Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)

Salsabila Putri (Memilih Jalan Hijrah)
Terpesona tanpa sadar


__ADS_3

"pokoknya Sasa gak mau tau besok Abang harus ikut Sasa makan siang dengan Ratna" Sasa tak menerima penolakan


"iya sayang, nanti Abang batalin janji Abang ketemu sama Dimas, puas kamu?" Ferdi mencubit pipi Sasa gemas.


"Iis gak usah cubit-cubit" kesal Sasa tiba-tiba saat mendengar nama Dimas.


"iih apasih marah-marah gak jelas kayak lagi PMS ajah" Ferdi menarik tangannya dari pipi Sasa.


"tau ah" ucapnya berlalu meninggalkan Ferdi yang diam terpaku.


"sabar fer" sahut Ratih tiba-tiba. Ferdi hanya melirik sekilas lalu kembali fokus dengan ponselnya.


didalam kamar Sasa terus saja menggerutu mendengar nama Dimas membuat mood baiknya hancur.


"Dimas Dimas Dimas, dasar pria brengsek" umpat Sasa tak sadar sedang berkata kasar.


Keesokan paginya pukul 08.00 Ali dan Harun beserta pengawal menuju lokasi pertemuan di gedung xxx.


sesampainya di gedung tersebut Ali berjalan dengan didampingi yang lain membuat semua orang yang berada disana melihat kearah Ali, tubuh yg menjulang dan wajah yang tampan cukup menyita perhatian kaum hawa maupun Adam.


mereka saling berbisik-bisik memuji ketampanan Ali.


"apalah dayaku yang hanya Upik abu" ucap seorang gadis


"laki-laki yang sempurna"


"apakah itu malaikat, sangat tampan"


"MasyaaAllah tampan sekali"


"sangat tampan dari oppa-oppa Korea"


"seketika aku merasa insekyur" sahut seorang pria .


dan masih banyak lagi pujian-pujian yang mereka tujukan pada Ali.


Disaat memasuki ruangan Ali dan rombongan dijamu dengan mewah dan terhormat, beberapa macam menu hidangan di sajikan memenuhi meja untuk menyambut mereka. mereka pun melakukan sarapan terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan pertemuan.


setelah sarapan acara pun akhirnya dimulai, Ali berperan memberikan sambutan dan beberapa kali mengajukan beberapa pendapatnya, tak lupa ia melakukan dakwah, semua menatap kagum pada sosok Ali, tidak hanya tampan ia juga cerdas dan berwawasan luas.


"kalau saja aku berani mengajaknya berbicara diluar ranah pekerjaan dan dakwah, aku ingin sekedar bercerita pendek sebagai pendekatan untuk menjodohkan beliau dengan putri ku" Batin pria paruh baya yang menjabat sebagai ketua dipertemuan itu.


3 jam berlalu dengan cepat, pertemuan itu pun selesai. tapi rupanya hari itu agenda Ali tidak hanyanya itu saja tepat pukul 1 siang Ali harus kembali menghadiri acara dakwah di tempat lain.


didalam mobil "kita mampir dulu untuk makan siang masih ada waktu satu jam lagi sebelum shalat Dzuhur, di depan sana ada restauran yang cukup bagus" sahut Harun memecahkan kesunyian.


"kenapa tidak kembali ke hotel saja" ucap Ali, karena merasa risih jika harus berada di tempat umum seperti itu yang banyak di hadiri kaum hawa.

__ADS_1


"aku juga ingin seperti itu, tapi waktu tidak cukup itu hanya akan memakan waktu yang cukup banyak karena jarak hotel cukup jauh" jelas Harun dibalas anggukan oleh Ali.


Mobil Alphard dan Pajero sport berhenti di salah satu restoran mahal di kota tersebut. Ali dan rombongan turun dari mobil dan berjalan masuk.


Diwaktu yang bersamaan Sasa dan Ferdi pun sampai di restauran itu.


"kamu masuklah dulu, abang ingin menghubungi Dimas untuk membatalkan janji nanti abang akan menyusul" ucap Ferdi, Sasa hanya mengangguk.


Sasa berjalan dengan cepat masuk kedalam restauran untuk mencari keberadaan Ratna, namun baru saja dirinya masuk beberapa langkah dari pintu ia berhenti.


"aduuh tas ku ketinggalan di mobil" dengan cepat Sasa memutar tubuhnya.


Buugh.


tubuh Sasa membentur dada seseorang


"astaghfirullahal'adzim" pekik sasa.


Sasa mundur beberapa langkah kebelakang memberi jarak antara dirinya dengan orang tersebut, perlahan Sasa mendongak untuk melihat siapa yang sudah ia tabrak.


"yaa Allah tinggi sekali" batin Sasa. ia segera menunduk untuk memutuskan pandangan mereka yang tidak sengaja bertemu.


