-rapat.


"kok kalian masih disana, sini ayo makanan udah siap nih saatnya kita baca doa syukuran" ucap ibu Sania mempersilahkan karena memang semua keluarga sudah sangat lapar karena waktu makan siang sudah tiba.


Sasa berniat masuk ke kamar untuk melepaskan pakaian yang sedari tadi cukup membuatnya tak bebas bergerak namun diurungkan saat melihat kedua sahabatnya, ia merasa tak enak jika harus meninggalkan keduanya sedang mereka belum akrab dengan keluarganya.


"yuk kita makan rat, Fin" Sasa menarik tangan Ratna menuju ruang tengah tempat keluarganya berkumpul.


memang dasar Yusuf sang Abang yang posesif saat baru menyadari keberadaan laki-laki asing didekat Sasa jiwa protectivenya seketika kumat.


ia mencekal tangan Sasa yang hendak berjalan seraya melirik kearah Alfin seolah meminta penjelasan tentang keberadaan laki-laki asing tersebut.


Sasa menghela nafas berat ia mengerti maksud dari tatapan abangnya "hanya teman bang" jawabnya kemudian namun tak juga membuat tatapan tajam Yusuf berhenti kearah Alfin.


dengan makna tersirat "jaga jarak dengan adikku"


Alfin hanya menelan salivanya kasar mendadak kerongkongannya kering kerontang.


"aah tatapan abangnya sangat mengerikan serasa ingin menguliti ku hidup-hidup" batin Alfin bermonolog.


setelah melewati beberapa drama sang sepupu yang mirip ibu-ibu tukang nyinyir, dan sang Abang yang protective disinilah mereka sekarang berkumpul makan bersama sambil tertawa, meskipun hanya hidangan sederhana namun tak mengurangi rasa bahagia diantara keluarga itu.

__ADS_1


keluarga yang cukup harmonis dan rukun. pikir Ratna dan Alfin.


__ADS_2