Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Keluarga besar Darent


__ADS_3

sejak pertemuannya dengan Dimas tempo hari, Sasa kembali menjadi sosok yang pendiam tapi kali ini berbeda jika saat dirumah Ratih Sasa mengurung diri dikamar Namun tidak kali ini karena Sasa takut ibunya akan khawatir jika Sasa terus mengurung diri dikamar.


Dengan langkah yang tak bersemangat Sasa memaksakan diri untuk ikut berbaur dengan keluarganya, rupanya hari ini keluarga besar Darent berkumpul dirumah ibu Sania dan papa hendri.


berkumpul sudah menjadi agenda wajib di keluarga besar Darent jika setiap setengah tahun sekali mereka harus saling bersilaturahmi.


setengah tahun yang lalu acara kumpul keluarga diadakan di rumah Sumarni adik papa Hendri, kali ini cara kumpul keluarga diadakan di rumah papa Hendri. papa Hendri hanya dua bersaudara, dan Sumarni ada anak sulung sedangkan papa Hendri adalah anak bungsu.


riuh suara tawa tua muda dan anak kecil yang memekakkan memenuhi ruang keluarga yang terlihat mewah dengan nuansa putih yang mendominasi. setiap sudut ada saja orang yang mengisi membentuk suatu kelompok cerita.


Sasa hanya memandangi keluarganya yang asik bercerita dengan tatapan gamangnya, jika ditanya Sasa akan menjawab seadanya atau hanya sekedar mengangguk, jika tidak ditanya Sasa akan diam.


Disisi tempat lain Sebuah mobil Bus Transxxx melaju dengan kecepatan sedang, nampak dua pria tampan berbalut baju loreng sedang asik bercerita.


"eh ver mampir ke rumah gua bentar yah itung-itung lu bisa istirahat baru lanjut perjalanan, rumah lu masih sangat jauh kan butuh 5 jam sampai kesana, Gimana mau ngak?" Ferdi mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban verry.


"oke bro, gua juga laper banget. numpang isi perut yah dirumah lu yah" very tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi.


"santai ajah kali, Kita kan keluarga masa iya keluarga sendiri gak dikasi makan, orang lain ajah mama gua kasi makan apa lagi keluarga sendiri" ujar Ferdi geleng-geleng kepala, gak habis pikir dengan jalan pikiran verry. Verry hanya membalasnya dengan kekehan.


"kiri pak" ucap Ferdi sedikit berteriak karena posisinya yang agak jauh dari tempat pak supir bus .


setelah memberikan biaya ongkos kepada pak supir Ferdi dan Verry turun dari bus berjalan memasuki halaman rumah, saat Ferdi membuka pagar ia terkejut karena ada banyak mobil yang terparkir memenuhi halaman rumah.


"bukan kah itu mobil papa?" tunjuk Verry kearah mobil Pajero berwarna putih.


"aah rupanya keluarga besar Darent lagi pada ngumpul yah" ucap Ferdi menyelahi. mendengar ucapan Ferdi Verry bernafas legah untung saja ia menerima tawaran Ferdi untuk singgah jika tidak maka ia hanya akan mendapati rumah kosong saat dirinya tiba di rumahnya.


Ferdi dan Verry kembali mengayunkan kakinya menuju pintu.

__ADS_1


Tok tok tok.


"assalamu'alaikum" ucap Ferdi dan Verry memberi salam bersamaan lalu meraih handle pintu dan membukanya.


"wa'alaikumsalam" semua mata menoleh kearah Ferdi dan Verry kecuali Sasa yang terus sibuk dengan pikirannya sendiri, semua anggota kelurga berjingkrak kaget.


"Ferdi, Verry kalian sudah pulang?" tanya papa Hendri.


"iya pah" ucap Ferdi menyalami tangan orang tuanya begitupun dengan Verry.


"bagaimana dengan pelatihannya nak?" tanya ibu Sania pada putranya.


"Alhamdulillah semua berjalan lancar mah"


"cepat cari pasangan hidup jangan hanya sibuk pacaran dengan pelatihan mu saja, kakek pengen cicit mumpung kakek masih sehat" sela Denda sang kakek. sedang keluarga yang lain hanya diam tak ingin ikut campur.