"Maafkan saya tuan, saya sedang buru-buru sehingga tidak memperhatikan sekitar dan tidak melihat anda berjalan masuk" ucap Sasa masih dengan wajah menunduk.


semua orang dibuat melongo, sebagian mengatakan jika Sasa adalah gadis yang beruntung bisa menabrak si tampan Ali, namun berbeda dengan Sasa. Sasa tidak peduli dengan ketampanan Ali bahkan Sasa hanya melihat matanya saja itupun pandangan mereka tidak sengaja bertemu, Sasa tidak memperhatikan seluruh wajah Ali yang kelewat tampan itu, yang Sasa tahu ia harus segera menunduk karena saling berpandangan dengan lawan jenis yang bukan mahram hukumnya tidak boleh dalam agama.


Ali kembali mencuri perhatian semua orang disana, merasa iri dengan Sasa karena bisa secara langsung berbicara dengan Ali.


"tidak apa-apa" jawab Ali singkat.


Harun dan pengawalnya tertegun.


"apa aku salah dengar, Ali sedang menjawab ucapan seorang gadis" batin harun bermonolog


"ini benar-benar mengejutkan" batin para pengawalnya


"terimakasih banyak tuan, kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum" cicit Sasa segera berlalu menuju mobilnya.


Ali tertegun sejenak, kemudian kembali melangkah masuk. mereka memesan ruangan VVIP khusus hanya mereka.


"tas ku ketinggalan bang" sahut Sasa saat membuka pintu mobil dan segera meraih tasnya.


"ada apa dengan wajahmu kenapa setegang itu" tanya Ferdi khawatir.


"tidak apa-apa bang, tadi Sasa gak sengaja menabrak orang beruntungnya orang itu tidak marah sama sekali" legah Sasa tenang.


"baiklah ayo kita masuk bersama" Ferdi turun dari mobil lalu berjalan diikuti Sasa.

__ADS_1


"disini..." ucap Ratna tanpa suara melambaikan tangan memberi isyarat pada Sasa agar Sasa dapat melihat posisinya.


"aah Ratna duduk disana" Sasa menarik tangan Ferdi agar mengikuti langkahnya.


Ratna tertegun melihat Ferdi, sejak semalam ia terus kepikiran dengan Ferdi. berbeda dengan Ferdi lagi-lagi ia terpesona dengan keanggunan Ratna.


"ayo duduk" Sasa menarik Ferdi agar segera duduk.


mereka sedikit bercerita sesekali ferdi dan Ratna saling melirik secara bergantian. mereka menghentikan ceritanya saat pesanan mereka tiba mereka pun segera makan.


"apa yang mereka gosipkan" ucap Sasa membuka suara. ia cukup terganggu dengan suara gaduh para pengunjung yang bercerita cukup keras ia tak tahu jika yang sedang diributkan mereka adalah kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya menabrak Ali.


"mungkin kejadian tadi seorang wanita yang tidak sengaja menabrak pria tampan" ucap Ratna, mata Ferdi seketika memicing saat mendengar Ratna berucap kata Tampan.


"aah gadis itu adalah aku" ucap Sasa santai


"benarkah?? kamu sangat beruntung" ucap Ratna cepat.


"beruntung apa? aku tidak sengaja menabraknya" tanya Sasa lagi masih asik dengan makanannya.


"karena dia sangat tampan, seperti keturunan Arab" ucap Ratna tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.


Ferdi mengehentikan tangannya. merasa kesal dengan ucapan Ratna yang memuji pria lain.


Sasa berhenti sejenak lalu mengangkat kepalanya.


"benarkah?, lalu kemana dia?" tanya Sasa kembali fokus dengan makanannya.


"dia memesan ruangan VVIP" jawab Ratna singkat.


"ouuh ternyata horang khayaa" Sasa menjawab dengan sedikit memperjelas huruf H.


"yah, dan dia mempunyai banyak pengawal sepertinya dia bukan orang biasa" sahut Ratna lagi.


Sasa hanya mangut-mangut tak peduli.


"besok aku akan pulang dengan Abang" ucap sasa tiba-tiba


"apaa? kenapa cepat sekali" kaget Ratna merasa sedih, entahlah sedih karena akan berjauhan dengan sahabatnya Sasa atau karena tidak akan bisa melihat Ferdi lagi, hanya Ratna yang tahu.


"yah, jadi malam ini kita gunakan untuk berjalan-jalan sebelum berpisah lagi, siapa tahu aku sudah tidak bisa bertemu dengan mu lagi" Sasa meraih air minum lalu meneguknya hingga tandas


"emang mau kemana sampe gak akan ketemu lagi" Ratna penasaran, namun Sasa hanya mengindikkan kedua bahunya.


Diruangan VVIP Ali dan rombongan telah selesai makan siang, setelah membayar mereka segera kembali ke mobil menuju masjid melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah.


Ali sejenak berhenti di tengah-tengah ruangan restauran sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu, karena tidak menemukan apa yang dicari ia kembali melangkah lebar meninggalkan restauran.

__ADS_1


Harun dan para pengawalnya hanya mengernyitkan alisnya heran di iringi gelengan kepala.


"hari ini Ali terlihat berbeda dan aneh" batin harun heran


__ADS_2