Denda Darent adalah anak tunggal dari Darendra Darent perintis sekaligus pemilik perusahaan Darent Company yang bergerak dalam bidang kontraktor dan pertambangan. sudah 10 tahun herdi dipercayakan oleh denda untuk memimpin perusahaan. meskipun berasal dari keluarga yang kaya namun nilai-nilai religius dan tata Krama selalu mereka tanamkan dalam diri, inilah yang menjadikan keluarga mereka hidup rukun.


"Sasa sayang" teriak Ferdi


Sasa yang mendengar namanya disebut mendongakkan kepalanya, matanya membulat dengan senyum yang mengembang sempurna dibibir mungilnya.


Sasa berlari dengan cepat kearah Ferdi menubruk dada bidangnya, tangan mungil Sasa melingkar sempurna di perut Ferdi tinggi Sasa yang hanya sebatas dada Ferdi membuat wajah Sasa tengelam dalam dada bidah itu.


semua anggota keluarganya dibuat tercengang dengan tindakan Sasa, tak terkecuali Verry pun ikut dibuat melongo.


Ferdi tersenyum, membalas pelukan sang adik kesayangannya dengan tak kalah erat.


"dasar manja" Ferdi mengusap-usap pucuk kepala Sasa dengan sayang.

__ADS_1


"Abaaang, Sasa kangen" ucap Sasa semakin mengeratkan pelukannya.


Verry yang berada di samping Ferdi hanya menatap haru tindakan adik kakak itu, hubungan mereka cukup harmonis, bahkan terbilang sangat melebihi kata harmonis.


"Abang juga kangen sayang, gimana kabar kamu akhir-akhir ini, apakah sehat? kenapa wajahmu murung begitu? apakah ada yang sudah mengusik hidup adik kesayangan Abang ini?" cecar Ferdi merasa khawatir melihat wajah murung Sasa.


"Abang, bertanya itu satu-satu, kalau banyak gitu kan Sasa pusing mau jawab yang mana dulu" saya mencebik memukul pelan dada bidang Ferdi.


semua orang dibuat terkekeh dengan tingkah Sasa yang sangat amat manja jika bertemu dengan abangnya.


"Sasa gak apa-apa bang, Sasa gini karena merindukan Abang.. Abang Ferdi sama ajah sama bang Yusuf gak ada kabar, udah lupa kali sama adik tercantiknya ini" keluh Sasa dengan pura-pura merajuk.


"hey mana mungkin bang Ferdi lupa sama bidadari kesayangan Abang" seloroh Ferdi berusaha menghibur.


"sudah sudah jangan berdebat Mulu, Sasa ajak Abang kamu dan Verry makan mereka baru tiba pasti mereka lapar" sahut ibu Sania.


"Ah iya Sasa hampir lupa mah, yuk makan dulu bang" ajak Sasa pada kedua pria itu.


...----------------...


Di tempat lain seorang pria duduk termenung menatap langit dibawah pohon rindang dihalaman belakang rumahnya menekuk kedua lengannya dan menjadikannya bantalan. pria itu adalah Dimas Anggara.


"Salsabila putri" gumamnya berulang-ulang.


Sudut bibirnya melengkung saat mengingat wajah cantik Sasa, mata coklat dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir yang mungil.


"Aah sungguh dia sangat cantik" batinnya


Dimas merogoh saku celananya meraih benda pipih yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.

__ADS_1


di bukanya galeri Yanga ada di handphone nya, lagi-lagi ia tersenyum saat membuka salah satu foto yang berhasil ia abadikan. foto itu tak lain adalah KTP Sasa yang sengaja ia foto sebelum ia kembalikan pada pemiliknya.


"aku akan mengejar mu sa, tidak peduli seberapa susah aku akan tetap mengejar mu walaupun kamu menolak aku akan tetap maju, dan juga kerena kesalahan ku kamu kehilangan harta berharga mu" Dimas membulatkan tekat, prinsipnya jika sudah maju maka dia tidak akan mundur sekuat apapun dorongan yang akan menghentikannya.


__ADS_2